Objek Foto Telanjang

Posted: Juli 15, 2011 in Other Stories

Imel

Cerita ini bisa dibilang merupakan pengalaman pribadiku. Sebuah hubungan ‘gelap’ dengan seorang gadis bernama Imel. Dibilang hubungan ‘gelap’ karena aku sendiri sudah beristri dan beranak, dan aku kenal baik dengan ayah Imel yang juga merupakan rekan bisnisku. Tapi aku sebelumnya belum pernah ketemu Imel karena dia sekolah di luar kota. Keluarga Imel merupakan keturunan Tionghoa yang cukup lumayan bisnisnya. Perkenalanku dengan Imel berawal pada saat aku menghadiri peresmian salon & butik milik Mei dimana aku terlibat dalam pembuatan sistem back-officenya, Mei adalah adik ipar Imel. Wajah Imel terlihat mirip presenter Yuanita Kristiana tapi sedikit lebih kurus dan pendek, sedang Mei berwajah manis biasa dan badan sedikit lebih berisi dibanding Imel. Kami sempat ngobrol lama pada acara itu dan selanjutnya tidak pernah ketemu lagi selama kira-kira sebulan.

Pada suatu siang saat aku sedang hunting foto Mei menelponku supaya aku mampir ke kantornya karena ada sesuatu yang hendak dibicarakan mengenai program office-nya, dan aku pun langsung meluncur kesana menemuinya. Sesampainya di kantor Mei kami langsung membicarakan pekerjaan kami di ruangan dia. Selang beberapa saat datang Imel sambil membawa bungkusan.

“Eh…, ada mas Anto.. Kebetulan nih, aku bawa burger.. Kita lunch sekalian yuk..”, kata Imel.

“Ah, aku sudah makan kok barusan..”, jawabku basa-basi.

“Gak apa-apa, mas.. Temenin Ci Imel tuh, kebetulan aku ada janji sama client nih..”, sahut Mei.

“Oke deh kalo begitu..”, jawabku.

“Kita makan di atas aja yuk, mas.. Sambil liat ruang senam yang baru..”, ajal Imel.

“Atas mau dibuat sanggar ya?”, tanyaku sekenanya.

“Nggak kok, mas.. Tu Ci Imel pengen punya ruang senam pribadi aja..”, sahut Mei.

“Oooo, gitu..”, jawabku sambil manggut-manggut.

“Udah sana ke atas temenin Ci Imel, kelaparan tuh..!”, kata Mei.

“Ha..ha..ha.. Ayuk, mas..! See U Mei..!”, sahut Imel sambil keluar ruangan diikuti aku.

Kami naik ke lantai atas dan masuk ke sebuah ruangan berukuran kira-kira 8x6m. Lantainya karpet abu-abu dan temboknya dilapisi bahan peredam warna hitam. Ruangan itu kosong, hanya ada satu meja kerja dan laptop di pojok, sofa panjang dengan satu meja di depannya, dan lemari kecil disamping meja kerja dengan seperangkat home-theatre di atasnya. Sebuah kaca yang besar terpasang di salah satu sisi dinding, ukurannya hampir memenuhi satu sisi dindingnya. Beberapa lampu dinding tampak terpasang dan di langit-langit terdapat 6 lampu sorot kecil. Indah sekali, batinku sambil melihat sekeliling ruangan.

“Silahkan duduk, mas.. Aku setel musik dulu”, kata Imel sambil menyalakan CD dan alunan piano Richard Clayderman mulai terdengar sayup.

“Suka lagu-lagu gini mas?”, kata Imel sambil membuka bungkusan burgernya dan menyiapkan untuk kami berdua.

“Suka.. Apalagi ngedengerin sambil cari inspirasi..”, jawabku sambil meletakkan tas kameraku.

“Wah, suka fotografi ya..?”, tanya Imel.

“Hobi aja sih, gak buat profesi. Kalo ada yang pake sih ga nolak.. Hehehe..” jawabku sambil makan.

“Hobi kalo menghasilkan kan bagus tuh..” kata Imel sambil ikut makan.

Kami pun makan sambil ngobrol kesana-kemari, bercanda dan kadang main tebak-tebakan. Setelah selesai makan Imel segera membersihkan sisa-sisa dan bungkus makanan kami. Mendadak dia bertanya kepadaku, “Mas, aku kasih job foto mau?”.

“Emmm…, gimana ya? Job foto gimana? Kalo acara-acara resmi atau wedding aku belum pernah sih..”, jawabku ragu.

“Foto aku..! Aku ingin difoto sendiri, privat..!”, kata Imel.

“Maksudnya kamu mau difoto seperti model gitu..?”, tanyaku.

“Iya, tapi khusus buat aku pribadi lho.. Berapa harganya, mas..?”, balas Imel.

Wah, aku belum pernah dapat job foto model gini, batinku bingung.

“Gampang soal itu deh.. Kayak sama siapa aja, lagian buat eksperimen aku juga..”, jawabku sekenanya.

“Bener nih..? Kalo iya, kita mulai aja..!” kata Imel.

“Sekarang? Lokasinya mau dimana?” tanyaku.

“Disini aja, kira-kira bagus gak suasananya? Kalo diluar berarti harus cari lokasi dulu deh..”, kata Imel.

Aku melihat sekeliling ruangan. Tampaknya layak juga untuk foto session.

Dinding, lampu ruang yang bisa diatur, suasana, semua oke sih.

“Oke, bisa kok disini kalo mau..”, kataku.

“Siiipp…! Sebentar, aku make-up dan cari baju dulu ya..” kata Imel sambil keluar ruangan.

Aku segera menyiapkan kamera SLR-ku dan perlengkapannya, lalu mengambil sample seting pencahayaan disitu (mirip profesional? Hahaha..!). Tak beberapa lama Imel masuk kembali, kali ini dia tampak lebih cantik dengan dandanannya. Dia memakai celana jeans pendek sekali dan t-shirt besar warna putih. Pahanya yang mulus semakin kelihatan jelas dan rambutnya yang bergelombang sebahu dibiarkan terurai. Pundaknya yang putih nampak terbuka sebagian karena t-shirtnya yang lebar itu. Tidak nampak adanya tali BH membuatku semakin penasaran. Pikiranku mulai melayang kemana-mana nih.

“Kok melamun sih…? Gimana penampilanku?”, kata Imel membuyarkan pikiranku.

“eh.. mmm.. Bagus kok..”, jawabku gugup.

“Keliatan sexy gak, mas..?”.

Sexy kok, kamu juga keliatan cakep..”, jawabku polos.

“Ihh… Mas Anto jangan ngeledek, ah..”.

“Bener kok, Mel.. You’re look so beautiful and sexy..!”, jawabku.

“Kita mulai aja ya..”, ajak Imel sambil pasang gaya.

“Kita ambil sample dulu ya..”, jawabku sambil mulai jepret dia beberapa kali.

Setelah sepakat dengan hasilnya, kami melanjutkan sesi foto kami. Imel nampak luwes dalam bergaya. Dalam beberapa pose dia nampak ingin tampil sexy dengan menurunkan belahan pundaknya, membuatku makin penasaran saja. Akhirnya aku pun berkomentar juga, “Yang lebih menantang dong, Mel…”.

“Oke…”, jawab Imel.

Kemudian dia memasukkan tangan ke dalam t-shirtnya lalu melempar sesuatu ke lantai. “Wow..!”, itu tadi ternyata BH tanpa talinya, Imel sekarang tidak pakai BH. Aku kembali melihatnya, tambah kelihatan sexy karena putingnya kelihatan menonjol dibalik t-shirtnya.

Ready..?”, tanyaku.

“Oke..”, jawab Imel.

Imel mulai berpose lagi, kali ini semakin berani. Dia mulai melorotkan t-shirtnya sehingga nyaris kelihatan payudaranya, belum posenya yang membuat laki-laki bergetar. Tak berapa lama Imel membuka retsleting celananya sehingga CD-nya yang berwarna merah kelihatan. Dia terus bergaya dengan pose yang semakin menantang.

“T-shirtnya buka aja, Mel..”, kataku tanpa sadar.

“Malu, ah mas..!”, jawab Imel.

“Gak apa-apa.. kan ini cuma buat pribadi aja…”, kataku.

“Malu sama mas Anto, tau..!”, kata Imel.

“Gak apa-apa kok.. Kayak sama siapa aja..”, jawabku semakin berani.

“Oke lah..”, jawab Imel sambil membuka t-shirtnya sambil membelakangiku.

“Ok, pose gitu ya.. Muka noleh ke kamera dong..”, kataku.

Aku ambil gambarnya beberapa kali dalam pose itu.

“Hadap samping, Mel..”, kataku.

Imel pun berpose menghadap samping dengan tangan menutupi dadanya dan wajah ke kamera. Setelah beberapa kali jepretan, aku memintanya menghadap kamera. Imel pun menurut dengan tangan tetap di dada. “Uuhh…”, membuat semakin penasaran nih, batinku.

“Jangan ditutupi dong, Mel..”, kataku.

Imel tidak menjawab tapi langsung berpose dengan berkacak pinggang. Payudaranya yang tidak terlalu besar tapi kencang dan bagus bentuknya dengan puting menantang langsung kelihatan. Aku sempat terpana melihat pemandangan itu, betul-betul topless.

“Udah, jangan melongo gitu mas..! Katanya suruh kelihatan..”, kata Imel sambil tersenyum.

“Ehh… i..i..iya..”, jawabku gugup sambil siap untuk memotret. Kurasakan adik kecilku mulai mengeras juga. “Wah, gawat nih..”, batinku.

Setelah beberapa jepretan kami lalu beristirahat dan Imel mengenakan t-shirtnya lagi. Kami melihat hasil jepretanku di kamera sambil duduk di lantai karpet.

“Kurang jelas mas, kecil-kecil banget..”, kata Imel.

“Liat pake laptop aja, ntar aku sambungin..”, jawabku.

Imel berdiri mengambil laptop di meja, langsung aku sambung ke kamera dan aku transfer foto-foto tadi. Kami melihat hasil dari awal sambil saling berkomentar hasilnya. Sampai pada foto topless Imel terdiam sambil mengamati satu persatu, aku pura-pura cuek aja.

“Mas, foto lagi yuk..”, mendadak Imel berkata padaku.

“Oke…”, jawabku.

“Tapi….”, kata Imel sambil menatapku, ada keraguan di mata dan nada bicaranya.

“Kenapa, Mel..?”, tanyaku.

“Aku mau difoto naked, telanjang..! Tapi yang kelihatan art-nya gitu.. Kira-kira gimana, mas..?”, jawab Imel.

Aku sempat kaget, bingung, dan mungkin girang campur aduk jadi satu.

“Eeee… bisa kok.. Lagian kamu punya tubuh yang bagus, pasti ntar keliatan indah hasilnya..”, jawabku sekenanya.

“Ah.. Mulai tuh gombalnya…”, kata Imel tersipu.

“Suer… Bener kok.. Kamu cakep, punya body bagus, mulus.. Kurang apalagi coba..?”, kataku sambil berharap mudah-mudahan dia jadi difoto.

“Oke lah… Ayuk, kita mulai..”, kata Imel sambli berdiri.

“Yess..!!”, aku bersorak dalam hati.

Imel mulai melepas t-shirt, celana pendeknya, lalu CD-nya sambil membelakangiku. Aku langsung mengambil gambarnya dari posisi belakang sambil mengarahkan gayanya. Imel menurut saja dengan arahanku dari mulai menghadap samping sampai ke kamera tapi dengan pose tangan tetap menutupi dada dan bagian bawahnya. Imel nampak enjoy dengan posenya yang semakin berani. Adik kecilku kembali terasa tegang, tapi tidak kuhiraukan karena asyik memotret.

Open semua aja, Mel.. Nanggung..”, kataku nekat.

Imel kembali tersenyum dan perlahan melepas kedua tangannya dari dada dan bawahnya. “Wow..! Perfect..!”.

Body Imel proporsional walaupun bisa dibilang agak kurus. Payudaranya tidak terlalu besar tapi bagus bentuknya, pantatnya pun sedang, jembinya kelihatan tipis dan rapi. Aku masih tertegun melihat pemandangan itu ketika Imel berkata, “Tuh, kan.. Malah melongo.. terusin gak nih..?!”.

“i..i..iya.. Terusin.. Habisnya kamu perfect, Mel..”, jawabku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

Imel

Lalu kami mulai lagi sesi pemotretannya. Kali ini Imel benar-benar pose telanjang. Dia nampak enjoy dengan posenya, bahkan semakin lama semakin berani dan menantang. Kulihat sekilas dia merasa horny juga. Aku pun jadi semakin berani mengambil gambar bagian-bagian vitalnya dari dekat dan berbagai posisi. Adik kecilku terasa semakin berontak tapi aku tak peduli sambil terus mengambil gambar Imel.

Setelah berapa puluh jepretan kami pun kembali istirahat duduk di lantai sambil melihat hasil sesi kami. Kali ini Imel tidak langsung mengenakan bajunya, dia hanya menutup dadanya dengan t-shirtnya. Aku disampingnya dengan perasaan tidak karuan. Bagaimana tidak? Ada mahluk manis dan sempurna telanjang bulat disebelahku! Satu persatu dia mengamati fotonya di laptop dengan serius, seakan sedang menilai bentuk tubuhnya sendiri.

“Sempurna, Mel..”, kataku tanpa sengaja terlepas.

“Ah, mas bisa aja.. Biasa aja kaleee..”, kata Imel sambil mencubit pahaku.

“Yakin, Mel.. Ga bohong kok..”, jawabku.

“iihhhhh, genit ah..!!”, kata Imel merajuk sambil memukuli pahaku.

“Kamu tuh yang jadi genit kalo gini.. Cewek genit kan sukanya gitu..”, jawabku.

“Tuhhhh kan… Malah ngeledek, awas lho..”, Kata Imel sambil memukuli pundakku dengan tangan satu karena satunya memegangi t-shirt di dadanya.

Aku tertawa sambil memegang tangan yang memukuliku. Tanpa sadar tangan satunya berusaha memukulku juga sehingga t-shirtnya terlepas, aku langsung terdiam melihat payudaranya. Melihatku terdiam Imel langsung sadar dan segera melepas tangannya dan menutupi dadanya sambil tersipu melihatku.Aku menatap wajahnya yang tersipu itu, Imel nampaknya jadi salah tingkah dan terdiam menatapku juga.

Perlahan aku memegang kedua tangan yang menutupi dadanya lalu kulepas dari dadanya. Imel diam saja sambil kami bertatapan tapi wajah kami semakin mendekat entah siapa yang duluan. Lalu kukecup bibir tipisnya, dia diam saja sambil memejamkan matanya. Kali ini kucium bibirnya dan dia mulai membalas ciumanku, akhirnya bibir kami saling bertaut. Tak berapa lama Imel melepas tangannya dari peganganku dan langsung memeluk leher serta kepalaku. Ciuman bibirnya bertambah ganas, nafasnya pun jadi semakin cepat.

“Hmmm.. Imel mulai naik nih..”, batinku.

Kami pun saling berpelukan sambil saling bermain mulut dan lidah. Tanganku perlahan mulai gerilya di dada Imel. Kuraba dan kuelus payudaranya sambil sesekali memainkan putingnya, kadang kuremas perlahan. Imel semakin ganas menciumku dan semakin erat memelukku. Kemudian perlahan kurebahkan tubuhnya di lantai karpet sambil kami tetap saling berpagut. Dengan posisi Imel yang rebah semakin memudahkan tanganku untuk menjelajahi tubuh mulusnya.

Sambil terus berpagut bibir tanganku mulai memainkan payudaranya, kanan kiri bergantian. Kuremas perlahan dan kumainkan putingnya yang makin mengeras. Lalu kulepas bibirku kemudian mulut dan lidahku mulai menjelajahi leher Imel, setelah puas terus turun ke arah payudaranya. Kukecup, jilat dan hisap payudara Imel satu persatu sementara tanganku mulai menjelajah ke selangkangan Imel. Imel mulai mendesah dan menggeliat merasakan naik birahinya ketika tanganku menyentuh pintu meqinya. Aku terus mempermainkan payudara Imel dengan mulutku sementara jariku memainkan pintu meqinya.

Imel semakin menggelinjang sambil mendesah-desah dengan mata tertutup menikmati permainan ini. Kemudian perlahan kuarahkan lidahku turun ke arah perut Imel, kujelajahi bagian perutnya dengan lidah dan mulut sampai akhirnya berhenti di dekat meqinya. Lalu aku beranjak dan duduk di depan selangkangan Imel dan segera kubuka lebar kedua kakinya. Kujilati mulut meqinya yang mulai basah perlahan sambil sesekali kumasukkan lidahku kedalam lubangnya. Ternyata meqi Imel tidak berbau sama sekali dan dia sepertinya sudah bukan perawan, membuat aku semakin asik memainkannya. Imel semakin menggelinjang sambil memegang kepalaku, mulutnya terus mengeluarkan desahan-desahan kenikmatan.

“Ooohhhh… aaahhhhh.. Masss… uuuuhhh….”.

Aku terus memainkan lidahku di meqi Imel yang semakin basah oleh cairannya. Tak berapa lama dia menggelinjang hebat dan meqinya tampak semakin membanjir oleh cairannya dan desahannya semakin bertambah keras.

“Aaaahhhh…! uuuuuhhh…massss…! Terusssss….! ooooouuughhhh…!!”.

Rupanya dia sudah orgasme oleh lidahku. Seketika itu juga aku teringat pintu sudah dikunci atau belum, kuatirnya ada orang mendengar dan masuk. Aku menghentikan aktivitasku dan bermaksud mengunci pintu.

Imel ikut bangun menatapku dan berkata dengan nada protes, “Kok berhenti sih.. Kenapa..?!”.

“Pintu udah dikunci belum tuh?”.

“Udah.. Tadi aku kunci kok..”.

“Mel, aku mau nanya sesuatu boleh?”, tanyaku pelan.

Aku ingin yakin dia masih perawan ato tidak. Kalo masih, aku gak mau nerusin ini. Aku gak mau merusak dia juga.

“Nanya apa, mas..?”, sahut Imel sambil memegang tanganku.

“eemmmm.. Kamu masih virgin gak?”.

“Emang kenapa mas? Bedanya apa?”.

“Aku gak mau merusak kamu kalo kamu masih virgin, Mel…”, jawabku.

“Aku udah gak virgin kok.. Tenang aja..”, kata Imel sambil mulai menciumi leherku dan tangannya mulai membuka kancing bajuku.

Aku diam saja menikmati cumbuan Imel disekitar leherku sementara bajuku sudah mulai terlepas semua. Imel terus turun ke dadaku dan mulai menghisap putingku sambil kuelus pelan rambutnya yang harum, semakin membuatku sangat ingin ‘meng-eksekusi’ dia. Perlahan Imel mendorongku hingga rebah dilantai sambil mulutnya terus mencium dan menjilati dadaku serta tangannya mulai meraba kedalam celanaku, setelah tangannya medapatkan kontolku langsung dipegangnya dan dipijit-pijit lembut. Kemudian Imel mulai membuka retsleting celanaku, tampak ujung kontolku menyembul dari balik CD-ku. Tak berhenti sampai situ Imel segera melorotkan celana dan CD-ku, aku pun langsung membantu melepasnya.

Sejenak Imel menatap kontolku yang sudah berdiri tegak dan keras dengan pandangan yang tak kumengerti. Ukurannya sih biasa, gak gede2 amat, tapi mengacung dengan sangat keras. Perlahan Imel mulai mengelus kontolku, kemudian menjilatinya dengan lembut, sangat nikmat sekali jilatannya. Lalu Imel mulai memasukkan kontolku ke mulutnya memulai prosesi BJ-nya. Serasa sekujur tubuhku seperti kesetrum sampai ubun2 menikmati BJ Imel, perlahan tapi pasti mulutnya maju-mundur mengulum kontolku sambil sesekali dijilati dan dikocok pelan kontolku.

“Oohhh, Mel… Kamu hebat, sayang…”, kataku disela-sela desahanku menikmati BJ-nya.

Lalu kuraih dan kuangkat tubuh Imel yang sedang mem-BJ-ku naik ke atas tubuhku hingga posisi kami jadi 69, posisi favoritku. Meqi Imel kini tepat di wajahku dan segera kujilati, Imel kembali menggelinjang diatas tubuhku. Semakin kerap aku memainkan meqinya dengan lidahku Imel semakin ganas dalam BJ nya, mungkin disebabkan karena birahinya yang semakin tinggi. Cukup lama kami dalam posisi itu hingga akhirnya Imel kembali menggelinjang keras sambil melenguh panjang dan meqinya bertambah basah menandakan dia mengalami orgasme lagi. Kontolku yang sedang di BJ Imel pun semakin merasakan sesuatu yang akan keluar tapi aku masih berusaha menahannya, akhirnya kuhentikan aktivitasku dan berguling kesamping menurunkan tubuh Imel.

Kini dia tergeletak pasrah di lantai, semakin membuatku ingin segera menerkamnya. Aku merebahkan diri disampingnya dan kembali menjilati putingnya sambil meremas-remas payudaranya. Tangan Imel meraih kontolku lalu meremas dan mengocoknya. Tak lama kemudian Imel menarik tubuhku untuk menindihnya, rupanya dia sudah ingin dieksekusi tapi malu untuk mengatakannya. Aku pun segera menindihnya tapi tak kumasukkan kontolku ke meqinya sambil kutatap Imel, tampak pandangannya seperti sedang mengharapkan sesuatu. Kuciumi leher Imel sambil menusuk-nusukkan kontolku ke permukaan meqinya, sengaja tidak kumasukkan dulu supaya dia tambah penasaran. Rupanya Imel sudah tidak tahan, kakinya semakin lebar mengangkang membuka jalan untukku. Perlahan kugenjot pinggangku dan masukkan kontolku ke meqinya secara bertahap. Imel memelukku erat ketika perlahan meqinya dimasuki kontolku. Meqi Imel terasa agak sempit tapi enak sekali rasanya. Akhirnya kutekan penuh pinggangku sehingga kontolku masuk semua ke meqinya.

“Auuhh..mas..aaaahhhh..!!”, desah Imel sambil mempererat pelukannya.

Aku mulai menggenjotnya perlahan, lalu tambah cepat, lalu pelan lagi, terus menerus. Imel nampak merem-melek sambil terus mendesah menikmati genjotanku. Setelah bosan posisi itu aku segera bangkit dan kucabut kontolku lalu kutekuk kaki Imel keatas. Kemudian sambil jongkok kumasukkan kontolku lagi dan kembali kugenjot.

“Ooowhhh…punyamu keras sekali masss…aaahhh…aku suka…uuuhh..”, kata Imel disela desahannya.

“Punyamu juga enak, Mel..”, jawabku sambil terus menggenjotnya.

Payudara Imel bergerak naik-turun seiring genjotanku, segra kuraih keduanya dan kuremas-remas perlahan. Imel jadi semakin terangsang dan mendesah-desah tak karuan. Beberapa lama kemudian kucabut kontolku dan membalikkan badan Imel supaya nungging.

“Jangan lewat pantat, mas… Gak mau..”, kata Imel kuatir.

“Gak, Mel.. Tenang aja..”, jawabku.

Segera kumasukkan kontolku lagi ke meqinya setelah Imel dalam posisi nungging langsung amblas ke dalam, Imel melenguh panjang. “Uuuuuugghhhh…masssshh.. “.

Segera kugenjot Imel dalam posisi doggy, dia tambah mendesah-desah tak karuan. Rupanya posisi ini memberikan sensasi yang hebat buat dia. Benar saja, tak sampai 5 menit dia mengalami orgasme lagi sampai wajahnya tertelungkup ke lantai. Posisi seperti ini membuat dia jadi lebih tinggi nunggingnya. Aku pun berhenti dan berdiri. Kumasukkan lagi kontolku ke meqi Imel yang sedang nungging.

“Bleeesss…..”, langsung kugenjot lagi dengan irama biasa dan lama-lama menjadi cepat.

Imel kembali mendesah-desah tak karuan. Dia nampaknya pasrah mau dibuat seperti apa. Setelah puas kulepas kontolku lalu kubaringkan Imel lagi di lantai. Kutindih dia lagi dengan posisi misionaris. Kembali kuhujamkan kontolku kedalam meqinya. Langsung kugenjot cepat karena aku sudah tidak tahan ingin segera menyemburkan maniku. Imel rupanya paham dengan maksudku, kakinya segera melingkar di pinggangku dengan erat. Rasanya semakin enak sekali meqi Imel.

Terus kupercepat genjotanku sambil berbisik ke Imel, “Keluarin diluar atau dalam, Mel..?”.

“Terserah, mas…aku gak peduli, ah..”, jawab Imel disela-sela desahan nafasnya yang memburu.

Pikiranku sempat bimbang juga, aku gak mau kalo Imel sampai hamil juga. Bisa panjang sekali nanti urusannya, pikirku. Lalu kulepaskan lilitan kaki Imel di pinggangku dan kunaikkan ke depan dadanya, terus kugenjot lagi dia dengan cepat. Imel semakin hebat menggelinjangnya menandakan dia hampir sampai orgasme. Semakin kupercepat genjotanku karena kurasakan sesuatu akan segera menyembur.

“Massss…massss…uuuhhh…aa agghh..uuuhhhhhhhh.. .maassss…!!!”, Imel memekik tanda dia sudah orgasme lagi.

Kupercepat lagi genjotanku sampai terasa klimak. Sebelum laharku menyembur, kulepas kontolku dari meqi Imel dan beringsut ke atas badan Imel. Aku sudah tidak tahan, akhirnya..

“Aaaahhhh… Mel…aku keluarrrr…!!” dan… “Crot..crot..crot..crot..”, beberapa kali aku menyemburkan maniku di dada dan wajah Imel. Dia tidak menolak sama sekali, bahkan ikut mengocok kontolku dan itu membuatku semakin kegelian.

Tak lama kemudian Imel meraih t-shirtnya dan membersihkan cairan maniku di wajah dan dadanya. Aku pun berbaring di sisinya. Lalu Imel memelukku sambil berkata, “Terima kasih ya mas, pengalaman ini indah sekali…”.

“Sama-sama, Mel… Kamu suka..?”.

“Ehhmmmm…, baru kali ini aku merasakan seperti ini. Dulu sama mantanku gak kayak gini. Payah dia, cuma mau enaknya sendiri..”, sungut Imel.

Setelah ngobrol-ngobrol sejenak sambil berbaring di lantai kami pun segera mengenakan baju dan aku juga berkemas bersiap-siap untuk pulang. Sebelum membuka pintu Imel memegang tanganku dan memberikan ciuman di pipiku, baru kami keluar dan turun. Di bawah nampak Mei sedang berdiri di depan kantornya. Dia agak terkejut melihat kami berdua.

“Lho, dari mana aja kalian dari tadi..?”, tanya Mei.

Aku baru ingat ternyata tadi cukup lama juga aku dengan Imel. Makan tambah ngobrol kira-kira 1 jam-an, sesi foto 1,5 jam-an, sesi ‘bercinta’ hampir 1 jam-an, istirahat 30 menitan, kira-kira 4 jam lebih!

“Dari atas lah…emang mau dari mana lagi..”, jawab Imel.

Kulirik Imel nampak dia mengerlingkan sebelah mata ke Mei dan kulihat raut Mei jadi berubah agak melongo dan bertanya-tanya. Wah, jangan-jangan Imel nanti cerita ke Mei tentang peristiwa tadi. Tapi kubuang pikiran itu dan segera berpamitan pada mereka berdua. Aku pun pulang dengan perasaan puas sekali. Hunting foto yang akhirnya dapat obyek bagus plus bonusnya. Sejak itu Imel kadang kontak kalau sedang ingin ditemani, entah untuk teman ngobrol atau ‘yang lain’…

TAMAT.

.

Sumber : ceritaxseru.blogspot.com

Komentar
  1. lina feblina mengatakan:

    rasanya asik juga ya kalau difoto bugil, apalagi kalau dipantai, bisa dientot sekalian ama fotografernya , asik atuh, bagi foto grafer yg mau bantuiin fotoin tante call tante lina ke 082170319518 or 085376184098

    Re : Hayo ada yang mau bantuin si tante?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s