Fetishisme Seksual

Posted: Februari 4, 2012 in Artikel

.

Menurut definisi kamus John Mc Echols dan Hassan Shadily, fetish diartikan sebagai pemujaan mutlak/mendalam. Namun menurut Cambridge’s Dictionary, kata ini didefinisikan sebagai rangsangan secara seksual terhadap benda secara tidak wajar.

Fetish

Fetishisme dalam psikologi dianggap sebagai salah satu penyimpangan seksual. Secara umum didefinisikan memiliki tanda-tanda fetish apabila ia memiliki tingkat perhatian tertentu terhadap benda mati (dalam hal ini bisa berupa pakaian dan aksesoris), bagian tubuh, perilaku seksual, dan bagian tubuh tertentu yang menurut pemahaman sebagian besar masyarakat bukan merupakan aurat.

Pelaku baru didiagnosa menderita fetishisme apabila memiliki kepuasan seksual terhadap sesuatu sedikitnya enam bulan. Pelaku biasanya mengalami tekanan jiwa secara klinis, cenderung terisolir dari kehidupan sosial, pekerjaan, atau bidang fungsi penting lainnya, dan bisa membahayakan baik dirinya maupun orang lain.

Setiap benda bisa menjadi fetish, namun diasumsikan bahwa pelaku hanya tertarik pada satu objek saja. Kebanyakan dilaporkan bahwa pelaku tertarik pada bagian tubuh, pakaian, atau aksesoris. Beberapa bentuk fetishisme dapat dikategorikan sebagai berikut:

Pakaian :

  • Pakaian dalam (lingerie), korset
  • Pakaian berbahan khusus seperti satin, dan bulu.
  • Pakaian yang membentuk ketat seluruh tubuh bak kulit kedua, dengan bahan berkilat seperti kulit, karet, PVC. Biasanya dipakai oleh penggemar motor.
  • Pakaian olahraga : pakaian renang, bodysuit untuk menyelam, celana pendek yang menampakkan sebagian besar paha, pakaian ketat atletik yang terbuat dari bahan elastis seperti lycra.
  • Pakaian kasual : kaos, celana jeans ketat, overalls (yang dulu biasa dikenakan oleh pekerja tambang)
  • Pakaian kerja : perlente (umumnya dengan setelah kemeja berdasi yang dibalut dengan jas), coveralls/wearpack untuk teknisi bengkel.
  • Pakaian seragam sekolah
  • Pakaian seragam militer dan kepolisian
  • Pakaian malam seperti gaun tembus pandang, rok, dan syal/selendang, piyama
  • Popok diaper

 

Aksesoris :

  • Sepatu : sepatu boot, sepatu leg (boot menutup seluruh betis), sepatu kets, sepatu berhak tinggi
  • Kauskaki dan stocking, baik jenis biasa maupun olah raga
  • Suspender/tali selempang untuk menggantungkan celana/rok
  • Rantai, ikat pinggang berukuran tertentu, gelang
  • Topeng gas.
  • Rokok dan perilaku merokok
  • Body-piercing (tindik bagian tubuh)
  • Kacamata

 

Bagian tubuh :

  • Bagi wanita juga bisa berupa kuku jari, kaki, buah dada yang “dioperasi”. Secara uniseks, ada pula fetish terhadap telinga, muka berbintik, rambut (atau gundul), kaki, tangan, pusar, hidung, pantat.
  • Tubuh berotot atau binaragawan terutama pada bagian yang memiliki daya pesona. Misalnya otot lengan, dada, paha, betis, pantat, dan perut yang membentuk sixpack.

 

Aktivitas olahraga :

Terutama terkait dengan pakaian yang dikenakan. Misalnya renang, senam, binaraga, beladiri seperti gulat, tinju, kickboxing, dan seni campuran beladiri, yang bisa menjadi daya tarik fetish bagi homoseksual maupun heteroseksual.

Sadomasochisme :

Terjadi bila salah satu menyiksa pasangan. Baik penyiksa (sadist) maupun yang disiksa (masochist) sama-sama mengalami kepuasan seksual yang sama. Tak jarang terjadi salah satu dipaksa menjilati sepatu pasangannya.

Kesehatan dan cacat tubuh :

Agak jarang terjadi, misalkan kecintaan terhadap cacat tubuh (abasiophilia), teramputasi, pembiusan, dan alat pendukung medis seperti kruk, plaster, kaki palsu.

Yang berhubungan dengan hal-hal menjijikkan :

Seperti: tinja, air seni, muntah, menyusui dalam keadaan dada terbuka, suasana berantakan, bersin, meludah, basah dan/atau kencing di celana, dan mengendus/menghembuskan napas melalui hidung.

Paedophilia : yang berhubungan dengan anak di bawah umur.

Transeksual atau banci.

 

Umumnya pelaku sangat dekat/cenderung bertindak voyeurisme (suka menampakkan bagian pribadinya atau minimal dia suka melihat orang lain yang mengenakan asesoris atau pakaian sebagaimana tersebut di atas). Biasanya penderita tidak merasa ini sebagai gejala kejiwaan. Namun orang normal tidak menyadari keberadaan fenomena itu di sekitarnya.

 

Aspek Medis dari Fetishisme Seksual

Secara umum orientasi seksual yang disebut fetishisme dianggap sebagai variasi normal seksualitas manusia menurut pandangan psikologi maupun kedokteran. Meskipun orientasi tersebut yang berupa bentuk potensi fetishisme biasanya dipandang bisa diterima selama pelaku merasa nyaman. Hanya saja jika kriteria diagnosis yang telah dijelaskan terpenuhi, baru ditentukan diagnosis medis terhadap fetishisme. Pemikiran utamanya adalah bahwa pelaku fetish tidak sakit karena kecanduan, namun karena dia menderita karenanya.

Didefinisikan berdasarkan ICD-10-GM versi 2005, fetishisme adalah penggunaan benda mati sebagai stimulus untuk membangkitkan dan mencapai kepuasan seksual. Kriteria diagnosis untuk fetishisme dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Fantasi, tindakan, atau perilaku seks secara tidak wajar selama sedikitnya enam bulan. Kadang-kadang fantasi semacam ini terjadi dan lenyap dengan sendirinya, dalam kasus ini perawatan medis tidak diperlukan.
  • Merusak pengalaman orang lain atau objek orang yang dipengaruhi. Wilayah fungsi mengacu pada aspek kehidupan yang berlainan seperti kontak sosial, pekerjaan, dll. Cukup untuk menentukan diagnosis jika salah satu peserta merasa disakiti atau salah perlakuan dengan cara lain.

Pengertian medis lainnya menyebutkan bahwa, fetishisme penggunaan benda mati atau bagian tubuh manusia sebagai rangsangan untuk membangkitkan dan mencapai kepuasan seksual.

Perbedaan pengertian ini dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam mengevaluasi publikasi yang bersumber dari berbagai negara dan menggunakan berbagai petunjuk diagnosis.

 

PERAWATAN

Ada dua perawatan terhadap fetishisme yang mungkin : terapi kognitif dan psikoanalisis.

Fetish

Terapi Kognitif

Terapi ini berupaya mengubah perilaku pasien tanpa perlu menganalisis bagaimana dan penyebab timbulnya fetishisme itu. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa fetishisme merupakan hasil kondisi atau penanaman kesan. Terapi ini tidak mampu mengubah preferensi seks pasien, namun hanya bisa menekan akibat perilaku yang tak diinginkan.

Satu terapi yang mungkin dilakukan adalah pembentukan kondisi aversif, di mana pasien dikonfrontasikan dengan fetishnya, dan secepat dimulainya rangsangan seks, dipaparkan pada stimulus yang tidak menyenangkan. Dilaporkan bahwa pada saat lebih dini, stimuli sakit berupa kejutan listrik telah digunakan sebagai stimulus aversif. Dewasa ini, stimulus aversif yang umum dipakai adalah foto-foto yang menggambarkan hal yang tidak menyenangkan seperti menyakiti alat kelamin. Variasi terapi ini adalah membantu pembentukan kondisi aversif, di mana pasien dipaksa mengeluarkan gas abdominal (kentut) sebagai stimulus aversif.

Terapi lain yang mungkin dilakukan adalah teknik yang disebut pemikiran terhenti (thought stop), di mana ahli terapi meminta pasien memikirkan fetishnya, dan tiba-tiba berteriak “berhenti!”. Pasien merasa tersakiti, jalur pemikirannya rusak. Setelah menganalisis efek kejut mendadak secara bersamaan, ahli terapi lalu mengajarkan pasien penggunaan teknik oleh diri sendiri untuk menginterupsi pemikiran tentang fetish-nya dan selanjutnya mencegah perilaku yang tidak diinginkan.

Psikoanalisis

Terapi psikoanalisis ini berupaya untuk menempatkan pengalaman trauma bawah sadar yang menyebabkan awal timbulnya fetishisme. Dengan membawa pengetahuan bawah sadar pada suara hati, lalu mendorong pasien mampu bekerja dengan traumanya secara rasional dan emosional, ia akan terbebas dari masalahnya. Tidak seperti halnya terapi kognitif, psikoanalisis ini menangani penyebabnya itu sendiri.

Ada berbagai upaya yang dapat dilakukan pada analisis proses ini, mencakup terapi bicara, analisis mimpi, dan terapi bermain. Mana metode yang akan dipilih tergantung pada permasalahan itu sendiri, sikap dan reaksi pasien terhadap metode tertentu, dan edukasi dan preferensi ahli terapi.

Ditekankan bahwa dalam psikoanalisis, fetish adalah hal terakhir yang dilihat anak kecil sebelum menemukan bahwa wanita tidak memiliki penis. Rangsangan erotis dari observasi pertama sang anak terhadap anak perempuan atau wanita bertelanjang menjadi traumatis ketika ia menemukan bahwa pengkebirian adalah ancaman yang nyata. Apa yang menyebabkannya rangsangannya meningkat tiba-tiba berubah menjadi hal yang menyeramkan. Sang anak lalu merasakan amat mendalam terhadap momen meningkatnya rangsangan tepat sebelum trauma terjadi. Hal ini biasanya berupa pakaian dalam atau kaki, namun bisa juga berupa apa saja.

Pada definisi yang lebih ketat, menampilkan alat seksual kedua-payudara dan pantat- bukan merupakan fetish.

 

PENGOBATAN

Perawatan farmasi terdiri dari berbagai jenis obat yang dapat menghambat jumlah steroid seks melebihi jumlah testosteron yang dimiliki pria dan estrogen yang dimiliki wanita. Dengan memotong tingkat steroid seks, hasrat seksual berkurang. Dengan demikian, sesuai dengan teori, pasien bisa mencapai kemampuan mengontrol fetish dan secara masuk akal memproses pemikirannya tanpa terganggu oleh rangsangan seksual. Juga, penerapan ini bisa melegakan pasien dalam kehidupan sehari-hari, dengan membantu si pasien untuk bisa mengabaikan fetishnya dan kembali ke rutinitas sehari-hari. Penelitian lain mengasumsikan bahwa fetish bisa berupa cacat obsesif-kompulsif (godaan yang sangat mengganggu, pent.), dan memandang penggunaan obat-obatan psikiatri (serotonin mencerdaskan penghambat dan pemblokir dopamin) untuk pengontrolan parafilia yang mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi.

Meskipun riset berkelanjutan menunjukkan hasil positif dalam studi kasus tunggal dengan sebagian obat, misalnya topiramate, belum ada satupun pengobatan yang dapat menangani fetishisme itu sendiri. Karena itu, perawatan fisik hanya cocok untuk mendukung salah satu metode psikologi.

 

OPERASI

Pada sebagian kecil kasus, operasi otak telah menjadi sarana untuk mengatasi fetishisme. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa, operasi ini selalu disebabkan oleh diagnosis lain seperti epilepsi dan oleh karenanya terbebasnya fetishisme hanya menjadi efek samping semata. Meskipun ada yang menyarankan perbaikan otak sebagai penyebab yang mungkin terhadap fetishisme, operasi sangat tidak mungkin dijadikan pertimbangan.

.

Sumber: Wikipedia, dengan kata kunci sexual fetishism.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s