Eksanti, The Beginning

Posted: Januari 6, 2013 in Other Stories

06/12/96, The true story begin..

#############

Aku adalah seorang manajer disebuah perusahaan multinasional yang cukup ternama di Jakarta. Mungkin karena prestasi kerjaku yang dinilai lumayan oleh atasanku, maka pada usiaku yang baru menginjak kepala tiga ini, aku telah diberi kepercayan untuk menangani penjualan produk perusahaanku untuk berbagai area di Indonesia. Tugas ini mengharuskan aku untuk sering melakukan perjalanan ke luar kota, disamping itu kesibukan ini juga seringkali menyita hampir seluruh waktuku. Aku sering harus masih tinggal hingga larut malam di kantor, bahkan kadang-kadang juga masuk ke kantor pada saat week end, ketika teman-temanku yang lain sedang menikmati waktu istirahatnya di rumah. Untunglah segala jerih payahku ini juga mendapatkan kompensasi yang memadai dari perusahaan. Aku memiliki sebuah ruang kerja yang cukup luas dan nyaman, selain itu akupun dibantu oleh seorang asisten yang cantik.., Eksanti namanya.

Eksanti

Eksanti

Sebenarnya Eksanti sudah cukup lama membantuku sebagai asisten. Walaupun dalam struktur birokrasi perusahaan Eksanti adalah bawahanku, namun sebenarnya aku lebih senang memperlakukannya sebagai seorang teman. Hal itu bukan karena aku ingin membedakan perlakuan dengan anak buahku yang lain, namun memang aku tidak suka dengan hal-hal yang bersifat formal. Maka tidak heran bila lebih banyak anak buah yang memanggilku dengan sebutan “Mas”, ketimbang “Bapak”. Demikian pula dengan Eksanti, karena memang usia kami cuma terpaut kira-kira 3-4 tahun, sehingga memang lebih pantas baginya untuk memanggilku dengan sebutan “Mas”.

Walaupun demikian, Eksanti juga selalu bisa memposisikan dirinya, hingga meskipun kami sering bercanda namun sejauh ini hubungan kami adalah murni sebagai layaknya atasan dengan bawahannya. Kecantikan, keramahan dan kegesitannya telah menjadikan Eksanti sebagai sosok yang sempurna, sehingga aku sering mendengar bahwa banyak rekan-rekan sekantorku yang naksir kepadanya. Aku tidak begitu mengetahui apakah Eksanti telah memiliki pacar atau belum. Aku tidak terlalu peduli dengan hal-hal semacam itu, karena aku tidak ingin mencampuri urusan pribadi orang lain. Terus terang sebelum kejadian itu, aku hanya sempat memperhatikan Eksanti untuk urusan-urusan kantor, namun entah mengapa hari itu dengan cepat telah merubah hubungan kami berdua.. begini ceritanya..

Sore itu, pukul 16.30, langit mendung menyelimuti kota Jakarta, sehingga suasana di luar sudah sangat gelap. Tiba-tiba aku mendengar bunyi gemericik air menimpa kaca ruangan di lantai 25 gedung kantor kami. Aku menolehkan kepalaku ke arah jendela ruanganku, ternyata hujan telah turun lebat sekali, dengan sesekali diiringi oleh kilatan petir yang tampak membelah langit hitam. Cuaca di luar menambah suhu udara di dalam ruangan kantor itu terasa dingin sekali.

Ketika aku kembali berkonsentrasi pada pekerjaanku, tiba-tiba aku mendengar ketukan di pintu ruang kerjaku. “Masuk!!”, aku menyahuti ketukan itu. Sesaat kemudian pintu terkuak, dan ternyata Eksanti yang meminta ijin untuk masuk ke dalam ruanganku untuk mengantarkan sesuatu berkas. Eksanti mendekat ke meja sambil menyodorkan berkas-berkas yang harus aku tandatangani. Aku memandangnya sesaat, ia mengenakan blouse kaos warna hitam ketat, yang dibalut dengan blazer warna biru cerah. Rok span warna hitam kira-kira setinggi 5 cm di atas lututnya membalut erat pinggulnya dengan masih menyisakan keindahan kakinya yang jenjang. Terus terang aku sangat menyukai bentuk kakinya yang kecil, langsing dan panjang itu, dan sepertinya Eksanti-pun juga menyadari ‘potensi’ kakinya itu, karena ia hampir selalu mengenakan rok yang menampakkan keindahan bentuk kakinya. Walaupun begitu ia tidak tampil seronok, namun elegant dan sangat sexy.. begitulah memang penampilan sehari-hari asisten ku yang cantik ini.

Seperti biasa ia meyodorkan kertas-kertas itu satu persatu, sambil menunjukkan mana-mana berkas yang harus aku tandatangani. Ia berdiri tepat di samping tempat dudukku, badannya membungkuk ke arahku sambil jemari tangannya yang lentik memilah-milahkan kertas-kertas yang telah selesai aku tandatangani. Posisi tubuhnya sangat dekat kearahku sehingga membuatku secara tidak sengaja bisa merasakan dengan sangat jelas bau harum parfumnya.

Sambil tetap menggoreskan tandatanganku, aku bertanya dengan nada jahil seperti biasa, “Santi pakai parfum apa sih, kok baunya harum sekali?”. Dengan tersenyum tersipu Eksanti menjawab pertanyaanku dan menyebutkan merk parfum favoritnya tersebut. Seperti biasa ia memang selalu malu-malu jika sifat jahilku muncul, dan matanyapun tidak berani menatap ke arahku.

Entah mengapa, mungkin karena cuaca dingin saat itu, maka sifat jahilku makin menjadi-jadi. Ketika aku telah menyelesaikan seluruh tandatanganku, aku menutup pulpen sambil menatap lurus ke arah dua bola mata indahnya dan kembali bertanya, “Aku suka sekali bau parfum kamu itu. Boleh nggak kalau aku menikmatinya lebih jelas lagi?”.

“Boleh, saja tapi gimana caranya?”, Eksanti balik bertanya, masih dengan nada malu-malu.

“Please, mendekatlah kemari”, aku menjawab.

Lalu Eksanti beranjak lebih merapatkan ke arah tempat dudukku, dekat sekali. Eksanti menyodorkan kepalanya ke arahku, sehingga ujung hidungku hampir-hampir menyentuh rambut kepalanya yang juga wangi itu. Aku baru menyadari bahwa ia mengenakan bando hitam dengan pita kecil warna hitam di atas rambutnya. Sekali lagi aku menghirup hawa wangi itu dan mencoba mencari sumber wangi parfumnya, yang ternyata berasal dari tengkuk di balik rambut panjangnya yang hitam itu. Secara refleks, tanganku mulai menyibakkan rambut di atas tengkuk lehernya, dan akupun melihat dengan jelas bulu-bulu halus yang nampak kontras di sepanjang tengkuknya yang putih itu. Aku mendekatkan ujung hidungku ke arah sana, dan..

“Hmm.. harum sekali, Santi”, begitu desahku dan akupun sedikit heran karena ternyata Eksanti tidak berusaha melakukan penolakan apapun ketika dengan sengaja aku hembuskan nafas hangatku di sepanjang lehernya. Hal itu membuat aku semakin berani untuk melakukan aksiku lebih jauh lagi. Dengan penuh kelembutan, aku menempelkan ujung hidungku ke atas bulu-bulu halus itu, dan aku mulai mencium tengkuk lehernya dengan mesra. Eksanti menggeliat pelan sambil mendesah mendesah lembut, “Achh.. udah Mas, Santi geli Mas..!!”.

Aku semakin tidak tahan mendengar desahan lembutnya yang seolah-olah menolakku. Aku sadar sepenuhnya bahwa itu adalah penolakan seekor merpati, yang akan terbang ketika hendak dijamah namun akan mendekat bila kita meninggalkannya. Aku semakin berani, bibirku beranjak mencium ke pipinya dengan lembut, lalu perlahan berpindah ke bibir tipisnya yang merah merekah. Tak dinyana, Eksanti membuka mulutnya, apalagi yang bisa aku hentikan sekarang? Aku ciumi mulutnya dengan penuh gairah, lidah kami saling bertautan dan bergulat dimulutnya. Birahi memuncak di ujung kepala.

Aku mengulum-ngulum bibirnya, lembut sekali. Lidah kami saling beradu, dan aku merasakan lidah Eksanti yang membalas hangat dengan mengulum lembut bibirku, membawa kami pada rasa nikmat dan debaran jantung yang luar biasa. Sementara itu bunyi printer diluar kamar kerjaku terasa sedikit mengganggu, namun kami berdua seolah tidak mendengarnya, karena gejolak birahi itu telah panas membakar dalam darah kami.

Sementara itu, sihir birahi makin memenuhi ubun-ubun, tangan kananku yang semula diam, pelan-pelan meraba dadanya, kenyal dan padat, sambil perlahan-lahan menggosok-gosokkan memutari payudaranya. Pelan-pelan jemariku berusaha membuka kancing blazer birunya satu persatu. Eksanti masih memejamkan mata, menikmati remasan di dadanya. Setelah semua kancing blazernya terbuka, tanganku mulai masuk kedalam sela-sela blouse kaos-nya, dan tangan Eksanti-pun secara refleks meraba-raba lembut di sekujur punggungku. Pelan-pelan aku mulai melepaskan kancing belakang BH nya, dan aku melepaskan BH dari balik blouse kaos yang Eksanti kenakan. Aku merundukkan kepala sambil menggigit ujung bawah blousenya, lalu menariknya ke atas dengan jepitan gigiku. Kini tampaklah menyembul di dadanya, bukit indah ranum dengan kulit sedemikian halus. Tak bisa tertahan lagi, aku tarik ke atas bra yang dipakainya. Sempurna!, payudara yang kenyal, kencang dan puting yang kecil kemerahan sebesar ujung korek api. Terbersit pikiran, puting payudara ini belum pernah digigit atau diremas oleh lelaki manapun! Putingnya masih sangat perawan!

Payudara Eksanti tidak terlalu besar, namun nampak kenyal dan sangat terawat, sungguh nampak sexy sekali di mataku. Aku semakin tidak bisa menahan gejolak rasa birahiku menyaksikan pemandangan indah itu. Aku mulai menggeserkan bibirku untuk menciumi lehernya yang panjang dan putih itu sambil meremas-remas lembut kedua payudaranya. Terasa putingnya mulai mengeras di tanganku. Aku masih memilin-milin lembut puting merah kecoklatannya itu, sambil lidahku terus menjilati di sepanjang leher dan dadanya.

Akhirnya bibirkupun sampai ke atas putingnya. Dengan segenap napas kuda, langsung aku mengisap puting payudara kanannya, sementara tanganku juga tidak tinggal diam, meremas payudara yang lain, demikianlah terus-menerus bergantian. Eksanti yang semula hanya memejamkan mata terdiam, mulai berdesis-desis pelan, menikmati sesuatu yang kemungkinan belum pernah dirasakannya. Aku menjilat-jilat puting kirinya dan Eksantipun mendesah lembut “Achh..”, sementara tanganku yang lain tetap meremas-remas mesra payudara kanannya. Lalu mulutkupun berpindah ke sisi dada kanannya, dan aku menjilat puting itu sambil tanganku menuju ke bawah di sela perut dan pahanya. “Achh.. Mas terus Mas..”, begitu desahannya. Putingnya semakin mengeras dan menyembul di atas payudaranya, seakan-akan menantang birahiku. Aku belum merasa cukup, mengisap dan menjilati payudaranya, aku mulai bergerak turun, menjilati perutnya, naik-turun. Desis Eksanti terus semakin cepat, sungguh hanya kenikmatan semata yang kini dirasakannya.

Aku semakin tidak tahan, kepalaku terus bergeser semakin ke bawah, aku berjongkok dan sekarang bibirku telah menyentuh perutnya. Lidahku segera menyapu-nyapu lembut di sekitar pusernya yang bersih itu, lalu semakin turun ke bawah lagi menuju bulu-bulu lembut di sekitar bibir kewanitaannya. Mendadak aku berhenti, aku ingin melihat matanya. Aku takut kalau ia menolak untuk tindakanku lebih jauh. Eksantipun membuka matanya, tetapi dari sinar matanya yang biasanya berbinar-binar, sekarang meredup, setengah terkatup. Dilihatnya pula mataku, aku tersenyum kepadanya

Suara desis dari mulut Eksanti makin cepat dan berat, ia sudah tidak lagi bisa berhenti. Aku sudah sampai ke tahap berikutnya, Eksanti sudah kehilangan pertahanan dirinya, aku harus cepat, kalau tidak, permainan ini bisa mendadak berhenti. Hup! dengan mendadak aku berusaha melepaskan celana dalam satin yang membungkus kewanitaannya dengan menggunakan gigiku. Eksanti kaget dan terbelalak, tetapi sebelum dia tersadar lebih lanjut, aku sudah membenamkan wajahku di antara kedua belah pahanya yang putih mulus itu, sembari menjilati paha dalamnya, dan ujung hidungku yang yang menyentuhi celana dalamnya. Celana dalamnya berenda-renda berwarna krem kulit, dan dari ujung hidungku, aku merasakan celana dalamnya sudah basah kuyup karena ia telah sangat terangsang. Eksanti masih membuka matanya dengan nanar. Dia melihat kepalaku yang tengah berada di antara pahanya.

“Eksanti, tutuplah matamu. Aku tidak akan menyakitimu” aku berkata pelan dan lirih, sambil tersenyum penuh pengertian padanya. Eksanti, kembali memandangku, dan pelan-pelan kembali menutup matanya. Eksanti, tidak mampu lagi menolak, ia kembali melemah, Eksanti sudah ada sepenuhnya ditanganku. Aku kembali menjilati paha dalamnya, tanganku sekarang mulai ikut bekerja, aku tarik pelan ujung bawah tepi celana dalamnya kesamping. Kini tampaklah bukit kewanitaannya, dengan rambut hitam yang sebagian menutupi. Bukitnya tampak sangat mulus dengan belahan bukit yang sangat rapat, kecil dan tidak bergelombang sedikitpun. Lidahku mulai menjilati belahannya, sementara tanganku tetap terus memegang tepi celana dalamnya. Aroma khas kewanitaan menyergap hidung, cairan yang terus membanjir dari kewanitaannya bercampur dengan air liurku, makin membuat aku bersemangat. Mulut Eksanti makin berdesis, sekarang ditingkahi dengan suara-suara kecil “occhh.. occhh..” berulang-ulang. Sungguh hanya nikmat semata yang ia rasakan.

Aku tidak sabar lagi, sembari kembali menjilati paha dalamnya, mulut dan gigiku kemudian segera beralih memegang ujung tepi atas celana dalamnya. Dengan sekali tarikan panjang!, lepaslah sempurna celana dalamnya. Kini tampaklah bukit indah di antara pahanya yang terpampang penuh, dengan rambut hitam segitiga, dan yang teristimewa, ada rambut halus memanjang di atas rambut kewanitaannya, menuju ke arah pusar. Inilah yang makin membuat aku terpesona, karena aku pernah mendengar dari teman-teman dekat, bahwa ciri istimewa dari putri atau cucu dalam raja-raja Jawa, adanya rambut halus memanjang ini.

Ketika celana dalamnya yang berenda-renda indah itu telah merosot diantara kedua pahanya, maka aku segera bisa melihat serta mencium bau wangi khas yang aku inginkan selama ini. Tentu aku makin bersemangat. Kini, kedua tanganku, terutama ibu jariku, memegang tepi-tepi kewanitaannya untuk membuka lubang rahasia itu lebih jauh, kini tampaklah semuanya. Betul!, bibir dalam kewanitaan Eksanti sangat utuh, lurus dan bagus, dengan warna semburat kemerahan, dan lubang sempit yang berada di dalamnya. Segera saja aku langsung menjilat-jilat bulu halus di sekitar kewanitaannya. Dengan penuh nafsu pula, aku jilati semuanya, terutama klitorisnya, yang makin terasa keras di ujung lidahku, terus-terus-terus, aku jilati, bagaikan tidak ada hari esok. “Hmm.. harum sekali wanginya”, desahku dalam hati, sambil mengagumi kepiawaian Eksanti dalam merawat tubuhnya. Eksanti merintih pelan, “Aduh Mas.. Santi tidak tahan..”.

Aku semakin berani, lidahku menjilat-jilat bibir kewanitaannya yang mulai membasah. Aku menghirup aroma wangi itu sambil terus lidahku menjilat-jilat liang kewanitaannya sampai menyentuh ujung klitorisnya. Eksanti semakin mengerang-ngerang dan klitorisnyapun kini telah menegang. Tanganku yang semula memegang buah pantatnya sekarang menuju ke atas kembali ke arah dadanya, seraya jemariku memilin-milin putingnya yang semakin mengencang. Eksanti semakin mengelinjang hebat, dan hampir mencapai klimaks, dan aku semakin merasakan derasnya air harum yang mengalir dari dalam lubang kewanitaannya. Aku terus menjilat-jilat hingga Eksanti duduk terhempas di atas kursiku seraya meremas-remas seluruh rambut kepalaku.

Desis Eksanti sekarang telah hilang, hanya muncul suara-suara “occhh.. occhh..” berulang kali dan tarikan napas yang makin panjang, berat dan dalam. Aku terus menjilati kewanitaanya. Setelah sekitar 20 menit, ujung lidahku merasakan makin membanjirnya cairan yang keluar dari lubang kewanitaannya, dan lubang itu juga makin sering menguncup dan mengembang. Eksanti menggelinjang keras dan suara eluhan panjang muncul dari bibir mungilnya, ia pun terengah-engah. Eksanti tengah mendaki puncak orgasmenya! Aku makin keras menjilati klitorisnya, dan aku menghisap pula lubang rahasianya, ia terus mengeluh panjang bagai tak pernah berhenti. Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat, dan Eksantipun melentingkan punggungnya seraya kedua kakinya menjepit keras leherku, lalu.., “Mas, Santi nggak tahan lagii..”, Eksanti berteriak kecil mengiringi pencapaian puncak klimaksnya yang pertama. Setelah lenguhan panjang itu, Eksanti bagaikan kehilangan semua daya dan tenaga, ia tergeletak leMas, menutup mata dan bibir tersenyum puas.

Tubuhnya sedikit melemah, dan nafasnya masih memburu ketika jemarinya dengan sigap mulai melepas ikat pinggang dan resliting celanaku. Dengan tidak sabar Eksanti menarik ke bawah celana dan celana dalamku. Maka kejantananku yang sedari tadi sudah mengeras langsung menyembul keluar. Eksanti nampak agak terkejut melihat pemandangan itu. Pada mulanya aku merasakan ada keraguan pada Eksanti, kepalanya tidak segera tertunduk mengikuti kemauan tekanan tanganku yang ada dikepalanya. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, segera kejantananku mulai terbenam di mulutnya yang basah. Dengan tidak sabar Eksanti mengulum-ngulum kejantananku itu dengan bibirnya yang mungil, sambil tangannya menarik-narik buah pantatku kearah mulutnya. Sementara aku menaik-turunkan tanganku sambil memegang kepalanya. Eksanti nampaknya belum pernah melakukan hal ini.

“Aduh Eksanti, jangan kena gigi, sakit aku.. hisap dan pakailah bibirmu saja”, aku sedikit mengeluh sambil memberinya petunjuk. Ternyata Eksanti nampak mengerti dan mengikuti kemauanku. Ia segera mengerti apa yang harus dilakukannya, aku tidak lagi merasakan tajamnya gigi Eksanti. Aku mulai menikmatinya, sementara tanganku tidak lagi memegang kepalanya, namun kembali memulai lagi meremas-remas payudaranya. Menit-menit berlalu, aku mulai merasakan munculnya rangsangan tinggi, spermaku hampir keluar. Eksanti rupanya tidak mengetahui hal itu. Aku kembali memegang kepalanya, menaik-turunkannya, agar kecepatannya sesuai dengan yang aku inginkan.

“Ouugghh.. enak sayangg..”, begitu erangku, ketika kejantananku hampir seluruhnya masuk kedalam mulut kecilnya. Eksanti menjilat-jilat kepala kejantananku lama sekali sampai-sampai seluruh otot-otot tubuhku menegang.

“Sayang, aku sudah tidak tahan lagi..”, begitu eranganku.

Seperti ada komando khusus, kami saling memposisikan diri. Aku menarik kejantananku dari mulutnya, dan aku arahkan ke lubang kewanitaannya sementara Eksanti berdiri dan membuka kedua pahanya lebar-lebar. Kami berdua berdiri berhadapan rapat, lalu sambil dituntun tangan Eksanti, aku menekan kejantananku dalam-dalam. Pelan sekali, lembut sekali..

“Aaacch!” Eksanti menjerit sambil memejamkan matanya erat-erat. Kejantananku yang kenyal-keras itu menerobos masuk dengan lancar, langsung membentur bagian yang paling dalam,.. langsung memicu orgasmenya. Cepat sekali!

Sambil bertelektekan di bibir meja, aku menenggelamkan mukaku di leher Eksanti yang sudah dibasahi keringat. Sambil mencium dan menggigit-gigit kecil, aku mulai menggenjot, mengeluar-masukkan kejantanannya penuh semangat. Eksanti mengangkat kedua kakinya, memeluk pinggangku erat-erat, mengunci tubuhku yang juga sudah berkeringat itu kuat-kuat. Perjalanan menuju puncak birahi dimulai sudah..

“Aaacch.. yang keras, Mas..!” desah Eksanti, merasakan orgasmenya yang kedua sudah akan tiba, dan ia ingin digenjot sekeras-kerasnya!

Aku menekan lebih keras lagi, sampai kadang-kadang meja kerjaku seperti bergeser diterjang tubuh kami berdua. Pangkal kejantananku -bagian paling keras itu- membentur lingkar-bibir kewanitaan Eksanti yang sedang berdenyut-denyut mempersiapkan ledakan pamungkas.

“Aaachh..!” Eksanti menjerit merasakan ledakan pertama menyeruak dari dalam tubuhnya, “..Ngga tahan, Mas.. Aaacchh..!”

Permainan cinta pertama ini berlangsung cepat sekali bagi Eksanti. Tidak lebih dari 15 menit. Tetapi dilakukan dengan sangat bergairah, sehingga setelah ia mencapai puncak, ia rubuh di atas kursiku. Aku berhasil menahan lava panasku dan mengikutinya menubruk tubuh Eksanti di atas kursi. Eksanti tersengal menahan tubuhku, dan terduduk di kursiku tak berdaya dengan sendi-sendi yang seperti copot! Sementara itu kejantananku yang keras menegang masih menancap erat di dalam liang kewanitaannya.

Semenit kemudian, ketika tenagaku kembali pulih aku mulai menggoyangkan kembali buah pantatku. “Achh..”, begitu desahnya begitu kepala kejantananku kembali menyentuh bibir kewanitaannya.

Aku desakkan pelan-pelan kejantananku, dan Eksantipun menarik buah pantatku ke arahnya. “Augghh.. enak Mass”, begitu desahnya ketika seluruh kejantananku kembali telah terbenam di dalam lubang kewanitaannya.

Lalu aku menarik, mendorong, menarik lagi, mendorong lagi. Aku merasakan kewanitaannya semakin basah. Kewanitaannya yang sempit itu semakin menjepit kejantananku. Dengan irama yang teratur aku menarik dan mendorongkan tubuhku kearahnya, Eksanti menyilangkan kakinya di belakang buah pantatku, sehingga terasa kejantananku terjepit disela-sela bibir kewanitaannya. Makin dalam.. dan semakin dalam kejantananku masuk kedalam liang kewanitaannya yang semakin membasah. Kami sama mengerang-erang penuh kenikmatan, dan peluh menetes dari lehernya, aku jilat-jilati peluh itu, aku ciumi seluruh leher dan belakang telinganya.

Lalu ketika irama kami semakin cepat Eksanti berkata “Ayo Mas.., lebih cepat Mas.. lebih dalam lagi.., please”.

Aku menggigit bibirku menahan rasa nikmat yang luar biasa, kejantananku semakin cepat dan semakin dalam menusuk-nusuk kewanitaannya, seluruh otot-otot tubuhkuku menegang. “Uchh sayang.. enak sekali..”, aku mengerang-mengerang sambil terus kugigiti bibirku.

Tak lama kemudian, ketika irama kami semakin cepat tubuhnya menegang sambil meremas rambut kepalaku dan mendesah, “Ougghh.. Mas, aku enak..sekali..”

Eksanti menjepit buah pantatku dengan menyilangkan rapat-rapat kakinya, dan aku pun menahan napas sambil terus menusuk-nusukkan kejantananku. Dinding-dinding kewanitaannya terasa memijat-mijat kejantananku, sehingga memberikan rasa nikmat yang luar biasa pada diriku. Aku menikmati ekspresi wajahnya yang mengalami orgasme dengan kenikmatan luar biasa yang belum pernah Eksanti alami selama ini, sambil matanya berkaca-kaca karena kenikmatan itu.

Aku terus menekan dan menghujam, ia sendiri juga sudah ingin meledak rasanya. Seluruh perasaannya seperti ingin tumpah ruah sesegera mungkin. Apalagi otot-otot kenyal di kewanitaan Eksanti kini mencekal erat, seperti meremas-remas dan mengurut-urut kejantananku. Aku juga tidak tahan lagi..

“Uuucch..!”, aku menggeram sambil menggenjot keras-keras lima kali.

“Ah-ah-ah-ah-ah!” Eksanti mengerang setiap kali genjotan maha dahsyat itu menerjang tubuhnya. Dan akhirnya, tidak lama kemudian..

“Ouughh.. sayang,.. Mas keluarr..”, aku mengerang kenikmatan ketika aku mengeluarkan lava panas dari kejantananku membasahi seluruh lubang kewanitaannya yang telah basah kuyup. “Aaachh..!” aku kembali mengerang keras, menancapkan dalam-dalam kejantananku dan bertahan di sana ketika lecutan-lecutan ejakulasi melanda seluruh tubuhku.

“Ooocch..!” Eksanti mendesah panjang merasakan cairah panas tumpah ruah di dalam kewanitaannya dan seperti memberi penyedap utama bagi geli-gatal orgasme ketiganya.

Eksanti mendekapku erat sekali, dan kepalakupun terkulai di lehernya sambil menikmati bau keringatnya yang merebak wangi. Lima menit sudah kami saling terkulai, lalu ketika debar jantung kami telah kembali normal, aku menarik kejantananku dari kewanitaannya.

“Eksanti, tolong ambilkan tissue di atas mejaku”, aku berujar pelan. Eksanti bangkit dari duduknya, masih dengan mata nanar, diambilnya kotak tissue di mejaku. Ia kemudian kembali ke arahku, sambil matanya masih memandang kejantananku. “Santi, tolong sekalian di bersihkan yaa..” kataku sambil menunjuk kejantananku. Lalu di lapnya pelan-pelan dan penuh keraguan kejantananku, matanya masih nanar dan penuh tanda tanya.

Meskipun kakiku sedah melemas, tetapi kejantananku masih menegang keras dan basah kuyup. Matanya nampak sangat gemas memandangi kejantananku, seakan ingin mengulumnya, akan tetapi ia nampak ragu-ragu.. Melihat hal itu, aku kembali mendekatkan kejantananku ke arah mulutnya, lalu Eksanti mencium dan menjilatinya sambil membersihkan lava panas yang masih menempel. Geli dan enak sekali rasanya ketika lidahnya menyapu-nyapu kejantananku itu.

Ketika kejantananku kembali bersih dan meleMas, kemudian Aku kembali memeluknya, sambil berbisik ditelinganya “Eksanti, jangan takut dan malu, aku dan kamu hanya manusia biasa dan sudah dewasa, kita berdua masih sama-sama belajar tentang hidup”, bujukku menenangkannya. “Kamu masih seperti dulu, Eksanti yang aku kenal”.

Keraguan, mulai pelan-pelan sirna di matanya, senyumnya mulai lagi muncul di matanya. Ia membalas bujukanku dengan membalas memelukku.

“Selamat!” pikirku selintas.

“Mas, Santi boleh keluar sekarang?”, sambil masih memelukku. Aku mengangguk sambil mencium keningnya. Wajahnya kembali tersenyum, Di ambilnya celana dalamnya yang bagus dari lantai, semula ia ingin menggunakannya di depanku. Ia kembali melihatku, ia tidak jenak dan sungkan, melihat laki-laki asing di depannya akan melihatnya memakai celana dalam. Ia melipat celana dalamnya, dan dimasukkannya ke kantong roknya. Ia berdiri, sambil memperbaiki kancing dan baju serta bra yang dipakainya.

Sambil kami mengenakan pakaian kami masing-masing, mataku tak lekang menikmati pemandangan yang sangat sensual itu. Dan setelah kami kembali berpakaian rapi, ia kembali memandangku. Masih dengan tersenyum, ia dekatkan wajahnya pada wajahku dan dengan segenap hati aku sambut. Aku memegang kepalanya, lalu aku mencium pipi dan keningnya.

Aku berbisik pelan “Aku, ingin segera bertemu kamu lagi, tunggulah telponku, thank you.., take care yourself“. Ia mengangguk dengan pelan. Eksanti berjalan ke arah pintu. Aku tahu untuk pertama kali ini ia berjalan ke arah pintu itu tidak memakai celana dalam. Sesampai di depan pintu, ia menoleh ke arahku, matanya kembali memancarkan harapan dan ketulusan. Ia mengangguk sambil tersenyum..

Eksanti pun keluar dari kamarku sambil berkata “Besok jangan nakal-nakal lagi yaa.. Mas..!!”. Akupun cuma mengedipkan sebelah mataku tanda setuju..

.

TO THE NEXT SEQUEL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s