Pesta Assoy

Posted: Februari 4, 2012 in Other Stories

.

Aku dan kedua temanku, Joe dan Dani makan siang di Citraland Mall sambil ngobrol-ngobrol karena memang cukup lama kami tidak bertemu, tepatnya setelah Dani menikah lima bulan yang lalu. Saat kuliah dulu, kami berlima bersama istri Joe dan istriku adalah sahabat kental yang selalu bersama-sama.

Setelah ngobrol tidak menentu cukup lama, tiba-tiba saja Joe bertanya pada Dani, “Dan, gimana istri loe? Asyik ngga?”

Ditanya begitu, Dani malah menjawab, “Ya lumayan deh. Tapi ngga seseksi Ami, sih!”

Aku dan Joe tertawa saja.

Dulu Ami, istri Joe memang jadi idola kami bertiga. Maklum saja karena Ami memang cantik sekali, seksi, dan energik. Tapi akhirnya Joe lah yang berhasil mendapatkannya. Sahabat kami yang lainnya, Fay, akhirnya menjadi istriku.

“Hahaha… masih ada hati ama Ami loe, ya!” aku menimpali.

“Yeeh… loe juga ngebet ama dia kan?” balas Dani.

Aku hanya nyengir saja mendengarnya, lalu membalas, “Dulu sih iya.., tapi kalo sekarang gue pilih Fay deh…”

Tiba-tiba Joe memotong, “Eh, denger omongan loe tadi, gue punya ide nih.””Ide apaan? Pasti ide gila nih.. dari dulu ide loe ngga pernah bener!” komentarku bercanda.”Bisa dibilang gitu sih..” jawab Joe.Aku dan Dani heran mendengar jawabannya. Kami berdua hanya terbengong tanpa merespon.

Joe langsung menjelaskan, “Gini.., Senin depan libur kan? Nah, loe berdua mau ngga nginep di rumah gue..?”

“Hah? Istri gue gimana..?” potong Dani heran.

“Bilang aja ama dia kalo loe mau nginep di rumah gue. Kan udah lama ngga ketemu!” timpal Joe, sedikit kesal.

“Nanti disana, kita pesta ‘assoy’.”

“Pesta seks? Gila loe! Jangan macem-macem deh!” sungut Dani.

Aku sendiri sebenarnya tertarik dengan ide Joe itu.

“Kenapa ngga? Pasti asik deh…” pancing Joe.

“Gue sih mau aja,” jawabku. “Tapi si Dani mau ngga?”

Dani terlihat berpikir. Tidak lama dia bicara, “Loe udah rencanain mateng Joe? Terus, si Ami gimana?”

“Hahaha… pokoknya beres deh! Everything is under control. Ceweknya dijamin yahuud dan bebas penyakit!” balas Joe.

Akhirnya Dani setuju. Maka rencana gila Joe itu akhirnya diterima secara bulat.

******

Di rumah, aku bicara pada Fay kalau aku mau menginap di rumah Joe Senin depan.

Mulanya dia diam saja, tapi kemudian dia tanya, “Ivan ngapain disana?”

Fay

“Ya… kan udah lama ngga ketemu. Boleh dong nginep sekali-sekali…” jawabku.

Fay diam sebentar… mikir dia, “Disana mau macem-macem ya?”

“Macem-macem gimana?”

“Main cewek misalnya..”

“Nggaaak…”

“Bo’ong nih!”

“Bo’ong juga ngga ketauan koq!” jawabku asal.

Fay hanya mencibir, lalu balik badan membelakangiku, dan langsung tidur.

Sebagai info, Fay ini badannya mungil. Tidak sampai sepundakku tingginya. Jelas dia cakep, walaupun kalah dari Ami. Bodinya cukup bagus, pinggangnya ramping, kulitnya bersih dan mulus karena dia rajin merawat badan. Kami menikah baru sekitar setahun yang lalu.

******

Pada hari yang ditentukan, aku menuju rumah Joe. Fay kutinggal di rumah bersama pembantuku, si bibik. Sampai di rumah Joe, ternyata Dani sudah ada disana. Kami dijamu makan siang, oleh Joe dan Ami. Hmm… si Ami ini masih tetap cantik dan seksi sekali bodinya. Sayang kulitnya kalah bagus dibanding Fay. Setelah makan, kami ngobrol dan istirahat. Lalu sorenya kami bermain badminton di halaman rumah Joe yang luas. Dan pada saat itulah tiba-tiba datang dua orang cewek yang lumayan menarik. Ternyata mereka teman Ami.

Setelah keduanya masuk ke dalam untuk bertemu Ami, Joe mendekati kami dan berbisik, “Gimana menurut loe berdua cewek-cewek itu?””Boleh juga,” jawabku, “Tapi Fay lebih oke!”

“Yee… loe ini..,” Joe sebal. “Makan tuh si Fay..!”

“Cakep koq..” komentar Dani.

“Naah… itu dia hidangan pesta nanti malem..” Joe menjelaskan sambil nyengir mesum.

“Hah? Gila loe! Mereka kan temennya Ami?”

“Justru Ami ngundang mereka ke sini buat ‘begitu’!”

“Yang bener loe?” timpal Dani takjub. “Si Ami ikut juga pesta nanti malem?”

“Liat nanti aja deh,” jawab Joe membuat aku dan Dani penasaran bercampur nafsu.

Jelas saja, kalau Ami ikut pasti benar-benar ‘assoy’.

******

Malamnya, selesai makan dan sikat gigi serta tidak lupa meminum obat kuat, Joe mengajak kami berkumpul di ruang tengah. Disana aku melihat Ami bersama dua orang temannya memakai baju yang benar-benar seksi. Wah, lihat saja si Dani! Sampai melotot matanya.

Rinda & Lia

Ami memperkenalkan kedua temannya pada kami. Yang satu namanya Lia. Wajahnya oke juga. Tubuhnya cukup seksi, apalagi jika memakai baju seperti itu, dengan hanya mengenakan celana dalam serta kaos yang bawahnya buntung tepat di dada, sehingga memperlihatkan sekitar 25% buah dadanya, bagian bawah. Bahkan aku dapat melihat sedikit bagian lingkar putingnya. Nilai 7,5 buat cewek yang ini. Sedangkan yang seorang lagi, lebih cantik dari Lia, Rinda namanya. Bodinya juga lumayan oke, walaupun tidak sebagus Lia. Bajunya itu lho… tepatnya bukan baju, tapi semacam kain yang melintang hanya menutupi tengah buah dada dan puting, ditambah celana super pendek. Seksinya.., nilai 7,5 juga buat dia.

Sedangkan Ami sendiri hanya mengenakan semacam bikini yang bagian atasnya terlalu ketat, sehingga ‘buah-buahan’ miliknya yang memang montok itu seperti akan keluar. Ooh… inginnya aku meremas buah itu. Jelas dia pantas dapat nilai 9. Joe lalu menyetel musik disco dan mengajak kami berjoget. Joget yang hot! Aku berpasangan dengan Lia, Dani berpasangan dengan Rinda. Gerakan joget ketiga cewek itu memang sangat merangsang. Apalagi dengan baju seperti itu, membuat buah dada mereka berguncang-guncang secara liar, sehingga batang milikku menjadi tegang. Tanganku beberapa kali menyentuh bagian bawah buah dada Lia yang terbuka. Bahkan terkadang Lia dengan santainya mendekap tanganku ke dadanya, membuat darahku berdesir merasakan kekenyalan payudara tersebut.

Ditengah keasyikan tersebut, tiba-tiba bel berdering, sehingga kami menghentikan kegiatan. Aku, Dani dan Joe keluar untuk melihat siapa yang datang. Ternyata salah seorang teman kami semasa kuliah dulu, Feby. Seingatku dia cukup akrab dengan Fay dan Ami. Kami heran, ada urusan apa dia datang?

Dan kami sangat terkejut ketika dia bertanya, “Loe semua lagi pesta kan? Gue diundang Ami kesini.”

“Oh.. ya udah, masuk aja deh..” Joe mempersilakan.

Dalam hati aku bersorak. Tambah lagi cewek yang ikut. Bisa puas berat nih.

Sampai di dalam, Ami sendiri kaget melihat Feby.

Feby hanya tersenyum, “Lagi pesta apa nih? Koq bajunya pada minim begitu?”

“Eh.. eng… ngga koq…” Jawab Ami grogi. “Loe… ada apa ke sini Feb?”

Kami kaget juga, karena ternyata Feby bukan diundang oleh Ami. Bisa gawat ini urusannya.

“Kebetulan aja… tapi gue rasa loe semua mau pesta seks ya? Gue boleh ikut ngga?”

Ha? Mana mungkin kami menolak? Perduli amat dia kebetulan datang atau tidak.

Hehehe…. Feby lumayan oke, wajahnya manis dan tinggi langsing. Tanpa basa-basi Feby langsung melepaskan bajunya, sehingga dia tinggal mengenakan pakaian dalamnya yang semi transparan. Joe kembali menyalakan musik. Bahkan kali ini Joe menyalakan televisi besar yang ada di ruangan tersebut, dan menyetel film biru yang menambah panas suasana.

“Hai, para cowok buka bajunya doong! Masa kalah sama gue sih?” tiba-tiba Feby menantang sambil melepas bra dan melemparkannya ke arahku, lalu kembali berjoget dengan hot.

Aksi Feby tersebut diikuti oleh Ami, Lia, dan Rinda. Tentu saja kami tidak mau ketinggalan. Kami bertiga melepas seluruh baju kami, menyisakan celana dalam saja. Jadilah kami bertujuh hanya tinggal mengenakan celana dalam sambil berjoget.

Rinda mendekati Dani, dan kemudian tangannya melepaskan celana dalam Dani sehingga batang kejantanannya yang sudah keras itu mengacung tanpa tertutup. Rinda turut melepas celana dalamnya, dan merapatkan tubuhnya pada tubuh Dani. Kemudian mereka berdua saling menggesekkan alat kelamin mereka secara berirama. Rinda sampai mendesah-desah keenakan. Aku sendiri langsung mendekap tubuh Lia dari belakang, dan meraih kedua buah dadanya yang terbuka. Payudara yang lembut dan kenyal itu kuremas-remas, putingnya kucubit perlahan dan kupuntir membuat pemiliknya merem-melek keenakan.

Kemudian tangan kananku menyusup ke balik celana dalamnya, dan menjelajahi daerah kewanitaanya. Aku merasakan bulu-bulu keriting halus disana. Lia merintih perlahan saat aku menggesek-gesekkan jariku pada gundukan daging yang ada disana. Sementara itu Feby melepas celana dalamku, dan tangannya yang halus terasa nikmat menyentuh batang milikku, menggosok-gosok dan membelai batangku.

Tidak lama kemudian aku merasa hangat dan basah pada batangku, dan ternyata Feby telah mengulumnya. Mataku sampai terpejam saat Feby mulai menyedot maju mundur sambil memainkan “telur”-ku dengan jari-jarinya. Ah… nikmat sekali. Remasanku pada buah dada Lia menjadi semakin kuat, dan jariku kumasukkan untuk mengorek liang vaginanya, sehingga Lia mengeluarkan suara, “Ouhh… ahh….”

Ami yang saat itu sudah telanjang bulat, mendekat dan menjilati vagina Feby yang saat itu tengah berjongkok mengulum kemaluanku. Tangan Ami menggerayangi kedua payudara Feby. Sementara Joe menggunakan kesempatan ini dengan menusuk kemaluan istrinya yang terbuka lebar, karena Ami mengangkang. Joe menyodok dengan dahsyat, sehingga tubuh Ami berguncang keras dan kedua gumpalan daging di dadanya bergerak seiring. Aku akhirnya tidak tahan untuk tidak mencicipi buah dada Lia. Kubalikkan tubuh Lia menghadapku. Kedua buah dadanya yang montok kusedot, kucubit dan kuremas bergantian, membuat Lia mengeluarkan teriakan tertahan.

Sementara kulihat Dani sudah memasukkan batangnya ke dalam vagina Rinda dari arah belakang. Posisi Rinda yang menungging membuat kedua payudaranya berjuntai liar. Lia meminta Feby untuk menghentikan kulumannya di kemaluanku.

“Feb, gue udah ngga tahan nih… loe udahan yach?”

Feby pun melepaskan mulutnya dari kemaluanku. Lia mendorongku hingga posisiku telentang, kemudian dia menggenggam batang kemaluanku dan diarahkan ke liang sanggamanya.

“Siap ya, Van. Kita mulai…” kata Lia sambil duduk di atas kemaluanku dan kemaluanku amblas ditelan oleh vaginanya.

Lia mendesah sesaat ketika seluruh batangku berada dalam kehangatan vaginanya, dan kemudian mulai bergerak naik turun. Amboi… alat kelaminku terasa disedot oleh vaginanya yang hangat, basah dan legit. Gesekan yang terjadi antara dinding vaginanya dengan kemaluanku membuatku seperti melayang-layang keenakan. Apalagi dengan posisi seperti ini aku dapat melihat jelas ekspresi kenikmatan di wajahnya serta buah dadanya yang membulat kencang.

Tiba-tiba Ami datang dan menyodorkan buah dadanya yang montok itu ke wajahku seraya berkata, “Van, nyusu dulu ya?”

Aku segera meraih buah dadanya yang indah itu dan mengulum putingnya.

“Ahhh… isep yang kuat, Van..!” pinta Ami.

Aku menggigit putingnya dan memainkan lidahku pada ujung putingnya. Kukulum puting itu dengan bernafsu, sementara kulihat Dani mengarahkan batangnya yang berkilat-kilat ke arah selangkangan Ami, dan… “Aaaahhhhhhh…..” Ami mendesah panjang saat batang kejantanan Dani memasuki rahimnya, dan Dani langsung beraksi menyodok-nyodok.

Di lain pihak, Rinda sedang melumat kemaluan Joe dengan mulutnya, sedangkan Joe sendiri tengah asyik menyusu pada Feby. Rintihan dan erangan kenikmatan bercampur baur saat itu diiringi dengan musik, membuat gairah kami semakin memuncak. Lia semakin mempercepat gerakan naik turunnya, menambah dahsyat kenikmatan yang kurasakan dari gesekan dengan dinding kemaluannya. Kedua tangannya meraih tanganku dan membimbing ke arah payudaranya yang bebas. Lalu dia meremas kedua payudaranya sendiri dengan kuat menggunakan tanganku.

“Aaahh… Ssh.. e.. nak banget, Van.. ahss..” Lia mendesis.

Aku pun merasa sangat nikmat dengan daging payudara wanita di kedua tanganku serta di mulutku. Lia semakin cepat naik turun sampai akhirnya dia mengejang karena orgasmenya dengan melepas sebuah teriakan kenikmatan. Lia terkulai di atas tubuhku. Aku melepaskan hisapanku dari puting susu Ami dan memeluk Lia. Sayangnya aku belum puas, pasti karena aku minum obat kuat. Lia bangkit dan kemudian duduk di sofa, untuk beristirahat. Namun Joe menghampirinya, dan membuka kaki Lia ke kanan dan kekiri sehingga mengangkang, kemudian siap menusukkan batangnya pada liang kenikmatan Lia.

“Aduhh.. Joe, nanti dulu dong, gue masih lemes nih…” pinta Lia memelas.

Tapi Joe tidak memperdulikannya dan menghunjamkan batangnya. Kasihan juga si Lia. Aku melihat berkeliling. Sebenarnya aku ingin mencicipi lubang milik Ami. Saat itu kulihat Ami baru saja selesai orgasme, sementara Dani masih kelihatan bernafsu. Aku pun menghampiri Ami dan tanpa basa basi kukatakan ingin menyetubuhinya.

“Mi, gue mau ama loe nih. Gue masukin punya gue ya?” Ami mengangguk pelan.

Dengan posisi berdiri, aku memasukkan kemaluanku ke dalam liang miliknya secara perlahan. Aku menikmati setiap momen saat batang kemaluanku memasuki vaginanya hingga penuh berada dalam rahimnya. Ohh… akhirnya! Inilah rasanya liang kenikmatan Ami, yang dulu selalu kuimpikan. Seluruh urat di kemaluanku berdenyut-denyut dan darahku berdesir hebat saat itu. Kupeluk pinggangnya, dan Ami pun memelukku dengan erat sambil menggoyangkan pinggangnya. Dua gundukan daging di dadanya yang montok itu menekan dadaku, bergesek-gesek menimbulkan kenikmatan tersendiri dari kekenyalannya.

Dani pun tidak tinggal diam. Ia membuka pantat Ami, dan menyodomi Ami. Ami berteriak keras saat anusnya ditembus oleh Dani.

“Aduuuhhh… p.. elan-pelan… Dan, sakiit…”

Gila juga sebenarnya. Suaminya sedang asyik meyetubuhi Lia, sementara aku dan Dani menggarap Ami habis-habisan. Aku melirik seklias ke arah Feby yang tengah mengeluar-masukkan sesuatu benda ke dalam kemaluan Rinda. Yang jelas Rinda mendesah-desah dibuatnya sambil mencengkram payudara Feby.

Kembali aku berkonsentrasi dengan Ami. Aku menyodok dengan kuat dan cepat. Dani mengimbangi, sehingga Ami mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan akibat dua kemaluan laki-laki keluar masuk di dua lubang miliknya. Dani bahkan menjilati tengkuk dan leher Ami, membuat Ami semakin liar. Sampai akhirnya Ami mencapai klimaks kenikmatannya, mengeluarkan rintihan yang pelan tapi panjang. Kepala Ami terkulai di bahuku. Aww… yang benar saja!

Aku belum puas. Dari dulu aku sangat menginginkan untuk menyetubuhi Ami sampai puas. Maka tanpa memperdulikan kondisi Ami yang sudah letih, aku terus menggenjot. Ami hanya mengerang. Dani melepaskan kemaluannya dari anus Ami dan entah mencari Rinda, Lia, ataukah Feby, aku tidak memperdulikannya. Konsentrasiku saat itu berpusat pada Ami. Secara konstan batangku berulangkali menyodok. Gairah Ami muncul kembali, dan dia pun mulai bergoyang mengimbangiku. Namun karena adanya pengaruh obat kuat yang kukonsumsi, sampai Ami mencapai orgasme lagi pun aku masih tetap bertahan dan terus menggenjot. Hingga akhirnya aku merasakan sangat geli pada seluruh kemaluanku dan batang kemaluanku berdenyut-denyut.

“Amii… gue mau.. keluar niiih….” aku berbisik pada Ami.

“Keluar di dalem aja, Van… lagi safe koq…” balasnya berbisik pula.

Berkali-kali alat kelaminku menyemprotkan sperma ke dalam rahim Ami. Ahh… puasnya tubuh dan hatiku, karena keinginanku sejak kuliah dahulu tercapai sudah. Selama beberapa saat kami tetap berpelukan dan kemaluanku masih tertancap dalam kemaluannya. Setelah itu tubuhku berpisah dengannya. Aku beristirahat di sofa, sedangkan Ami merebahkan dirinya telentang di atas karpet. Dadanya bergerak naik turun seiring nafasnya. Kulihat Joe sedang berbicara dengan Feby.

“Gue belum nyobain loe nih, Feb. Ayo dong, please..!” kudengar Joe merayu.

Feby hanya tersenyum, “Jangan sekarang deh. Mendingan kita tidur aja. Liat tuh, udah pada selesai semua.”

“Wah… gue juga belum coba, Feb” kata Dani.

Hm… berarti si Feby ini belum di’coblos’ sama sekali dari tadi. Kalau dipikir-pikir memang dari semula dia hanya mengulum batang kemaluan kami para cowok dan memain-mainkan vagina cewek lain. Curang juga… tapi aku sendiri memang sudah setengah mengantuk, walaupun masih ada sisa-sisa nafsuku.

Akhirnya kami berlima selain Joe dan Ami bertelanjang bulat tidur di kamar tamu, satu ranjang, campur baur. Sebelum benar-benar terlelap, aku dapat merasakan bahwa aku tengah mengenggam payudara seseorang entah siapa, dan seseorang yang entah siapa juga tengah menggenggam kemaluanku (kuharap itu bukan Dani).

******

Pagi harinya Feby membangunkanku. Masih sangat pagi. Kulihat Dani, Rinda, dan Lia masih pulas. Aku pun masih lumayan mengantuk.

“Van, gue mau mandi nih. Mau ikut ngga?”

Ami & Feby

Tawaran begini tidak mungkin kusia-siakan. Aku mengangguk dan mengikutinya ke kamar mandi. Hmmm… ada bath tub-nya! Hebat juga si Joe ini. Feby menyalakan air panas untuk mengisi bath tub tersebut. Kami berdua duduk di sisi bath tub.

“Mau gue pijat ngga, Van?” tawar Feby.

“Mau dong!” jawabku antusias.

Feby tertawa renyah, dan mengambil posisi di belakangku. Lalu ia mulai memijat kepalaku.Enak rasanya, aku merapatkan diri ke tubuhnya sehingga dadanya yang lunak menyentuh punggungku.Batang kejantananku mulai keras.

“Eeh.. nakal ya?” katanya.

Aku hanya tertawa, tapi tanganku mengusap-usap pahanya. Halus… Pijatannya beralih ke bahuku.

“Biasanya Fay suka pijatin loe kaya gini ngga?” Feby bertanya. “Kadang-kadang. Tapi loe lebih bertenaga dari dia. Pijatan loe lebih terasa..”

“Mau yang lebih terasa?”

Tangan kanan Feby turun dari bahuku menuju selangkanganku, lalu mulai mengusap-usap milikku. Aahh… enaknya… Tubuhnya semakin dirapatkan ke tubuhku. Dadanya semakin tertekan ke punggungku, dan aku juga dapat merasakan bulu-bulu kemaluannya pada pantatku.

“Ah.. enak banget Feb. Bener-bener kerasa…”

“Enak ya? Bagus dong…” katanya.

“Gue suka ama ini deh..” Feby berkata lagi sambil mengelus kedua telur di selangkanganku, lalu meremas dengan sangat lembut.

Aduh… enaknya… caranya mirip sekali dengan Fay. Gairahku naik. Namun Feby menghentikan gerakannya.

“Nanti dulu. Campur ama sedikit air dingin biar jadi anget.”

Lalu Feby menyalakan keran air dingin. Sebentar saja sudah bath tub-nya sudah penuh. Kamiberdua masuk sekaligus. Feby berada di depanku. Hangat sekali rasanya. Tanganku memeluk perut Feby, dan kuciumi lehernya. Feby kegelian.

“Gue sabunin ya?” Feby menawarkan padaku. “Tapi nanti loe juga sabunin gue.”

“Beres!” jawabku.

Kami keluar dari bath tub. Feby mengambil sabun dan mulai menyabuni seluruh tubuhku termasuk selangkanganku. Rasanya geli dan enak. Di bagian tersebut Feby beroperasi lebih lama dari bagian lainnya. Aku kemudian ganti menyabuni tubuhnya. Feby bergumam pelan saat aku menyabuni buah dadanya. Lalu aku mengosok selangkangannya dengan perlahan, membuat Feby menggelinjang. Gairahku semakin meningkat. Aku berdiri di hadapannya, memeluk pinggangnya dan langsung mencium bibirnya. Feby membalas dengan bernafsu dan memelukku dengan erat. Cukup lama kami berciuman dan bermain lidah.

Aku meremas pantatnya dan mulai mengesek-gesekkan kemaluanku yang penuh sabun dan sudah tegang 100% dengan klitorisnya. Feby kembali menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Beberapa saat kemudian Feby sudah tidak tahan.

“Aahh… aahh… langsung aja, Van. Gue udah kepingin nih…” Feby berteriak.

Aku membawanya kembali ke bath tub untuk membersihkan sabun yang ada pada tubuh kami. Kami mengambil posisi duduk berhadapan dan aku mendudukkan Feby dengan vaginanya tepat pada batangku.

Bless… Amblas penisku ditelan vaginanya. Tubuh kami bersatu dalam kenikmatan. Gerakan Feby yang luar biasa membuatku kewalahan. Aku bertahan agar tidak cepat keluar. Memang pada akhirnya Feby lebih dahulu mencapai orgasmenya. Tidak lama aku menyusulnya mencapai orgasme dan memuntahkan spermaku ke dalam tubuhnya. Kami berciuman kembali setelah merasakan kepuasan. Air di dalam bath tub hanya tersisa setengahnya akibat permainan kami. Kami lalu bangkit dan duduk di sisi bath tub.

“Loe hebat deh, Van. Kuat banget mainnya..” puji Feby.

Vagina Feby sedikit kurang jepitannya. Kalau saja milik Feby sempit dan ketat seperti Fay, pasti aku kalah dengan tehnik yang dimilikinya.

“Loe juga hebat koq, Feb..”

“Enak mana gue ama Fay?”

Aku hanya terdiam. Bingung menjawabnya.

“Lebih enak sama Fay, ya?” kejarnya.

“Koq jadi dibandingin ama Fay sih?”

“Loe ngga heran kenapa gue bisa tau disini ada pesta seks?”

Nah lho! Di pikiranku muncul satu kemungkinan.

“Dari Fay?” tebakku.

Feby mengangguk. Aku bingung dibuatnya. Darimana Fay tahu kalau kami mau pesta “assoy”?” Fay kasih tau kalo ada pesta seks di rumah Joe. Ya.. gue dateng aja! Dia juga bilang kalo loe ikut.” jelas Feby.

“Waktu itu gue tanya, dia koq ngga marah, padahal tau loe main cewek. Dia bilang, dia udah tau kalo loe suka main cewek. Jadi waktu nikah sama loe dia udah siap terima resikonya. Tapi dia titip sesuatu buat loe, lewat gue..”

“Apaan tuh?”

“Ini nih..,” kata Feby sambil meraih batang kemaluanku yang sudah mulai lemas, mengangkatnya ke atas, lalu menepuk telurku dengan keras.

“PLOKK..!”

“WADAAAWW..,” teriakku.

Mataku terasa berkunang-kunang, dan perutku mulas sekali. Selangkanganku berdenyut-denyut. Selama beberapa saat aku hanya mengerang sambil memegangi “si korban”. Feby tertawa kecil.

Sial!

“Jangan salahin gue ya? Itu titipan dari Fay. Kalo mau bales, bales aja ama dia.”

“Sialan loe..,” aku hanya memaki.

Setelah itu kami kembali membasuh tubuh kami dengan shower. Siangnya, bersama dengan Joe, Ami, Lia, dan Rinda, kami berjalan-jalan keliling Jakarta dan makan-makan di restoran. Hingga sorenya kami kembali ke rumah Joe. Malamnya kami pulang ke rumah masing-masing. Sebelum pulang, Feby memberikan sebuah bungkusan kepadaku.

“Kalo mau bales Fay, pake ini aja.”

Aku membukanya, dan… hehehe…. ini cocok sekali buat membalas si Fay.

******

Sampai di rumah, Fay menyambutku. Ekspresi wajahnya tenang saja, seakan tidak terjadi apa-apa.

“Gimana? Senang ya pestanya…”

“Koq Fay tau ada pesta disana?”

“Dari Ami..,” jawabnya.

“Fay bohongin dia di telepon, bilang kalo Ivan udah kasih tau Fay soal pestanya. Ami ngira Fay udah tau, jadi dia langsung cerita semuanya deh.”

Aku manggut-manggut. Bego juga si Ami. Tapi kalau tidak begitu, Feby kan tidak datang.

“Udah terima titipan Fay?” tanyanya sambil tersenyum.

Aku hanya melotot. “Titipan Fay bahaya, tahu!”

“Biarin! Biar Ivan ngga sembarangan.” katanya penuh kemenangan.

Aku sebal dibuatnya. Aku ambil pemberian Feby tadi, yaitu sebutir pil kuat dan dua butir pil perangsang nafsu. Cukup buat tetap perkasa semalam suntuk. Aku menuju kulkas dan langsung meminumnya. Efeknya langsung terasa. Aku merasa sangat-sangat bergairah.

“Minum apaan tuh?” Fay bertanya penuh selidik.

“Fay, si bibik udah tidur belum?” aku balas bertanya tanpa memperdulikan pertanyaannya.

“Udah koq..,”

“Kalo gitu, Ivan mau bales titipan Fay tadi. Ivan mau perkosa Fay disini, sekarang juga!”

Fay mendelik, “Apa-apaan sih?”

Aku langsung menerkamnya. Fay menjerit. Biar kugarap Fay semalam suntuk! Hehehe…

TAMAT.

.

Sumber : Unknown

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s