Sebuah Kisah Tentang Cinta – Part 2

Posted: September 24, 2013 in Other Stories

Sambungan dari Sebuah Kisah Tentang Cinta – Part 1

#############

Om Ridwan memenuhi janji untuk membantu skripsi Cinta. Sepanjang jangka waktu tersebut beberapa kali hubungan terlarang mereka tetap berlangsung secara sembunyi-sembunyi. Hubungan itu terus berlangsung diantara persetubuhan lain yang dilakukan Cinta dengan pelanggannya, namun dengan intensitas yang mulai jauh berkurang. Walaupun hubungan mereka hanya sebatas ‘bisnis’ semata, rupanya mereka berdua terlihat bisa saling memuaskan satu sama lain. Usia yang terpaut jauh sepertinya tidak menjadi masalah untuk mereka. Baik rahasia Cinta maupun rahasia Om Ridwan pun masih terjaga dengan rapat yang hanya diketahui oleh keduanya. Beberapa hotel dan bungalow di luar kota kerap menjadi saksi persetubuhan panas mereka berdua.

Permainan selalu memilih tempat di luar kota, tapi satu waktu permainan pernah mengambil setting di rumah Om Ridwan. Kejadian yang tidak pernah direncanakan ataupun diduga sebelumnya. Kejadian yang cukup menarik untuk diceritakan.

#############

Suatu hari, beberapa bulan setelahnya.

Cinta

Cinta

Hari ini adalah hari dimana Cinta menjalani sidang skripsinya. Setelah berbulan-bulan bekerja keras mencari dan mengolah data, ditambah ‘kerja keras’ di ranjang bersama Om Ridwan, akhirnya hari yang dinanti Cinta datang juga. Siang itu perjuangan Cinta mempertahankan skripsi yang ditulisnya selama berjam-jam di depan penguji berakhir dengan mulus. Hari itu Felisia, sahabat karibnya pun datang untuk memberi semangat bersama beberapa sahabat lainnya. Sorak-sorai kegembiraan langsung memekik keras ketika Cinta keluar dari ruang ujian dan memperlihatkan lembar penilaian bertulis huruf A. Cinta adalah gadis pertama yang lulus diantara sahabat-sahabat karibnya yang ada disana.

“Gila lu Ta, gak nyangka gue diantara kita-kita lu yang bisa lulus duluan”, teriak Felisia.

“Bener tuh, gue juga gak percaya”, sahut gadis lainnya yang bernama Febby.

“Iya dong, Cinta gitu loh”.

Ucapan Cinta itu langsung disambut teriakan “hhhuuu..” dari sahabat-sahabatnya. Dilanjutkan dengan dorongan dan tepukan.

“Ampun.. Ampun.. Udah ah jangan bikin rusuh di kampus”.

“Apa sih rahasia lu Ta?”, tanya Felisia.

“Belajar yang rajin, tidur teratur dan rajin menabung hehehe”.

Kembali teriakan “hhhuuu..” membahana di ruangan itu.

Cinta sendiri hanya tersenyum melihat tingkah sahabat-sahabatnya itu. Hanya saja Cinta senyum itu sedikit tertahan melihat sahabatnya Felisia. Sejak hubungan gelapnya dengan Om Ridwan dimulai, ia kerap merasa kikuk jika berhadapan dengan Felisia. Bagaimana tidak, selama beberapa bulan ini ia sudah beberapa kali berhubungan intim dengan ayah dari sahabat karibnya itu. Persetubuhannya dengan Om Ridwan-lah rahasia kenapa ia bisa mulus menyelesaikan studi secepat ini. Tapi semua sudah terjadi dan tak bisa lagi diputar kembali. Paling tidak selama proses skripsi  ia hanya perlu melayani satu laki-laki. Tidak perlu ditambah layanan khusus untuk dosen pembimbing ataupun penguji skripsinya, sebagaimana cerita-cerita panas yang biasa ada di situs-situs dewasa.

“Eh lu inget janji kita kan Fel?”, Cinta langsung menghapus bayangan Om Ridwan dan benaknya.

“Janji apa?”.

“Halah pura-pura lupa segala”, Cinta menepuk pundak Felisia. “Janji nraktir yang lulus pertama dong”.

“Oh iya, lu mau makan dimana?”.

“Elu? Trus kita mau diapain?”, Cindy, salah satu sahabat Cinta yang ada disana langsung mengajukan protes.

“Lulus dulu sebelum gue, baru gue traktir hahaha”.

Lagi-lagi teriakan “hhhuuu..” membahana di ruangan itu.

Setelah segala proses administrasi pasca sidang skripsi selesai, gadis-gadis itu pun berpisah. Sekali lagi sebelum berpisah mereka satu persatu menyalami Cinta, sebagai ucapan selamat. Tak lama Cinta sudah berada di dalam mobil bersama sahabatnya, Felisia.

“Oh ya ampun, gue lupa duit gue cuma sisa goceng nih di dompet, kita mampir dulu ke rumah ya buat ngambil duit”.

“Aduh.. Gak apa-apa, besok-besok aja lu kan bisa traktir gue”, Cinta tergagap mendengar ucapan sahabatnya itu.

Sejak affair dirinya dengan Om Ridwan di mulai, memang Cinta kerap menghindar untuk datang ke rumah Felisia. Bukan karena adanya Om Ridwan disana, namun karena Cinta tidak ingin bertatap muka langsung dengan Tante Vera. Cinta juga kerap terlihat kikuk jika itu terjadi. Bahkan lebih kikuk daripada ketika ia harus berhadapan dengan Felisia. Maka dari itulah ia selalu berusaha agar pertemuan dengan Tante Vera bisa dihindari.

“Mampir bentar aja, Mama juga lagi gak ada kok”.

Mendengar itu Cinta menghela nafas sedikit lega. Namun itu tidak membuat rasa khawatirnya hilang.

“Beneran Fel, besok-besok aja gak apa-apa”.

“Gak ah musti sekarang, mumpung mood gue lagi bagus hehehe”.

Sebagai orang yang tidak berada di belakang kemudi, Cinta pun hanya bisa menurut. Lagian semua ini diawali dari dirinya sendiri. Dirinyalah yang mengingatkan tentang traktiran tersebut, bukan Felisia.

*************

Hanya butuh tiga puluh menit dari kampus menuju rumah Felisia. Cinta sedikit deg-degan ketika kembali harus menginjakkan kaki di rumah sahabatnya tersebut. Sudah hampir sebulan lebih ia tidak bertemu lagi dengan Om Ridwan. Mungkin ini adalah pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir Cinta datang ke rumah Felisia. Kalau pun Felisia mengajaknya bertemu, biasanya sahabat karibnya itu yang menjemputnya ke kosan. Rasa segannya kepada Tante Vera yang sudah baik kepadanya-lah, yang membuat Cinta berusaha sekuat mungkin untuk menghindari datang ke rumah tersebut. Namun kali ini keadaannya berbeda. Felisia yang mengajaknya dan Felisia yang memegang kemudi.

“Oke lu tunggu di mobil aja, gue masuk bentar”.

“Uuuhh”, Cinta menghela nafas panjang. Paling tidak ia tak perlu masuk ke dalam rumah.

Namun sepertinya kelegaan Cinta langsung berakhir ketika ponsel milik Felisia berbunyi.

“Halo..”.

Cinta melirik ke arah sahabatnya.

“Oh udah pulang Ma, musti dijemput sekarang? Iya deh, Feli kesana sekarang”.

Percakapan selesai.

“Sory Ta, gue musti jemput mama di bandara, lu tunggu gue di dalem aja deh”.

“Hhhmm..”. Cinta bingung harus menjawab apa. Kenapa semuanya jadi serba kebetulan begini, ucap Cinta membatin.

“Gue bentar aja kok, lagian kalo mama pulang pasti bawa banyak oleh-oleh, lu pasti kebagian”.

“Gimana kalo gue pulang aja naik taxi, ntar kita keluarnya lain kali aja”.

“Ealah masih aja mau ngeles. Ayo kita masuk dulu”.

Dipaksa seperti itu akhirnya mau tidak mau Cinta harus keluar mobil. Dengan langkah berat ia mengikuti sahabatnya masuk ke dalam pekarangan rumah. Berbagai bayangan berkelebat di kepala Cinta tentang skenario yang mungkin terjadi apabila ia bertemu lagi dengan Om Ridwan. Tanpa adanya Tante Vera dirumah sebagai catatan. Rasa deg-degan Cinta bertambah ketika Felisia mengetuk pintu dan tak lama Om Ridwan-lah yang muncul dari dalam.

“Eh Cinta, apa kabar? Tumben nih main ke rumah?”, Om Ridwan menyapa dengan ramah.

“Baik-baik Om, iya nih Feli yang ngajakin”.

Melihat Cinta yang memakai balutan kemeja putih dan rok pendek berwarna hitam, Om Ridwan langsung teringat cerita anaknya kalau Cinta akan menjalani ujian skripsi. Itu pun setelah ia menelan ludah, melihat kemolekan tubuh Cinta.

“Oya, gimana ujiannya? Lancar?”.

“Iya Om, lancar kok”.

“Ayo-ayo masuk dong, masa diluar aja”, ajak Om Ridwan.

Kemudian Felisia memotong. “Pah, Feli jemput mama dulu ya ke bandara”.

“Mama udah dateng? Kok gak nelpon papa?”.

“Tadi katanya udah nelpon cuma HP papa katanya mati”.

“Oh iya papa tadi charge HP, lupa… Maklum udah tua hehehe”, Om Ridwan terkekeh. “Terus siapa yang jemput? Kamu apa papa aja?”.

“Biar Feli aja, kata mama biar cepet abis papa kalo nyetir suka lama”.

“Oke..”, sahut Om Ridwan singkat.

“Lu diem disini aja ya Ta, serius gue abis dari bandara langsung balik deh”. Felisia tersenyum. “Mama juga pasti seneng ngeliat lu lagi”.

Tak tahu harus menjawab apa, akhirnya Cinta hanya bisa mengangguk pasrah.

“Ya udah gue berangkat dulu, titip Cinta bentar ya pah”.

Tak lama mobil Felisia sudah menghilang dari pandangan Cinta dan Om Ridwan. Dan sesaat setelah itu, tiba-tiba saja Om Ridwan memegang tangan kanan Sinta dan menarik gadis itu masuk ke dalam rumah. Laki-laki paruh baya itu menempelkan telunjuk di bibir memberi isyarat agar Cinta tidak bersuara.

“Ssssttt… ayo cepet masuk”, bisik Om Ridwan. Kemudian Om Ridwan menutup kembali pintu rumahnya dengan hati-hati.

“Ada apa Om?”, Cinta ikut berbisik.

“Udah jangan ribut, ayo ikut Om”, laki-laki itu terus menggandeng Cinta sampai masuk ke dalam sebuah kamar.

Melihat gelagat ini, Cinta yang semula kaget akhirnya segera mengerti maksud dan tujuan Om Ridwan. Apalagi ketika laki-laki itu langsung memeluk tubuhnya dari belakang dan mendaratkan ciuman di pundak, leher dan pipinya.

“Iddihh Om nekat.. nanti ketauan yang lain gimana Om?”, Cinta membalikkan tubuhnya dan berbisik lagi tapi kali ini dengan nada sedikit terdengar panik.

“Sstt tenang aja.. Kita aman, dirumah cuma ada Denny yang lagi tidur..”, jelas Om Ridwan. Denny adalah adik laki-laki Felisia yang duduk di kelas 12 SMU.

“Iya tapi gimana kalo mendadak dia bangun Om? Belum lagi bahaya kan kalo Bi Ijah sampai denger”.

Bi Ijah adalah pembantu di rumah keluarga Felisia. Wanita tua itu adalah tetangga di desa dimana Om Ridwan berasal. Bi Ijah diajak ke kota saat Tante Vera mulai harus sering keluar kota untuk menjalankan bisnisnya.

“Bi Ijah lagi keluar belanja, pokoknya sekarang situasinya aman! Kita quiky bentar yuk?”

“Tapi Om, Cinta takut…”.

“Please Ta… Om mendadak jadi ‘pengen’ waktu ngeliat kamu, kita kan udah lama gak gituan”.

“Tapi Om…”.

Belum lagi sempat Cinta melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar terbuka diluar. Suara itu sepertinya terdengar dari kamar Denny di lantai dua. Keduanya pun kompak terdiam.

“Tuh kan Om…”, Cinta berbisik panik.

Om Ridwan kembali meletakkan telunjuk dibibirnya dan kemudian berbisik, “Udah kamu di sini aja dulu, biar Om yang keluar ngeliat situasi”.

Tahu kalau tidak bisa menolak, Cinta hanya bisa mengangguk tanda setuju. Om Ridwan segera keluar kamar meninggalkan Cinta. Gadis cantik itu sedikit menggerutu karena akibat perbuatan Om Ridwan, kini ia harus terpaksa terjebak di dalam kamar. Ditengah posisinya yang terjepit Cinta berusaha menguping dari balik pintu. Ia berusaha mendengarkan situasi di luar dengan hati berdebar tegang.

“Pah, barusan kayaknya ada yang dateng ya? Abis tadi kayaknya kedengeran ada suara orang ngobrol”, terdengar samar-samar suara Denny menanyai ayahnya.

“Ah nggak ada siapa-siapa kok, barusan memang ada orang dateng cuma petugas RT minta sumbangan”.

“Oh ya udah, kirain ada tamu”, Denny kemudian beranjak menuju dapur nampaknya ingin mengambil sebotol air. “Mba Feli belum dateng Pah?”.

“Belum, cuma tadi Feli nelpon katanya pulang dari kampus langsung jemput mama ke bandara”.

“Mama udah balik? Asyik bakal banyak oleh-oleh nih”, suara Denny terdengar sumringah.

“Kamu gak latihan bola hari ini Den?”, tanya Om Ridwan setengah berteriak dari ruang keluarga.

“Gak Pak, lagi males. Libur dulu latihannya”.

“Sialan!”, Om Ridwan meruntuk. Niatnya untuk menyalurkan hasrat bersama Cinta agaknya akan sedikit terganggu. Tapi bagaimana pun nafsunya sudah terlanjur diubun-ubun, maka kini segala resiko pun harus ditanggungnya.

Baru saja percakapan itu terdengar akan berakhir, tiba-tiba terdengar suara pintu gerbang depan terbuka. Itu berarti Bi Ijah sudah pulang dari pasar. Mendengar suara tersebut kembali Om Ridwan meruntuk. Kenapa tiba-tiba semuanya jadi kacau gini, batinnya berucap kesal. Beberapa menit kemudian nampak Bi Ijah masuk ke rumah.

“Kok cepet sih Bi dateng dari belanja?”. Om Ridwan bergumam.

“Lah si Bapak, katanya tadi di suruh cepet-cepet pulang buat masak, eh sekarang malah ditanya kenapa cepet pulangnya”.

Sejenak Om Ridwan terdiam. “Oh ya, Ibu bentar lagi nyampe rumah bibi beliin manisan buah kesukaan Ibu gih”.

“Manisan gitu kan cuma dijual di Pasar **** Pak, jauh dari sini”.

“Iya gak apa-apa, nih duit buat ongkos ojek”, Om Ridwan mengeluarkan beberapa lembar uang dua puluh ribuan dari dalam dompetnya.

Bi Ijah menerima uang yang disodorkan majikannya itu. “Iya Pak, kalo gitu saya taruh belanjaan dulu di dapur”.

“Beli apa aja Bi? Beli jajanan gak?”, terdengar suara Denny dari dapur.

“Ada Dik, cari aja di dalam kresek”.

Tak lama Bi Ijah keluar dari dalam dapur. “Saya berangkat dulu Pak”.

Cinta Sebelum Sidang

Cinta Sebelum Sidang

Om Ridwan hanya mengangguk. Selang beberapa menit setelah Bi Ijah menghilang dari balik pintu, menyusul Denny yang keluar dari dapur sambil mengunyah. Sambil menenteng botol air, Denny beranjak naik kembali ke lantai dua. Hening sesaat. Tak lama terdengar suara Om Ridwan yang berpesan kepada Denny agar kalau ada tamu atau telepon bilang saja ayahnya itu sedang tidak ada, dengan alasan kalau hari ini ia sedang agak tidak enak badan dan akan tidur siang.

Permintaan itu hanya dijawab singkat dengan “Oke..” oleh Denny. Sesaat setelah itu Om Ridwan pun masuk kembali ke dalam kamar.

“Benar kan, situasi bisa diamankan hehehe”.

Cinta langsung mencubit gemas lengan laki-laki itu tanpa bersuara. Cinta terkekeh karena geli dengan sandiwara yang barusan didengarnya.

“Om cocok dapet Piala Citra, aktingnya keren hehehe”.

“Ssstt.. ketawanya pelanin, ntar kedengeran”, Om Ridwan mengingatkan.

Dengan segera Cinta menutup mulutnya dengan tangan kiri, kemudian beberapa saat tersenyum simpul. Om Ridwan menggayut pinggang Cinta dan menggandengnya mendekati ranjang. Cinta menurut karena tahu kalau menolak maka Om Ridwan akan membujuknya terus. Pikirnya, daripada berlama-lama lebih baik menuruti apa yang diinginkan oleh Om Ridwan agar semuanya cepat selesai. Namun ketika laki-laki itu hendak melepaskan bajunya, Cinta menghentikannya sejenak.

“Gak usah pake buka baju ya Om, katanya cuma quiky doang”.

“Loh kalo gak pake buka baju mana enak”.

“Tapi waktunya kan mepet banget Om”.

“Gak apa-apa, jarak bandara kan jauh dari sini. Gak mungkin Feli bisa balik secepat itu”, sahut Om Ridwan sambil membuka baju kaosnya. Kemudian menyusul menurunkan celana pendek yang dipakainya.

“Tapi Om…”.

“Ayo dong, anggap aja kita ngerayain kelulusan kamu. Kan Om juga layak dapet hadiah kelulusan…”, kata Om Ridwan langsung memotong.

Cinta tidak berani protes lagi. Apa yang dikatakan Om Ridwan itu memang benar adanya.

Om Ridwan melanjutkan kata-katanya. “…Oh ya, Om ada kejutan buat kamu”.

“Apa Om?”.

“Sebentar…”.

Om Ridwan beranjak menuju lemari pakaian dan membuka pintunya. Laki-laki itu terlihat berusaha mengambil sesuatu dari bawah tumpukan pakaian. Kemudian ia berjalan kembali mendekati Cinta. Dari dekat Cinta bisa melihat kalau benda itu adalah sebuah amplop besar berwarna coklat.

“Ini hadiah buat kelulusan kamu, coba deh kamu buka”.

Cinta mengerutkan keningnya. Ia mengambil amplop tersebut dan membukanya. Didalamnya ada sebuah dokumen berupa lembaran kertas.

“Ini apa sih Om?”.

“Coba deh kamu baca…”.

Cinta membaca pelan-pelan tulisan yang tertera di dokumen tersebut. Selesai membaca ekspresi sumringah langsung terpancar di wajah Cinta. Gadis itu langsung memeluk Om Ridwan dan menghujani laki-laki itu dengan ciuman.

“Makasi Om, makasi.. muaacchh.. muacchh..”.

“Ssstt… Ntar kedengeran”. Om Ridwan langsung memberikan isyarat kepada Cinta untuk mengecilan volume suaranya. Cinta meletakkan dokumen yang dipegangnya di ranjang dan ia memeluk laki-laki paruh baya itu.

“Kok bisa sih Om dapet beasiswa buat Cinta?”.

“Rahasia dong, lagian kan Om udah janji dulu hehehe”.

“Makasi ya Om, makasi banget!”. Hujanan ciuman pun mendarat kembali di pipi dan bibir Om Ridwan.

‘Ayo kalo gitu sekarang mau buka baju gak? Hehehe”.

Cinta tersenyum. “Ih Om genit deh”.

“Ayo dong dibuka, dibuka, dibuka…”.

Cinta tertawa cekikikan melihat gaya alay Om Ridwan saat memintanya membuka pakaian. Dihadapan orang lain mungkin Om Ridwan akan menjaga wibawa, namun ketika bersama Cinta laki-laki itu kerap bersikap manja bak anak-anak. Cinta membuka satu kancing kemejanya.

“Ayo.. ayo satu lagi”.

Cinta tersipu. Dibukanya satu lagi kancing kemejanya.

Ditengah gerakan Cinta, Om Ridwan menyeletuk. “Oya Ta, hari ini kan hari spesial, kasi Om hadiah yang spesial juga ya”.

Cinta menghentikan gerakannya membuka kancing ketiga. Ia mengerutkan kening.

“Maksud Om? Hadiah spesial apa?”.

“Ngentot spesial, gak pake kondom hehe”.

Cinta terdiam. Selama ini Cinta memang agak ketat untuk urusan ‘pelindung’ ketika bersetubuh. Apalagi ketika menjalankan profesinya sebagai lady escort. Hal ini dilakukannya, untuk melindungi dirinya sendiri dan juga pelanggannya. Mungkin tak habis jari tangan kiri Cinta bila digunakan menghitung berapa laki-laki yang bercinta dengannya tanpa pelindung, diluar Rido tentunya. Khusus untuk Rido, ia melakukan persetubuhan didasari atas cinta. Maka dari itu, Cinta tidak berkeberatan apabila benih laki-laki itu berada di dalam dirinya. Permintaan Om Ridwan kali ini agaknya agak sedikit berat untuk dipenuhi.

Kembali Cinta berpikir. Setelah semua yang diberikan Om ridwan, termasuk hadiah yang beasiswa barusan, permintaan Om Ridwan cukup setimpal dengan apa yang diberikannya. Kalau tidak karena Om Ridwan mungkin jalan yang ia tempuh tidak akan bisa semudah ini. Jasa laki-laki paruh baya itu memang sangat besar untuknya. Sehingga setelah beberapa saat Cinta pun mengangguk.

“YESS..!”, Om Ridwan sontak kegirangan. “Ayo kalo gitu lanjut dibuka bajunya hehehe.

Tangan Cinta kembali bergerak membuka seluruh kancing kemejanya. Hanya saja ada satu hal yang masih mengganjal dihatinya sebelum persetubuhan ini terjadi. Bagaimana skenario setelah permainan mereka usai nanti?.

“Tapi nanti Cinta keluar dari sini gimana Om?”, tanyanya.

“Gampang lah nanti Om atur, ayo dong Om udah gak tahan nih”.

Cinta melirik ke arah selangkangan Om Ridwan yang masih tertutup celana dalam. Benar saja, daerah itu memang sudah terlihat menggunung. Apalagi ketika Om Ridwan melepas celana dalamnya, batang besar miliknya langsung mencuat tegang. Meskipun sudah beberapa kali dihujami batang besar itu, namun tetap saja Cinta selalu bergidik melihat ukurannya.

“Om kalo mikirin ngeluarin kamu sih gampang. Yang sekarang bingung Om pikirin itu justru cara ngeluarin isinya ‘barang’ ini yang enak gimana”, timpal Om Ridwan seraya berjalan mendekati Cinta.

Om Ridwan yang sudah bertelanjang bulat mengambil tangan Cinta untuk diletakkan pada penisnya yang sudah mengajung tegang. Cinta terlihat malu-malu manja tapi tangannya langsung menangkap batang itu. Diurut-urutnya dengan perlahan, sampai secara perlahan batang tersebut kian menegang. Tangan Om Ridwan sendiri tidak tinggal diam. Kedua tangan ini meloloskan kemeja putih dari tubuh Cinta. Bra hitam yang semula hanya menerawang dari balik kemeja, kini terlihat lebih jelas ketika terbuka. Bahkan semuanya menjadi lebih jelas lagi ketika bra itu ikut dilolosi.

“Emang cara yang enak kayak apa sih?”, godanya. Cinta mulai bersikap manja-manja genit.

“Yang enaknya.. ya jelas pake ini Ta”, jawab Om Ridwan sambil memasukkan tangannya ke dalam rok pendek yang dipakai Cinta. Entah apa yang dilakukan tangan itu di dalam rok, sehingga mampu membuat desahan kecil dari mulut Cinta.

“Iddihh si Om.. pengennya yang itu aja?”, Cinta pura-pura jual mahal.

“Abisnya barang enak, jelas kepengen Ta..”, kata Om Ridwan sambil mendaratkan ciuman-ciuman ke bibir Cinta.

Beberapa saat berciuman, tiba-tiba Cinta menarik bibirnya. “Pintunya gak dikunci dulu Om?”.

“Gak usah, gak bakal ada yang masuk kok”. Om Ridwan langsung menyahut. Ciuman pun langsung mendarat lagi di bibir Cinta. Kali ini ciuman itu lebih terlihat seperti pagutan yang penuh nafsu.

Selama berciuman tangan Om Ridwan kembali bergerak lincah membuka kaitan dan resleting rok Cinta. Rok itu tak lama berhasil melorot turun. Cinta mengangkat kedua kakinya bergantian agar rok itu terlepas. Pagutan dan kuluman terus mendarat di bibir Cinta. Sambil memainkan lidahnya disana, Om Ridwan mendorong secara perlahan tubuh gadis cantik itu mendekati ranjang. Kedua kaki Cinta bergerak pasrah mengikuti kemauan laki-laki itu. Namun ketika Om Ridwan berbisik guna mengajaknya naik ke atas ranjang, Cinta menolak halus.

“Gak enak ah Om, Cinta sungkan. Itu kan tempat tidurnya Tante…”, ucap Cinta mengutarakan perasaan canggungnya untuk bermain cinta di ranjang keluarga tersebut.

Om Ridwan rupanya bisa mengerti perasaan Cinta dan ia pun tidak memaksa. Laki-laki itu menoleh sekeliling sebentar dan sepertinya menemukan cara yang lain.

“Ya udah kalo gitu kita lakukan sambil berdiri aja. Sini Om yang atur, ya”, katanya sambil membawa Cinta ke ujung ranjang dan menyandarkan tubuh Cinta di palang-palang besi ranjang tersebut.

Ranjang yang ada di kamar tersebut berbentuk besar dengan model kuno. Dari modelnya mengingatkan kita pada film-film yang mengambil setting kerajaan. Terbuat dari teralis besi lengkap dengan tiang-tiang penyangga kelambunya. Di situ pantat Cinta bersandarkan pada teralis di ujung ranjang yang tingginya mencapai pinggulnya. Kedua tangan Cinta diatur Om Ridwan terangkat keatas hingga menyentuh penyangga yang menghubungkan dua tiang kelambu. Cinta yang semula hanya diam, begitu melihat Om Ridwan hendak mengambil seutas selendang terlihat mengerutkan dahinya.

“Om, Cinta mau diapain?”. Nada khawatir terdengar dari suara Cinta.

“Ssstt.. Percaya aja sama Om”.

Cinta pun kembali diam. Om Ridwan kembali melanjutkan aksinya. Kini kedua tangan Cinta disatukan dan diikat dengan menggunakan selendang. Ujung selendang sisanya diikatkan pada tiang penyangga atas ranjang. Posisi tangan yang terikat keatas seperti itu, membuat kedua tangan Cinta sepenuhnya tidak berdaya. Suatu posisi yang unik untuk bersanggama dalam gaya berdiri. Cinta hanya bisa memandangi pasrah sambil menunggu apa yang selanjutnya akan dilakukan Om Ridwan.

Berikutnya barulah Om Ridwan mulai merangsang dengan menciumi dan menggerayangi sekujur tubuh Cinta dari mulai atas hingga ke bawah. Berawal dari mencium bibir, leher dan memainkan lidah pada telinga si gadis. Menyusul Om Ridwan mengerjai ketiak dan kedua payudara Cinta dengan kecupan mulutnya. Dikulumnya bergantian kedua puting payudara kanan dan kiri. Puas di daerah itu, jilatan Om Ridwan beralih ke perut dan pusar Cinta.

“OOHHH..!”. Cinta melenguh.

Ciuman, jilatan serta kuluman terus turun dan berakhir dengan permainan lidah di daerah selangkangan. Jilatan itu terus turun menuju paha, lutut, betis serta jari-jari kaki jenjang Cinta. Tak lama jilatan itu kembali naik dan bermuara tepat didaerah selangkangan. Gadis cantik itu merancau tertahan menahan geli.

“Oohh.. Om, Geli Om, Oohh..”, Cinta terus mendesah tertahan.

Om Ridwan beranjak berdiri, kemudian berbisik di telinga Cinta. “Oh thong untuk ujian skripsi? Mau nakal sama penguji ya? Hehehe”. Rupanya Om Ridwan baru menyadari jenis celana dalam yang dipakai Cinta saat itu.

Cinta tersenyum. Ia memakai celana dalam super sexy itu sebenarnya untuk sang kekasih. Sepulang ujian sebenarnya ia berencana mampir ke apartemen Rido, dan merayakan kelulusannya disana. Felisia membuat rencana itu berubah dan Om Ridwan yang beruntung atas perubahan tersebut.

“Hhmmm… Srruupp.. Srruupp…”, Om Ridwan memasukkan lidahnya ke dalam mulut Cinta. Benda itu menari-nari di dalamnya sebelum berpindah kembali ke bagian dada. Terakhir laki-laki itu kembali berjongkok di depan selangkangan Cinta.

Melihat celana dalam yang menyerupai seutas tali itu telah basah, dengan cekatan Om Ridwan meloloskannya. Jilatan lidah langsung tanpa penghalang itu pun membuat Cinta mulai naik terangsang. Aroma menggoda dari vagina basah milik Cinta baik aroma surgawi di hidung Om Ridwan. Posisi kedua tangan Cinta yang tidak bisa ikut membalas, rupanya menimbulkan daya rangsang yang luar biasa. Apalagi ketika mulut Om Ridwan mulai memberi rasa geli-geli enak di vagina yang tidak bisa ditolak sekujur syaraf-syaraf tubuhnya. Variasi permainan cinta ini benar-benar menimbulkan sensasi yang menakjubkan bagi Cinta.

“Oohh.. Om, ssshhh.. ssshh…”.

“OOHHH..! ssshhh.. ssshh…”.

Ditengah-tengah sensasi yang menyerang tubuhnya, terdengar suara televisi diluar sana. Agaknya diluar sana, Denny sudah tak lagi berada di kamarnya dan kini berada hanya beberapa meter dari kamar itu. Benar-benar situasi yang terasa konyol sekaligus berbahaya. Sementara diluar sana sang anak sedang bersantai, di dalam kamar ada seorang gadis cantik sedang meliuk-liuk keenakan saat vaginanya dikerjai mulut sang ayah. Cinta terlihat berusaha menahan desahannya yang semakin tak kuasa ia tahan untuk berubah menjadi teriakan. Kini vaginanya terasa begitu siap untuk menerima lebih dari sekedar usapan lidah.

“Ayoo Om.. jangan lama-lama.. masukin dulu punya Om..”, bahkan rintih Cinta sudah meminta Om Ridwan segera mulai bersenggama.

Om Ridwan tidak menunggu lebih lama. Dia segera bangun dan membawa penisnya yang hampir menegang maksimal itu menempel di celah vagina Cinta. Membasahi dulu dengan ludahnya, menggosok-gosokan ujung kepala bulatnya di klitoris Cinta agar menjadi lebih kencang lagi, baru setelah itu mulai diusahakan masuk ke dalam lubang vagina di depannya.

“Ayoo Om.. Ayo…!”.

Cinta menyambut seolah tidak sabaran. Ia menjinjitkan kakinya dan mengangkangkan pahanya selebar yang bisa dilakukannya tanpa bisa membantu dengan tangannya. Tangannya yang sedang terikat, terpaksa membuatnya hanya bisa menunggu Om Ridwan bekerja sendiri menguakkan bibir vagina dengan jari-jarinya. Om Ridwan agaknya masih berusaha menyusupkan kepala penisnya agar terjepit lebih dahulu di bibir vagina, baru kemudian ditekan keras dan menghujam masuk.

“NGGHHH…!!!”, Cinta sampai harus menggigit bibir bawahnya dengan keras guna menahan teriakannya tidak keluar.

Beruntung diluar sana suara televisi distel cukup kencang oleh Denny. Alunan musik yang terdengar diluar terdengar senada dengan Cinta yang saat itu juga sedang merintih lirih, mengalunkan tembang nikmat ketika vaginanya mulai disodok dan digesek ke luar masuk penis tegang Om Ridwan. Namun kelihatannya baik Cinta maupun Om Ridwan belum ada yang menyadari suara televisi tersebut. Keduanya sudah terlalu dalam masuk ke alam birahi untuk menyadari kondisi di sekitar mereka.

“Ngghh.. Om.. ssshhh.. ssshh.. addduuh..”

“Sshsmm.. adduhh Om.. ennakk..!!”.

“Sshh.. mmhh.. heehhss.. adduhh..”. Terdengar suara mengaduh-aduh rintih dari mulut Cinta. Bukan suara mengaduh kesakitan melainkan sedang larut dalam kenikmatan.

Bersetubuh dalam posisi berdiri bukanlah hal baru bagi Cinta, namun bersama Om Ridwan variasi ini terasa santai dan mengasyikan sekali baginya. Tidak repot menahan tubuhnya tetap berdiri karena Om Ridwan menumpu tubuhnya. Sesekali Cinta juga bisa mengapit pinggang Om Ridwan dengan dua pahanya, sehingga hujaman penis bisa lebih maksimal. Ditambah lagi rasa nikmat dari meremasan tangan Om Ridwan di kedua payudaranya, diselingi memilin-milin geli putingnya.

Malah tidak berlama-lama lagi, ketika Om Ridwan sudah serius tegang akan tiba dipuncaknya Cinta pun mengisyaratkan tiba secara bersamaan. “Aduuhh.. Omm.. Ayoo.. Sshh.. Duh Cinta mau keluarr.. Sshh.. Gghh.. Omm..”, desah Cinta tertahan.

“Aduhh… Sshh.. Iya ayoo Sin.. Om juga sama-sama.. aahghh..”. Tubuh Om Ridwan terlihat mengejang.

Cinta menyentak-nyentak menjelang orgasme yang hampir dicapainya. Om Ridwan juga terlihat semakin mempercepat frekuensi kocokannya ketika hampir tiba di ejakulasinya.

“CINTAAA..!!”.

“OOMMM..!!”.

Keduanya berteriak tertahan hampir bersamaan. Permainan pun usai dengan kepuasan yang diperoleh keduanya. Cinta terkulai lemas dengan posisi tangan masih terikat. Sekujur tubuhnya merasakan sensasi yang luar biasa, yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Bahkan saat ini sepertinya Cinta juga tidak menyadari, kalau Om Ridwan baru saja orgasme didalam dirinya. Leleran cairan kental merembes sepanjang pahanya ketika laki-laki itu mencabut penisnya.

Alunan musik dari televisi diluar kamar kini sayup-sayup terdengar di telinga Cinta. Ia lalu memberi isyarat agar laki-laki itu memfokuskan diri untuk mendengar suara televisi diluar kamar. Baik Cinta maupun Om Ridwan sepertinya sempat beberapa menit kehilangan konsentrasi menjelang klimaks tadi. Kini keduanya mulai menyadari situasi di sekitar mereka. Om Ridwan langsung bergegas membuka ikatan tangan Cinta. Laki-laki itu memberikan isyarat kepada Cinta untuk tetap tenang. Dengan cekatan Om Ridwan memakai kembali pakaiannya, sementara Cinta sendiri terlihat masih dalam keadaan polos.

“Om gimana nih, Denny ada diluar tuh”.

Cinta menyambar kemeja dan menggunakannya untuk menutupi tubuh polosnya.

“Tenang aja, dia ga bakal tau kok, anak itu kalo udah nonton TV lupa segala deh”.

“Tapi Om…”.

Om Ridwan menempelkan jari telunjuknya di bibir Cinta. “Ssstt… Gak apa-apa”.

Cinta pun membisu ketika sebuah ciuman mendarat ke bibirnya. Ciuman itu kemudian berlanjut menjadi kuluman. Sementara dibawah sana, tangan Om Ridwan sibuk merabai bulu-bulu kemaluan Cinta. Kuluman itu baru berhenti ketika Cinta mulai terlihat lebih tenang.

“Makasi Ta, sumpah Om suka banget sama memek kamu hehe”, ucap Om Ridwan begitu bibir mereka terpisah.

“Sama memek Cinta aja? Terus sama Cintanya gak gitu?”, gadis cantik itu memasang senyum masam. Guna menggoda Om Ridwan tentunya.

“Sama dua-duanya dong hehehe”, Om Ridwan tertawa.

Tangan kiri laki-laki paruh baya masih bermain dipermukaan daerah kewanitaan Cinta. Om Ridwan bisa merasakan sperma kental miliknya ada disana. Ia terlihat puas ketika bagian dari dirinya kini berada di dalam tubuh gadis secantik Cinta.

“Geli ih Om”, Cinta merengek manja.

Cinta berjongkok mengambil celana dalamnya. Tangan Om Ridwan yang sempat terlepas, kembali mendarat di selangkangan Cinta begitu ia berdiri. Hal ini membuat Cinta kesulitan ketika hendak memakai celana dalamnya.

“Udah dong Om, Cinta kan jadi gak bisa makenya nih”.

“Kalo gitu mending gak usah dipake aja”, tiba-tiba saja Om Ridwan menarik celana dalam yang dipegang gadis tersebut.

“Om, balikin celana dalem Cinta…”.

“Ntar Om balikin, sekarang Om urus situasi diluar dulu hehehe”.

“Om…!”, kata-kata Cinta kembali harus terhenti untuk kesekian kali. Om Ridwan sudah menghilang dari balik pintu. Kini gadis cantik itu hanya bisa menghela nafas dengan ‘kenakalan’ ayah dari sahabat karibnya tersebut.

Cinta beranjak menuju lemari pakaian dengan cermin cukup besar. Di depan cermin Cinta bisa melihat kondisi dirinya yang terlihat sedikit kacau akibat persetubuhan yang baru saja terjadi. Rambutnya tak lagi tertata rapi. Make up diwajahnya pun luntur. Sisa keringat membuat tubuhnya terlihat licin. Belum lagi ‘benih’ yang mengering menempel di paha dan perutnya, terasa lengket mengganggu. Saat itu barulah Cinta menyadari ada lelehan sperma yang keluar dari dalam vaginanya. Cinta pun meruntuk kesal. Gadis cantik itu segera beranjak menuju ke kamar mandi.

Berapa menit berada di dalam kamar mandi, Cinta keluar dalam keadaan lebih segar. Kembali ia berjalan ke arah cermin. Dibukanya balutan handuk di tubuhnya, sehingga kini tubuh molek tersebut kembali terbuka dengan bebas. Dengan memakai handuk Cinta mengelap rambutnya yang sedikit basah. Di depan cermin Cinta menatap ke arah kedua payudaranya. Ia mengangkat-angkat kedua payudaranya, meremas-remasnya sedikit lalu tersenyum kecil. Payudara itu terlihat montok, padat dan berisi. Salah satu bagian tubuh yang dibanggakannya. Bagian yang kerap menjadi primadona bagi laki-laki yang pernah bersamanya. Diambilnya sebuah sisir dan mulai merapikan rambut panjangnya.

Cinta sudah selesai memakai pakaiannya, ketika Om Ridwan muncul dari balik pintu.

“Gimana Om?”, bisik Cinta.

“Udah gak apa-apa, kamu keluar aja terus langsung masuk ke kamar Feli, nanti Om bilang ke Feli kalo Om yang nyuruh kamu nunggu di kamarnya”.

“Terus Denny gimana Om?”.

“Dia lagi di garasi Om suruh beres-beres…”.

Cinta kemudian membuka pintu dan sekilas mengintip keadaan diluar kamar.

“Celana dalem Cinta mana Om?”.

“Oh iya, hampir lupa”, Om Ridwan meroboh kantung celana kanannya. Ekspresi wajah laki-laki itu tiba-tiba berubah cemas. Ia merogoh kantung celananya lebih dalam, kemudian bergantian merogoh saku celana kirinya. “Dimana ya…”.

“Ada apa Om?”.

“Tadi rasanya Om naruh celana dalem kamu di saku celana, kok gak ada ya?”.

“Ya ampun Om, gimana sih…”, Cinta menggerutu.

“Tadi beneran ada disini”.

“Serius Om?”.

“Iya, gak percaya? Coba deh kamu cek sendiri”.

Cinta melengos. Gadis itu memasukkan tangannya ke dalam saku kanan Om Ridwan.

“Aauu… Jangan salah grepe dong, ntar tegang lagi loh hehehe”.

Cinta menyeringai mendengar kata-kata Om Ridwan itu. Tangan Cinta keluar dari saku celana kanan dan beralih ke saku celana kiri. Didalam sana ia merasakan benda kecil bertekstur lembut. Ia menggenggamnya dan menariknya keluar.

“Ini apa?”, protes Cinta.

“Oh tadi kok gak ada disana ya? Hehehe”.

Tiba-tiba Cinta melayangkan tangannya ke arah selangkangan Om Ridwan. Diremasnya gundukan besar yang ada disana.

“Rasain nih, udah boongin Cinta!”.

“Aduh, aduh, aduh… Kurang keras ngeremesnya Ta hehehe”.

“Ppfftt..”. Bukannya kesakitan Om Ridwan justru malah terlihat keenakan. Dengan kesal Cinta melepaskan genggamannya.

“Jangan cemberut gitu dong, ntar cantiknya hilang hehehe”.

“Biarin!”, kembali Cinta menyeringai kesal. Gadis cantik itu kemudian memakai kembali celana dalamnya.

Om Ridwan mendekati Cinta dan mendaratkan ciuman dibibirnya. Cinta pun membalas. Bahkan mereka memainkan lidah untuk beberapa saat setelahnya. Bibir mereka baru berpisah ketika diluar sana terdengar suara mobil dan suara pintu gerbang depan terbuka.

“Itu Tante?”.

“Iya. Ayo cepet buruan kamu naik ke lantai atas”. Cinta menjawab dengan anggukan.

Om Ridwan membuka sedikit pintu kamar. Ia lalu memberi kode memberitahu Cinta sudah aman untuk keluar kamar. Cinta pun lalu bergegas keluar kamar dan berlari menaiki tangga. Sekilas ia bisa mendengar suara Felisia di bawah sana. Dengan segera gadis itu masuk ke dalam kamar dan mendaratkan pantatnya diatas ranjang. Beberapa saat kemudian terdengar suara jejak langkah yang mendekat menaiki tangga. Segera saja Cinta menyambar sebuah majalah remaja dan pura-pura membacanya.

“Hei sory lama Ta, abis jalanan ternyata macet”, Felisia muncul dari balik pintu.

“Gak apa-apa”. Cinta tersenyum.

“Turun yuk, mama bawa oleh-oleh buaanyak banget hehehe”.

Cinta mengangguk, kemudian berdiri. Kedua gadis cantik itu terlihat berjalan menuruni tangga. Sesekali terdengar suara tawa keduanya.

Beberapa saat kemudian suasana diruang tamu terlihat penuh keceriaan. Tak ada seorang pun di ruangan itu, kecuali Cinta dan Om Ridwan, yang tahu tentang kejadian yang baru saja terjadi di dalam kamar. Kebohongan kembali bisa tertutupi dengan memakai topeng yang tepat. Cinta tetap bisa tersenyum di depan Tante Vera dan Felisia, begitupun dengan Om Ridwan di depan keluarganya. Keduanya seakan tahu bagaimana setiap babak dari kisah mereka harus dijalani dan bagaimana seharusnya ditutupi. Rahasia akan tetap menjadi rahasia. Tetapi apakah memang demikian adanya?

*************

Denny masuk ke dalam kamarnya. Ia memastikan kalau pintu kamarnya terkunci. Dihidupkannya DVD player, sehingga alunan musik memenuhi seluruh kamar. Laki-laki muda itu bergegas naik ke ranjang dan mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam saku celana. Dicarinya program video player. Dipilihnya salah satu file, kemudian ditekannya tombol ‘play’.

“Sshhh..”. Denny mendesah pelan.

Tangan kiri Denny bergerak cepat menurunkan celana pendek sekaligus boxer yang dipakainya. Kedua pakaian itu melorot turun sampai ke lutut. Tangan itu juga yang kemudian mengurut-ngurut batang penisnya sendiri. Berlahan penis itu menegang seiring bertambahnya durasi video. Adegan di layar ponsel itu berlahan mulai memancing birahi Denny. Adegan sepasang manusia sedang bersenggama.

“AAHH..!”.

Adegan video berhenti bersamaan dengan melelehnya cairan putih dari ujung penis Denny. Tubuh Denny terasa lemas. Ponsel yang dipegangnya di tangan kanan terlepas.

Sebuah nama berbisik lirih keluar dari mulut Denny. “Kak Cinta…”.

#############

TAMAT (?)

Copyright © 2013, Pendekar Maboek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s