Seks Tanpa Syarat…!

Posted: Desember 20, 2012 in Artikel

Seks Tanpa Status

Seks Tanpa Status

Kalimat “cinta tanpa syarat”, pasti kita semua sudah pernah membacanya, dan mungkin sudah melaksanakannya. Tetapi bagaimana dengan fenomena “seks tanpa syarat”…? Jika membahas soal ini, pasti akan ramai dan banyak debat akan digerai, di mana ujungnya adalah makna kata “moral” yang jadi primadona untuk diketengahkan sebagai wasitnya.

Membicarakan “seks tanpa syarat”, selain terkaitnya makna kata “MORAL”, yang tidak bisa kita lepaskan adalah makna kata “hak”, yaitu HAK untuk menikmati apa yang kita mau, dan apa yang bisa kita dapat, tanpa menganggu orang lain. maka tidak heran, sekarang banyak masyarakat di kota – kota besar menjalani kehidupan ’seks tanpa syarat’ ini, baik single dengan single, maupun double dengan double.! yang lebih gawat lagi, hal ini berkembang subur di rumah-rumah kost mahasiswa.!

Sejak zaman purba, seks merupakan kebutuhan biologis mahluk hidup yang tidak bisa dihindari dan tidak bisa dihilangkan, yang ada adalah kesempatan untuk mengendalikan penyaluran keinginan biologis ini secara bijaksana, dan jangan lupa aman terkendali!

Maka perlu ditegaskan bahwa kegiatan seks sebagai penyaluran kebutuhan biologis saja, sangat berbeda dengan seks yang bisa menghasilkan anak.!!!

Sayangnya, banyak anak muda melupakan dan melakukan kegiatan penyaluran kebutuhan biologisnya dengan tidak memperhatikan “keamanan”, akhirnya menjadi polemik berkepanjangan jika sampai terjadi hamil!

Kita melihat drama kehidupan yang memprihatinkan, di mana beberapa mahasiswi harus menjadi korban pembunuhan teman main seksnya, karena kepanikan dalam menangani masalah kehamilan di luar perhitungan ini.

Tulisan ini bukan dimaksud untuk menilai benar atau salah, suci atau tidak suci seseorang melakukan hubungan seks di luar pernikahan. itu sepenuhnya tanggung jawab diri masing-masing, sebagai orang tua kita tidak bsia mengawasi 100% gerak hidup anak-anak kita, tetapi berdasarkan pengalaman melihat, anak-anak yang diberi pengertian akan bahaya dan resiko seks bebas, mereka lebih waspada dalam memandang kegiatan seks ini, dibanding anak-anak yang terkekang dengan banyak peraturan dan kemarahan orang tuanya tentang pergaulan anak-anak mereka.

Seks merupakan kebutuhan biologis mahluk hidup yang tidak bisa dihindari dan tidak bisa dihilangkan dari kehidupan itu sendiri, jelas sebagai manusia ‘normal’ kita membutuhkan hubungan intim ini.

Kembali pada topik di awal tulisan ini, yaitu membicarakan “seks tanpa syarat”, yang selanjutnya akan kita singkat saja dengan STS. Kita ingat juga dengan istilah “free sex”, yaitu istilah dari negara Barat, di mana kondisi pelaku “free sex” bebas dari keterikatan komitmen, seperti harus menikahi, atau harus setia pada satu orang saja dan sebagainya. Sebagai contoh, anak muda di negara Barat bisa berucap pada kekasihnya: “Saya cinta kamu, tetapi sekarang saya mau berhubungan intim dengan temanmu.” Di sini kita melihat bagaimana seseorang bisa bicara terus terang bahwa mencintai dan berhubungan intim adalah hal yang berbeda.

Nah, sekarang apa yang dimaksud dengan STS itu? Kita sudah tahu dengan seks yang dibayar, di mana wanita mendapat gelar pelacur, dan lelaki mendapat gelar gigolo. Tetapi bagaimana dengan STS ini? Ternyata seks tanpa syarat ini sudah lama menjadi semacam model dari pergaulan modern di kota-kota besar, termasuk di negara kita. Banyak istilah kita dengar, mulai dari SAL (sex after lunch) atau BBS (bobo bobo siang), bisa juga BBSS (buang-buang sperma sore), dan masih banyak istilah lainnya.

Seks tanpa syarat dimaksud adalah bersih dari imbalan bentuk uang atau barang, dan tidak terikat perasaan harus setia dengan seorang saja, atau harus menikahinya dan sebagainya. Yang menjadi syarat hanyalah sebuah KOMITMEN yaitu “TANPA TUNTUTAN” yang berlaku pada kedua pihak.

Di internet banyak beredar tip-tip untuk relasi seperti ini, misalnya carilah teman untuk kegiatan ini yang setara dalam pendidikan, ekonomi, dan cara berpikir.

Sebab, tidak tertutup kemungkinan relasi tanpa syarat ini menjadi masalah dan bumerang yang akan melukai pelakunya, apabila didapat pengingkaran untuk komitmen yang sudah disepakati, yaitu tanpa tuntutan apa pun, dan tidak mengganggu kenyamanan hidup orang lain dari masing-masing pihak.

Seorang klien curhat pada saya, bahwa hidupnya hancur karena pasangan STS nya berubah menjadi monster yang menteror hidupnya, menghancurkan nama baiknya dan berusaha menghancurkan rumah tangganya dengan menyebarkan cerita tentang segala hal yang dilakukan dalam hubungan mereka.

Bercermin pada pengalaman klien tersebut, mungkin sebaiknya kita sekarang tetap harus mempunyai syarat-syarat jika mau berelasi dengan orang lain, Tidak bisa tidak. komitmen harus tetap diterapkan, syarat apa yang boleh dan tidak boleh dijalankan dalam relasi tersebut, dibicarakan dengan tegas disaat memulai hubungan, jika tidak siap dengan efek buruknya, maka sebaiknya tidak usah main-main dengan STS……

.

 Sumber : http://kesehatan.kompasiana.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s