Suatu Hari di Bulan November

Posted: November 16, 2011 in Other Stories

.

Ratih

Sudah seminggu saya berada di Tokyo dengan membawa rombongan tamu untuk urusan business mereka, dan kemarin rombongan kembali ke tanah air.

Saya tidak ikut pulang bersama rombongan karena masih ingin sedikit santai menikmati musim gugur menjelang dingin ini.

Sebenarnya masih ada satu orang dari rombongan yang tidak pulang bersamaan karena ada masalah dengan tiket, sehingga di undur satu hari.

Selama menemani rombongan, saya tinggal di hotel yang sama untuk mempermudah menemani mereka.

Ketika rombongan pulang, saya pindah ke hotel lain, yang lebih sesuai dan hotel yang biasa saya pakai ketika berada di Tokyo. Rasanya baru bisa santai untuk jalan jalan.

Sampai sore hari praktis saya hanya di kamar hotel bersantai santai. Sore hari barulah bersiap siap untuk menghadiri acara pesta teman lama. Acaranya sendiri tidak terlalu resmi sebenarnya, hanya itu justru membuat bingung saya untuk memilih memakai baju yang seperti apa. Karena kali ini saya tidak terlalu banyak membawa baju. Tapi terus terang saya tetap ingin berpenampilan menarik.

Berpenampilan menarik dan sexy tidak harus dengan baju yang terlalu terbuka, apa lagi saat ini udara sudah mulai dingin karena musim gugur sudah akan berakhir dan memasuki musim dingin. Kebetulan saya membawa one piece lengan panjang yang terbuat dari bahan kaos yang akan fit di badan. Bagian dada pun tidak rendah, dan bagian bawah yang terlihat tidak terlalu mini. Warna merah terang, cocok untuk suasana malam, membuat tidak terlalu menyolok di mata.

Setelah menentukan baju yang akan dipakai, baru memilih under wear yang akan dipakai. Dengan baju yang fit seperti yang saya pilih, tentu saya harus menghilangkan gari garis  dari under wear yang mengecap di permukaan baju, membuat kurang enak dipandang bagi yang memperhatikannya, tapi harus menimbukan garis garis under wear di bagian tertentu sesuai dengan lekukan tubuh agar terlihat sexy.

Setelah cukup lama memperhatikan berbagai under wear yang saat ini saya bawa. Saya memilih pantie yang cukup mini di bagian depannya cukup rendah dan kecil, terkesan hanya selembar bahan kain satin hitam tipis berbentuk segi tiga sedikit transparan, talinya pun tipis dan kecil sehingga tidak terlihat mengecap dari luar baju. Bagian belakang hanya sebatas tengahnya nya saja yang melintang di selangkangan. Jenis pantie ini sering di sebut dengan istilah T-back atau G-string.

Bra saya pilih warna yang sama dengan pantie, hitam. Tapi malam ini saya lebih tertarik bra yang jarang saya pakai, terutama kalau sedang di tanah air. Rasanya terlalu membuat banyak perhatian orang orang kalau dipakai. Tapi di kota ini tidak terlalu banyak orang yang akan memperdulikannya.

Bentuk bra nya kecil dan soft walau masih tergolong ukuran kecil yang umum. Hanya sedikit berbeda di bagian cup nya. Bra ini sering disebut dengan nama 1/3 cup bra atau no-cup bra. Dalam pengertian, payudara hampir tidak tertutup cup, hanya sedikit terdapat dibagian bawah payudara, seakan menyanggah payudara. Tentu saja nipple terlihat dengan jelas. Tidak seperti ketika kita berjalan dengan no-bra, payudara tetap terjaga, getaran  ketika berjalan tidak menimbulkan gerakan payudara dengan gerakan yang terlalu bebas. Tapi tentu saja tidak direkomendasikan untuk dikombinasikan dengan baju yang terlalu tipis atau transparan, karena payudara dan nipple akan terbayang jelas dari luar baju.

Saya pernah memakai bra jenis ini ketika di tanah air dengan memakai baju dari bahan kaos yang juga cukup fit di badan, hanya saja di atas itu saya masih memakai blazer. Waktu itu saya harus tampil diacara presentasi dimana sebagian besar yang hadir di situ adalah para pria, dan memang ada beberapa diantara mereka yang jeli juga matanya dengan mencari kesempatan melihat bagian dada saya. Memang bisa terlihat nipple mengecap ke permukaan baju, walaupun jenis baju yang saya pakai itu tidaklah transparan. Tapi sebagian besar dari mereka pun tidak tahu sebenarnya bra jenis apa yang saya pakai saat itu, yang jelas para pria yang hadir tahu bahwa saya tidak no-bra.

Seperti sudah menjadi kebiasaan saya, tentu tidak lupa memakai stocking, apalagi di luar udara sudah mulai dingin. Stocking yang biasa saya pakai itu jenis leg stocking, yaitu stocking yang hanya menutupi sampai pangkal paha. Tidak repot ketika di kamar kecil dan mudah di lepas. Hanya sayang saya tidak membawa garter untuk menjepit stocking di pangkal paha agar tidak turun. Tapi stocking ini cukup ketat melingkar di pangkal paha, jadi tidak khawatir akan turun.

Aksesori yang saya pakai cukup sederhana saja, kalung mutiara untuk menghiasi leher dan dada bagian atas, dan di mata kaki melingkar kecil gelang kaki.

Seperti itulah sore itu saya menghadiri pesta. Selama perjalanan saya memakai coat yang cukup tebal, sehingga tidak kedinginan. Tentu di pesta coat dilepas, karena ruangan pesta cukup hangat.

Senang juga bertemu teman teman lama di acara pesta. Sebagian besar adalah teman teman jepang lama saya. Yang wanita tidak sedikit yang masih bertampilan cantik cantik dan ketika menyapa, saling melontarkan kata2 bahwa saya dan mereka tidak banyak perubahan dan sambil berkelakar mereka mengatakan , tetap saja sexy penambilan saya seperti dulu, hanya sekarang terlihat lebih feminim dan kalem, menurut mereka. Sudah tidak ada kesan wanita penunggang motor kawasaki ninja, kata mereka.

Saya jadi terkenang akan motor kesayangan, Ninja 400 itu yang setiap hari sipakai untuk kuliah saat itu.

“sekarang nunggang yang lain…”, saya balas mereka dan ketawalah mereka.

Karena alasan peminjaman ruangan pesta, maka pesta tidak sampai terlalu malam. Kalau tidak salah pukul 8 malam acara sudah selesai. Ada sebagian dari mereka yang mengajak saya untukpindah tempat melanjutkan acara suasana pesta. Tapi waktu itu karena saya sedang tidak ingin ramai ramai, maka saya izin tidak ikut dan mau pulang. Juga saya katakan, bahwa saya masih lama ini di Tokyo, dilain waktu saja nanti kita buat acara rame rame nya.

Sebenarnya dari acara pesta itu saya tidak ada acara apa apa lagi, hanya rasanya lagi ingin tenang saja. Diperjalanan pulang saya teringat cafe bar dimana saya sering kunjungi. Saya telpon, apakah suasananya ramai atau tidak. Menurut mereka tidak terlalu ramai. Akhirnya saya memutuskan untuk mampir dahulu. Tempatnya tidak banyak perubahan sejak dahulu. Ketika datang saya diantar ke meja tertentu, tapi saya katakan bahwa saya hanya sendiri, jadi duduk di bar saja. Pelayan pelayan cafe bar di sini cukup ramah sejak dahulu. Sebelum saya duduk, pelayan bar menawarkan untuk menitipkan coat saya ketempat mereka. Salah satu pelayan bar yang sudah lama saya kenal, menghampiri saya dan tersenyum.

“kapan tiba di Tokyo?” tanya nya. Saya sudah seminggu di kota ini. “Tumben baru datang ke sini dan sendiri lagi” kata dia. Pelayan bar ini menawarkan wine yang menurutnya baru saja mereka dapat dan enak. Saya setuju saja dengan anjuran dia. Sambil menikmati alunan musik di situ, saya iseng bermain main dengan handphone. Sempat saya online di YM dan chating dengan beberapa orang. Mereka salah satu penggemar tulisan tulisan saya dan selalu menanyakan kapan saya akan menulis lagi. Ternyata masih banyak orang orang yang menunggu tulisan saya. Padahal selain saya ini kurang senang soal tulis menulis, juga merasa tidak indahlah tulisan saya.

Cukup lama juga saya di cafe bar itu. Menjelang botol wine kosong, pelayan bar kembali bertanya, apakah saya mau pesan satu botol lagi. Saya katakan tunggu dulu, lagi mikir mikir. Sepertinya tidak enak juga hanya minum wine sendiri saja. Mendadak saya ingat akan satu tamu rombongan yang msih tertinggal tidak bisa pulang bersamaan ke tanah air. Saya jadi ingin tahu kabarnya. Ketika di telpon HP nya, dia segera mengangkatnya dan senang dia rupanya saya menelpon. Dia sudah dapat pesawat, pulang besok sore.

Setelah tahu kondisinya, saya tanya apakah ada acara malam ini. Saya beri tahu bahwa saya ada di cafe bar, tidak ada acara khusus lagi. Kalau mau gabung silahkan saja, saya hanya sendiri. Ternyata dia tertarik untuk ikut nemani saya. Alamat cafe bar saya beri tahu dan untuk ke sini pakai taxi saja dan tunjukkan saja alamatnya ke supir taxi.

Pelayan bar kembali bertanya, apakah saya mau order wine lagi. “nanti saja, setelah teman saya datang…” kata saya. Pelayan tersenyum sambil mengatakan bahwa bakal lanjut minum di sini sampai larut malam sepertinya. Langsung saya balas dengan alasan sudah lama kan tidak ke bar ini.

Setelah saya tuntun sedikit lewat telpon setelah turun dari taxi, akhirnya tamu saya sampai juga. Sebutlah namanya pak Ricky (bukan nama sebenarnya), dia umurnya hanya beda beberapa tahun di atas saya. Penampilannya sopan dan kalem. Selama rombongan berada di Tokyo, semua memang para pria ini sopan sopan dan terlihat bekerja dengan serius sesuai dengan tujuan mereka ke Jepang. Saya sendiri selama menemani untuk urusan mereka tentunya selalu berpenampilan sopan dan menjaga diri agar tidak terlihat vulgar dalam berpakaian, dalam ukuran manner bapak bapak ini. Sekalipun kita makan dan minum sampai larut malam.

Tapi pernah satu kali kejadian dimana acara menemani para rombongan ini sudah selesai hari itu dan waktunya free time saya. Kembali ke kamar hotel, mandi sebentar dan saya merencanakan untuk jalan malam karena ada barang yang akan saya cari. Karena waktu pribadi saya, jadi saya berpakaian santai. Memakai baju kaos lengan panjang dan celana jeans yang cukup pendek sekali mendekati pangkal paha, dan dbagian depan, tempat kancing dan zipper nya turun agak rendah agak jauh dibawah puser. Mendekati perbatasan daerah terlarang. Tapi tentu terlihat rapi, karena selain tertutup pantie, walau pantie mini, juga daerah di sekitar situ selalu saya rawat rapih dan di cukur tipis. Ketika berjalan di lobby hotel dan menuju keluar hotel, saya berpapasan dengan salah satu pria yang ada di rombongan. Dia kaget dan saya pun kaget juga waktu itu.

“aduh mbak Ratih, pangling. Saya kira wanita jepang cantik siapa…” sambil memandang saya dari rambut sampai kaki. Saya tahu apa yang membuat bapak ini kaget.

“eh bapak… iya… maaf ini, ada yang mau dibeli sebentar keluar, jadi asal saja ini pak…”, kira kira seperti itu jawaban saya sambil tersenyum. Saya langsung segera meninggalkan bapak itu dengan alasan buru buru. Tidak tahu lagi setelah itu apakah bapak ini bercerita lagi ke rombongan lain nya.

Kembali ke cerita di cafe. Pak Ricky pun juga terlihat surprise.

“Waduh mbak Ratih cantik sekali malam ini, habis dari mana?” tanya nya.

“Pangling sekali saya, tidak seperti sehari hari yang saya lihat…”.

“Iya pak, tadi ada acara pesta teman lama, tapi karena masih belum terlalu malam,  saya mampir ke cafe bar ini”, saya memberi penjelasan.

“ini cafe bar langganan saya dari dahulu”.

Saya tawarkan untuk pindah ke meja, biar lebih enak ngobrolnya. Tapi beliau ingin di bar saja, duduk bersebelahan dengan saya.

Pak Ricky masih kagum sepertinya ketika saya mulai bertanya apakah sudah makan dan mau minum apa. Matanya masik menyuri nyuri pandang ke setiap lengkung tubuh saya. Terutama dia memperhatikan bagian dada saya. Terlihat nipple saya mengecap timbul dilihat dari luar. Selama ini pelayan bar maupun tamu yang duduk di sebelah saya padahal tidak terlalu ambil pusing dengan penampilan saya. Tapi tidak apa apa, saya rasa wajar pria yang tidak biasa melihat pemandangan seperti ini. Pak Ricky tetap menjaga penampilan agar terlihat tidak kurang ajar terhadap saya.

Dia tadi ternyata sudah makan malam, jadi hanya memesan makanan kecil dan menemani saya minum wine. Kebetulan dia juga penggemar wine.

Kami cerita bermacam macam selama di bar. Dari tentang bisinis sampai dengan cerita umum dan cerita pribadi dengan berbagai pertanyaan. Tapi tetap tidak menjurus ke masalah yang sifatnya private masing masin.

Yang saya ketahui dari ceritanya dengan tidak secara langsung, beliau sudah memiliki anak yang sudah besar besar dan sepertinya sekarang ini dia hidup sendiri, entah apa alasannya dan saya pun tidak ingin tahu soal pribadi orang.

Pak Ricky terlihat memang gentle dan sopan, tahu sampai dimana dia boleh bertanya dengan menganalisa response bicara saya.

Dia tetap memperhatikan selalu penampilan saya apabila ada kesempatan. Itu terlihat ketika saya izin sebentar mau ke kamar kecil. Ketika saya melangkah, terlihat dari cermin yang ada di dekat tempat saya melintas menuju kamar kecil, dia memandang dan memperhatikan saya yang sedang menuju kamar kecil. Sebelum ke kamar kecil saya sempat mita tolong mengambilkan tas kecil saya yang ditaruh dipojok bar, karena dia duduk di tepi bar. Ketika menyerahkan, posisi dia cukup dekat dengan dada saya. Apa yang dia pikirkan dan apa yang dia rasakan melihat nipple yang timbul mengecap di baju. Mungkin saja dia sedikit bertanya dalam benaknya, saya seperti berpenampilan no bra, tapi dia pun melihat jelas punggung saya adanya cap tali bra di punggung. Tapi mungkin juga bukan itu saja yang dia perhatikan. Misalnya garis pantie yang tidak terlihat mengecap di sekitar belakang. Dengan tipe baju dari bahan kaos seperti ini yang begitu fit, pasti akan terlihat garis pantie atau stocking. Tapi kalau garis stocking sepertinya dia sudah tau bahwa saya mengenakan leg stocking.

Tidak terasa malam semakin larut, dan terlihat suasana cafe bar tidak seramai ketika pak Ricky tiba. Saya juga malam ini terasa sudah terlalu banyak minum dari acara sore, ditambah wine di cafe ini. Sudah dua botol dan praktis yang satu botol saya saja yang minum. Saya agak mabok berat juga rasanya, karena diakhir pembicaraan di cafe ini saya sudah tidak terlalu ingat lagi apa yang saya bicarakan dengan pak Ricky. Tapi saya masih ingat ketika saya turun dance dengan dia. Di cafe itu ada semacam dance floor kecil. Sebenarnya bukan tempat dance, biasanya tempat live band dan ada penyanyinya. Tapi acara band sudah selesai dan biasanya dipersilahkan untuk tamu tamu yang ingin dance. Karena cafe ini selalu mengalunkan lagu lagu yang romantis. Ketika itu ada beberapa pasangan yang turun, setengahnya seingat saya adalah bukan orang Jepang.

Saya tawarkan pak Ricky untuk dance. Mungkin dia sama sekali tidak menyangka bahwa saya mengajak dance dia. Saya tidak ingat lagi waktu itu pembicaraannya, pokoknya saya akhirnya dance dengan dia. Sambil berbicara ringan, kami dance dengan alunan musik yang romantis. Awalnya kami masih ada sedikit jarak, tapi secara alami akhirnya kami dance dengan begitu rapat. Saya tidak terlalu ingat waktu itu rasanya, hanya terasa kehangatan badan pak Ricky. Tangannya yang melingkar di pinggang saya, kadang kadang terasa menurun ke bagian bawah. Entah berapa lama saya bersama pak Ricky, kemudian saya sedikit minta maaf ke beliau bahwa saya agak mabok, dan kepala sudah bersandar di dada dia.

Takut semakin mabok mungkin, pak Ricky menawarkan untuk pulang. Saya setuju untuk pulang dan memang sepertinyapak Ricky tidak bisa terlalu malam, karena besok dia harus pulang, walau pesawatnya sore hari.  Ketika saya pamit ke pelayan bar, dia menanyakan kapan ke Tokyo lagi. Saya katakan dalam bahasa Jepang bahwa saya masih lama kok.

Pak Ricky sempat membantu saya memakai coat, karena dia tahu saya sudah agak mabok dan sedikit susah memakai coat dan memang kenyataannya saya sudah semakin tidak bisa berjalan stabil lagi. Di luar cafe jalanan sudah mulai agak sepi dan kami menunggu  taksi sambil dia sedikit memeluk saya, takut jatuh mungkin dia rasa.

Pak Ricky menanyakan arah taksi ke hotelnya bagaimana. Karena saya juga susah jelaskannya dan saya juga butuh taksi dengan arah yang berbeda, karena saya sudah tidak satu hotel lagi dengan dia, jadi saya katakan bahwa kami bareng saja, jadi nanti pak Ricky di drop di hotelnya dan taksi bisa lanjut ke hotel saya. Sepertinya pak Ricky agak khawatir dengan saya karena mabok dan semakin tidak kuat berdiri. Tapi tidak lama taksi datang. Saya beri sedikit penjelasan ke supir taksi arah ke hotelnya pak Ricky, dan taksi kemudian melaju.

Dalam taksi saya merasa mabok cukup berat minta izin bersandar di bahu pak Ricky. Sebenanrya ingin rasanya rebahan di pangkuan dia, tapi sepertinya tidak sopan kalau seperti itu. Tidak lama saya tertidur dan sudah tidak ingat lagi.

Ketika saya membuka mata, sempat sejenak menata pikiran saya. Sinar terang dari jendela begitu menyilaukan mata dan saya sadar bahwa saya berada di kamar hotel, tapi bukan hotel tempat saya menginap. Selimut menutup rapat badan saya, kepala sedikit pening. Sepertinya tadi malam saya kebanyakan minum. Saya menoleh ke arah jendela. Terlihat pak Ricky sedang seperti berberes beres pakaian di kopernya. Sepertinya tadi malam saya tidur di kamar hotel pak Ricky. Sedikit untuk memeriksa badan, saya berpura pura  menggerakkan badan pelan pelan seakan orang baru akan bangun tidur. Saya lihat badan saya masih mengenakan baju tadi malam. Semua tidak ada yang berbeda. Perlahan lahan saya bangun dan pak Ricky segera sadar bahwa saya bangun. Mungkin takut saya kaget, dia menghampiri saya dengan berhati hati dan duduk di ujung tempat tidur sambil berkata.

“mbak Ratih, sudah bangun?” dia bertanya.

“maaf ya, tadi malam mbak mabok sekali sepertinya dan ketika sampai hotel, mbak ingin mampir untuk minum air putih”, lanjutnya.

“jadi mampir ke kamar saya. Tapi terus sepertinya mbak katanya ingin rebahan karena agak pusing”. Saya tahu, itu bukan pusing tapi karena saya mabok dan pasti sudah ngantuk berat.

“tapi terus sepertinya tidur nyenyak sekali. Saya mau bangunkan tidak tega, sudah nyenyak begitu”, pak Ricky memberi penjelasan.

“oh maaf sekali pak Ricky, saya yang harusnya minta maaf jadi merepotkan bapak. Jadi malu saya sampai ketiduran seperti ini”, saya minta maaf ke dia.

“sebentar ya, saya ambilkan minum air putih dulu”, pak Ricky langsung ke kulkas hotel. Sementara saya duduk dan memperhatikan diri saya. Semua tidak ada yang berubah dari tadi malam. masih memakai baju yang tadi malam. Hanya sepertinya baju saya kusut karena dibawa tidur. Pak Ricky segera kembali membawa air putih dan memberikan ke saya sambil memperhatikan wajah saya.

“mbak Ratih santai saja dulu, sampai sudah segar baru pulang ke hotel”, kata dia.

“saya baru selesai mandi dan lagi beres beres koper ini”.

“kalau mbak mau mandi dulu juga silahkan, masih ada handuk di kamar mandi”, beliau menjelaskan ke saya.

Memang pak Ricky sepertinya dapat kamar twin bed room. Terlihat bed sebelah bed yang saya tiduri habis di pakai tidur dia.

Akhirnya kami pindah duduk di sofa. Saya sudah tidak perhatikan lagi penampilan saya. Baju kusut sekali sepertinya. Pak Ricky meneruskan membereskan kopernya sambil sedikit berbincan bincang dengan saya.

Saya sedikit berfikir dalam hati. Apa yang terjadi tadi malam. Apakah pak Ricky meniduri saya. Tapi saya lihat, baju saya masih seperti tadi malam. Atau mungkin saya yang mengajak tidur dia juga. Apalagi tadi malam setelah dia begitu memperhatikan diri saya, sedikit terasa terangsan dengan pandangan matanya.

Saya kadang kadang merasa trangsang dengan pandangan mata lelaki yang jeli akan apa yang saya pakai dibalik baju saya, walau saya berpenampilan tidak memakai yang terlalu terbuka. Pagi itu terasa nippel saya begitu tegang dan keras dan lebih mengecap ke permukaan baju dibanding tadi malam.

Saya minta izin untuk ke toilet untuk berias dan sebelumnya saya minta izin memakai kimono tidur yang belum dipakai, karena saya mau mandi dulu, sesuai yang disarankan pak Ricky.  Dia menunjukkan bahwa tas saya dimasukkan di lemari baju bersama dengan coat.

Segera saya ambil tas dan masuk ke kamar mandi. Saya lihat dalam tas, tidak ada seperti dibuka buka. Bukan karena takut dompet hilang, tapi yang namanya pria, mungkin saja ingin tahu isi tas saya, apalagi saya mabok. Semuanya lengkap, bahkan kondom yang biasa saya selipkan di tas untuk berjaga jaga pun masih rapih tersimpan.

Baju onepiece saya buka, dan terlihat memang kusut karena dipakai untuk tidur. Saya perhatikan bra yang saya pakai. Sepertinya tidak ada tanda tanda telah di lepas. Pantie G-string pun sepertinya tidak ada tanda telah di lepas. Hanya dibagian yang menempel di mulut vagina agak lembab. G-sting saya lepas, dan dengan jari, saya periksa sekitar bibir vagina dengan jari. Salah satu jari saya masukkan sedikit dan terasa basah, tapi kalau diperhatikan hanya cairan saya saja.

Sepertinya tadii malam memang pak Ricky sama sekali tidak menyentuh saya.

Saya sedikit ada perasaan memuji laki laki itu, karena memang gentlement dan sopan terhadap saya. Kalau dia mau, bisa saja dia meniduri saya tanpa saya ingat apa2. Misalnya dia sampai meniduri saya pun sebenarnya itu sudah resiko. Karena saya mabok dan tidur di kamarnya, juga jujur saja, misalnya dia meniduri saya pun saya tidak keberatan. Pak Ricky pria yang cukup menarik menurut saya.

Air hangat terasa membuat segar badan. Sekitar mulut vagina pun sempat berkali kali saya bersihkan. Tapi terasa di dalam masih basah dan agak panas. Saya ingat ingat tanggal, memang sudah masa masa menjelang datang bulan. Masa masa seperti ini memang terasa keinginan untuk sex saya sedang meninggi.

Selesai mandi saya hanya berganti memakai kimono tidur yang di sediakan oleh hotel. Saya hanya memikirkan baju saya yang kusut. Tidak mungkin sepertinya begitu saja saya pakai.

Keluar dari kamar mandi, saya ditawari pak Ricky untuk minum teh atau kopi hangat.

“mbak Ratih mau minum apa?, teh atau kopi? nanti saya buatkan, biar sedikit hangat badan”, pak Ricky bertanya dengan memandang sayadan terasa sorotan matanya seakan dia sedang memandang badan saya yang hanya ditutup oleh selapis kimono tidur. Ketika itu rasanya badan terasa aneh dan begitu terangsang saya melihat sorot matanya.

Saya minta teh hangat saja kepada beliau dan tidak lupa mengucapkan terimakasih. Kemudian saya minta izin pakai telpon kamar untuk menelpon room service. Saya ingin baju saya untuk di strika atau di steam sebentar agar dapat dipakai kembali.

Kami duduk di masing masing ujung sofa dengan sedikit memiringkan badan agar enak untuk bicara. Selagi menunggu  room service mengambil baju saya, kami sedikit berbicara hal hal yang ringan tentang kota Tokyo dan beberapa daerah yang menarik untuk dikunjungi. Setiap berbicara mata pak Ricky terus memandang saya tanpa menuju ke salah satu bagian dari badan saya, tapi bagi saya terasa dia sedang memperhatikan setiap lekuk badan saya, khususnya bagian bagian yang umumnya para pria tertarik untuk memandangnya. Beberapa kali tanpa disengaja bagian bawah kimono sedikit tersingkap sehingga kaki dan paha sedikit terlihat. Dan saya tahu pak Ricky melihatnya tapi dia berusaha untuk tidak melihat khusus ke bagian itu.

Saya berusaha membenarkan tanpa membuat kesan dia sedang melihat dan saya berusaha membenarkan kimono. Agar dia tidak merasa tidak edak hati kepada diri saya. Tapi kenapa saya sejak memakai kimono tidur ini rasanya berdebar debar memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Bukan rasa was was tapi ada sesuatu rasa yang sulit saya ungkapkan dengan kata kata.

Karena perhatian saya ke bagian bawah kimono saja, sampai lupa memperhatikan lipatan kimono di bagian dada yang sedikit longgar membuat celah untuk dapat di lihat. Entah apakah pak Ricky melihat sesuatu dari celah lipatan itu. Di pembicaraan itu tidak ada menyinggung nyinggung soal tadi malam atau tentang perjalanan pulang ke hotel. Mungkin pak Ricky ingin bercerita tapi ada rasa sungkan untuk bercerita.

Sesaat kemudian terdengar kamar diketuk, dan saya segera menuju pintu sambil membawa baju dan menyerahkan ke room service. Sebelumnya room service minta maaf mungkin agak sedikit harus menunggu kira kira empat puluh menitan karena sedang banyak pakaian tamu yang sedang di steam.

Bra dan G-string pantie saja yang saya pisahkan dari lipatan baju dan saya pegang. Agar tidak menjadi perhatian pak Ricky, keduanya saya taruh di meja yang agak berjauhan dari sofa dan ditutup dengan tas kecil saya.

Saya jelaskan bahwa saya harus menunggu agak lama. Pak Ricky memakluminya.

Untuk merubah suasana, sengaja saya tidak kembali ke sofa, tapi menuju tepi jendela memperhatikan pemandangan gedung gedung di pagi itu. Pak Ricky pun ikut beralih dan menghampiri sedikit berada di belakang saya.

Saya jelaskan beberapa pemandangan sambil menunjuk ke arah yang dimaksud. Sempat sesaat lengannya tanpa sengaja bersentuhan dengan bagian pinggir dari dada saya dan terasa samping payudara bersenggolan dengan lengannya.

Sejenak pembicaraan pun menghilang dan begitu hening rasanya. Terasa suasananya berubah begitu drastis di keheningan itu. Dari sudut mata, sepertinya pak Ricky sedang memperhatikan tengkuk saya yang terlihat karana rambut saya ikat keatas ketika mandi tadi.

“kulit mbak Ratih itu putihnya seperti orang Jepang ya”, tiba tiba pak Ricky memecahkan keheningan. Dengan reflex saya mengangkat lengan saya dan memperhatikan lengan saya, dan bersamaan dengan itu pak Ricky menjajarkan lengannya dengan lengan saya dan membandingkannya. Saya sempat tersenyum.

“ya mungkin karena saya masih ada darah jepangnya walau hanya sedikit”, jawab saya sambil menoleh ke pak Ricky. Dan sempat sejenak terdiam tanpa saya menggeser muka saya dan memandang dia. Selanjutnya saya melanjutkan pembicaraan dengan perasaan, tidak lagi dengan kepala. Kira kira pembicaraannya seperti ini;

“pak Ricky…. terimakasih”, kata saya dengan suara agak pelan, dan selama beberapa detik hening.

“terima kasih apa mbak?…” pak Ricky sedikit bertanya.

“tadi malam saya sudah merepotkan bapak dan tadi pagi setelah bangun saya merasa bapak seorang pria yang sangat menghormati wanita”, saya membalasnya dengan kata kata yang dia akan fahami apa maksud kata kata saya itu. Dia sedikit pun tidak menyentuh saya tadi malam dan sebenarnya kalau maupun sebenarnya bisa, dan kalau terjadipun saya tidak bisa menyalahkan dia sepenuhnya. Saya sendiri pun punya andil dalam hal ini.

Atmosfir ruangan menjadi begitu berbeda dibanding beberapa menit yang lalu.

Ratih

Pak Ricky yang sedang berdiri di belakang saya dengan jarak yang begitu dekat dengan punggung saya, mendadak kedua tangannya dari arah belakang memeluk saya. Perasaan terkejut ada tapi sebelum sempat berbuat sesuatu, dia meneruskan pembicaraannya;

“maaf mbak Ratih, saya tidak kuat menahan perasaan ini akhirnya”, kata beliau.

“dari tadi malam saya berusaha menahan diri dari godaan godaan yang timbul di benak saya selama ini, tapi ternyata saya hanya laki laki biasa”, lanjutnya.

“mbak Ratih terlihat begitu cantik, penampilannya yang begitu memikat, elegant dan ramah. Tanpa mengekspresikan diripun, saya bisa melihat dan menilai penampilan mbak Ratih yang bisa memikat hati pria…”, beliau mengutarakan perasaannya yang sepertinya sejak tadi malam dia pendam.

Saya menjadi hanyut  dengan kata katanya. Menurutnya perasaan perasaan yang tadi dia jelaskan itu timbul ketika tadi malam di cafe dan semakin menggebu gebu ketika dia turun dance bersama saya.

Lengannya yang sedang melingkar di pinggang, saya biarkan sambil mendengarkan penjelasan dia. Setelah selesai dia berbicara, salah satu tangannya saya pegang, memutus lingkaran pelukan dia dan saya tuntun ke celah kimono di sekitar perut dibawah payudara. Saya biarkan untuk masuk lebih dalam. Sementara kedua tangan saya bergerak ke belakang dan memegang pinggul pak Ricky dan mendorong lebih merekat ke badan saya. Terasa sesuatu yang mengeras menekan bagian belakang saya. Seperti sudah memahaminya, kepalanya bergerak mendekat ke daerah tengkuk saya dan terasa dia mulai menciumi tengkuk saya dengan lembut.

Daerah sekitar tengkuk dan belakang telinga merupakan salah satu bagian tubuh saya yang sensitif. Terasa seperti mendapat rangsangan yang luar biasa dan seingat saya, secara reflek saya terhentak dengan mengeluarkan suara yang agak keras. Terutama ketika dia menciumi bagian belakang telinga. Hingga saya sejenak tidak kuat berdiri tegak dan membungkuk dengan menekan kebelakang menyentuh lebih keras menekan miliknya yang masih dilapisi oleh celana yang dia kenakan. Tapi kemudian saya kembali berdiri tegap. Sementara itu tangannya yang menyelinap kebalik kimono, sudah masuk lebih dalam dan menyentuh payudara dengan lembutnya.

Sementara dia masih menciumi sekitar tengkuk dan belakang telinga, tangan dia yang satu mulai menyingkap kimono saya bagian bawah dan bergerak menuju selangkangan. Seperti agak ragu, tangannya menyentuh sekitar bagian luar vagina dan membelah bibir vagina. Tentu saja sudah sejak tadi saya sudah begitu basah dipenuhi oleh cairan kental bening yang keluar dari vagina.

Seperti dia meyakini dirinya, ketika tahu saya sudah begitu basah, dia berbisik dari balik telinga, “oh Ratih, kamu sudah basah sekali…”. Kata katanya semakin membuat aliran darah saya semakin kencang.

Saya tidak ingat lagi kata kata saya saat itu, saya minta pindah meneruskan di bed. Dan setelah itu dia membuat saya surprise. Dia mengangkat saya dan membawanya ke bed. Dalam hati saya sempat berfikir, seperti inikah tadi malam dia memangku saya ke tempat tidur.

Dia merebahkan saya di tempat tidur dan dirinya merebahkan diri di samping saya sambil melepas baju kaos yang dia kenakan. Tanpa terlihat tergesa gesa, dia membuka ikatan tali kimono tidur saya dan menyingkap kimono yang saya pakai.

Seluruh bagian depan saya dari dada sampai ke bawah terbuka. Dia akan segera bergerak seperti apa yang saya bayangkan. Tapi ternyata tidak secepat itu.

Dia memandangi  kedua payudara saya dari jarak yang cukup dekat dan tangannya dengan sentuhan yang begitu ringan menyelusuri lekukan lekukan payudara saya tanpa penyentuh nipple.

“oh mbak Ratih, indah sekali…”, seperti itu yang keluar dari mulutnya.

“ini yang menggoda saya tadi malam, yang timbul mengecap dari balik baju”, katanya.

Mungkin yang pak Ricky maksud adalah nipple yang mengecap di baju. Sementara saya hanya bisa diam memandang wajahnya yang sedang memperhatikan kedua payudara.

Akhirnya bibirnya menyentuh salah satu payudara, dan dengan begitu lembut menciumi payudara saya. Sepertinya pak Ricky begitu menikmati untuk memandang tubuh saya. Begitu bibirnya menyentuh nipple, dengan ujung lidahnya dia menjilati sekeliling pinggir nipple yang berwarna sama dengan nipple. Itu saya sudah membuat saya begitu terangsang, apalagi setelah selanjutnya dia memainkan nipple dalam mulut dan bibirnya.

Setiap saya sedikit mengeluarkan suara, dia melirik memandang wajah saya dari balik payudara. Saya tidak ingat lagi berapa lama dia bermain main di sekitar payudara. Sampai akhirnya dia mulai bergerak menciumi bagian depan saya menuju puser dan terus lanjut lebih kebawah lagi.

Dia merubah posisi dengan menggerakkan seluruh tubuhnya ke bawah dan menempatkan kepala dan wajahnya tepat di selangkangan kaki.

Seakan ingin memamerkan diri dengan segera, tanpa aba aba dari dia, saya gerakkan kedua kaki saya dan membuka selangkangan dengan lebar. Kembali tidak seperti pria umumnya yang langsung ingin mencicipi bibir vagina, dengan jari jarinya dia membelah dan membuka lebar bibir vagina saya yang sudah sangat basah itu dan sejenak memandang ke arah bibir vagina.

“mbak Ratih, indah sekali warnanya dan terlihat berkilauan oleh yang bening ini…”, kembali dia memuji.

Kata katanya begitu membuat saya sangat terangsang dan tidak tahan. Dengan kedua tangan, kepala dia saya tekan ke arah selangkangan sampai terasa bibirnya menyentuh bibir vagina. Lidahnya menjilati bibir vagina dan clitouris. Walau saya tidak bisa melihatnya, tapi saya tahu, dia menyentuh bagian bagian itu dengan ujung lidahnya saja. Bibirnya sama sekali tidak mengecup bibir vagina maupun clitouris.

Dengan lidahnya dia memasuki vagina lebih dalam lagi sambil menggerak gerakkan lidahnya. Terasa seakan ada mahluk hidup bergerak gerak memasuki vagina. Berbeda rasanya dengan ketika penis pria memasuki vagina.

Saya sedikit tidak ingat lagi ketika lidahnya bermain main di vagina. Yang jelas pasti saya mengeluarkan suara yang agak keras, walau saya tidak sadar akan ini.

Akhirnya saya sudah tidak sabar lagi, dan menarik dia ke atas. Dia kembali menyiumi telinga dan leher saya dan tangannya memainkan kedua payudara saya.

Selangkangan kaki merasakan ada barang keras yang bergerak, dan sesekali menyentuh  dan membelah bibir vagina. Pak Ricky sudah melepas underwere nya, dan itu memang penis dia yang sudah terasa keras sekali dan terus bergesekan dengan bibir vagina yang sudah penuh dengan cairan saya yang bening dan licin.

Tapi dia tidak juga memulai untuk memasuki saya. Penisnya saya pegang dan ujungnya saya tuntun untuk siap masuk. Ketika itu pula dia berbisik ke saya;

“Boleh saya masuk?…”, katanya seperti memastikan ke saya.

Mungkin dia masih berfikir sampai dimana dia boleh menikmati saya. Umumnya pria kalau sudah sampai sini, tidak akan bertanya seperti ini lagi. Apalagi pria yang masih muda.

“yang dalam…”, hanya itu yang saya sampaikan untuk menjawab pertanyaan dia.

Dan sekejap itu jugam terasa penisnya membelah bibir vagina dan masuk kedalam diri saya. Ketika dia mulai memasuki saya, dia mengucapkan sesuatu, tapi saya sudah tidak ingat lagi waktu itu dia bicara apa.

Terasa dinding vagina bergesekan dengan penis, yang tentunya setiap orang akan merasakan betapa nikmatnya saat saat seperti ini . Walau mungkin sedikit berbeda dengan kaum pria cara merasakannya, tapi yang jelas begitu nikmat.

Seperti sudah tidak dapat memilah milah rasa setiap tempat, bibirnya yang terus menciumi sekitar leher dan sesekali pindah menciumi payudara, tangannya yang juga terus memainkan payudara dan penisnya yang bergerak keluar masuk di vagina, semuanya menyatu menjadi suatu rasa yang begitu nikmat. Sangat sulit untuk dijelaskan dalam kata kata persisnya.

Pak Ricky bermain sangat lembut. Sepertinya bukan hanya fisik saja tapi hatinya sedang menikmati apa yang berlangsung dengan saya. Seperti selalu memperhatikan gerakan dan wajah saya, dia selalu meresponsenya tanpa henti, membuat tanpa henti rasa nikmat yang saya rasakan.

Entah seberapa lama kami  bermain dengan posisi normal, kemudian dia menarik saya untuk bangun dan merubah posisi menjadi sama sama duduk di bed.  Saya duduk seperti dipangku berhadapan dengan dia dengan terus penisnya berada didalam saya. Kedua tangannya memegang pinggul saya, menjaga posisi saya agar tetap berada di pangkuan dia dan memberi kesempatan untuk saya menggerakkan pinggul menjauh dan mendekat dengan berirama dipangkuan dia. Sementara bibirnya terus mengecup dan memainkan kedua payudara secara bergantian. Beberapa kali vagina menjepit penisnya yang sedang berada didalam, karena refleks dari rangsangan yang dia lakukan. Terkadang saya tidak kuat menahan hingga mengeluarkan suara yang cukup keras. Dan memang sudah menjadi ciri saya ketika melakukan sex, mengluarkan suara cukup banyak dan kadang dengan suara yang agak keras.

Mungkin kalau saja ada orang yang memakai teropong dari gedung sebelah, akan bisa melihat apa yang sedang berlangsung di kamar itu. Kimono tidur yang saya kenakan sudah tidak tahu lagi kemana, karen sudah tidak ada apapun yang melekat di badan saya. Bahkan ikatan rambut pun sudah terlepas, membuat rambut saya yang panjang sepanjang bahu agak kebawah pun sudah terurai.

Kembali pak Ricky merubah posisi dengan merebahkan badannya di bed, sehingga seakan saya duduk diatas badannya yang sedang terlentang menikmati gerakan saya, yang saya sendiri sudah tidak tahu lagi seperti apa saya saat itu di mata dia. Tapi sepertinya dia sangat menikmati dan membiarkan saya semakin bebas bergerak. Sampai akhirnya saya merebahkan diri ke dada pak Ricky. Pinggul saya masih tetap bergerak dan pak Ricky pun sepertinya ikut bergerak dengan menyesuaikan irama saya hingga penisnya semakin menekan kedalam saya.

Pak Ricky terlihat semakin mendekati puncaknya, demikian juga saya. Semakin tidak ingat apa yang terjadi saat itu untuk diceritakan.

Selagi saya tetap berada diatas dia dan sama sama menikmati sex yang sedang berlangsung, saya yang sedang menikmati penisnya yang sedang berada di dalam vagina dan pak Ricky yang sedang menikmati vagina saya dengan penisnya, tiba tiba seperti ada yang mengetuk pintu kamar hotel. Atau mungkin sudah beberapa kali dan saya baru sadar ada yang mengetuk.

Saya menurunkan irama gerakan dan berbisik di telinga pak Ricky.

“sepertinya ada yang mengetuk pintu…”, kata saya dengan sedikit terputus putus oleh nafas saya.

“mungkin room service yang mengantarkan baju…”, saya meneruskannya.

“sebentar ya, saya terima dahulu…”,

“iya”, dan dia hanya menjawab pendek.

Saya turun dari atas badannya, dan terasa terangsang sekali ketika penisnya keluar dari dalam saya. Masih terlihat begitu tegang.

Dengan cepat saya mengambil kimono yang tergeletak di karpet dan memakainya. Tali pengikat yang di pinggang, saya simpulkan dengan sesederhana mungkin sambil menuju pintu.

Di pintu ada sedikit pembicaraan dengan room service dengan sebelumnya dia meminta maaf karena mengganggu. Sebenarnya tidak perlu dia minta maaf karena memang itu tugasnya membawa secepatnya baju saya dan segera diantarkan ke kamar. Tapi mungkin orang ini melihat wajah saya dengan rambut yang sedikit kusut dan tampilan berkimono yang asal asalan, dan berasumsi mengganggu saya. Atau mungkin dia sempat mendengar suara saya yang siapapun akan tahu suara sedang apa. Tapi entahlah, saya tidak terlalu memperdulikannya.

Orang ini menjelaskan bahwa ada bagian baju yang kurang rapih di steam karena tergesa gesa. Saya mendengarkan alasan dia sambil memperhatikan baju saya yang menurut saya sudah cukup rapih kembali. Detak jantung masih terasa berdebar debar dan berusaha bernafas normal dengan sedikit menahan pernafasan.

Saya ucapkan terima kasih dan room service pun meninggalkan pintu ruangan, dan saya kembali masuk menuju ruang tidur.

Saya sedikit surprise juga, ketika kembali. Pak ricky yang saya kira masih berada di tempat tidur, ternyata sudah pindah dan duduk di sofa dengan mengenakan kimono tidur yang seperti saya kenakan. Dia tersenyum sedikit melihat saya dan saya pun membalas senyumnya.

“sudah licin bajunya?”, dia bertanya dengan ringan.

“sudah lumayan, yang penting bisa dipakai pulang…”, saya membalasnya sambil menghampiri dia, berdiri di depan dia dan menunjukkan baju saya sejenak, dan segera saya letakkan di meja samping kursi sofa.

Saya merasa ada hal yang belum selesai tadi dan merasa tidak puas kalau tidak dilanjutkan. Tanpa berbicara apapun, saya naik di sofa dan duduk dipangkuan pak Ricky. Sambil memandang wajahnya, saya melepas kembali tali kimono. Sekejap dia memandang wajah saya dan kemudian beralih memandang payudara saya yang berada persis di depan wajahnya dengan jarak yang begitu dekat. Kembali dia mulai menyentuh salah satu payudara saya yang masih terasa kencang nipple nya.

Saya berusaha melepas tali kimono pak Ricky dan segera terasa penisnya berada di pangkal paha. Terlihat sudah tidak setegang sebelumnya. Saya sentuh dan gengam diiringi dengan sedikit gerakan.

Kembali dia mengecup kedua payudara saya dan nipple secara bergantian. Penisnya kembali mengeras. Tanpa menunggu lebih lama lagi, badan saya angkat sedikit dan mengarahkan penisnya ke bibir vagina. perlahan lahan saya duduk kembali di pangkuannya sambil merasakan penis pak Ricky yang masuk kembali kedalam saya. Dia sejenak menghela nafas. Terasa penisnya masuk sampai dalam sekali.

Pak Ricky membiarkan pinggul saya bergerak sehingga penisnya terasa menyentuh dan bergesekan dengan setiap dinding vagina didalam diri saya.

Entah mengapa, kali ini cepat sekali saya kembali terangsang. Apalagi setelah kedua tangan dia menggenggam kedua pinggul saya dan membantu menambah gerakan pinggul saya. Sulit rasanya untuk bisa diceritakan dengan kata kata, betapa nikmatnya saat itu.

Kami terus bermain seperti itu untuk beberapa waktu. Pak Ricky menciumi dan menjilati payudara dan nipple dengan sesekali mencium leher saya. Sampai mulai terasa penisnya berdenyut, terutama setiap saya jepit didalam vagina. Selain suara yang keluar dari saya, dia juga berkali kali menyebut nama saya dengan nada terputus putus.

Menjelang mencapai klimaks, dia sempat memberitahu saya, tapi saya lupa saat itu dia bicara apa.

Saya hanya ingat waktu itu jawaban dari saya.

“didalam saja…. jangan dilepas…”.

Sebenarnya bukan karena ingin memberi kepuasan ke dia, tapi saya yang mengharapkan kepuasan dimana ketika dia mencapai klimaks.

Sepertinya dia mencoba untuk bertahan lebih lama lagi, tapi tidak bisa juga. Dengan suaraagak keras dia memanggil nama saya dan bersamaan dengan itu terasa penisnya berdenyut kencang dan terasa ada sesuatu cairan yang panas menekan masuk lebih dalam lagi didalam vagina. Beberapa kali penisnya terhentak dan setiap hentakan saya merasakan adanya cairan panas itu. Sepertinya banyak sekali yang keluar dari penisnya.

Sementara saya baru menyusul mencapai klimaks beberapa saat kemudian.

Saya tidak terlalu ingat persis ketika mencapai klimaks, hanya terasa sesaat blackout dan berkunan kunang. Vagina saya berkali kali berdenyut menjepit penis pak Ricky tanpa saya kendalikan. Sudah diluar kontrol saya. Badan pun ikut bergetar beberapa kali dan saya membiarkan hanyut dalam kenikmatan.

Tahap demi tahap gerakan pun mulai melemah dan akhirnya terhenti. Saya hanya diam dalam pelukan dan pangkuan pak Ricky, kepala saya rebahkan di bahu dia. Sejenak kami diam seperti itu.

Ketika saya akan berajak berdiri, pak Ricky memohon sesuatu ke saya.

“jangan berdiri dulu mbak Ratih…”, katanya.

“saya masih ingin merasakan hangatnya mbak Ratih”, dengan maksud ingin tetap di dalam saya sejenak.

Beberapa kali dia mengatakan sesuatu, tapi saya sudah tidak ingat lagi apa yang dia ucakpan ke saya. Intinya dia memuji muji saya tentang indahnya lekukan lekukan tubuh saya ketika sex dan menikmati gairah sex saya.

Penisnya masih tetap terasa tegang walau tidak seperti saat saat dia mencapai klimaks.

“sudah ya, saya bediri, mau bersih bersih sekalian ganti pakaian”, kata saya.

“pak Ricky juga harus siap siap checkout hotel kan”.

“terimakasih mbak Ratih…”, jawab pak Ricky dengan penuh arti.

Ketika saya berdiri sedikit dan penis pak Ricky keluar, bersamaan cairan dia keluar bercampur cairan saya. Dia menggenggam lengan saya dan menahan untuk tidak berdiri. Dengan kimono saya yang sudah tergeletak di sofa, dia membersikan selangkangan kaki dan pangkal paha saya dengan berhati hati.

“indah sekali mbak Ratih…” sambil memandang bagian itu.

Saya biarkan dia membersihkan bagian yang tertumpah keluar dari vagina. Baru setelah itu saya meninggalkan dia menuju kamar mandi. Akhirnya saya mengulang mandi sebentar. Di dalam vagina masih ada sedikit sisa milik pak Ricky, terasa ketika saya membersihkan bagian dalam dan bibir vagina.

Selesai mandi saya kembali memakai baju one-piece yang baru saja di steam. Dengan bra yang tadi malam saya kenakan. Hanya pantie G-string sudah tidak enak di pakai. Saya putuskan untuk tidak memakai panties.

Selagi menunggu  pak Ricky mandi, saya duduk di sofa tempat tadi kami bermain sambil menonton acara TV. Tapi lama kelamaan menjadi ngantuk, mungkin setelah habis energy terpakai.

Selesai pak Ricky mandi dan berpakaian untuk pulang, kami masih ngobrol ngobrol sejenak di kamar hotel dan saya berusaha tidak membawa topik pembicaraan ke arah yang baru saja kami lakukan berdua.

Tapi tetap saja pak Ricky selalu bicara dengan memandang ke bagian bagian tertentu saya. Bagian dada yang masih terlihat nipple yang mengecap di baju dan satu hal lagi. Sepertinya dia sempat melihat kedalam bagian bawah ketika saya menyilangkan kaki. Mungkin dia sempat melihat bahwa saya tidak mengenakan pantie. Tidak lama setelah itu saya iseng untuk tidak menyilangkan kaki, tapi kedua kaki agak saya renggangkan. Dengan sofa yang agak rendah seperti ini, tentu dia bisa melihat bagian yang paling dalam, selangkangan kaki saya. Dan meneruskan perbincangan.

“Pak Ricky, nanti kita makan siang saja dulu di hotel ini, sebelum berangkat ke airport”, saya menawarkan untuk makan siang bareng.

“mbak Ratih tidak ada acara lain? Kalau ada, tidak apa apa saya…”, katanya.

“tidak ada pak, paling juga pulang ke hotel, tidur. Mau istirahat…”, saya jawab dengan penuh arti.

Akhirnya kami keluar meninggalkan kamar dan turun menuju lobby hotel. Setelah selesai segala pembayaran, kami makan di salah satu restoran di hotel dan menikmati makan siang. Saya sendiri bersikap seperti biasa saja, seperti tidak terjadi apa apa dalam beberapa jam yang lalu.

Sebelum dia berangkat dengan menggunakan shuttle bus dari hotel, saya pesan salam untuk teman temannya yang sudah terlebih dahulu pulang ke tanah air.

“mbak Ratih, terimakasih banyak selama kami di sini dan terimakasih banyak juga atas berbagai macam hal yang dapat saya kenang terus tentang kota ini…”, kata pak Ricky.

“sama sama pak Ricky, sampai jumpa lagi ditanah air. Terimakasih banyak juga telah membuat momen momen yang menarik…”, kembali saya membalasnya.

Setelah bersalaman, dia jalan menuju pintu bus. Baru beberapa langkah, saya ingat sesuatu.

“pak Ricky…”, saya menghampiri dia dan saya cium kedua pipinya.

“have nice trip dan hati hati dijalan pak…”.

“Terimakasih mbak Ratih… sampai jumpa…”.

Kemudian saya berjalan menuju tempat taxi, tidak jauh dari tempat bus itu berhenti dan segera meniki taxi menuju hotel dimana saya menginap.

Email dari seseorang

Berikut salinan email dari pak Ricky:

mbak Ratih yang baik,

bagaimana kabarnya? masih berada di Tokyo ya tentunya.

Saya dan rombongan mengucapkan banyak terimakasih atas segala bantuannya selama kami berada di Jepang.

Saya pribadi juga mengucapkan terimakasih banyak atas segala kebaikan mbak Ratih. Banyak hal yang harus saya ungkapkan melalui email ini yang tidak sempat dapat saya ungkapkan saat di Jepang, khususnya hal hal menjelang kepulangan saya ke tanah air. Karena saya sendiri tidak sempat menenangkan perasaan yang begitu exiting.

Selama berada diantara rombongan, saya melihat bahwa mbak begitu ramah, help full dan sejak awal kami melihat bahwa mbak wanita yang cantik danberpenampilan menarik.

Itu bisa saya yakini dan buktikan di hari hari terkahir saya di tokyo. Memang saya tidak salah menduga.

Sempat sebelumnya saya mendengar dari salah satu anggota rombongan, cerita tentang mbak Ratih. Sehari hari yang selalu berpenampilan formal menemani kami, ternyata memiliki sosok yang begitu atraktif dan menarik. Ketika bertemu mbak Ratih di lobby hotel katanya, begitu pangling, sexy dan cantik sekali katanya. Berbeda dengan penampilan sehari hari ketika bersama kami.

mbak Ratih,

Malam itu ketika di telpon oleh mbak, terus terang senang sekali saya yang malam itu tidak punya acara apa2 lagi.

Setelah datang ke cafe itu, saya merasakan suatu surprise yang diluar dugaan saya.Tidak hanya senang diajak minum bersama saja, tapi surprise dengan penampilan mbak Ratih yang begitu cantik dan sexy malam itu. Penampilan yang belum pernah saya lihat selama kami berada di Jepang. Mbak Ratih memang pintar menampilkan diri dengan begitu menarik tanpa harus tergantung baju yang dikenakan. Saya sangat tertarik dan begitu menggoda hati malam itu. Underwear yang mbak Ratih pakai dibalik baju, membuat saya begitu penasaran. Bagian atas yang awalnya saya kira mbak tidak memakai bra, karena puting mbak yang mengecap kebaju. Tapi ketika mbak beberapa kali sedikit meninggalkan tempat dan berjalan, saya sadar bahwa mbak tetap mengenakan bra, dan mungkin saking begitu tipisnya sampai mengecap ke baju. Juga saya perhatikan bagian bawah yang tidak terlihat garis garis celana dalam yang biasanya terlihat dengan baju yang begitu pas di badan mbak Ratih.

Mbak Ratih juga begitu asyik bercerita dan membuat saya tidak bosan bosannya mendengarkan cerita cerita mbak.

Mbak Ratih tahu, bagaimana perasaan saya ketika mbak mengajak dance saya. Entah kenapa, dengan seumur saya yang sudah tidak muda tapi membuat hati berdebar debar seperti anak teenagers saja. Dipertengahan dance mbak yang begitu rapat dance memeluk saya, sangat terasa kehangatan tubuh mbak Ratih  menembus saya.

Saya minta maaf kalau ketika dance, mbak merasakan sesuatu dibagian bawah. Saya sama sekali tidak bermaksud tidak sopan, tapi semua itu diluar kendali saya. Ketika itu saya begitu tegang dan tertekan oleh milik mbak juga.

Sampai akhirnya kita pulang bersama. Ada rasa sedikit lega dimana saya selama di cafe begitu menahan hawa nafsu saya, karena tidak ingin sampai berkelakuan kurang ajar terhadap mbak.

Saya tahu kalau mbak cukup berat maboknya ketika pulang, makanya saya biarkan mbak bersandar di saya. Tidur begitu pulas. Tapi ada satu hal yang mingkin mbak tidak ingat, mbak Ratih meletakkan salah satu  tangan mbak persis (maaf) di sekitar selangkangan saya dengan sedikit menekan.

Selama perjalanan saya berusah menenangkan diri, tapi sepertinya tidak terlalu bisa juga.

Ketika sampai di hotel, saya sempat bangunkan mbak Ratih, karena saya mau turun dan rencana mbak akan meneruskan pulang ke hotel mbak. Tapi mbak malam itu mau turun dahulu ingin minum air putih di tepat saya karena sedikit mual.

Akhirnya mbak turun bersama saya dan naik menuju kamar saya. Mbak sepertinya sudah susah jalannya waktu itu. Biarlah dikamar istirahat dan minum air putih dulu biar sedikit segar menghilangkan sedikit maboknya.

Entah apakah mbak ingat atau tidak, mbak duduk di sofa dan saya sediakan air putih dingin 1 botol kecil.

Saya sempat ke toilet sebentar malam itu. Ketika kembali ke ruangan, saya sedikit kaget dan bingung saat itu, harus bagaimana. Mbak sudah merebahkan diri di salah satu tempat tidur dengan posisi yang cukup acak acakan. Rok mbak begitu terangkat sampai pangkal paha dan tidur dengan posisi miring. Saya bingung dan bercampur tergoda sebagai pria, melihat wanita cantik dan sexy tidur di situ. Mungkin kalau saja hanya mengikuti perasaan nafsu, mungkin saat itu saya sudah tidak tahu lagi bagaimana terhadap mbak Ratih.

Sepertinya mbak Ratih sudah begitu lelap tertidur. Akhirnya saya biarkan dahulu tertidur seperti itu, sementara saya siapkan tempat tidur sebelah untuk mbak tidur. Ketika akan saya pindahkan, sempat saya coba terlentangkan mbak Ratih dan merapihkan pakaian mbak. Ketika mbak terlentang, sedikit terlihat celana dalam mbak.

Saya mau minta maaf, karena sebelum membenarkan rok mbak, saya begitu penasaran, sehingga rok saya singkap sejenak. Terlihat begitu sexy celana dalam yang mbak pakai malam itu, dengan tali yang kecil dan bagian depan yang sangat minim. Tapi segera saya tutup dan saya rapihkan.

Mbak saya angkat ke tempat tidur yang sudah saya siapkan. Ketika merapihkan tidur mbak dan sebelum saya selimuti, kalung mbak terlihat agak tertarik dan tertindih. Saya juga minta maaf sekali lagi ketika membenarkan kalung mbak. Saya sempat mengintip ke bagian dada mbak, terlihat indah buah dada mbak dengan bra yang berbentuk lucu dan sexy yang belum pernah saya lihat selama ini. Di situ saya jadi tahu, kenapa selama di cafe puting mbak begitu mengecap di baju seperti orang tidak memakai bra. Untung saya masih waras mennahan diri, karena begitu penasaran hendak menyentuh buah dada mbak (maaf).

Setelah saya selimuti, saya sedikit tenang dan tidak sempat tergoda walau sebenarnya sudah menahan diri sejak tdi.

Saya terus terang saya tidak bisa tidur dan gelisah, merasa di sebebelah ada seorang wanita cantik tertidur dengan nyenyak. Sampai akhirnya saya tertidur juga. Tapi belum juga lama saya terbangun dari tidur. Saya lihat mbak Ratih masih pulas. Saya sendiri sudah tidak bisa tidur dan akhirnya merapihkan koper saja. Sampai akhirnya mbak Ratih terbangun pagi itu.

Dan selanjutnya ya tentu mbak sudah tahu bagaimana.

Mbak Ratih, ketika selesai mandi dan keluar dengan memakai kimono, terus terang saya sudah merasa akan kehilangan kontrol diri. Jelas saya tahu bahwa dibalik kimono itu mbak tidak mengenakan apa2. Gerakan buah dada mbak tidak seperti malam hari di cafe, itu gerakan buah dada yang tanpa apa apa dibalik kimono dan saya yakin bagian bawah pun mbak Ratih tidak mengenakan apa apa dan belakangan saya pun tahu setelah kejadian itu.

Terus terang saya sudah tidak kuat, dan kalau pun saya akan dimaki maki pun saya sudah siap. Tidak bisa lagi menahan diri. Tapi ketika saya peluk mbak dari belakang, tanpa di duga justru mbak membawa tangan saya masuk kedalam kimono mbak. Selanjutnya ya seperti yang mbak sendiri sudah mengetahuinya.

Kalau boleh saya memberi kesan tentang mbak, dipagi hari itu,

saya sangat terpersona dengan keindahan mbak yang sepertinya tidak perlu saya ceritakan. Juga mbak begitu atraktif dan membuat begitu hanyut saya. Saya rasa tidak mungkin bisa terlupakan kenikmatan dipagi hari itu. Mbak begitu sexy, segalanya. Lekuk2 badan, buah dada yang begitu indah, suara dan juga apa yang saya rasakan terhadap mbak.

Saya bicara ini bukan basa basi atau untuk menyenangkan mbak, tapi benar benar saya terpesona sampai selesai.

Terimakasih mbak Ratih atas “insiden” yang tidak akan pernah saya lupakan. Semoga kita dapat bertemu kembali di Jakarta dan tentu untuk masalah pekerjaan.

Salam,

.

THE END

Sumber : ratih65.netfirms.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s