A Long Day At The Office

Posted: Februari 4, 2012 in Other Stories

.

05:00 WIB..

Widya

Bip.. Bip.. Bip.. Bip

Terdengar suara mirip alarm berbunyi berulang-ulang saat aku masih meringkuk di balik selimut hangat dan nyaman yang menemani tidurku sepenjang malam.

Bip.. Bip.. Bip.. Bip..

Menyebalkan sekali bunyi itu. Kuletakan kedua tanganku di kepala dan mulai memijit-mijit halus kepalaku agar rasa pening ini segera berlalu dan aku dapat meneruskan percumbuanku dengan ranjang ini.

Bip.. Bip.. Bip.. Bip..

Ah! sebegini parahkah hangover yang aku alami? Aku memang semalam minum agak banyak dalam pesta ulang tahun rekan kantorku Diana yang diadakan di News Cafe Kemang. Aku ngerasa betul-betul ‘having a good time’ sampai lepas kontrol menghabiskan 2 gelas contreau’ ditambah segelas ‘Long Island. Aku memang bukan tipe wanita peminum (Thank God!), namun dalam saat-saat tertentu aku bisa minum diluar kemampuanku apalagi ketika aku sedang benar-benar in the good mood.

.. Bip.. Bip.. Bip..

Bunyi itu rasanya familiar buat pendengaranku. Sepertinya bunyi yang rutin kudengar tiap hari. Mana mungkin pikirku.. Aku khan nggak tiap hari minum sampai ‘hangover begini. Tunggu sebentar.. Wait a second.. Aku mengumpulkan kesadaranku yang masih melayang kira-kira setengah meter diatas tubuhku.

“Ya ampun suara itu..!”

Tersentak aku sambil bangun dari ranjangku setengah melompat. Itu bunyi alarm jam-ku! ‘Oh Widya kenapa jadi begini!’ Kukenali suara itu.. Itu suara si peri baik yang biasanya berbisik di telinga kananku. ‘Jangan sampai telat lho’ katanya lagi menasihatiku. Aku menjawab nasehatnya dengan segera masuk ke shower dengan langkah yang masih setengah diseret. ‘Ah Widya.. Udahlah ngapain susah-susah.. Khan lamu bisa telpon kantor terus bilang nggak enak badan’ Nah yang ini pasti suara si peri nakal yang selalu berbisik di kuping kiriku. ‘Just one phone call aja dan kamu bisa kembali merasakan kenyamanan ranjangmu’ ucapannya kian menggoda.

Nggak mungkin lah kataku dalam hati. Soalnya hari ini aku harus ketemu supplier-ku dan nggak mungkin di cancel begitu aja. Segera aku membuka kran shower dan si peri pun lenyap tersapu air deras yang menerpa kulitku. Sejenak aku melirik ke kanan dan kulihat si peri baik tersenyum kepadaku. Seperti biasa aku tidak pernah memakai water heater/pemanas untuk mandi pagi karena aku lebih suka membiarkan dinginnya air shower ini memberikan ’shock terapi buat mengusir rasa malas dan kantuk-ku.

Betapa segarnya merasakan siraman shower di atas kepalaku bagaikan rintik hujan yang terus-menerus menerpa membuatku sejenak memejamkan mataku dan membiarkan air dari shower itu terus turun menjelajahi lekuk-lekuk tubuhku. Kurasakan sejuknya air membelai tubuhku dari atas sampai ke bawah menggelitik tubuhku dengan rasa dinginnya. Rasa dinginnya menimbulkan rasa merinding terutama di wilayah dadaku. Terasa payudaraku agak mengeras dan kedua puting susu-ku yang berwarna merah muda agak kecoklatan menjadi lancip meregang suatu sensasi yang sulit diungkapkan. Kuteruskan mandi pagiku dengan bersenandung dan kadang menyanyikan potongan bait lagu Mariah Carey kesukaanku.. And the hero comes along.. With the strength to carry on..

20 menit kemudian aku sudah berada di meja makan, menghabiskan sarapan pagiku sambil terburu-buru. Oh ya aku sangat mengutamakan sarapan karena aku tipe pekerja yang aktif bahkan cenderung workaholic. Berbeda dengan teman-teman wanitaku yang lain, aku tidak terikat untuk melakukan diet. Pertama adalah karena aku tipe sibuk dan banyak kegiatan sehingga selalu butuh tambahan energi, kedua adalah karena aku tipe cewek yang susah gemuk. Bukan karena cacingan tapi karena kegiatanku yang padat membuat bentuk tubuhku senantiasa terjaga.

Pukul delapan tepat saat aku melirik jam tanganku ketika memasuki pintu kantor Segaris senyuman ramah dari Nina resepsionis kantor menyambutku hangat. Ucapan selamat pagi kuterima dari Bramanto, satpam kantor yang bertubuh tinggi besar namun memiliki suara seperti tikus kejepit. Kontras sama bodinya. Aku balas menyapanya sambil berlalu menuju ruangan kerjaku.

Perusahan tempat aku bekerja ini adalah perusahaan percetakan dan penerbitan terbesar di indonesia dan aku adalah salah satu manager disitu. Usiaku 28 tahun dan ini adalah tahun keempat aku bekerja disini. Gelar S1 UI dan S2 di sebuah perguruan tinggi di Australia sepertinya sangat menolongku mencapai posisi ini dalam waktu relatif cepat. Cukup cepat sehingga menimbulkan kecemburuan diantara rekan-rekan senior disini. Well, bagiku itu problem mereka yang penting aku tidak menginjak kepala mereka untuk menduduki jabatan ini.

Ruang kerjaku terletak di lantai 4 di gedung milik perusahaanku. Gedung yang cukup besar karena sekaligus menjadi satu dengan tempat percetakan dan penerbitan. Ruang kerjaku tidak terlalu besar tapi juga tidak kecil. Cukuplah bagiku untuk bisa melakukan senam-senam kecil di siang hari. Oh iya itu merupakan salah satu kebiasaanku untuk menghilangkan penat dan merenggangkan otot. Kebiasaan itu terbukti cukup sukses mengurangi stress dalam bekerja.

“Tok.. Tok.. Tok” terdengar ketukan dan sesaat kemudian seraut wajah muncul dari balik daun pintu itu.

“Hai.. Good morning Wid” ucapan itu muncul dari wajah ganteng milik Hendra asistenku.

“Eh.. Pagi Hen” jawabku.

“Wah gimana Wid.. Masih hangover?” Hendra bertanya sambil melangkah duduk di depan mejaku.

“Thank God nggak tuh.. Tadi waktu bangun tidur sih sempet agak pusing tapi sekarang sudah enggak lagi tuh”.

Hendra semalam yang terpaksa mengantarku pulang karena aku sudah terlalu ‘hi’ buat mengemudi.

“Sungguh.. Aku baru kali itu liat kamu mabuk Wid” ujarnya sambil sebuah map berisi berisi beberapa berkas yang harus kuperiksa.

“Oh ya.. Aku juga enggak tahu tuh bisa kebablasan minum gitu” aku menjawab dengan enteng sambil membaca berkas-berkas yang disodorkannya.

Hubunganku dengan Hendra memang lebih mirip hubungan antar teman biasa. Aku sendiri yang meminta dia agar bersikap informal dalam hubungan kita. Dia baru mulai bersikap formal dengan memanggilku ‘bu’ apabila dalam situasi-situasi tertentu saperti dalam rapat atau di depan atasanku. Umur kita berdua hampir sama. Aku cuma lebih tua setahun darinya. Hendra sudah berkeluarga dengan satu orang putra balita. Kami biasa bercerita apa saja mulai dari masalah keluarganya atau kantor bahkan sampai masalah sex kami bicarakan dengan gamblang. Tidak jarang kita suka bertukar joke-joke ringan mengenai sex.

Hendra memang ganteng tapi cara bicara dia yang halus bahkan cenderung kemayu makin membuatku tidak risih dengannya. Kalau bisa dibandingkan, gaya bicara dan tindak tanduknya mirip Syahrul Gunawan bintang sinetron yang kemayu itu. Malahan dalam urusan gosip dia menjadi trend setter di kantorku. Apabila terlihat kerumunan ibu-ibu saat jam makan siang dan suasananya riuh, dapat dipastikan kalau Hendra berada ditengah-tengahnya sedang memeberikan laporan up to date-nya tentang gossip hari itu.

“Hen, bagaimana tentang nanti siang? Jam berapa Pak Faisal datang?” tanyaku. Pak Faisal itu adalah suplier yang akan kutemui siang ini.

“Oh iya.. Dia datang setelah jam makan siang”

“Tadi sekretarisnya sudah confirm kesini” ujarnya lagi menambahkan.

“Eh tahu nggak Wid tentang desas-desus Mbak Diana dengan si Nina resepsionis itu?” kata Hendra mulai dengan nada ‘rumpi-nya’.

Memang akhir-akhir ini di kalangan keryawan disini tersebar isu yang mengatakan kalau Diana teman kantorku dari bagian finance yang semalam berulang tahun itu seorang ‘lines’ (lesbian) dan memiliki ‘affair’ dengan Nina resepsionis baru kantorku.

“Ah masa sih.. Diana khan sudah punya suami” aku menimpali sambil membereskan beberapa pekerjaanku.

Sebetulnya aku nggak suka ngomongin sesama teman. Apalagi gosipnya termasuk dalam kategori ‘berat’ seperti itu.

“Tapi kayaknya benar tuh.. Akhir-akhir ini mereka suka keluar makan siang berdua dan selalu nggak mau gabung kalau diajak makan bareng sama yang lain”. Hendra makin seru dengan gosipnya. Kemudian dengan menurunkan nada suaranya ia berkata,” Ada lagi yang lebih parah Wid”.

Melihat ekspresi Hendra yang serius aku jadi mulai penasaran akan ceritanya.

“Parah gimana?” tanyaku sambil ikut2an merendahkan nada suaraku.

“Si tikus kejepit Bramanto.. Pernah liat mereka berdua kiss-kissan sambil pegang-pegangan di toilet”.

Wah seruku dalam hati. Gosip sih gosip, tapi kalau ternyata memang betul?

Pervert banget dong.. Si bramanto ngomong benar tuh?” kini aku benar-benar tertarik. Tak dapat terbayangkan olehku kalau di kantor ini telah terjadi hal-hal yang betul-betul ‘kinky’ itu.

“Aku sih percaya omongan dia.. Lagipula kamu nggak tahu yah kalau semalam Mbak Diana tuh pulangnya bareng Nina. Lagian baru kali ini khan anak resepsionis yang masih baru sudah diundang acara luaran kita” katanya lagi.

Wah aku tidak sanggup meneruskan bayanganku tentang hubungan mereka itu.

“Ah thats enough Hen.. Aku sih mending diam ajalah.. Kecuali benar-benar ngeliat di depan mata kepala sendiri” Kataku, ingin segera menyudahi pembicaraan ini karena aku merasa bersalah sudah membayangkan Diana melakukan perbuatan itu.

“Ok ok terserah kamu deh Wid, moga-moga juga gosip itu nggak benar semua.. Aku cerita ke kamu aja sih soalnya khan kamu termasuk dekat sama Mbak Diana” Kalimat Hendra seakan mencari pembenaran bagi ke’ember’annya itu.

Knock it off.. Will u..” kataku sambil bercanda dan mengibaskan tanganku seakan aku tidak begitu tertarik dengan gosip itu.” I think we better back to work.. Ndra tolong kamu siapkan berkas penawaran dari suplier sebelumnya and i want it on my desk before lunch time” Sudah cukup ‘chit-chat-nya’ dan aku kembali ke gaya kantoran lagi.

“Ok deh mam’.. Eh kamu mau lunch bareng enggak nanti?”. Hendra bertanya sambil melangkah menuju pintu.

“Mmm.. Aku mau makan siang di sini aja.. Thx buat ajakannya” jawabku.

Snip! Hendra membalas dengan menjentikan jarinya lalu jari telunjuknya mengarah padaku lalu dengan gaya kartun-nya yang agak ngeselin dia mengedipkan matanya sambil berucap” see u then”.

Grown up man! itu yang terucap dalam hatiku melihat tingkah Hendra yang kadang masih kekanakan. Anyway kalau nggak ada dia aku kesepian juga sih soalnya dia orangnya easy going dan asyik aja (kecuali kalau kita lagi serius kerja). Geli juga sih ngebayangin gimana kelakuan dia di rumah. Khan dia sudah berkeluarga. Gimana cara istrinya menghadapi sifat ‘rumpi’ dan childish suaminya itu? ‘Widya.. Go back to work!’ Ah si peri manis kembali berbisik di telinga kananku mengingatkanku agar kembali ke pekerjaanku.

Belum sejam aku tenggelam dalam kesibukanku aku mendadak dikejutkan dengan suara berisik dari jendelaku. Begitu aku palingkan wajahku ke arah jendela tampak sesosok tubuh pria berdiri diluar. Oh rupanya itu maintenance kantor yang sedang membersihkan jendela dengan menggunakan lift khusus untuk membersihkan jendela gedung tinggi. Kulihat petugas pembersih itu mengenakan safety helm dan kemeja seragam maintenance kantorku. Dipinggangnya dia memakai ikat pinggang pengaman dan berbagai alat pembersih tergantung di pinggangnya. Terlihat wajahnyayang keras dan kulitnya terbakar ditimpa matahari.

Gerakan tangannya yang berotot itu terlihat luwes menggerakan pembersih kacanya sementara tangan yang satu lagi sesekali menyemprotkan cairan pembersih. Mataku tertuju pada bagian celananya yang terlihat menyembul tanpa kusadari aku menelan ludah menatap daerah kejantanan pria itu yang terlihat seperti polisi tidur menggunduk di daerah retseling celananya.

‘Mmm pasti kokoh dan besar’ups o’o itu pasti suara peri nakal di telinga kiriku! Segera aku meninggalkan pandanganku dari petugas pembersih itu. Ada perasaan malu timbul dalam hatiku. Perasaan gengsi karena petugas maintenance itu telah ‘membius’ pandanganku. Untung jendela kantorku terbuat dari kaca gelap yang memantulkan cahaya dari luar. Pasti orang itu tidak tahu kalau aku tadi memandangnya seakan ingin ‘menelan’ (atau lebih tepat mungkin mengulum) bagian ‘itu’. Aku kembali ke pekerjaanku sambil sesekali menengok ke jendela. Aku merasa seperti rugi melewatkan ‘pertunjukan’ yang jarang ini (jendela kantorku dibersihkan 2 minggu sekali itu pun belum tentu dengan orang yang sama).

Lima belas menit kemudian dia menghilang dari jendelaku pindah ke tingkat lain. Saat itu Hendra kembali datang dan menyerahkan berkas yang aku minta padanya. Hendra masih sempat mengajaku lunch bersamanya di luar tapi kutolak karena aku memang sedang tidak ingin keluar kantor. Mungkin karena tadi pagi sarapanku cukup banyak sehingga aku memutuskan hanya menyantap apel yang kubawa dari rumah.

Biasanya segera setelah memasuki jam istirahat kantor aku melakukan senam-senam ringan di ruanganku. Hal itu kulakukan rutin hingga menjadi semacam ritual harian bagiku. Lebih baik aku makan siang dengan porsi kecil plus senam ringan daripada aku pergi makan hingga kenyang tapi mengakibatkan rasa kantuk dan penat sepanjang sisa waktu kerja.

Kunyalakan stereo set di ruanganku dengan remote kemudian aku melepas sepatu dan duduk agak selonjoran dengan santai di kursi. Kuangkat kedua tungkai kakiku dan kuletakan diatas meja dengan posisi kaki saling menyilang. Kuhabiskan apel yang kubawa dari rumah lalu kemudian meminum sebotol air mineral. ‘How refreshing! aku tetap duduk santai sambil menggerakan ujung jari kakiku unutuk meregangkan otot. Suasana kantor yang begitu tenang karena para karyawan sedang istirahat makan siang membuatku merasakan suasana privacy yang tentram. Bayangan petugas pembersih jendela itu kembali memenuhi fantasi-ku.

Sebenarnya aku adalah tipe wanita yang sangat pemilih dalam menentukan pria yang akan kujadikan pertner dalam masalah sex. Biasanya aku memiliki standar yang tinggi akan hal itu. Salah satu yang penting adalah pria itu haruslah memiliki tingkat intelektual minimal sama denganku. Aku suka tipe pria yang tenang, dewasa dan gentle. Seorang pria yang mempu memberikan kepuasan psikologis daripada sekedar kenikmatan fisik yang hambar.

Selama ini rekan kencanku adalah pria berlatar belakang pendidikan tinggi dan mampu melakukan ‘clever conversation’. Akan tetapi entah mengapa dalam berfantasi aku lebih suka membayangkan pria-pria kasar dengan fisik yang kekar dan kuat. Tipe-tipe pekerja low class yang mengandalkan otot daripada otak. Lebih nikmat rasanya membayangkan mereka merengkuh tubuhku dengan kasar dan meniduriku dengan senggama yang liar.

Bayangan pria pembersih jendela tadi diam-diam membangkitkan libidoku. Terasa jelas tubuhku mulai dialiri gairah hangat yang berwujud suatu perasaan sensasi seperti aliran listrik halus menggelitik naik mulai dari ujung kaki lalu perlahan lahan naik ke atas menjalari segenap bagian tubuhku. Tanganku secara otomatis bereaksi dengan mulai menyentuh dan mengusap-usap kedua pahaku yang di balut stocking yang halus. Tangan kiriku mulai meremas payudaraku dan tangan kanan membelai paha bagian dalam hingga menyentuh tepat diantara kedua kakiku. Tanpa sadar aku merentangkan kedua kakiku selebar mungkin diatas meja hingga rok kerjaku kusut terangkat hingga pinggang.

Kubayangkan tangan-tangan kasar pria itu meremas dan mempermainkan buah dadaku. Kubayangkan tangannya menyusup ke balik baju dan BH-ku dan mulai mempermainkan puting susuku. Gerakan jari-jarinya begitu kasar hingga mulai memelintir dan ‘menjewer’ kedua puting-ku. Terasa bagian tengah celana dalamku yang masih terlapis pantyhose mulai basah. Kuteruskan gerakan tanganku dengan menekan kuat daerah klitoris dan melakukan gerakan ‘tekan dan putar’ mirip gerakan mengulek. Ahh.. Nafasku mulai berat memburu. Kuatur dengan menarik nafas panjang. Lalu kubayangkan pria tadi melepaskan celana kerjanya.. Kubayangkan kejantanannya yang besar dan kokoh itu berdiri bebas tanpa ditutupi celananya. Lalu perlahan diletakan di bibir kewanitaanku.

Kini kedua belah tanganku membelai daerah pangkal paha sambil kubayangkan kenikmatan yang diberikan olehnya apabila ‘kejantanannya’ itu menusuk menghujam kewanitaanku. ’sshh.. Aku mendesis dengan penuh perasaan merinding yang nikmat mambayangkan hal itu. Terlebih lagi nikmatnya gerakan kasar pria itu apabila ‘memompa’ kewanitaannku dalam senggama yang liar dan kasar. Kian keras aku menekan areal klitoris-ku, makin cepat seiring kenikmatan dan cairan kemaluanku yang mengalir keluar seiring kedutan-kedutan di dalam liang kenikmatanku. Makin kuat.. makin kuat hingga kesadaranku menjadi gelap diselubungi kabut kenikmatan yang memabukan.

Mulutku beberapa kali terbuka lebar megap-megap menahan nafas yang memburu serta berusaha mencegah suara rintihan itu keluar dari mulutku. Akhirnya saat kubayangkan pria itu menusuk berulang dan makin keras, maka terlepaslah samuanya.. Ibarat listrik mengaliri seluruh persendianku, aku tenggelam dan tersapu gelombang orgasme yang hebat! kedua kakiku mengejang diatas meja sampai pantatku agak terangkat hingga posisi duduk-ku makin melorot! Hmm! tak dapat kulihat apa-apa lagi selain ribuan kunang-kunang menari manyilaukan mataku!

Ahh! Kulepaskan nafasku yang berisi gelombang kenikmatan terakhir lalu aku kembali lunglai diatas kursi. Terdengar suara tawa si peri nakal cekikikan di telinga kiriku. Begitu mulai kesadaranku kembali aku dapati kalau posisi duduku merosot hingga punggungku tinggal bersandar di dudukan kursi dan bagian pinggang sampai pahaku menggantung diantara kursi dan meja. Tinggal sebatas lutut hingga ujung kakiku saja yang masih berada diatas meja mencegahku jatuh ke lantai. Ingin kutetap dalam posisi itu hingga desah nafasku kembali normal tapi bunyi telpon membuatku segera bangkit untuk menjawabnya.

“Halo..” desah nafasku masih setengah memburu.

“Halo.. Mbak ini aku” terdengar suara dari ujung sana. Suara itu sangat kukenal karena itu suara adiku Sonny (Sonny Amulet).

“Lho Mbak kenapa koq nafasnya gitu abis senam apa abis lari?” ujarnya yang cukup membuat wajahku merah padam.

“Eh aku abis senam.. Ada apa?” aku balik bertanya sambil mengalihkan perhatiannya dari deru nafasku.

“Lho besok jadi nggak ke nyari PC-nya ke ITC?” jawabnya

Oh iya aku hampir lupa kalau besok aku janji mau menemaninya mengganti komputer.

“Iya.. Iya gimana dong bukannya kamu kerja sama kuliah?”.

“Besok aku kuliah pagi sampai siang.. Soal kerja sih besok nggak ke kantor lagian Erika keluar kota” jawabnya.

“Oke deh kalau begitu.. Mbak jemput kamu jam 11 di kampus yah.. Tapi kalau bisa sebelum jam tiga sudah kelar soalnya Mbak harus ke tempat suplier jam tiga”.

“Ok deh bisa.. Sebentar koq paling 2 jam-an” katanya memastikan.

“Ok deh.. Ampe besok Mbak daah” tanpa menanti jawabanku dia menutup telponnya.

Dasar tuh anak kalau ada maunya bisa aja. Aku segera merapikan bajuku mengenakan sepatu lalu ke toilet untuk segera membersihkan bagian kewanitaanku yang ‘kegerahan’. Siang itu pertemuan dengan Suplier berjalan dengan baik dan segalanya sesuai dengan rencana.

******

Sore itu selepas jam kantor aku masih saja berada di ruang kerjaku. Seperti biasa aku membereskan semua sisa pekerjaanku sekaligus semacam evaluasi pribadi akan kinerjaku hari itu. Itu merupakan salah satu kebiasaanku karena aku tidak mau ada sesuatu yang tercecer atau tertinggal hingga membuatku repot di hari berikutnya. Dan seperti biasanya suasana lalulintas di depan kantorku sangat padat (nggak cuma di depan kantorku sih.. Di jakarta memang dimana-mana padat kalau jam pulang kantor). Biasanya aku suka mampir di Playan yang kebetulan dekat dengan kantorku dan bersama beberapa rekan kantor ‘hangout’di kafe wien sampai keadaan jalan mulai lenggang baru pulang. Tapi saat itu aku malas beranjak keluar kantor dan iseng browsing di internet sambil minum capucino.

20 menit kemudian aku merasa harus segera ke toilet dan seperti biasa aku suka menggunakan toilet yang terletak di bagian direksi. Alasanku adalah karena toilet wanita disana lebih jarang digunakan karena biasa hanya digunakan oleh tamu direksi yang wanita dan para sekretaris direksi saja (lagipula para direksinya adalah pria semuanya) jadi lebih memenuhi rasa higienis-ku.

Aku melintasi ruang kantor utama yang sudah kosong menuju ke bagian selatan lantai 4 ini. Di bagian direksi sebagian besar lampu sudah dipadamkan sehingga hanya lampu2 pada koridor saja yang masih tetap menyala. Sebenarnya suasana temaram dan sepi ini agak menyeramkan tapi karena sudah empat tahun bekerja disini aku sudah familiar dengan suasana gedung ini. Lagipula di lantai satu dan dua di bagian produksi kegiatan tetap berlangsung dan masih ramai dengan pekerja. Aku memasuki toilet wanita yang terletak di tempat paling ujung bagian direksi. Lampunya masih menyala dan tanpa ragu aku melangkah masuk ke dalamnya.

Begitu memasuki toilet aku langsung melewati jajaran wastafel di kedua sisi dengan cermin sepanjang dinding kedua sisinya. Ada empat bilik toilet di dalamnya. Di pintu masuk dua bilik pertama tergantung sign “RUSAK/DALAM PERBAIKAN” sehingga aku memasuki pintu ketiga. Ketika aku sedang duduk di toilet itu ada perasaan aneh yang muncul. Perasaan yang mengatakan kalau aku tidak sendiri di ruangan ini. Insting-ku seperti merasakan kehadiran orang lain di ruangan ini.

Aku segera mengusir perasaan itu jauh-jauh dan segera setelah selesai buang air kecil aku segera membersihkan diri (tentunya flushing the toilet juga) lalu ingin segera meninggalkan ruangan yang mulai ’spooky’ itu. Belum sempat aku keluar tiba-tiba pintu masuk toilet terbuka dan terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa. Ada sedikit suara bisik-bisik singkat yang membuatku mengenali suara itu.

Itu suara Diana! rasa ingin tahuku keluar hingga aku perlahan membuka pintu bilik-ku mengintip. Rupanya mereka berada di sisi yang sama dengan jajaran bilik toilet sehingga aku tidak dapat melihat langsung ke arah mereka. Akan tetapi cermin besar sepanjang sisi seberangnya membuatku bisa melihat mereka melalui cermin itu. Dan apa yang kulihat benar-benar membuat kedua lututku gemetar. Diana dan Nina si resepsionis sedang bergelut penuh nafsu birahi! Kulihat bibir keduanya saling menempel erat dan desah nafas mereka berdua terdengar keras memenuhi ruangan itu. Perasaan antara jijik dan shock aku rasakan menyaksikan dua orang wanita yang kukenal melakukan hubungan sejenis di depan mataku. Ingin aku memalingkan muka karena muak melihat perbuatan mereka namun rasa ingin tahu-ku terlalu kuat hingga aku menyaksikan ‘permainan’ mereka dari balik pintu toilet ini.

Diana & Nina

Diana terlihat lebih mendominasi ‘pergumulan’ itu sedangkan Nina lebih tampak sebagai objek pemuas. Tangan Diana tampak begitu rakus dan liar menjelajahi setiap lekuk tubuh Nina. Dua pasang tangan yang halus dan lentik terlihat tergesa-gesa saling mencopot pakaian bagian atas pasangan masing-masing.

Sepasang bibir yang sama-sama mengenakan lipstik tampak sangat tidak wajar saling menempel lekat seperti itu. Bahkan bayanganku tentang hubungan lesbian selama ini tidak se’seram’ kenyataan yang terlihat gamblang di depan mataku. Aku menarik nafas panjang dan sejenak berusaha menerima fakta di depanku bahwa gosip si Hendra benar dan cerita Bramanto si satpam juga benar adanya. Tapi mengapa harus Diana? mengapa harus teman yang telah kukenal sejak pertama kali aku kerja disini dan mulai cukup dekat dua tahun terakhir ini.

Aku tidak menyebut akrab karena hubunganku dengannya memang hanya sebatas hubungan kantor dan di acara-acara luar kantor yang melibatkan orang-orang dari kantor (such as ultah-nya semalam). Tapi kuakui selama dua tahun terakhir ini kita berdua cukup intens dalam berhubungan. Diana cukup sering menelpon dan bercerita banyak hal denganku. Memang belum sampai dalam taraf curhat sih soalnya kami berdua seperti-nya tipe wanita yang lebih suka menyimpan hal-hal pribadi dan hanya menikmati percakapan yang bersifat umum dan populer saja.

Oh iya Diana adalah wanita yang telah berumah tangga, usianya 30 tahun wajahnya menarik dan memiliki pesona kematangan seorang wanita yang pastinya sangat sexy khususnya di mata pria berpendidikan yang suka dengan wanita yang memiliki intelektualitas dan mandiri. Nina sendiri masih terlihat sangat muda, mungkin sekitar 22-23 tahun umurnya. Kulitnya kuning langsat dan wajahnya khas mojang Priangan dengan kecantikan yang lumayan.

Kulitnya tampak kencang dengan payudara dan bagian pantat yang cukup montok. Tubuhnya lumayan jangkung dan jujur saja membuatku iri (padahal tinggi badanku yang 162 cm ini menurut teman-teman sudah cukup tinggi). Tapi tetap saja aku iri dengan tinggi badannya titik. Saling bergantian kedua wanita itu melepaskan nafsu mereka meremas, dan kemudian menghisap, menjilat (etc.. Etc segala jenisnya) payudara pasangannya.

Kemudian tubuh Nina yang langsing itu tampak beranjak duduk diatas wastafel. Diana dengan sigap menarik celana dalam pasangannya sampai lepas hingga tersangkut di sebelah kakinya lalu melakukan oral. YUKS!! agak mual aku membayangkan bila aku yang harus melakukan itu. Adakah kenikmatan yang didapatkan dengan mencumbui kemaluan dari sesama wanita?? Setidaknya itu yang ada di pikiranku pada awalnya.

Tubuh Diana dalam posisi berlutut. Kepalanya tepat berada diantara paha milik Nina yang kadang-kadang menutup mengejang menahan geli. Kuperhatikan wajah Nina yang sangat ‘ekspresif’ menterjemahkan tiap kenikmatan yang dirasakannya. Matanya yang sayu terbius kenikmatan kadang agak mendelik dan kadang terpejam dalam waktu lama seiring galombang kenikmatan yang datang menerpanya bagaikan ombak memecah pantai silih berganti. Kedua telapak tangannya yang halus itupun seperti mengikuti irama yang sama dengan ekspresi wajahnya menjelajahi tiap bagian dadanya sendiri. Terkadang tangannya membelai, kadang seperti menggaruk dan memelintir kedua ujung payudaranya sendiri. Dia menikmati itu semua serasa dia hanya sendiri diruangan ini.

Kedua pasangan itu tampak seperti menikmati permainan mereka dengan cara sendiri-sendiri. Kurasakan detak jantungku kian berdentang kencang dan nefasku kian berat. Lambat tapi pasti fantasi memenuhi kepalaku. Aku membayangkan kenikmatan saat aku melakukan masturbasi tadi siang. Posisiku yang sedang mengintip menimbulkan semacam sense of privacy yang membuatku makin tenggelam dalam permainan panas yang disuguhkan dua insan sejenis di depan mataku.

Seumur hidupku belum pernah aku melihat langsung wanita yang sedang berhubungan sex (jelas karena selain bukan lesbi aku juga belum pernah melakukan orgy or threesom). Ketika masih kuliah beberapa kali aku pernah berkencan di motel kelas ‘mahasiswa’ yang full cermin sampai ke plafon hingga aku bisa melihat diriku bagai dalam aquarium. Tapi berbeda menyaksikan diriku sendiri bercinta dengan menyaksikan wanita lain yang memiliki tubuh yang lekuknya tidak kukenal. Aku merasakan ada suatu pesona unik dalam tiap geliat tubuhnya itu. Pesona yang kuyakin diliat juga oleh partner sex-ku dalam diriku. Setidaknya ini akan menambah percaya diriku apabila ber-intercourse kelak.

‘Widya.. What are u doing honey!!’ suara itu tiba-tiba membuyarkan konsentrasiku. Si peri baik lagi.. Ah selalu tepat disaat-saat tidak dibutuhkan’ keluhku dalam hati. ‘Kamu harus malu sama diri kamu sendiri’ suaranya tajam menusuk persaanku. Betul juga sih.. Untuk apa aku mengintip seperti ini? aku jadi malu sendiri. ‘Hah abis harus gimana lagi dong khan kamu terjebak disini’ uh itu si peri nakal membela-ku kali ini. Iya betul aku khan nggak sengaja. Lagian khan lebih tidak menyenangkan kalau saat ini aku keluar dan mengganggu ‘permainan’ mereka. Bukannya aku setuju dengan perbuatan mereka, tapi bagaimana caranya? Apakah aku harus keluar lalu menyapa ‘hai diana, hai Nina’ terus berlalu? Jelas nggak mungkin dong!

Sebersit perasaan bersalah muncul dalam hatiku. Kenapa tidak sejak awal aku keluar dari bilik ini saat mereka masuk pertama kali. Mungkin hal itu akan membatalkan niat mereka. Tapi kembali kupikir bahwa disini atau ditempat lain sama saja. The point is: Diana dan Nina itu betul-betul Lesbian! dan mereka pasti akan melakukan perbuatan itu walau tidak disini!

Segera aku mengusir rasa bersalah itu jauh-jauh. Kutinggalkan peri nakal dan peri baik saling bertengkar dan kembali aku memusatkan perhatian kepada sepasang wanita yang sedang mabuk oleh hasrat ‘panas’ masing-masing. Sekarang Diana sudah duduk di tepi wastafel disamping Nina mereka berciuman sejenak lalu keduanya merogoh tas memsing-masing dan mengeluarkan masing-masing mengeluarkan benda panjang dan lonjong yang sudah sangat aku kenal.. Dildo!

My God.. Mereka pasti sudah merencanakan ini’ aku terkejut melihat ‘peralatan’ mereka yang cukup lengkap itu (jelas menunjukan niat mereka). Kedua dildo itu berwarna biru muda dan memiliki ukuran panjang sekitar 20 cm (sepertinya dibeli bersamaan di satu tempat melihat model dan warnanya seragam). Aku cukup akrab dengan ‘mainan’ itu karena aku memiliki ‘koleksi-nya’ dirumah.

Aku sebut koleksi karena aku sama sekali tidak pernah menggunakannya dan belum terpikir untuk mencobanya karena bagiku fantasy abstrak dan sentuhan alami lebih dapat dinikmati daripada sentuhan stimulasi kasar dari benda yang cukup ‘imajiner’ bentuknya itu. Aku memiliki dua buah alat stimulasi sejenis. Sebuah Dual-dildo (dildo yang memiliki dua ‘kepala’ sehingga bisa digunakan bersamaan dengan arah yang berlawanan), dan satu vibrator jenis standar yaitu dildo yang mampu bergetar dengan tenaga batere dengan tiga tingkatan kecepatan yang dapat diganti-ganti.

Benda-benda ‘kinky’ itu adalah oleh-oleh dari Caroline-gadis Singapura yang pernah jadi roommate-ku ketika studi pasca serjana di Aussie. Dua tahun lalu dia liburan ke jakarta dan menghadiahi aku ‘mainan’ itu. Biar aku tetap inget masa gila-gilaan kita berdua di Aussie katanya. Well.. I do have a good time waktu itu (mungkin akan aku ceritakan di kisahku yang lain). Ups, aku malah ngelantur mikirin yang lain. Ok back to the ‘love’ scene lagi deh.. Diana dan Nina duduk bersandar pada cermin diatas wastafel.

Kini giliran Nina yang gencar mencumbui leher Diana yang tampak mengkilat bersimbah peluh. Keduanya menggenggam dildo masing-masing dengan pegangan yang begitu mesra serasa seperti memegang sesuatu yang lain. Sesuatu yang dengan jelas dan eksplisit direpresentasikan oleh bentuk dildo itu. Sekitar 10 menit kemudian ruangan toilet itu di penuhi suara nafas dan lenguh kenikmatan tatkala sepasang wanita cantik itu mulai menggunakan ‘mainan’ mereka sesuai dengan kegunaannya. Kakiku mulai terasa letih disaat Diana dan Nina mulai melenguh panjang dengan nafas yang menderu saling bersahutan. Makin liar mereka ‘memainkan’ dildo ditangan mereka yang tersembunyi di didalam rok kerja mereka.

Jelas terlihat guratan kenikmatan memenuhi ekspresi Diana. Sedangkan wajah Nina terlihat mulai ‘blushing’, merah padam. Sedetik kemudian tubuh mereka berdua mengejang menahan derasnya orgasme yang jelas terlihat menyelimuti getaran tubuh mereka berdua. Mereka bagai hendak menghujamkan dildo itu sampai tertelan semuanya dalam kewanitaan mereka dan tangan mereka yang bebas saling menggenggam erat.

Begitu eratnya sehingga baru terlepas perlahan sesaat setelah desahan nafas kenikmatan terakhir mereka berlalu. Aku merasa sudah cukup melihat semuanya. Lebih dari cukup buatku menyaksikan suatu pemandangan yang membuatku cukup shock sekaligus membawa sensasi kenikmatan dan keindahan tertentu dalam diriku. Yang jelas aku seperti melihat sesuatu yang baru dalam diri kaumku sendiri-Lesbian itu nyata adanya! Aku terduduk lemas di atas tutup closet. Terasa peluh di bagian leherku mengalir hingga ke dadaku. Aku terus diam sampai mereka berdua meninggalkan ruangan dengan hanya memperdengarkan suara pintu yang ditutup perlahan. Lega rasanya bebas setelah terjebak dalam toilet akibat ulah sepasang wanita yang dimabuk ‘cinta’tadi. Bagiku kata mabuk saja lebih cocok dibanding kata cinta.

My God! dalam keadaan mabuk berat sekalipun aku masih cukup waras untuk tidak bercumbu dengan pasangan sejenis. Segera aku keluar dan ketika melewati deretan wastafel aku menyempatkan diri merapikan diri di depan cermin (always) Tentunya aku tidak bercermin di deretan wastafel tempat Diana dan Nina tadi karena ada semacam perasaan ‘emoh menyentuh ataupun mendekati bekas tempat mereka ‘bermain’ tadi. Bahkan aku masih merasakan sisa aura mereka di bagian itu.

Aku meraih HP-ku dan segera men-dial no telepon Hendra. Tidak sabar aku ingin mendengar komentarnya akan apa yang baru saja aku alami disini. Biasalah dalam keadaan seperti ini aku tidak dapat menahan keinginan-ku untuk segera bergosip (panggilan jiwa!! Nggak salah khan?).

Tiba-tiba aku tersentak dan memekik tertahan mendengar bunyi ponsel yang suaranya cukup menyolok pendengaran (karena suasana sedang hening) dan berasal dari salah satu bilik toilet yang dipintunya terpampang sign rusak tadi! Suara itu diikuti suara hentakan sepatu dan bunyi benturan di pintu bilik itu.

“Siapa disitu!” dengan spontan aku menegur dengan hati ciut.

Karena kaget aku segera mematikan ponselku dan menanti jawaban dari balik pintu. Sesaat kemudian pintu itu terbuka dan betapa terkejutnya aku melihat wajah Hendra asisten-ku muncul dari balik pintu kedua toilet! Lho..! kata-kata itu hampir bersamaan keluar dari mulut kita berdua dengan penuh rasa terkejut.

Wajah Hendra masih tampak dengan ekspresi kaget dan konyol-nya itu ketika pintu bilik pertama terbuka dan Bramantio-si Satpam keluar dengan melongo kepadaku tanpa mampu berkata apa-apa! Antara kaget dan malu aku menghardik mereka berdua bagai seorang kakak yang marah pada adik-adiknya.

“Ngapain kamu berdua disini.. Di toilet wanita?”

Aku segera sadar kalau mereka rupanya sudah janjian ngintip Diana dan Nina disini.

“Lha kamu sendiri ngapain?” ucap Hendra dengan lugu sekenanya.

“Lho ini kan toilet wanita jelas aku ada keperluan masuk ke sini” kataku dengan nada meninggi.

Aku kesal pada mereka berdua karena merasa bahwa mereka telah mengganggu privasi-ku disini. Kesal karena baru sadar kalau dua orang lelaki ini tadi juga telah ada saat aku duduk di closet. Walaupun aku cuma pipis tapi ada semacam sense of privacy-ku yang dilanggar dengan kehadiran dua pria ini kendatipun aku juga sadar kalau mereka juga pasti tidak menyangka aku akan ke sini.

Kulihat Hendra senyum-senyum kecut menatap-ku dengan tatapan tolol-nya sedangkan Bramanto terlihat salah tingkah dan tidak berani memandang wajahku. Tubuhnya yang gempal tampak bergerak-gerak mengikuti nafasnya yang berat agak tersengal-sengal serta sebentuk gundukan panjang mirip polisi tidur tercetak jelas di celana satpam-nya yang ketat. Rupanya si Bramanto ini masih belum bisa menghilangkan sensasi rangsangan akibat ‘tontonan’ gratis tadi.

Sorry Wid.. Kita nggak tahu kalau kamu bakal masuk kesini” ujar Hendra dengan guilty face.

“Eh tapi benar khan cerita-ku.. Aku sama ‘manto memang sengaja mau buktiin gosip itu” ujarnya lagi setengah membela diri tapi dengan ekspresi penuh kemenangan karena berhasil membuktikan omongannya padaku.

“Iya bu.. Mereka sudah sering begituan disini” ujar Bramanto menimpali.

“Berarti kamu juga sudah sering nyelinap masuk kesini buat ngintip mereka” kataku dengan dengan nada suara agak mengintimidasi satpam itu.

“Eh nggak bu.. Ini baru yang kedua dan ini juga karena Pak Hendra penasaran mau tahu”

“Waktu yang pertama juga aku nggak sengaja pas lagi kontrol aku dengar suara kasak-kusuk.. Nggak taunya ibu Diana dan Mbak Nina itu..” katanya tanpa melanjutkan kalimatnya.

“Sudah yang jelas masalah ini biar aku saja yang ngomong ke Ibu Diana.. Pak Hendra dan kamu diam-diam saja” Aku berbicara dengan tegas dan singkat.

Yang jelas aku ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan toilet wanita ini. Sebenarnya aku masih ingin ngobrol banyak sama Hendra tapi karena ada Bramanto si satpam aku jelas harus tetap menjaga image-ku sebagai atasan juga image Diana dan Nina di depan satpam itu seburuk apapun keadaan mereka dimata kita sekarang.

Kita bertiga segera beranjak keluar dari situ. Aku dan Hendra kemudian terlibat perbincangan (lebih tepatnya pergunjingan) seru tentang kejadian yang sama sekali tidak disangka tadi (bagi Hendra mungkin sudah disangka karena mereka memang niat mau ngintip). Waktu sudah menjelang pukul delapan malam ketika Hendra pamit pulang.

Aku sendiri masih asyik mengutak-atik internet explorer-ku sambil menikmati suasana lengang di kantor. Pikiranku kembali terbayang pada kejadian paling menghebohkan yang kualami hari ini. Aku jadi bertanya dalam hati.. Apakah aku betul-betul menikmati apa yang kulihat dari adegan-adegan penuh nafsu yang dipertontonkan Diana dan Nina di toilet tadi? Normalkah aku kalau ada rangsangan yang timbul dalam diriku ketika melihat ‘ulah’ mereka tadi? Suasana ruangan kantorku yang sudah kosong ini mirip sekali dengan suasana tadi siang pada jam istirahat.

Lenggang dan nyaman membuat aku merasa kembali rileks. Perlahan tapi pasti aku seperti ter-sugesti oleh semua yang kualami hari ini. Mulai dari nikmatnya air dingin dari shower tadi pagi, kemudian orgasme yang penuh sensasi tadi siang, lalu terakhir adalah suguhan nafsu yang penuh keindahan yang diperagakan dengan sempurna oleh Diana dan Nina diatas wastafel itu.. Oh benakku kembali diserbu berbagai fantasy yang cukup membuat peri baik yang senantiasa berbisik di telinga kananku cemberut. Sementara si peri nakal dengan sepasang tanduk kecilnya tampak tersenyum manis sambil menggelitikku dengan trisula godaannya yang makin tidak ter-elakan lagi. Kurasakan kewanitaanku mulai basah dan aku diselimuti oleh aroma sexual yang tinggi.

Tok.. Tok.. Tok suara ketukan halus terdengar dari balik pintu ruanganku.

“Bu Widya..” terdengar suara lelaki tapi suara itu bagai terjepit diantara kerongkongannya.

Ah itu pasti Bramanto si satpam.

“Iya.. Kenapa? Masuk aja” aku mengundangnya masuk.

Saat yang bersamaan tanpa diundang semua stimulasi yang kuterima hari ini turut memasuki pikiranku dan menentukan keputusan buatku.

“Kebetulan aku lewat dan melihat ruangan ibu masih terang.. Ibu masih lama disini?” suaranya datar dan sopan.

Aku hendak menjawab tapi dia kembali melanjutkan kalimatnya,

“Aku sekalian mau pamit pulang.. Lagian sudah ganti shift.. kalau ibu masih lama dan perlu beli makanan atau minuman bisa titip aku biar nanti aku suruh maintenance yang mengantarkan kemari..” ujarnya.

Bramanto rupanya sudah berganti pakaian. Seragam satpam-nya telah berganti polo shirt dan di tangan kirinya ada tas kecil yang pasti berisi seragam satpamnya.

“Oh tidak.. Terima kasih sebentar lagi aku juga mau pulang” jawabku dengan ramah.

“Manto duduk sini aku mau bicara denganmu,” suaraku penuh penekanan dengan nada memerintah. Bramanto tampak agak ragu tapi dia menuruti perintahku dan duduk di kursi di depan mejaku.

“Eh masalah tadii itu bu.. benar lho aku sebenarnya nggak berniat.. Tapi Pak Hendra yang..” suaranya terputus putus karena merasa bersalah.

“Aku tidak menyalahkan kamu tapi aku meminta kamu supaya, merahasiakan hal tadi.. Aku tidak mau mendengar sampai ada orang lain lagi yang tahu hal ini” ujarku sambil bangkit dan duduk ditepi meja kerjaku tepat di depannya.

Dengan sengaja aku meletakkan paha kananku diatas paha kiriku. Gerakan itu sengaja aku lakukan dengan agak demonstratif. Sekarang pasti sebagian besar pahaku yang terbalut stoking nampak jelas dimatanya. Bramanto memperbaiki posisi duduknya. Jakunnya terlihat bergerak menelan ludah. Itu reaksi yang kunantikan!

Sejenak aku memandangi sosok gempal yang nampak rikuh di depanku. Dia kira-kira berusia 25 tahun dan sudah berkeluarga. Tipe pria pekerja yang selalu jadi bahan fantasi-ku! Dia pasti merasa kalau aku memandangnya dengan tatapan yang tidak pantas. Tapi aku telah menentukan pilihanku. Lebih tepatnya adalah hasratku telah menentukan pilihannya bagi keinginan tubuhku.

“Mm.. Maaf Bu tapi aku harus segera pulang” rupanya dia sudah merasa gelisah.

“Kamu sudah berkeluarga?” tanyaku lagi tidak mempedulikan perkataannya.

“Iya bu.. Sudah 4 tahun”

“Istriku sedang hamil,” lanjutnya lagi, “Hamil tujuh bulan bu”jawabnya lagi tanpa ditanya.

Betul-betul terlihat gugup sehingga dia menjawab sesuatu yang tidak kutanyakan. Cukup mudah bagiku untuk memanipulasi dan memancing pria sekelasnya. Selama ini aku terbiasa berinteraksi dengan pria berpendidikan dan memiliki intelektual yang cukup tinggi sehingga dengan mudahnya aku mendominasi percakapan dengan Bramanto.

Status sosial serta posisiku yang jauh lebih tinggi darinya membuat dia sangat menghormatiku hingga dengan mudah terintimidasi olehku. Dalam posisi ‘in charge’ seperti ini, rasa percaya diriku makin tinggi hingga aku mulai memperlakukannya sebagai obyek dari hasratku. Segala sesuatunya telah aku pikirkan dengan matang sehingga aku yakin dengan setiap perbuatanku padanya.

“Tadi kamu sepertinya menikmati sekali mengintip ibu Diana dan Nina ditoilet itu,” aku berucap dengan penuh provokasi, “Ehm.. Ya nggak juga sih.. Tapi ya..” sesaat dia bingung untuk melanjutkan ucapannya itu.

“Ehm.. Ibu juga khan ngerti, namanya juga lelaki normal.. Ya suka juga”

Wajahnya tampak memerah berkata begitu tapi aku melihatnya bagai gunung es yang mulai cair. Nada suaranya terdengar mulai rileks dan lebih enteng. Ada perubahan yang terlihat dari bola matanya yang hanya sekali-sekali berani menatap wajahku. Kulihat mulai ada gairah di matanya. Bagiku itu tandanya Bramanto sudah mulai menduga arah pembicaraanku. Sekarang tinggal menunjukan padanya secara eksplisit.

“Kenapa.. Apa istri kamu dirumah kurang bisa melayani kamu?” kulepas kedua sepatuku dan membiarkan kedua kakiku tergantung bebas.

“Ehm.. Segenarnya sih nggak juga.. Tapi ya dia lagi hamil tua.. Ya jadinya aku sudah lama nggak..” suaranya terhenti ketika kuletakkan kaki kananku diatas pangkuannya.

Entah apa yang berada di dalam pikiranku karena saat itu yang tujuanku adalah memuaskan hasrat yang kian menggebu. Kuyakin Bramanto tidak akan sanggup menolak keinginan-ku. Tinggal masalah kendali bagiku karena siapa yang mengendalikan dialah yang mendominasi. Sementara bayangan tubuh Diana dan Nina yang menggeliat saat menahan kenikmatan kembali membayangi fantasi-ku. Tampak Bramanto terdiam kembali terlihat jakunnya naik turun dan nafasnya menjadi berat pertanda gairahnya memuncak.

Kini kedua matanya menatap-ku dengan tatapan yang sama sekali tidak kusukai. Tatapan itu penuh nafsu terpendam dan hasrat ingin menguasai. Terlihat pandangan khas seorang laki-laki yang memandang wanita di depannya ini sebagai objek sex yang siap memenuhi nafsu sesuai seleranya. Itu adalah hal yang paling kubenci dari pria dalam berhubungan sex apalagi kini tatapan itu keluar dari pria yang kuanggap tidak selevel dengan-ku. Apa boleh buat aku yang memancingnya, kini aku yang harus mengantisipasi itu dengan segera memegang kendali ‘permainan’ ini.

Tangan Bramanto mulai meraba pergelangan kaki kananku yang kutumpangkan diatas pahanya.

“Kamu menginginkan aku khan?” kataku halus namun penuh penekanan.

“Ah ibu Widya.. Aku nggak enak” ucapnya namun tangannya mulai merayap ke atas kebagian paha-ku.

“Tutup mulutmu dan turuti permintaanku” kataku dengan suara pelan dan halus.

“Layani aku” ujarku singkat setengah berbisik.

Wajah Bramanto masih terlihat bingung ketika aku memindahkan posisi duduku sehingga sekarang tepat berada diatas meja di depannya. Aku kemudian membuka kedua pahaku dan menginjakkan kakiku di pegangan kursi tempat Bramanto duduk.

“Tolong lepaskan stokingnya” ujarku memerintahnya.

Rupanya suaraku dalam keadaan seperti ini membuat Bramanto seperti terhipnotis sehingga tanpa basa-basi lagi dia menuruti permintaanku. Tangannya menelusup ke balik rok-ku dan menarik pantyhose yang kukenakan. Sempat dia berusaha menarik celana dalamku agar turut terlepas turun namun dengan lembut aku memberi isyarat agar dia tidak melakukan itu. Matanya tampak setengah melotot dan berulang kali jakunnya naik turun menelan ludah ketika sepasang betis yang indah mulus terekspose di depan matanya. Tanpa di suruh dia langsung mengangkat kaki kiriku dan mulai menciumi betis-ku. Terasa hangat ketika lidahnya menjilati betisku. Kurasakan sesekali dia mengecup betisku dengan nafas menderu hingga menimbulkan rasa geli yang mebuatku merinding.

“Tolong mulai dari bawah” ujarku sambil meringis menahan geli dan nikmat.

Aku ingin sekali Bramanto melakukan ‘legjob’ di kakiku. Kuangkat kaki kananku dan kusodorkan tepat di depan wajahnya. Kurasakan dengus nafasnya di ujung kakiku. Tampak Bramanto mengamati kakiku dengan penuh minat dan nafsu. Sejenak dia tampak ragu dangan apa yang akan dilakukannya. Kupikir Bramanto adalah tipe pria Indonesia pada umumnya yang biasa melakukan hubungan sex dengan foreplay yang kurang kreatif. Hanya berorientasi pada pemuasan diri sendiri tanpa memikirkan bahwa wanita ingin mencapai puncak kepuasan melalui semua tahapan kenikmatannya sendiri. Mungkin Bramanto belum pernah menjilati kaki wanita dalam berhubungan namun kali ini adalah permainanku dan dia harus menuruti keinginanku.

Sesaat kemudian dengan perlahan dia mendaratkan bibirnya mengecup punggung kakiku. Aku menarik nafas panjang sambil merasa cairan dalam bibir kewanitaanku kian bertambah. Terasa kini seluruh bagian kakiku dijilatinya dengan penuh nafsu. Rupanya dia baru merasakan nikmatnya mencumbui kaki wanita. Apalagi aku sangat merawat semua bagian tubuhku bahkan sampai ke ujung kaki. Wajar Bramanto berbuat demikian karena mungkin selama ini dia senantiasa berhubungan dengan wanita yang kurang menjaga tubuh sehingga dia enggan atau bahkan tidak pernah berpikir melakukan itu.

Widya & Bramanto

Kurasakan sensasi yang nikmat mulai menjalari tubuhku ketika Bramanto mulai menjalari kakiku dengan jilatannya yang kini telah mencapai bagian dalam pahaku. Tanganku bergerak meraih payudaraku sendiri dan mulai aku usapkan tepat di bagian putingku yang terasa mengencang di balik bra. Bramanto masih mencumbui kedua pahaku kepalanya bagaikan terjepit diantara kedua pahaku dan sesaat lagi dia akan segera menyentuh kewanitaanku. Kutdorong kepalanya keluar dari rok-ku lalu kurapatkan kembali kedua belah pahaku. Bramanto menatapku dengan tatapan yang menunjukan ketidak puasannya sepertinya dia protes padaku. Tapi akupun demikian akupun belum mencapai kepuasan yang aku inginkan. Aku memintanya mengeluarkan sapu tangannya lalu kuikatkan di kepalanya menutupi matanya. Lalu kuborgol tangannya dengan borgolnya.

Bramanto protes namun aku jelaskan padanya kalau ini adalah permainanku bukan permainnya. Dia pun menurut dan mengikuti perintahku selanjutnya. Memuaskan dirimu bukan hal yang sulit tapi memuaskan diriku adalah hal yang sulit pikirku. Kulepaskan celana dalamku lalu berdiri agak membungkung membelakanginya sambli tanganku bertumpu di meja kerja di depanku. Bramanto berlutut di belakang badanku dalam keadaan mata tertutup dan tangan di borgol. betul-betul perfect condition bagiku untuk menuntaskan hasratku hari ini. Kupejamkan mataku agar memudahkanku larut dalam fantasi yang sedang kubangun ini. Sejenak aku memejamkan mataku menunggu sentuhan Bramanto.

“Uhh..” tanpa sadar aku mengerang karena sesuatu yang hangat dan basah sedang menjilati tumit kaki kiri-ku. Halus sekali sentuhan itu.. Sentuhan yang berasal dari lidah yang serasa menari-nari dipermukaan kulit tumitku lalu perlahan naik ke betis bagian belakang.

Suasana saat itu sunyi sekali hingga dapat kudengar deru nafasku silih berganti dengan bunyi nafas berat milik lelaki yang sedang berlutut di belakangku sekarang. Terasa kumis Bramanto yang kasar itu menggelitik di sepanjang kakiku. Kurasakan deru nafasnya mendarat di bagian paha dan membuat aku kembali memejamkan mataku dengan perasaan geli dan kenikmatan yang makin ‘menyengat’ku. Kepala Bramanto makin naik sehingga aku harus membuka kedua kakiku hingga posisiku sekarang berdiri agak mengangkang. Pantat-ku aku naikan sedikit agar lebih memudahkan Bramanto ‘menggapai’ bibir kewanitaanku. Kini wajah Bramanto tepat berada di antara belahan pantatku dan lidahnya terasa mulai menyentuh bibir kewanitaanku. Dengus nafasnya terdengar kian memburu sambil sesekali terdengar dia menarik nafas panjang menghirup aroma kewanitaanku yang tentunya sangat ‘keras’ tercium dibagian itu.

Terdengar suara agak berdecak ketika Bramanto menghisap bibir luar kewanitaanku yang sudah basah oleh cairan kenikmatan. Kuperbaiki posisi-ku agar Agar Bramanto lebih leluasa mempermainkan lidahnya disitu. Aku sempat menoleh ke arahnya sehingga tampak hidungnya kembang kempis dangan nafas yang memburu. Kumisnya tampak basah oleh cairan yang barasal dari dalam liang kewanitaanku. Bramanto meleletkan lidah ke arah kumisnya menyapu sisa-sisa cairan kenikmatan yang melekat disitu lalu kembali menghujamkan kepalanya ke bagian kewanitaanku yang basah menanti kenikmatan.

Diriku merinding ketika lidahnya menelusup ke dalam celah kemaluanku lalu bergerak liar didalamnya. Tanganku agak gemetar merasakan nikmat yang dihasilkannya. Kenikmatan yang menerobos jauh ke dalam liang senggamaku hingga membangkitkan sensasi indah di sekujur tubuhku. tiba-tiba Bramanto menarik lidahnya dari kemaluanku dan seketika terasa lidah itu menari-nari di kedua bukit pantatku yang padat berisi.

“Uuh” aku menjerit kaget ketika Bramanto sesekali menggigit gemas pantatku. Aku merasakan wajahku memerah karena gigitan tadi menimbulkan efek unik yang membuat semua bulu romaku merinding.

Sementara itu jemariku makin cepat memainkan kedua puting susuku yang sudah sangat keras merespon tiap stimulasi yang diterimanya. Beberapa kali terasa Bramanto mempermainkan lidahnya di seputar anus-ku Ah dia sepertinya cukup mahir mempergunakan lidahnya. Sesaat kamudian aku merasa seperti ada aliran listrik menjalari setiap jengkal tubuhku ketika Bramanto menempelkan seluruh mulutnya di bibir kewanitaanku dan menyedot klitoris-ku sambil memainkan lidahnya disitu.

“Aaah” aku mulai kehilangan kontrol. Aku mendengar suara rintihan dan lenguhanku tanpa mampu menghentikan kenikmatan yang memaksaku melepaskan gejolak itu.

Lidah Bramanto terasa begitu rakus mempermainkan klistoris-ku. Energi tubuhku seakan habis tersedot olehnya dan kenikmatan yang dihasilkannya kian menguras kesadaraanku. Badanku kini rebah diatas meja kerjaku sementara terasa kakiku gemetaran dalam posisi mengangkang menopang tubuhku.

“AAHH.. Uuu” suara itu keluar dengan berat dari mulutku ketika Bramanto menggigit klitorisku.

Gigitan itu lembut tapi menimbulkan sensasi seperti tadi yang membuatku merasa merinding dan membuat tubuhku berkontraksi.

Menahan kenikmatan yang sejalan dengan keinginan fantasi-ku. Semenit kemudian aku sudah menyerahkan diriku secara total ke dalam kenikmatan yang berawal dari bagian paling sensitif dari tubuhku. Bramanto makin panas dan bernafsu ‘menghukumku’ dengan menghisap, menjilat, menyedot klitoris-ku. Tiba-tiba aku perasaan yang kualami siang tadi terulang kembali..

perasaan disaat fantasiku yang paling dalam bersatu dan manjadi nyata secara utuh dan total dengan kenikmatan yang secara nyata membakar tiap bagian tubuhku. Aku hanya bisa memejamkan mataku.. Sudah tidak dapat kudengar lagi jeritan dan rintihanku.

Aku telah tenggelam dalam badai kenikmatan yang datang bergelombang dan akhirnya mencapai puncaknya ketika kesadaranku hilang ditelan ribuan kunang-kunang yang terbang memenuhi ruang kantorku. Aku mengejang, kewanitaanku terasa berdenyut seperti ingin menyedot sesuatu yang biasa mengisinya disaat-saat seperti ini. Namun stimulasi tanpa penetrasi pada klitorisku cukup membuatku terhempas lunglai diatas meja kerjaku.

Sekitar satu menit aku memejamkan mataku membiarkan semuanya berlalu sampai benar-benar hilang seiring kembailnya kesadaranku. Masih terasa hangatnya mulut Bramanto menempel di kewanitaanku ketika aku bangkit kembali. Kasihan juga melihatnya begitu. Pasti dia protes karena kenikmatan ‘tanggung’ yang dialaminya. Kudorong kepalanya hingga mulut dan lidahnya berpisah dari kemaluanku.

Bramanto dengan mata tertutup masih kelihatan menunggu dan berharap aku melanjutkan ‘permainanku’ ini dengan sesuatu yang diinginkannya seperti penetrasi penis. Akan tetapi akulah yang berkuasa dan mengendalikan permainan ini. Dan bagiku ini telah berakhir aku telah mendapatkan apa yang kuinginkan. Kukenakan kembali bagian-bagian dari busanaku yang berserakan di atas karpet kantorku lalu melepas borgol dan saputangan dari mata Bramanto. Agak keget dia melihatku telah kembali berpakaian lengkap.

“Terima kasih kamu telah membantu aku malam ini” ucapanku terdengar dingin atau bahkan agak kejam begi dia yang berharap ada bagian untuk dirinya melepaskan semua ‘ganjalan’ yang masih terlihat nyata tercetak di celananya. Ada kekecewaan di matanya namun melihat pergantian karakter dalam diriku dia menyadari kalau saat-saat ‘bonus’ telah berakhir.

Selanjutnya aku dengan sikap dingin memintanya agar merahasiakan kejadian malam ini dengan mengingatkan padanya apabila dia bercerita tentang hal ini pada orang lain maka akan membahayakan buat kelangsungan pekerjaannya di kantor ini. Selain itu juga dengan otomatis akan membahayakan rumah tangganya.

Well, terkadang memiliki posisi penting dalam pekerjaan ditambah status yang masih single memberi banyak ‘advantage’. Bramanto masih terbengong-bengong menatapku dengan ketika aku meninggalkan ruangan kantorku untuk segera pulang (menurutku apa yang didapat Bramanto malam ini sebenarnya sudah lebih dari apa yang pantas aku berikan padanya). Pikiran itu agak mengurangi perasaan bersalahku setidaknya aku tidak mengeksploitasi ketidak-berdayaannya secara gratis.. Aku membayar dia dengan kenikmatan pula se-minim apapun kenikmatan itu.

What a long day pikirku dan sebelum pintu lift tertutup aku sempat berseru pada Bramanto, “Tolong matikan komputer-nya” .

#############

Pukul 22:45 di ranjang tidurku..

‘Yang kamu lakukan hari ini benar-benar keterlaluan Widya.. Kamu pasti menyesal sekarang’. ‘Kamu sama saja menjatuhkan derajatmu dengan tindakan liar yang gila-gilaan tadi’. ‘Tapi kamu khan sudah dewasa.. Kamu berhak menentukan kapan dan dengan siapa kamu melakukan itu’. ‘Setidaknya kamu masih melakukannya dengan normal tidak seperti Diana teman kamu itu’ Silih berganti peri baik dan peri nakal berbisik padaku. Dan seperti biasa akhirnya aku sendirilah yang menentukan pilihan-ku.

Ini semua bukan mengenai penyesalan..

Bukan pula mengenai derajat..

Bukan seberapa gila aku melakukannya..

Jelas bukan masalah kedewasaan..

Kapan atau dengan siapa..

Bahkan tidak ada hubungannya dengan normal atau abnormal..

Bagiku ini cuma masalah kendali..

Kepuasan bukan diukur dari lama atau singkatnya senggama..

Tidak diukur berdasarkan mahir atau kurang mahir..

Juga bukan diukur berdasarkan berhasil atau tidaknya mencapai orgasme..

Tapi masalah kendali..

Karena sekali memegang kendali..

Maka satisfaction is just a state of mine..

Maka Theresia Widya pun tertidur pulas.. You Say.. I only hear what i want to..:)

TAMAT.

.

Sumber : Unknown

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s