Eksanti, The Other Manager

Posted: Januari 6, 2013 in Other Stories

Cerita Manajer itu kepadaku:

Sore hari di bulan Februari tahun 1997, aku masih ingat betul kejadian itu. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, sementara aku masih duduk di ruang kerjaku merenungkan situasi ekonomi yang tidak juga kunjung membaik. Aku benar-benar pusing memikirkan hal itu, dan aku merasa butuh penyegaran bagi otakku yang mulai suntuk. Lalu aku mulai menyalakan modem dan men-dial website favoritku. Ketika aku sedang iseng-iseng melakukan surfing di web site itu, tiba-tiba temanku si manajer masuk ke dalam kamarku.

“Hei, lagi ngapain lu..”, ia bertanya singkat.

“Biasa.., lagi iseng surfing di internet”, jawabku tanpa melirik ke arahnya.

Aku dan dia memang terbiasa untuk menyapa dengan pangilan elu dan gua, kecuali untuk saat-saat yang sangat formal. Kami memang telah saling mengenal dekat cukup lama, dan kami pun dulu belajar di peguruan tinggi yang sama. Kedekatanku dengan dia membuat kami tidak perlu saling merasa sungkan untuk menceritakan hal-hal yang sangat pribadi, termasuk pengalaman kami masing-masing dengan teman-teman wanita. Baik pengalaman waktu kuliah dulu, juga pengalaman kami sekarang saat kami sama-sama telah menjadi manusia dewasa. Hanya saja, sejauh ini aku sama sekali tidak pernah menceritakan affairku dengan Eksanti demikian pula dengan si manajer itu, hingga kejadian sore itu.

Lalu aku melanjutkan lagi.. “..ehh.., elu tahu nggak aku menemukan fotonya Eksanti di internet”.

“Ahh.. masa, coba lihat”, ia bertanya dengan nada penasaran, sambil berjalan ke arah belakang tempat dudukku. Ia menarik kursi, dan duduk di sebelahku. Lalu aku mencari file yang aku maksud, dan segera membukanya.

“Naa.. ini ‘kan Eksanti”, aku menunjuk gambar seorang wanita yang sedang berpose menantang di layar komputerku. Aku sebenarnya tahu persis bahwa gambar itu bukanlah Eksanti, walau wajah wanita itu memang benar-benar mirip dengan Eksanti.

“Acchh.. ngawur kamu”, ia melontarkan pendapatnya, “..wajahnya memang mirip, tapi payudaranya terlalu besar.. achh”.

“Emang, elu tahu ukuran Santi?”, aku bertanya dengan sedikit nada heran bercampur sedikit rasa cemburu.

“Hee.. he.., tanya sama gua dong. Gua kan pernah begini sama dia”, katanya dengan nada bangga sambil meremaskan kedua tanggannya di dadaku.

“Achh.. lu, ngarang ‘kalii..!!”, aku mengomentari pernyataannya dengan segala usaha untuk menyembunyikan rasa cemburuku.

“Lu.., nggak percaya.., hee.. hee.. gua kan udah lebih lama ngenal dia daripada elu, jadi gua tahu persis segala-galanya tentang dia”, ia berujar lagi.

“Emang gimana sih.. si Eksanti itu”, aku bertanya lagi dengan penuh selidik.

“Gua tahu, tapi gua nggak mau cerita..”, ia menolak pertanyaanku.

“Acchh.. Lu bohong aja..!”, aku memancing lagi.

“Ecchh.. bener, gua tahu persis!!”, nadanya sedikit meninggi. Naa.. kena deh pancinganku. Lalu ia melanjutkan lagi, “..iya deh gua ceritaain, tapi elu jangan cerita-cerita ke yang lain yaa..”.

“Iya deh, kayak elu nggak tahu gua aja”, aku semakin berusaha memancing pengetahuannya tentang Eksanti.

Lalu si manajer tadi bercerita panjang lebar mengenai latar belakang si Eksanti. Ia memang tahu persis latar belakang keluarganya, pacar-pacarnya, affair-affairnya, bahkan sampai ke masalah-masalah sosial ekonomi-nya. Sebenarnya aku kagum pada pengetahuan dan kedekatannya dengan Eksanti, tetapi aku tetap berusaha menyembunyikan perasaanku. Aku jadi teringat bahwa ceritanya memang persis sama dengan yang Eksanti pernah ceritakan kepadaku, sehingga tidak ada alasan bagiku untuk tidak mempercayai ‘pengetahuan’ si manajer ini.

Ketika ia mulai mengakhiri ceritanya, aku bertanya lagi kepada si manajer itu “..terus emang elu ada affair juga sama Eksanti?”

“Yaa.. gimana yaa.., abis gua juga lagi suntuk di rumah sih. Terus Santi juga lagi ada problem, gua kebetulan mau ndengerin problemnya. Terus dia mau ngedengerin problem gua.. Yaa.. saling curhat gitulah. Emang yang begituan begituan namanya affair..?”, aku tahu, ia masih berusaha menyembunyikan cerita yang sebenarnya kepadaku.

“Lho.., tadi elu bilang tahu persis ukuran Santi”, aku mengingatkan.

“Iyaa.. sih, gua emang pernah sama dia, tapi..”, ia berhenti sejenak nampak ragu-ragu melanjutkan ceritanya.

“Tapi gimana..?”, aku semakin penasaran.

“Ceritanya begini.., elu tahu ‘kan kita pernah punya bisnis kapal yang di Surabaya itu”, akhirnya dia tidak tahan juga untuk tidak bercerita.

“Iyaa.. terus apa hubungannya”, aku memancing lagi.

“Kan, Eksanti banyak mbantuin gua di bisnis itu. Jadi gua sama dia jadi makin deket. Gua jadi sering jalan bareng sama dia.”, ia melanjutkan.

“Terus..?”, aku mulai serius mendengarkan.

“Terus kejadiannya kira-kira sebulan yang lalu..”, ia mulai berterus terang, menceritakan kejadiannya secara rinci..

############

Eksanti

Eksanti

Hari Jum’at sore selepas Maghrib, udara di kota Surabaya yang biasanya sangat terik, berubah menjadi dingin sekali akibat hujan yang turun seharian. Kami baru saja keluar dari sebuah kantor BUMN di Surabaya, setelah seharian kami melakukan rapat untuk mengurus ijin pelayaran kapal perusahaan kita. Sengaja hari itu, diam-diam tanpa memberitahumu, aku mengajak Eksanti ke kota Surabaya untuk membantuku dalam mengurus perijinan ini. Seperti biasa, menurutku birokrat akan lebih lunak bila dihadapi oleh seorang wanita, apalagi yang pintar, cantik dan sexy seperti dia.

Tadinya kami memang berencana untuk langsung pulang ke Jakarta menggunakan pesawat yang terakhir, tetapi karena waktu yang tidak memungkinkan lagi untuk memperoleh tiket pulang ke Jakarta, maka aku lalu berfikir lain.

“Wah, kayaknya kita harus nginep di Surabaya nih, Santi. Toh besok kita juga libur, kamu nggak keberatan ‘kan?”, ujarku kepadanya.

Terlihat ia berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Nggak apa-apa sih, Mas, tapi kita mau nginep di mana?”

Aku lantas memberi usul yang sangat rasional, “Kita cari hotel terdekat dengan airport saja deh. Nanti saya akan booking dua kamar yang sebelahan yaa.., jadi biar kamu nggak takut”.

“Oke.., itu ide yang baik”, Eksanti berkata singkat menyetujui usulku.

Lalu kami berjalan ke arah taksi yang kebetulan banyak yang sedang menunggu di depan kantor itu. Sebuah taksi berwarna biru segera menghampiri kami yang sedang berdiri di tangga lobby kantor itu.

“Ke hotel Holiday Inn Pak..!”, aku berkata pada sopir taksi begitu kami berdua duduk bersebelahan di kursi belakang. Rasa penat yang ada dalam diriku membuatku melamun. Aku mengingat-ingat pertemuan dengan para birokrat yang baru saja kami lakukan. Tiba-tiba aku tersenyum sendiri ketika aku mengingat, betapa pada saat meeting tadi darahku sempat mengalir deras ketika aku melirik ke arah kaki indahnya yang sedikit tersingkap. Hal itu sempat mengganggu konsentrasiku, sehingga aku agak tergagap-gagap ketika tiba-tiba si birokrat itu memberikan pertanyaan padaku.

Lamunanku tiba-tiba buyar ketika Eksanti berkata, “Kok, Mas senyum-senyum sendiri, ada apa sih..?”.

“Nggak.., nggak apa-apa”, aku menjawab dengan sedikit terbata-bata, sambil memandang lurus ke arah matanya dengan tajam. Eksanti lantas tersipu-sipu, dan mataku pun beralih kembali ke arah kaki indahnya. Dadaku kembali berdegup kencang ketika aku kembali menyaksikan pemandangan indah itu. Rasa penatku seakan langsung menghilang lenyap. Celanaku terasa sesak ketika kejantananku tidak bisa diajak kompromi lagi. Akupun lalu membayangkan hal-hal indah yang selama ini cuma ada di angan-anganku. Akankah bayanganku itu bisa menjadi kenyataan?

Suasana perjalanan dari kantor itu ke arah Airport Juanda benar-benar hening. Aku kembali pada lamunanku, sementara aku melihat Eksanti berusaha untuk memejamkan matanya. Ia nampak sangat letih. Kasihan juga gadis ini, aku sangat beruntung tadi sangat dibantu oleh kehadirannya. Aku berjanji akan memberinya hadiah bila sampai di Jakarta nanti, pikirku dalam hati.

Tidak terasa kami telah sampai di hotel, dan setelah aku membereskan administrasinya, kami segera menuju ke lantai 7 dimana kamar kami berada. Ketika di dalam lift yang menuju lantai itu, kami hanya berdua. Mata kami kembali beradu pandang, aku merasakan adanya desiran hangat dalam diriku, terlebih ketika harum bau parfum Eksanti begitu terasa di dalam lift yang sempit itu. Bayang-bayang tentang keindahan itu kembali menggaguku, dan “tingg..” tiba-tiba buyar begitu lift berhenti di lantai 7. Kami lalu menuju kamar masing-masing yang saling berhadapan pintunya, aku ingat betul nomornya 712 dan 713. Sesaat kami sempat beradu pandang kembali pada waktu membuka kunci pintu kamar. Darahku lagi-lagi berdesir deras, dan Eksanti pun tersipu malu..

******

Pukul 20.00 malam, aku selesai mandi, bayang-bayang Eksanti terus menggodaku. Dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di bawah perutku, aku merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Bayang-bayang itu semakin menggelorakan birahiku, dan tanpa terasa kejantananku pun menegak ketas membayangkan hal-hal indah yang belum pernah aku alami bersamanya.

“Achh.. seandainya..”, aku berkata dalam hati sambil mengusap-usap handuk yang menyembul ke atas menutupi kejantananku. Lalu, tiba-tiba aku teringat bahwa notulen rapat tadi siang masih ia bawa. Aku segera menyambar gagang telephone di sebelah tempat tidurku, lalu aku memutar nomor telephone di kamarnya. Aku meminta ijin pada Eksanti untuk mengambil notulen itu di kamarnya dan ia pun mengiyakan. Karena aku berpikir nanti terburu malam, maka aku hanya mengenakan kaos dan celana tidur saja, ketika aku beranjak ke kamarnya. Aku tidak pernah memakai celana dalam bila hendak tidur.

Aku mengetok pintu kamarnya, dan Eksanti segera membukanya. Ia sudah selesai mandi, rambutnya masih basah oleh air keraMas, dan saat itu Eksanti hanya mengenakan daster putih tipis yang menerawang. Sesaat jantungku berdegup keras ketika aku memperhatikan bayang-bayang tubuh indahnya yang nampak jelas karena terpaan sinar dari arah belakang kamarnya.

“Masuk dulu deh Mas, nanti saya ambilin!”, begitu sapa Eksanti. Aku mengikuti langkahnya dari belakang, dan aku baru sadar bahwa saat itu Eksanti belum mengenakan celana dalam dan bra. Kejantananku kembali mengeras menyembul dari balik celana tidurku menyaksikan pemandangan indah itu. Aku semakin tidak tahan.

Eksanti berjalan menuju ke meja, tempat ia menyimpan tas berisi berkas-berkas kerja. Aku berdiri tepat di belakangnya. Bau harum tubuh dan rambutnya yang wangi semakin mengelorakan jiwaku. Tiba-tiba Eksanti berbalik badan dan berkata, “..yang ini yaa.., Mas!”, sambil memegang berkas notulen yang aku maksud. Aku terkejut, karena rambutnya yang basah mendadak tersibak mengenai mukaku. Tubuh kami secara tidak sengaja hampir berhimpitan.

Aku tahu bahwa Eksanti juga terkejut karena secara tidak sengaja kulit tangannya sempat menyentuh celana tidurku yang menyembul keras sekali.

“Yaa.. benar, yang itu”, aku terbata menjawab sambil mencoba menerima berkas kertas-kertas notulen itu. Karena kami sama-sama gugup, maka kertas-kertas itu terjatuh dari tangannya. Secara refleks aku mencoba untuk menangkapnya, namun justru pergelangan tangannya yang terpegang oleh tanganku. Kertas-kertas itu jatuh bertebaran di lantai, namun kami tidak menghiraukannya lagi.

Gejolak birahi telah sedemikian menggelora dalam diriku. Dengan sisa keberanian yang ada aku meremas jemari tangannya sambil sedikit menarik tubuhnya ke arahku.

“Mas.., jangan Mas”, Eksanti mendesah lirih, namun ia memejamkan matanya seolah ia menikmati belaian lembut tanganku di jari-jarinya. Lalu dengan sedikit nekad, aku mencoba mendekatkan bibirku ke bibirnya yang tipis itu.

“Mas.., jangan..”, ia masih berusaha menolakku dengan lemah, tetapi tangannya sama sekali tidak berusaha untuk mendorong tubuhku yang menghimpitnya. Ketika sekali lagi ia membuka mulutnya untuk berkata “Jangaann..”, maka aku tidak mennyia-nyiakan kesempatan untuk mencium dan melumati bibir indah itu. Aku menggigit dengan lembut bibirnya. Serangan pertamaku berhasil, ia sama sekali tidak menolak bahkan tangannya memegang pipiku seolah berusaha agar aku lebih leluasa menciuminya.

Tanganku memeluknya dengan erat dan jemariku telah berada disekitar buah pantatnya seakan berusaha untuk menekan badannya lebih rapat ke arahku. Posisi ini membuat Eksanti bisa dengan jelas merasakan tonjolan kejantananku di balik celana tidurku.

“Hhhmm..”, Eksanti mendesah pelan ketika aku menggesek-gesekan kejantananku di sekitar daerah sensitifnya. Kini bibirku telah turun kearah lehernya yang putih. Lidahku menyapu-nyapu di belakang telinga dan membasahi rambut-rambut halus di atas tengkuk lehernya.

Tangan Eksanti kini telah turun dari leherku menuju ke arah buah pantatku, berusaha untuk menekankan kejantananku ke arah kewanitaannya. Lalu tangannya menyusup dari arah karet atas celana tidurku, dan jemarinya meraba-raba buah pantatku. Ia nampak sedikit kaget ketika ia tahu aku tidak mengenakan apa-apa lagi di balik celana tidurku. Jemari itu terus bergerak ke depan berusaha untuk menggenggam kejantananku.

“Ssshh..”, aku mendesis nikmat, saat jemari tangannya bergerak lembut melingkari kejantananku yang telah mengeras. Tanganku sekarang telah meraba-raba puting payudara kirinya, sementara mulutku menciumi putingnya yang kanan. Daster putih yang ia kenakan membasah di sekitar putingnya karena air liurku, sehingga putingnya yang kecil, tegang, merah kecoklatan itu semakin tampak jelas mencuat ke atas. Bergantian aku meraba dan mencium puting kiri kanannya, dan Eksanti mulai mendesis-desis nikmat, “Acchh.., Mas, enak sekalii..”.

Lalu dengan lembut aku membimbingnya ke arah ranjang tidur. Eksanti terduduk di atasnya dan ia merebahkan sebagian badannya di atas tempat tidur. Sementara kakinya yang indah masih terjulai ke atas karpet. Aku menyingkapkan daster yang ia kenakan, dan aku menyaksikan indahnya bulu-bulu hitam lembut yang menutupi kewanitaannya dengan rapi. Sungguh sangat pandai ia merawat dirinya, pikirku dalam hati. Aku berlutut antara kedua paha indahnya yang berjuntai dan aku mengarahkan bibirku ke arah bulu-bulu lembut itu. Lalu aku mulai mengecup dan mengembus-hembuskan nafas hangat yang membuatnya berteriak kecil, “Aw..!” tanda kaget sekaligus senang.

“Aucchh..”, Eksanti mendesis lagi ketika jilatan-jilatan lidahku mulai menyentuh kulit pahanya. Tangannya meremas-remas rambut kepalaku seolah-olah mengarahkan bibirku tepat ke atas kewanitaannya. Bibirku kini telah menempel di bibir kewanitaannya, lidahku menjilati dinding luar kewanitaannya dan Eksanti berteriak pelan menyebut-nyebut namaku. Apalagi kemudian aku mengeluarkan lidahku, dan dengan itu aku mulai menjilat perlahan, menyelipkannya di antara dua bibir kewanitaannya yang bersih dan wangi itu.

Eksanti mengerang, merasakan kenikmatan luar-biasa mulai menyebar dan membuat tubuhnya menegang. Apalagi kemudian lidahku berputar-putar di bagian atas, di tonjolan kecil yang kini memerah itu. Oh! Eksanti menggeliat. “Adduhh.. Mas, enakk..”, Eksanti kembali mendesis sambil mengelinjangkan tubuhnya. Aku bertambah nekat dengan mengisap-hisap klitorisnya, sehingga seakan-akan seluruh tubuhnya tersedot ke bawah. Lelehan air wangi yang sedari tadi telah membasahi dinding kewanitaannya kini makin mengalir deras. Bunyi lidah dan hisapan-hisapanku pada klitorisnya makin menjadikan birahiku kian memuncak. Tangannya juga semakin cepat membenam-benamkan kepalaku sambil terus berteriak-teriak lirih, “..terus Mas, teruss.. Mas, please, jangan berhenti..”

Kemudian salah satu telunjukku menerobos liang yang telah licin dan basah itu. Oh! Eksanti menggelepar, merasakan kegelian-kenikmatan-kehangatan dalam sentakan-sentakan yang menggelora. Apalagi kemudian aku mencengkram kedua kakinya, mengangkat dan mengangkangkannya. Oh! tubuhnya meregang ketika aku memasukkan lidahku,–seluruh lidahku– sampai ke pangkalnya, ke dalam liang yang terasa semakin melebar itu. Apalagi kemudian aku memutar-mutar lidah itu, meraih-raih langit-langit kewanitaannya yang telah berdenyut-denyut nikmat. Oh! Eksanti tak tahan lagi. Kaki Eksanti kini dilipatkan di balik punggungku mencoba untuk menahan derasnya air wangi yang mengalir dari dalam kewanitaannya. Dua menit berselang ketika kewanitaannya sudah basah kuyup oleh air wangi dan air liurku, tiba-tiba badannya menegang, punggungnya melenting ke atas dan Eksanti menjerit, “Achh.., Santi keluar mass..”.

Eksanti merasakan orgasme pertamanya datang menyerbu, menggemuruh bagai air bah yang tak tertahankan. Apalagi kemudian aku menyedot dengan seluruh mulutku, bagai sedang menyantap seluruh kewanitaanmu dengan lahap. Tak tertahankan lagi, Eksanti menggerang, menggelinjangdan bergeletar hebat, berteriak, “Ahh..mass..”. Tersentak-sentak, tubuhnya yang mulai basah oleh keringat menyebabkan ranjang berderik-derik. Segera aku berdiri, aku merebahkan tubuhku di atas badannya dan aku memeluk erat dirinya sambil menciumi mulut kecilnya itu. Tanganku masih berusaha untuk membelai-belai lembut klitorisnya.

“Achh.. Mas, enak sekali, enak sekalii..”, Eksanti mendesis-desis lagi.

*****

Sejenak setelah Eksanti mencapai orgasmenya yang pertama, ia lalu melepaskan pelukanku, dan ia merebahkan diriku sepenuhnya di atas tempat tidur. Eksanti duduk di sampingku sambil matanya dengan gemas mengamati kejantananku yang menjulang ke atas. Eksanti segera meremas kejantananku dengan lembut dan menciuminya. Lidahnya yang basah menyapu-nyapu lembut kepala kejantananku, memberikan rasa geli bercampur nikmat yang luar biasa.

Pertama-tama Eksanti memang cuma mengecup di sana-sini, lentikan-lentikan bara birahi, membuatku tersentak-sentak kegelian. Tetapi tak lama kemudian, dengan satu tangan mencekal-mereMas, Eksanti mulai mengulum dan menghisap. Wow! Aku seperti dilambungkan ke langit-langit, kedua kakiku bagai tak menginjak bumi. Dan Eksanti pun semakin bergairah, bagai bayi dahaga mulai menyedot berkepanjangan, berusaha memasukkan semuanya ke dalam mulut kecilnya yang hangat dan basah.

“Ouughh..”, aku mendesah pelan ketika ujung lidahnya menyentuh-nyentuh lubang pada ujung kepala kejantananku. Sementara tangannya berusaha untuk mengocok-ngocok kejantananku.

“Ooohh.. sayang aku nggak tahan, nggak tahann..”, aku menjerit-jerit pelan.

Sementara tangan yang satu sibuk mencekal-meremas, tangannya yang lain tiba-tiba saja sudah menjelajahi selangkangnya sendiri. Di bawah sana sudah mulai lembab dan gatal. Maka Eksanti pun mengusap-usap, menelusur dengan jari tengahnya, menguak lepitan bibir kewanitaannya yang terasa mulai menebal. Dengan ujung jempol, Eksanti sentuh pula bagian atas, tempat sebuah benjolan kecil yang mulai mengeras, mengirimkan getaran-getaran nikmat ke seluruh tubuhnya. Jari tengahnya kini mulai melesak, mengurut-urut permukaan liang yang telah pula basah dan licin. Eksanti menggelinjang sendiri. Geli dan nikmat sekali rasanya.

Dengan mulut penuh, Eksanti cuma bisa merasakan nikmat. Aku mengerang-ngerang sambil memegang kepalanya, mengusap rambutnya yang legam, yang di sana-sini menyentuh bagian dalam pahaku, menambah nikmat. Kalau begini terus, pikirku, sebentar lagi aku akan menyebabkan Eksanti tersedak. Maka dengan lembut aku menarik tubuhnya untuk segera berdiri. Kami berduapun lalu berpelukan, dan aku mengulum-melumatkan bibirnya. Sambil tetap berdiri, kami bergeser perlahan-lahan menuju ranjang. Bagai menari, kami bergoyangan perlahan, seirama menuju tempat peraduan.

Lalu Eksanti beringsut dari posisi duduknya dan kini Eksanti duduk di atas kejantananku. Buah pantatnya yang kecil tetapi padat itu, ia geser-geserkan pelan-pelan pada kepala kejantananku. Lalu Eksanti membibing kejantananku menuju lubang kewanitaannya. Ketika kejantanan itu tepat berada di depan lubang nikmat itu, Eksanti lalu menekankan badannya ke bawah sehingga kejantananku pelan-pelan terbenam di dalam lubang kewanitaannya.

Eksanti mengerang lagi, merintih nikmat, merasakan otot perkasa yang panas membara menerobos masuk ke dalam tubuhnya yang sedang bergeletar hebat. Segera saja kembali muncul kenikmatan baru di tubuhnya. Dan aku langsung meremas dada indahnya yang sintal itu, yang telah pula mengeras bagai hendak meledak. Eksanti menjerit kecil, kedua tangannya terentang pasrah, jari-jarinya meremas-remas seprai yang memang sudah berantakan tak karuan. Nafasnya tersengal-sengal, matanya terpejam nikmat, mulutnya setengah terbuka.

“Oouugghh.., Mas”, Eksanti berteriak nikmat sambil berusaha menggigit bibir bawahnya. Lelehan air wangi kembali terasa membasahi kejantananku hingga menambah licinnya gesekan-gesekan nikmat dinding kewanitaannya. Eksanti bergerak turun naik perlahan-lahan sambil tangannya mencengkeram dadaku untuk menopang badannya.

“Sshh.. enak sayangg..”, aku mendesis nikmat saat klitorisnya terasa keras bergeser-geser di sepanjang kejantananku. Eksanti bergerak turun naik makin cepat dan semakin cepat, sambil matanya terpejam-pejam menikmati rasa birahinya. Aku sangat menikmati ekspresi wajahnya saat itu, dan tanganku memilin-milin dua buah putingnya yang juga sudah amat mengeras.

“Teruss.. sayangg.., teruskan, lebih dalam lagi..”, aku berteriak-teriak penuh rasa nikmat. Eksanti semakin cepat bergerak membenamkan seluruh kejantananku di dalam liang surgawinya.

“Ouchh.. Mas, enak Mas, enak sekalii..”, Eksanti menjerit-jerit kecil sambil mencakar-cakar lembut dadaku.

Dalam posisiku yang terbaring, aku berusaha mengimbangi gerakannya dengan mengayun-menghujam dalam sentakan-sentakan pendek. Eksanti merasa bagai ditikam-tikam, tetapi tanpa sakit, melainkan penuh berisi kenikmatan. Pinggulnya mulai bereaksi bagaikan seorang penari. Setiap hujaman dengan dorongan dan goyangan, sehingga kedua tubuh kami yang berpeluh bertumbukkan tepat di tengah-tengah. Setiap tumbukan mengirimkan getaran-getaran nikmat ke seluruh penjuru tubuh. Dua menit berselang, lalu Eksanti mencengkeram erat lengan tanganku sambil berteriak, “Ouchh.. Mas, Santi enakk.. sekalii..”, dan seluruh badannya menegang seiring dengan tercapai orgasmenya. Eksanti mengerang lagi, merintih lagi, berteriak-teriak kecil lagi.

Orgasme keduanya datang sangat cepat, posisnya masih tetap duduk di atasku, dan kedua pahanya erat menjepit pinggangku yang tak kenal lelah mengayun-menghujam. Dengan sekali hentak, aku melesakkan seluruh kelaki-lakianku jauh ke dalam tubuhnya, menyentuh bagian paling dalam, menyebabkan Eksanti berteriak nikmat dan meregang-menggelepar. Takut kedengaran kamar sebelah, aku segera membungkam mulut kecilnya dengan ciuman. Akibatnya Eksanti cuma bisa menggumam, “Ngg..” ketika puncak birahinya tiba dalam gelombang-gelombang besar yang mengguncangkan tidak saja tubuhnya, tetapi juga tubuhku yang sedang erat memangkunya di atas kejantananku. Ranjang kami berderit-derit bagai memprotes.

Setelah membiarkan dirinya sejenak tenggelam dalam gelombang orgasmenya, aku membantu mengangkat tubuhnya, menarik kelaki-lakianku keluar disertai protes lemahnya, “Mas, .. jangan dikeluarkan, Mas..please”. Tetapi aku tidak bermaksud berhenti. Sebaliknya, aku ingin memberikan yang terbaik baginya di malam yang dingin ini. Kapan lagi kesempatannya? Apalagi jam baru menunjukkan pukul 21.00. Masih banyak waktu untuk sebuah percintaan-bergairah.

Dengan kedua tanganku yang kokoh, aku menggulirkan tubuhnya sehingga kini Eksanti tertelungkup dengan nafas yang masih memburu dan dada yang turun-naik dengan cepatnya. Eksanti diam saja. Pasrah saja. Dan aku menggunakan kedua telapak tanganku untuk menyingkap kewanitaannya dari belakang. Lalu aku menghujamkan kelaki-lakianku dengan sekali, masuk sampai ke pangkalnya, membuat Eksanti tersentak. Oh! Eksanti membiarkan diriku berbuat sesuka hati, karena kewanitaannya kini sudah sangat sensitif. Diapakan saja, Eksanti pasti segera mencapai orgasme. Dan betul saja. Tikaman-hujamanku belum lagi mencapai hitungan ke delapan, ketika orgasme ketiganya datang lagi menggemuruh. Kali ini terasa lebih hebat, karena gosokan-gosokan kejantananku sangat keras terasa di dinding-dinding kewanitaannya, karena kedua kakinya kini menyatu, membuat aku terjepit erat. Kesat sekali. Nikmat sekali.

Orgasme ketiga juga terasa lebih panjang dan lebih intens, karena aku tak menghentikan hujaman kejantananku. Aku tetap menyerbu-menikam-nikam dengan nafas yang tak kalah menggemuruh. Eksanti mengerang-merintih-menjerit. Eksanti menggigit seprai yang telah pula basah oleh keringat. Kegelian yang tak tertahankan, bercampur kenikmatan yang meletup-letup, memenuhi seluruh tubuhnya yang terhimpit di antara kasur dan tubuhku. Eksanti tak tahan, tapi Eksanti tak ingin aku berhenti pula. Eksanti membiarkan gelombang demi gelombang kenikmatan merajah tubuhnya.

Dan akupun merasakan kenikmatan luar biasa ketika Eksanti mencapai puncak birahi untuk kesekian kalinya ini. Aku merasakan betapa kejantananku bagai dilumat oleh lapisan sutra yang lembut dan hangat. Bagai diremas-remas sambil disedot-sedot, sehingga bagian ujung yang sangat sensitif itu terasa hendak segera meledak. Aku mengayun-ayunkan terus pinggangku, menghujam-hujamkan terus kejantananku, karena kini aku tak bisa lagi berhenti. Aku harus terus menghujam, harus terus menikam, harus terus menikmati sensasi-sensasi kenyal di sekeliling kejantananku.

Eksanti merasakan nikmat luar biasa ketika kejantananku mencapai ketegangan maksimum. Di tengah gelombang orgasmemu, Eksanti bisa merasakan aku sedang menuju orgasme pula. Dan ini memicu gairahnya semakin kuat. Eksanti menjepitkan kedua paha lebih erat lagi, sehingga kini Eksanti bagai memeras kejantananku, meremas-menyedot agar aku segera mencapai puncak birahi bersama-sama.

“Terus, mass.. terus.. terus..,” ucapnya merintih-rintih. Dan aku hanya menyahuti dengan erangan, karena aku kini sedang mengejang merasakan kenikmatan yang luar biasa menyergap tubuhku. Aku juga menikmati desahan nikmat nafasnya, dan aku masih bergerak turun naik, turun naik.. menanti-nanti datangnya saat nikmatku sendiri.

Sesaat kemudian, “..ouucchh.. Santii.., Mas nggak kuat lagii..”, aku menjerit sambil memeluk erat tubuhnya dari belakang.

Dengan sebuah hujaman terakhir yang sangat dalam, aku berteriak, “Akhh..!”, dan Eksanti menyambut dengan jeritan kecil, lalu mengerang panjang ketika merasakan semprotan-semprotan hangat memenuhi seluruh rongga kewanitaannya. Nikmat sekali.. Aku mengeluarkan lava panas di dalam lubang kewanitaannya. Dinding kewanitaannya terasa memijat-mijat seluruh kejantananku, lembut, lembut, lembut sekali. Eksanti juga merasakan puncak birahinya bagai dipicu kembali oleh semprotan-semprotan itu. Gelombang-gelombang kenikmatan masih menggetarkan tubuhku yang kini lunglai. Kepalanya menengadah, ia menciumi bibirku, penuh mesra, penuh rasa terimakasih. Cairan-cairan cinta kami berleleran memenuhi kedua pahanya, menempel pula di pahaku. Lava panas itu mengalir turun lagi dari dalam kewanitaannya sesaat waktu kami berpelukan erat. Aku menciumi keringat yang mengalir di sepanjang belakang lehernya dan Eksanti pun terkulai lemas di bawah tubuhku. Akhh.., betapa liarnya kami berdua malam ini, gumamku dalam hati.

Lalu Eksanti merebah kesamping sambil berkata dengan nada yang manja, “Mas, tadi Santi rasanya enak sekali. Santi keenakan sampai empat kali.., Mas hebatt.. deh. Sekarang Santi capek banget, pengin bobo duluu..”.

Aku tersenyum sedikit bangga sambil mencium keningnya. Lalu tanpa tersadar Eksanti terlelap dalam pelukan tanganku. Kami tertidur tanpa selembar benangpun menempel di kulit kami, seolah-olah lupa akan dinginnya AC sentral di hotel Holiday Inn malam itu.

************

Pukul empat pagi Eksanti terbangun, udara masih sangat dingin. Eksanti dengan mesra menciumi pipiku sambil berkata ,”Bangun Mas, kita harus mengejar pesawat pagi ini”.

Aku terkaget sejenak lalu tersenyum sambil membalas ciumannya dengan melumati bibir mungilnya. “Mandi yuk Mas, nanti kita telat”, begitu katanya sambil menyelendangkan selimut ditubuhnya.

“Santi duluan deh, aku masih kedinginan nih”, aku menjawab sambil mencoba menarik selimut menutupi badanku.

Eksanti lalu berlalu menuju kamar mandi. Sementara ia masuk ke kamar mandi, aku memandang langit-langit hotel sambil tersenyum sendiri mengingat kejadian indah malam tadi. Lalu aku mendengar suara air mengalir di kamar mandi, menandakan bahwa Eksanti sedang mengisi bathtub. Tanpa aku sadari kejantananku kembali mengeras membayangkan dirinya lagi. Aku mendengar suara Eksanti sedang menggosok gigi, sementara air pengisi bathtub masih mengalir deras.

.

F I N I S H.

.

TO THE BEGINNING

TO THE NEXT SEQUEL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s