The Power of Love

Posted: Oktober 7, 2010 in Other Stories

Niki adalah cewek paling ngetop di kantorku. Cantik, supel, berduit, dan luas gaul. Terbukti beberapa temanku tertarik dan mencoba mendekatinya, selain dua lainnya yang kutahu pasti diam-diam sudah sering jalan sama dia. Yang satu si Aji seniorku, modalnya kuat (kapal pesiarnya saja ada dua). Satunya lagi Fendi adik kelasku semasa kuliah, ganteng, aktif gaul, dan populer di kalangan cewek. Keduanya kukenal baik.

Aku sendiri cukup bergaul walau tidak tertarik berurusan sama cewek kantor sendiri. Di kantor aku lebih dikenal sebagai orang yang ‘serius’ dan ‘banyak urusan melulu’. Biar begitu, setiap ada waktu aku selalu menyempatkan diri nimbrung sejenak dengan mereka, cewek-cewek kantor. Aku sebenarnya tertarik juga sama Niki, tapi karena ‘pertarungan’-nya demikian seru jadi rada malas untuk ikutan. Sampai satu saat, datang peristiwa yang mengawali kedekatanku dengannya.

#########################

I. Mulainya : April 1993

Niki

Hujan deras sore itu membuat yang pulang kerja mengumpul di sekitar lobby menunggu ojek payung.

Niki datang terengah-engah dengan berkerudung koran, “Aduuh, tolong dong, mobilku mogok di depan situ.”

Aku tidak terlalu mengerti soal mobil, tapi karena berdiri paling dekat, aku duluan merespon.

“Dimana mobilnya Ki..?” tanyaku.

Niki menunjuk ke arah jalan keluar sambil menyerahkan kunci. Kuseret si Joni bule yang ngerti mobil untuk menemani, dan kuserobot ojek payung yang mendekat. Bergegas kami menghampiri mobil itu. Joni langsung membuka kap mesin, aku bisanya hanya megangi payung. Dalam beberapa menit mobil langsung hidup, sementara itu Niki menyusul dengan payung lain.

Kami naik mobil sama-sama. Niki batal kuliah karena telat, lalu mengajak kami makan. Joni menolak karena ada kencan lain, ia diturunkan di kantor, lalu kami jalan. Singkat cerita, setelah kesana kemari bingung cari makan, akhirnya kami hanya nonton di KC, dengan makan malam kentang goreng dan lemper. Selama nonton Niki menyandar ke bahuku, telapaknya yang kedinginan digosokkan ke lenganku. Kami pulang tanpa terjadi apa-apa kecuali satu hal, kami semakin akrab.

Sebelum melanjutkan, aku cerita sedikit soal pribadi. Beberapa tahun lalu pernah kejadian cewekku selingkuh, sialnya aku sendiri yang mergoki. Kami putus, tapi sesudahnya ‘barang’-ku sulit sekali berfungsi, padahal hasrat seksualku cukup tinggi. Saat nonton dengan Niki, entah kenapa batangku tiba-tiba bangun mengeras, persis layaknya saat aku normal.

Sesudahnya kami sering jalan sama-sama. Pulang kantor kalau Niki tidak kuliah, kami jalan pakai mobilnya, biasanya makan malam sambil ngobrol bertukar pengalaman masing-masing. Pernah kusinggung tentang hubungannya dengan Aji dan Fendi. Niki hanya ketawa, tapi secara tidak langsung ia cerita soal hubungan dengan keduanya, dan alasan kenapa ia tertarik. Hanya, di antara kami bertiga katanya aku yang paling nyaman diajak jalan, karena yang lain tidak mau terbuka, maunya ‘ngumpet-ngumpet’.

Dua bulan berlalu hanya diisi dengan makan, ngobrol, nonton pameran dan hal-hal yang sejenis, tapi kami sudah sangat dekat. Di hari ulang tahunnya, Niki kuhadiahi souvenir dan ciuman di pipi. Lalu satu ketika aku pulang dari tugas ke Bali, ia kubawakan oleh-oleh baju. Spontan ia menciumku di bibir yang membuatku terperangah, terlambat bereaksi. Niki meninggalkanku terbengong-bengong.

************

Hangatnya : Juli 1993 ..

Malamnya (atau beberapa hari sesudahnya, aku agak lupa) ia mengajakku ke Ancol. Sambil makan bihun goreng ia memintaku cerita tentang pacar-pacarku yang disimaknya dengan antusias. Tentu saja aku cerita yang perlu-perlu saja. Sesudahnya obrolan dilanjutkan di mobil.

Niki duduk di jok driver, aku di sebelahnya. Ia menghidupkan mesin, menyalakan AC dan musik. Lalu sambil berdendang mengikuti lagu (kuingat, lagunya The Beauty and The Beast) ia merebahkan sandaran jok, aku juga. Mengikuti suasana hati, kami berduet sambil tangan saling menggenggam. Lalu terbawa suasana rileks dan syahdu, tangannya yang dalam genggamanku secara naluriah kubawa ke bibir, kucium lembut. Tiba-tiba bibir kami mendekat, kami berciuman.

Seperti air mendidih di panci tertutup, begitu dibuka uapnya menyembur ke mana-mana, begitulah kami. Begitu bibir menempel kami bengong, diam sekian detik, lalu meluap! Ganas lidahnya yang menjelajahi rongga mulutku tidak kubiarkan, lidahku menjulur membelit lidahnya. Sementara bibir menempel ketat, tanganku tidak lagi menggenggam, tapi sudah menjelajah ke pinggang, punggung dan perutnya, lalu dilanjutkan dengan membuka kancing kemejanya.

Niki akhirnya menyeberang ke jok tempatku, merapatkan pelukan untuk menumpahkan kedekatan kami dalam bentuk yang lebih nyata. Jok yang didisain untuk satu orang ternyata muat untuk berdua, bahkan masih cukup ruang untuk saling melucuti pakaian.

Sementara tanganku menyusup ke BRA-nya, Niki membuka Zip celanaku, juga jeans-nya sendiri. Batangku yang tegak mengintip dari pinggir CD makin mengeras oleh remasan jarinya. Aku melepas kaitan BRA, membuat sepasang buah ranum itu bebas mengembang. Penjelajahan jariku di putingnya membuat Niki mendesis seperti kepedasan.

Aku menarik Niki ke atas tubuhku yang telentang di jok. Kurengkuh tubuhnya hingga buah dadanya terjangkau oleh bibirku. Lembut kujelajahi buah ranum itu dengan lidah dan kuhisap putingnya perlahan. Aku berusaha melepaskan jeansnya sampai ke bawah pantat hingga tanganku bebas menyelusup ke dalam CD, mengusap lipatan pangkal pahanya yang basah dibanjiri cairan birahi, membuatnya menggelinjang. Tanganku kutekuk hingga jariku dapat menggapai klitorisnya.

Niki terlonjak oleh sentuhanku. Ia menegang sejenak, lalu sambil menggelinjang menggosok-gosokkan mulut vaginanya pelan ke jari-jariku yang terjepit oleh pangkal paha dan lipatan jeans. Dengan mata terpejam menikmati hisapan di putingnya, gesekan Niki di jariku semakin cepat, dan Niki mengerang sambil mendekap kepalaku erat-erat, lalu melemas dalam pelukanku, ia orgasme.

Sesudahnya Niki mencoba membangunkan penisku yang lemas akibat gesekan jeans yang agak menyakitkan. Aku menolak dan dia agak kecewa (problemku kini, bila ada gangguan sedikit saja yang mengurangi kenyamanan akan berakibat ‘burungku’ kehilangan kekerasannya). Kuyakinkan ia bahwa aku tidak apa-apa.

Dalam perjalanan pulang kuceritakan problemku itu pada Niki, ia dapat mengerti. Dan kami kembali ngobrol dengan asyik. Kami makin dekat lagi!

Hari-hari berikutnya kami jadi terbiasa petting di mobil (hanya petting karena ternyata ia masih virgin), dan Niki selalu berusaha membantu membesarkan hatiku agar lebih percaya diri. Tapi aku tetap belum berhasil orgasme, sekeras apapun penisku selalu saja pada akhirnya melemas tanpa sebab.

************

Mendidihnya : September 1993 ..

Suatu ketika kami ‘ngetem’ di parkiran Taman Ria Senayan (waktu itu masih arena bermain anak-anak, dan kalau malam dipakai parkir warga ibukota yang ingin kencan di mobil). Setelah persiapan beres (pipis, cuci tangan, Aqua dan tisyu, blazer di gantung di jendela) kami mulai bersantai di jok belakang.

Sambil saling melepas pakaian, kami melakukan fastkissing, ia begitu pandai membangkitkan birahi dengan ciuman-ciuman kilatnya di sekujur tubuhku, sehingga begitu lembar terakhir pakaianku lepas, batangku sudah sangat keras.

Ukuran jok belakang hanya sepanjang tubuh lebih sedikit. Di situ tubuh telanjang Niki tergolek telentang dengan kaki kiri terjuntai di lantai mobil, kaki kanannya mengait ke jendela yang dibuka sedikit. Sambil jongkok di depannya, ciumanku menjelajahi leher dan dadanya seraya tanganku mengusap tubuhnya.

Sinar bulan yang menerobos dari rear window membuat tubuh telanjang Niki berkilauan. Buah dadanya yang besar nampak berkilat oleh jilatan lidahku, membuat gairahku memuncak. Sementara tangannya meremas batangku yang makin mengeras, jariku yang licin oleh cairan birahinya menggosok kelentitnya, pelan dan teratur.

Dengan menelungkupi tubuhnya, ciumanku kini menjelajahi perutnya, menggeser ke bawah pelan-pelan membuat tubuh Niki yang hangat bergetar. Lalu kepalaku membenam di antara pahanya yang terbuka, memudahkan lidahku menjilati celah vaginanya. Niki menggeliat mempererat genggamannya pada kemaluanku yang dibasahi dengan cairan yang menetes dari kepalanya, lalu mengocoknya seirama dengan sentuhan lidahku di kelentitnya. Kocokan dan desahannya membawaku pada perasaan yang sudah lama tidak kualami.

“Hmm.. Ki, kayaknya aku mau keluar..” aku berbisik sambil menciuminya.

“Keluarin aja.., gesekin aja ke memek.. Niki juga hampiir..”

Aku berputar, mencoba menindih Niki di jok yang ukurannya tidak memadai untuk kegiatan ini dan berusaha menggesek-gesekkan batang kemaluanku yang sedang pada puncak kekerasannya ke bibir vagina Niki yang sudah banjir oleh cairan kenikmatan yang meleleh dari liang perawannya. Rasa nikmat yang hampir terlupakan kini merambat ke seluruh tubuh, berputar, bergulung, mendesak memenuhi pucuk batangku.

Akhirnya Niki menggeser pantat ke pinggiran jok seraya menekuk kedua pahanya ke atas, sehingga dengan berlutut aku dapat menggesekkan leher kemaluanku di celah vaginanya, menggelitik klitorisnya yang membuat Niki mengerang. Gelombang dahsyat bergulung-gulung di seluruh tubuhku, mendesak-desak ke ujung kemaluan, dan akhirnya menyembur membasahi perut Niki. Akhirnya, AKU BISA ORGASME LAGI! (Aku tidak akan lupa kejadian itu Ki..!).

Dari pengalaman itu Niki menyimpulkan bahwa untuk dapat orgasme aku harus santai, tidak buru-buru, telanjang total dan privacy. Sejak itu petting dilakukan di hotel, motel, atau kalau terpaksa di mobil harus di tempat yang bebas gangguan.

Aku dapat memijat sedikit, dan Niki menyukainya. Biasanya Niki telungkup, kumulai dengan memijat telapak kaki, paha, pantat terus naik ke punggung. Saat memijat lengan, kadang-kadang Niki sudah tidur. Aku biarkan saja sementara aku baca-baca atau nonton film. Saat ia bangun baru kami mulai bercumbu.

Pernah juga saat aku telentang dan ia di atas menciumiku, tiba-tiba ia memborgolku di tempat tidur. Aku telentang tidak dapat menggerakkan tangan, hanya dapat mengejang dan menyepak. Sementara ia dengan ciuman dan jilatannya di seluruh tubuhku membuat batang kemaluanku tegak mengeras. Niki lalu menunggangiku, menyusuri leher kemaluanku dengan belahan vaginanya yang basah oleh cairan birahi. Kelembutan bibir vagina yang basah mengusap leher dan kepala kemaluanku, membuat rasa nikmatku membubung tinggi. Dengan cepat aku mencapai orgasme.

Niki juga menyenangi posisi konvensional. Aku di atas dengan tangan menggenggam batang kemaluan, terus helm-ku kuusapkan di mulut vaginanya. Cairan pembuka yang menetes dari ujung penis membasahi permukaan bibir vagina, melicinkan sentuhan ke klitorisnya. Rangsangan itu membuat cairan vaginanya membanjir. Kepala kemaluanku yang berlumuran cairan menjelajahi klitoris dan mulut vaginanya membuat Niki menggelinjang, mengerang sambil mencakari punggungku sampai ia orgasme.

Tiba giliranku, Niki merapatkan pahanya, menjepit batang kemaluanku yang basah licin menggesek di mulut vaginanya seolah digiling-giling. Dengan menggerakkan batangku keluar masuk jepitannya, maka tidak lama kemudian aku pasti menyusul.

Hubungan seperti ini berjalan setahun lebih, sampai aku merasakan ada yang berubah. Tiba-tiba ia jadi pemurung, sering kulihat ia melamun dan terkejut bila kusapa. Aku tahu ia punya masalah berat yang sulit diselesaikan. Hubungannya dengan Aji dan Fendi juga semakin kusut (masalah ini aku tidak dapat kuceritakan dengan jelas, soalnya Niki keberatan).

Perubahan ini mulai kurasakan sejak gagalnya rencana perayaan setahun kami jalan bersama. Akhir April Niki menghilang beberapa hari, dan tidak biasanya ia tidak menjelaskan kepergiannya (aku menduga ada kaitannya dengan Aji atau Fendi). Aku tidak banyak tanya karena mencoba menghargai privacy-nya. Kami tetap jalan seperti biasa, bahkan belakangan Niki makin manja, ia makin sering minta dipeluk pada saat kebersamaan kami. Kalau usai ku-‘massage’, Niki sekarang ingin tidur dalam pelukanku, saat seperti itulah Niki terlihat tenang dan damai.

************

Lalu misteri ini pelan-pelan terungkap : Juli 1994 ..

Saat itu kami istirahat di salah satu tempat di Putri Duyung, Ancol. Setelah makan, mandi, ia kupijat dengan telungkup di tempat tidur, tapi tumben ia tidak tidur. Usapanku di sisi dalam pahanya malah membuat Niki meninggikan pantatnya membuat bibir kemaluannya mencuat menantang. Aku tidak tahan, sambil tetap memijat lidahku menjilati bibir kemaluannya dari belakang. Niki menjerit-jerit kecil sambil menunggingkan pantatnya.

Tiba-tiba ia merengkuh tubuhku, membuatku terguling. Ia berbalik menindihku, lalu kami bergelut bergulingan dengan bernafsu. Sementara bibir-bibir saling melumat, organ sensitif kami saling menggesek dan menekan.

Dengan batang kemaluan yang keras dalam genggamanku, aku menindih, menggesek klitorisnya dengan ujung helm-ku yang basah oleh sperma yang mulai menetes. Niki hanya telentang diam dengan paha melebar. Saat kepala kemaluan kugesekkan di mulut vaginanya, ia memejamkan mata, merintih seperti bayi minta susu.

“Sakit Ki..?” aku berbisik.

Niki menggeleng, “Enaak..!” sahutnya.

“Kamu suka..?” tanyaku lagi.

Niki tidak menjawab, hanya merengek manja, “Mmhh.. di luar aja enak. Apalagi di dalem..” rintihnya dengan napas memburu.

“Teruus gesek.. iyaa.. di situ enak.. uhh.. tekeen..!”

Desakan kenikmatan yang meluap di sekitar kepala kemaluan tidak terasa membuat gesekanku semakin keras menekan mulut kemaluannya. Tiba-tiba.., slebb..! Kepala kemaluanku menyeruak ke dalam mulut liangnya. Niki terlonjak, matanya terbeliak sambil mendesah seperti merasakan kenikmatan. Rasa nikmat yang aneh tiba-tiba memenuhi kepala kemaluanku yang terjepit mulut vaginanya. Aku kaget karena kehilangan kontrol. Cepat kucabut batangku dan kugosokkan ke belahan bibir vagina seperti yang sudah-sudah.. maju.. mundur.. maju.. mundur, dan Niki mengejang.. muncratlah spermaku di perutnya.

Aku tidak pernah membahas peristiwa itu. Yang pasti Niki tidak perawan lagi, dan selama ia tidak ingin cerita aku juga tidak mau menanyakan. Aku jadi merasa ‘hanya’ teman walaupun sangat dekat, dan tidak berhak mengusut atau menginterogasi soal siapa, dimana, dan kapan terjadinya, itu adalah rahasia pribadi Niki.

Kami masih terus jalan dan semakin dekat. Kadang aku berusaha untuk menjauh supaya ia punya keleluasaan untuk memilih ‘teman masa depan’ yang terbaik untuknya, tapi usahaku selalu gagal. Niki bukan lagi sekedar teman jalan, tapi juga ‘kebutuhan’ untukku. Aku juga tidak pernah lagi mencoba untuk menyelipkan batangku ke dalam liang vaginanya pada percumbuan kami sesudahnya, kami tetap ‘main di luar’.

************

Agustus 1994 ..

Aku beberapa kali melamarnya, dan ia selalu mengelak (dengan alasan yang dapat kuterima tapi tidak dapat kumengerti). Walau demikian ia semakin sering mendampingiku secara terbuka dalam berbagai kegiatan, sehingga semua orang menganggap kami pacaran.

************

II. Menyatunya : 12 November 1994 ..

Niki mengajakku ketemu untuk bicara sesuatu. Hari itu kami mangkal di sekitar Cempaka Putih. Setelah selesai makan, mandi dan sebagainya, Niki (tumben) mengajakku bicara serius.

Kami menggeletak telanjang, berpelukan di tempat tidur. Dengan sedikit tersendat ia memulai ceritanya, intinya ia berterima kasih aku telah melamarnya, tapi ia tidak dapat menerima karena merasa sudah tidak perawan lagi dengan suatu alasan yang tidak ingin diceritakan. Niki bertekad menikah dengan orang yang merengut keperawanannya (Aji? Fendi? Entahlah..), biarpun ia tidak yakin akan bahagia.

Ia bercerita sambil membenamkan wajahnya dalam pelukanku. Kata demi kata kudengarkan seiring linangan airmatanya di dadaku, jiwaku bagai melayang tanpa tubuh. Aku tidak dapat berkomentar apa-apa kecuali mempererat pelukan.

Beberapa saat kami membisu. Aku mengelus rambutnya, tubuh telanjangnya kujelajahi lembut dengan ujung jari.

Akhirnya aku tanya, “Sekarang kamu mau nggak jadi istriku?”

Ia menggeleng.

“Kalau nggak seperti ini, kamu tetap menolakku?” tanyaku lagi.

Ia terdiam, tidak menjawab.

Kutegaskan lagi, “Seandainya nggak ada kejadian itu, kamu mau nggak jadi isteriku?”

Ia tidak menjawab, tapi mengangguk pelan sambil mempererat pelukan.

Anggukannya mengembalikan semangat ke dalam tubuhku. Kucari bibirnya dan kuciumi pipinya, hidungnya, lehernya dengan hangat dan mesra, sementara tanganku mencari putingnya.

“Apapun keadaan kamu, aku pingin kamu jadi isteriku.” bisikku sambil menciuminya lagi dengan lebih bernafsu.

Tanganku menjelajahi buah dadanya yang besar dan padat, kuremas pelan-pelan. Birahi kami semakin bergolak, bibirku pindah ke dadanya dan kukulum putingnya yang mulai mengeras.

Niki membiarkan bibirku menjelajahi perutnya yang rata dihiasi pusar yang mungil, sementara jariku memilin putingnya. Ia hanya mendesah sambil mengusap-usap kepala dan punggungku. Geliat kecil di pinggulnya saat lidahku mulai menjilati pinggiran semaknya yang tercukur rapi, membuat nafsuku semakin bergolak. Niki mulai melebarkan paha, membuat bibir vaginanya merekah terpampang di hadapanku. Pinggulnya yang terangkat mengundang lidahku untuk mengecap aroma khas dari cairan birahinya yang mulai menetes, tapi aku mengalihkan penjelajahan lidahku ke paha kirinya.

Dengan lembut jilatan lidahku menjalar sepanjang tepi dalam pahanya sampai ke mata kaki, lalu pindah ke kaki kanan menyusur menuju pangkal paha. Niki hanya mendesah dengan kaki kadang mengejang. Sampai di pangkal paha, kembali aku berhadapan dengan vagina merah merekah. Lidahku kini mulai menyapu labia mayora yang menebal, membuat pinggulnya melonjak, lalu berputar-putar di tepinya, Niki tersentak dan mendesah, akhirnya lidahku mendarat di klitoris.

Niki terlonjak, ia tidak lagi mendesah tapi mulai melenguh, tangannya menjangkau tongkatku yang sudah sangat keras, mengocok dan meremasnya. Jilatan di klitorisnya membuat Niki mengerang kasar sambil mengejang, mendesakkan mulut kemaluannya ke mulutku.

Aku berputar mengambil posisi di atasnya. Kembali kuciumi bibirnya dengan lembut, lalu dalam posisi konvensional kugosokkan batang kemaluanku yang sudah sangat keras ke mulut liangnya. Niki terbeliak sambil mendesah, mulut vaginanya bergerak menyesuaikan sapuan kepala penisku. Cairannya makin membanjir membasahi kepala penis yang makin kuat menekan sambil mondar mandir antara klitoris dan liang vagina. Putingnya makin mengeras, dadanya dipenuhi bintik kasar menandakan birahinya sudah tinggi.

Sementara itu batangku telah berada pada puncak kekerasannya, kepalanya yang licin oleh lumuran cairan birahi kutahan di mulut vaginanya. Dalam gerak memutar kutekan batangku sedikit demi sedikit, kugoyang-goyang, kutekan.. goyang.. tekan.. goyang.. tekan, dan.. bless.. kepala kemaluanku menyeruak ke dalam liangnya. Ia mengejang, maka kutahan dalam posisi itu menunggu reaksinya.

Niki malah menciumi bibirku, memeluk erat tubuhku, menggeliat seraya mendesakkan pinggulnya. Batang kemaluanku yang kepalanya sudah tertanam di liang vaginanya kembali terdorong pelan, membenam menyusuri lorong sempit yang membawaku mendaki kenikmatan yang sudah lama sekali tidak kurasakan.

Niki kembali mengerang, tangannya yang memeluk punggung mulai mencengkeram. Lalu saat batangku kutarik dan kutekan lagi, ia menggaruk dan mencengkeram. Batangku keluar masuk makin cepat, ia menggaruk, mencengkeram, mencakar sambil mengerang, kadang menjerit kecil. Makin cepat lagi dan kuputar-putar, ia mencakar, menjambak, mengerang, menjerit, mengeluh, dan mengelinjang.

Aku menancapkan batangku dalam-dalam, wajahku menyusup di bahunya sambil memeluk erat. Denyut-denyut kenikmatan yang menggumpal di ujung kemaluanku serasa akan meledak. Lalu kemaluanku memompa liangnya dengan gerakan kecil super cepat, aku mengerang, melenguh.. Aku KELUAR..! Beberapa detik Niki masih menggelinjang, lalu diiringi jeritan kecil ia menegang dan menggigit leherku. Niki juga KELUAR..!

Esoknya aku mengirim surat panjang sekali, intinya kukatakan setelah peristiwa semalam aku menempatkan diriku sebagai suaminya. Dengan persetubuhan itu, mestinya aku juga berhak menikahinya. Kukatakan, buatku tidak penting ia perawan atau tidak, lebih penting asal ia dapat bahagia bersamaku.

Niki tidak pernah menjawab secara tegas ajakanku, tapi ia berangsur kembali ceria. Dari peningkatan hubungan kami, aku menduga aku diterima. Jatahku secara kualitas meningkat drastis. Kegiatan kami sekarang adalah saling belajar membangun kenikmatan bersenggama, saling mengenal kesenangan masing-masing.

Oh ya, perlu dijelaskan, Niki tinggal sendiri di Jagakarsa terpisah dari orangtuanya. Seminggu sekali kadang orangtuanya datang menginap, tapi sehari-hari ia hanya ditemani pembantu. Dalam masa-masa itulah aku sering menginap di rumahnya. Sesekali ia menginap juga di rumahku, tapi tentu tidak terlalu leluasa karena aku masih tinggal bersama orangtua di Jakarta Timur.

Di rumah Niki terbiasa pakai kaos buntung dan celana pendek longgar tanpa BRA dan CD. Untukku juga tersedia kostum yang sejenis, sehingga kami dapat saling remas saat para pembantu tidak memperhatikan. Niki juga menjalankan latihan KEGEL secara intensif untuk mengendalikan otot pubokoksigisnya. Berkat latihan ini vaginanya kemudian mampu meremas-remas penisku, bahkan belakangan ia dapat mengurut penis dengan liang kenikmatannya. Kalau penisku sudah menancap dalam, aku diam saja dan vagina Niki akan mengurutnya pelan mulai dari pangkal sampai ke kepala bolak balik.

Dengan ‘ilmu sakti’-nya itu (demikian aku menyebutnya) aku sering ‘kalah’. Untungnya aku dibolehkan meneliti habis vaginanya, sampai aku hapal sekali vagina dan seluruh isinya. Niki dengan telaten menuntunku dengan ekspresinya yang merespon setiap eksperimen lidahku, sehingga aku hapal; yang ‘geli’, yang ‘enak’, yang ‘enak banget’, sampai yang ‘gilaa..!’. Aku tahu benar setiap titik di sekitar kemaluan dan pengaruhnya bila kusentuh dengan lidah atau jari. Biasanya Niki orgasme duluan oleh lidahku, baru aku menyusul oleh remasan saktinya.

************

Variasi Perjalanan : Februari 1995 ..

Niki kuajak untuk suatu urusan di Solo, semula ia ragu-ragu tapi akhirnya setuju. Namun karena persetujuannya mendadak, kami kehabisan tiket kereta, sementara ia tidak mau naik pesawat, “Terlalu cepat..” katanya. Akibatnya perjalanan terpaksa ditempuh dengan travel, apa boleh buat. L300 Diesel dengan musik berdentam dan AC yang dingin sekali akan menemani kami semalaman.

Jok sebelah supir di isi TKW usia 20 tahunan yang baru pulang mudik, penumpang lain adalah dua pasangan tua dari SUMBAR yang mau menghadiri wisuda anaknya di Yogya, tiga orang menempati baris tengah dan yang keempat bersama aku dan Niki di deret belakang. Bapak itu di kiri, lalu aku, terakhir Niki dekat jendela.

Selewat makan malam di Cianjur, bapak di sebelahku sudah tidur pulas membelakangi, kepalanya bertumpu bantal menempel ke jendela. Ibu-ibu di depanku yang heboh cerita dalam bahasa daerah juga sudah mulai hilang suaranya, tinggal suara si TKW di depan yang asyik bercanda dengan si supir. Niki yang sejak berangkat sudah menyandar pulas di bahuku malah terbangun.

Setelah mengudap snack dan minum, Niki kembali meringkuk kedinginan di sebelahku. Agar nyaman Niki kusarankan pindah ke tengah, lalu menyandarkan punggung di dadaku. Ia kuselimuti dari leher sampai ke lutut dengan jas panjang yang sengaja kubawa, sekalian menyembunyikan tanganku yang memeluk dadanya, sementara pipinya yang dingin menempel di pipiku. Lumayan, ia tidak kedinginan lagi, dan kami pun mulai siap-siap memejamkan mata.

Aku hampir terlelap saat iseng kulihat ke depan, si TKW sedang menggelinjang dengan tubuh makin merapat ke tengah. Dari gerakannya aku yakin bahwa ia sedang digarap oleh si supir. Ternyata benar, posisi spion atas memberiku pandangan tepat ke dada si TKW. Dari sinar lampu jalan yang menyorot selewatan kulihat buah dadanya sudah terbuka dan sebuah tangan nampak memilin putingnya. Ngantukku hilang tapi aku terus pura-pura tidur, tinggal mataku mengintip menantikan jatuhnya sinar lampu jalanan.

Tontonan itu membuat tanganku yang memeluk dada Niki tidak dapat diam. Pelan-pelan aku mulai mengusap, mencari bagian-bagian yang tidak tertutup BRA sehingga dapat kurasakan kehalusan kulit Niki lewat kaos tipisnya. Belum cukup, akhirnya tanganku menyusup ke dalam, menemukan kulit perutnya yang halus. Setiap Niki mengeluh aku berhenti mengusap, aku tidak ingin membangunkannya, tapi kehalusan kulit Niki ditambah tontonan si supir kurang ajar itu membuatku sangat terangsang.

Tiba-tiba kepala Niki yang menyandar di bahuku bergerak, bibirnya mencium telingaku membuat tanganku langsung berhenti, celakanya jariku dalam posisi terjepit diselipan BRA.

Niki ketawa pelan, “Udah, buka aja kaitannya..!” ia berbisik di telingaku.

Aku malu tapi kepalang nafsu, kubuka juga kaitan BRA-nya, membuat isinya menggantung.

Di balik jas yang menyelimuti tubuh Niki, tanganku menjelajah kedua bukit kembar yang kenyal seiring tangan lain yang meremasi dada si TKW. Saat puting Niki makin mengeras, tangannya menuntunku menyusup ke celana trainingnya, berakhir dengan menyelinap ke mulut vaginanya yang sudah basah. Ia menggeliat pelan tapi tidak berani mengerang, desahannya ditahan tinggal jadi desis, sambil pinggulnya mencari posisi supaya sentuhan jariku ke kelentitnya dapat maksimal.

Saat istirahat di Banjar Patoman Niki sudah orgasme. Sambil menunggu makan kami ke kamar mandi, Niki membersihkan vagina sedangkan aku mencuci senjataku yang tegang agar sedikit lemas. Di kamar mandi kami ketemu si TKW, ia mengganti celana jeans-nya dengan training pack. Tontonan nanti pasti lebih seru, tapi aku terlanjur ngantuk sekali.

Sampai di Solo masih pagi, tapi orang serumah sudah bangun semua. Aku dan Niki langsung tidur pulas di kamar ibuku. Sekitar jam 8 kami bangun, langsung sarapan. Rangsangan semalam yang belum tersalurkan membuat penisku tegang terus tapi aku tidak berani macam-macam di kamar itu, Niki juga menolak keras. Akhirnya aku ke kamar mandi, sekalian buang air mencoba ‘ngeluarin sendiri’.

Aku menyabuni batangku yang sangat tegang, denyut-denyut kenikmatan baru mulai menjalar saat kudengar senandung suara merdu Niki di sebelah. Seperti umumnya rumah kuno di Solo, kamar mandiku berukuran besar dan tinggi. Begitu jaman berubah, kamar mandi itu disekat dua dengan tembok setinggi 2 meter, tapi masih tersisa ruang terbuka sekitar satu meter di atasnya. Sekarang Niki berada di kamar mandi sebelah terpisahkan dinding, sambil bersenandung kecil membasahi tubuhnya dengan siraman air.

“Kamu mandi Ki..?” aku memanggil pelan.

“Ehh.. Kamu ngapain Mas..?” jawabnya, berhenti menyiram.

“Sstt.., jangan berisik yaa.., aku mau ke situ..!”

Dengan susah payah aku memanjat pemisah untuk menyeberang ke sebelah. Niki membantuku turun dari tembok. Niki dengan tubuh indahnya kini berdiri di hadapanku. Rambutnya yang baru disiram jatuh di belakang telinganya, dengan sisa-sisa air menetes lewat leher yang jenjang terus mengalir ke bahu dan dadanya yang bulat merangsang. Ia memandangku dengan sorot tidak percaya.

“Dasar nekat..” ia bergumam.

Tanpa basa basi aku langsung memeluknya, menciumi bibirnya yang merekah segar. Sambil aku merasakan kesegaran tubuhnya yang basah, aku merengkuh dan meremas pantatnya yang kenyal, membuat tubuh bagian bawahku menggesek bawah perutnya. Niki mengelinjang dalam pelukanku, menikmati gesekan di sekitar daerah sensitifnya.

“Ssstt.. bersihin dulu..!” ia melepaskan diri dari pelukan, lalu menyirami tubuhku dengan air segar dan menyabuninya dengan lembut seperti memandikan anak kecil.

Tangannya yang dipenuhi busa sabun dengan telaten menggosoki seluruh bagian tubuhku, memberikan sensasi kenikmatan yang luar biasa. Saat tangannya menyabuni penisku yang tegang, nafsuku sudah memuncak. Tidak tahan lagi Niki langsung kududukkan di pinggir bak mandi, lalu kuciumi vaginanya dengan bernafsu. Dengan sebelah kaki bertumpu di pundakku, Niki menggelepar oleh sentuhan lidah di klitorisnya yang mengembang sebesar kacang tanah.

Aku tidak berlama-lama, setelah cairan birahi memenuhi kemaluannya kusuruh ia menungging berpegangan bibir bak mandi, lalu aku menyodok masuk dari belakang. Nafsu yang tertahan semalaman ditambah kehebatan gerakan Niki luar dalam (di luar: goyangan pantatnya, di dalam: remasan vaginanya) membuat denyut-denyut kenikmatanku meningkat dengan cepat. Dalam waktu singkat kenikmatan yang meggumpal di kepala kemaluanku menyembur, diselesaikan dengan pijatan vagina Niki yang merata di seluruh batangnya. Aku lemas tapi harus memanjat kembali. (Sorry Ki, ML kilat, aku keluar duluan, dan kamu belum).

************

Variasi Ruang belajar :

Niki

Di rumah, kami biasa bercinta dimana saja, tapi tempat yang jadi favorit adalah ruang belajarnya yang berfungsi rangkap sebagai tempat bertengkar, diskusi, sampai tempat untuk eksperimen berbagai variasi persetubuhan.

Satu saat aku sedang di ruang belajar, asyik di depan komputer. Ia duduk di sudut dan tumben pakai daster. Aku mengalihkan pandangan ke tempat Niki yang duduk menyilangkan kaki.

“Tumben pake daster Ki..?” aku menyapa.

Ia tidak menjawab hanya melempar pandangan nakal sambil mengangkat kaki kirinya perlahan lalu disangkutkan di lengan kursi, tepi dasternya ikut terangkat, dan astaga.. ia tidak pakai CD, dan terpampanglah pemandangan indah di depanku.

Bibir kemaluannya yang tebal ditumbuhi rambut halus menggunduk di hadapanku. Dengan mengangkat kaki, kemaluan itu merekah menantang membuat klitorisnya yang merah coklat mengintip dari belahan vaginanya. Aku langsung terangsang, kuhampiri pangkal paha Niki yang mengangkang.

Mula-mula kucium lutut kirinya yang tersangkut di lengan kursi, lalu perlahan merambat menyusuri bagian dalam paha menuju pangkalnya, sementara itu jari-jariku menyentuh bibir kemaluannya yang tebal, menggosoknya dan meremas lembut. Saat bibirku mencapai pangkal pahanya, tanganku beralih menyusup ke atas, meremasi buah dada dan memilin putingnya. Sementara lidah menjilati klitorisnya, jariku yang lain menyelusup dan mengocok liang kemaluannya.

Sambil menjerit-jerit kecil, Niki menjambak habis rambutku.

“Udah Yaang.., masukin yang ituu..!” ia mulai merintih-rintih keenakan.

Dengan berjongkok aku mengarahkan batangku ke liang nikmatnya. Dalam posisi sulit karena kursinya kependekan, kemaluanku berhasil juga menyumpal mulut liangnya. Niki meremas lenganku saat kemaluanku perlahan mendesak memenuhi lorong nikmat yang dindingnya berdenyut-denyut. Dengan berlutut aku menggoyang pinggul maju mundur, mengocok liangnya yang menjepit erat penisku. Saat kakinya memeluk pinggangku dengan ketat, aku muncrat dengan penis menancap penuh di vaginanya yang sudah orgasme duluan.

Tempat lain adalah ruang atas. Ini dimulai saat pembantu Niki pulang kampung. Di rumah ada beberapa sepupu Niki yang membantu dan aku pun ikut menemani. Keleluasaan kami tentu saja berkurang, aku harus berpakaian lebih ‘sopan’. Salah satu kegiatan kami hari itu adalah mencuci pakaian berdua, aku pakai celana pendek dan Niki memakai kain yang dililitkan di pinggul (aku tahu pasti tanpa CD). Selesai mencuci pakaian, aku dan Niki menjemur di lantai atas, sementara para sepupu sibuk di bawah.

Kamar pembantu terletak di depan jemuran. Selesai aku menjemur Niki sudah menunggu di pintu kamar itu, senyum-senyum sambil memegang minyak lulur di piring kecil. Aku tahu tujuannya, langsung aku menyusul masuk. Saat aku mengunci pintu, Niki sudah melepas kain dan kaos, dan kini telentang telanjang di pembaringan. Sebelah tangannya mengusap dadanya yang besar membusung, sementara di pangkal pahanya yang mengangkang, vaginanya merekah dengan bibir yang tebal menggunung, menyembulkan kelentitnya yang mulai menonjol.

Aku langsung buka celana, membasahi jariku dengan minyak, lalu kulumurkan di mulut vaginanya (Berdasarkan eksperimen, minyak ternyata paling efektif untuk ‘Cinta Kilat’). Niki memejamkan mata menikmati olesan jariku yang penuh minyak itu, sambil bibirku spontan melumat dadanya yang membusung, menonjolkan putingnya yang mencuat. Sementara itu tanganku yang lain meminyaki dan mengurut kemaluanku sendiri yang sedikit demi sedikit mengeras.

Jariku kugetarkan dengan sedikit tekanan di klitorisnya. Niki mendesah memejamkan mata, tangannya membantu tanganku yang mengocok kelentitnya untuk mendapat irama yang tepat. Jariku merasakan benda itu makin membesar dan keras, sementara dadanya yang kulumat sudah penuh bintik-bintik birahi.

“Yaang, masukin sekarang..!” Niki berbisik.

Tanpa melepaskan jari dari klitorisnya, kemaluanku kutempelkan ke liang vaginanya, lalu perlahan kutusukkan. Sepasang kemaluan berlumur minyak, yang disesaki birahi memuncak akhirnya saling mendesak dan mencengkeram ketat. Aku menggenjot dengan cepat dengan jari tetap menggosok klitoris dalam irama dan tekanan yang tepat. Niki menggoyang pinggulnya dalam putaran-putaran kecil yang dahsyat. Seiring dengusan napas cepat, kami melepaskan gelombang birahi di puncak pendakian.

Sesudahnya, setiap dua hari kegiatan mencuci dan menjemur pakaian jadi favorit kami. Sejujurnya hubungan kami semakin aneh. Ia masih berhubungan dengan Aji dan Fendi, dan logikanya pasti juga cukup ‘dalam’. Tapi aku seperti tidak perduli, aku tetap ngotot ingin memperisterinya. Ia sendiri tetap ingin dekat aku, tapi enggan menjadi isteriku. Alasannya beberapa orang yang ingin menikahinya, Aku, Aji dan Fendi saling kenal baik, dan pasti yang lain tidak mau terima kalau ia memilih salah satu. Pilihan terakhir yang netral, katanya, adalah menikah dengan orang yang sama sekali baru.

Aku tentu saja tidak dapat mengerti logika itu hingga beberapa kali kami bertengkar sampai memutuskan untuk tidak ketemu. Tapi hanya bertahan beberapa hari kami sudah saling mencari, entah aku atau dia yang duluan menghubungi. Dan ujung-ujungnya berakhir dengan kemaluanku yang tegang amblas ke vaginanya yang basah. Lalu sambil berpelukan kami saling berjanji untuk tidak berpisah lagi, tidak saling menyakiti.

************

Variasi Penyimpangan :

Satu saat aku sakit, sehingga harus istirahat di rumah dan harus tinggal di tempat tidur, jenuh tapi apa boleh buat badanku lemas sekali. Untungnya selama itu Niki tidak pernah absen menelpon, suaranya mengobati kejenuhanku, tapi kerinduan pada remasan saktinya justru semakin menggebu. Hari ketiga tenagaku sudah pulih, maka saat Niki mengabari akan menengok aku senang bukan main, batangku langsung bangun.

Kebetulan aku baru dapat hadiah handycam yang pakai remote control, terpikir olehku untuk merekam kedatangan Niki dengan handycam-ku. Lalu terpikir lagi, kenapa tidak direkam lagi striptease? Tapi apa dia mau? Lalu, kenapa tidak sekalian bikin triple-X? Aku langsung membersihkan kamar, menyiapkan peralatan handicam, meletakannya di tempat strategis sehingga dapat menangkap seluruh isi tempat tidur dan dapat dikontrol dari sana. Kucoba beberapa kali, setelah lancar lalu aku mandi. Handycam dalam posisi ‘REC’ tapi ku-‘PAUSE’.

Niki datang jam 4 sore dan kusambut di bawah (kamarku di lantai atas). Setelah berbincang-bincang sebentar dengan ibuku, ia lalu kuajak ke atas.

“Iya.. sana di kamar aja, Masnya masih lemes tuh..!” kata ibuku.

Di kamar aku langsung disuruh tiduran oleh Niki, “Kamu masih lemes, nanti aku dimarahin Ibu.” katanya.

“Mana lemes..? Ini malah kaku.” kataku sambil mengangkat sarung, menunjukkan batangku yang sudah berdiri tegak.

Niki hanya tersenyum sambil membelai benda kesayangannya itu.

“Kalo mijit aku belum kuat, tapi kalo ngusapin aja sih mampu!” kataku melanjutkan.

Sambil batangku dibelai, kucium bibirnya dengan lembut. Niki terpejam menikmatinya. Ia membiarkan tanganku membuka pakaiannya. Sementara itu dengan remote kulepas Pause handycam-ku, rekaman mulai jalan!

Kerinduan yang menyesak membuat kami bergumul liar. Aku yang belum pulih benar lebih banyak telentang di bawah. Niki yang tidak terbiasa blowjob kali ini begitu agresif, ia menciumi dan menghisap batangku dengan jilatan-jilatan yang (ternyata) luar biasa, membuat batangku sekeras tongkat komando.

Setelah puas ia berjongkok membelakangiku yang telentang, mengangkang di atas wajahku sedemikian rupa sehingga vaginanya tepat di atas mulutku. Sambil tangannya membelai batang kemaluanku, vaginanya menganga menempel di bibirku. Aku tinggal menjulurkan lidah, Niki yang mengatur kecepatan dan tekanan klitoris pada lidahku dengan gerakan pinggulnya maju mundur, sekali-kali ia menekan klitorisnya keras-keras, dan bibirku menangkap dan menghisapnya.

Sesaat kemudian Niki mulai terengah-engah, belaian pada batangku sudah berubah jadi remasan kuat. Ia menekankan bibir kamaluannya yang sudah tebal ke bibirku dan menggoyang-goyangkannya, hingga mulutku megap-megap dibanjiri cairan vaginanya. Lalu ia bergerak maju ke arah kakiku, mengangkang di atas kemaluanku dan menancapkan batangku ke dalam liangnya.

Jepitan yang nikmat mencengkeram batang kemaluanku, lalu ia menggoyangkan pinggul dengan ayunan cepat dan pendek-pendek, aku terlonjak-lonjak dibuatnya. Tidak berapa lama ia mengejan, dilanjutkan dinding vaginanya meremas batangku dari pangkal sampai ke ujung dengan remasan saktinya.

Perlahan Niki rebah ke samping tanpa mencabut batangku yang masih keras, lalu dalam posisi menyamping itu aku menggenjot teratur, membuat batangku yang keluar masuk di liangnya membengkak dijejali rasa nikmat yang mendesak. Akhirnya cairanku menyembur dengan melambungkan kenikmatan ke ubun-ubun.

Mestinya aku diam-diam saja menyimpan rekaman itu. Tapi karena aku tidak biasa berahasia dengannya, maka saat mau pulang kutunjukkan hasil rekaman itu padanya. Lewat monitor kecil di handycam kami menonton adegan demi adegan percintaan kami sampai selesai. Film itu diminta Niki, aku setuju saja, lalu di depanku kaset itu dirusak, pitanya dipotong-potong.

************

Variasi Bimbang : Juni 1995 ..

Keputusan Niki mencari orang baru untuk kandidat suami rupanya serius. Hari itu aku menginap di rumahnya, Niki cerita bahwa ia segera menikah dengan seseorang. Sambil kupijat dan kuminyaki tubuh telanjangnya, dengan semangat ia menceritakan Nirwan, calonnya itu. Saat jariku mengocok liang vaginanya yang basah, ia meminta ijinku, tepatnya memberi tahu, untuk menikah dengan laki-laki itu.

Sambil batangku membenam perlahan di lubangnya, kujawab bahwa aku tidak keberatan ia menikah dengan pilihannya asalkan ia yakin akan bahagia, kalau tidak lebih baik menikah denganku. Dan sambil bergoyang liar, merintih tersengal-sengal, Niki meyakinkanku bahwa ini pilihan terbaik. Akhirnya, sambil saling menumpahkan puncak kenikmatan, kami berpelukan saling membisikkan kata cinta.

Sejak itu hariku bersamanya mulai berkurang, ia mulai sibuk dengan cowok barunya. Jatahku ketemu semakin minim, benar-benar hanya seminggu sekali. Tapi waktu yang pendek itu benar-benar termanfaatkan sepenuhnya untuk bermesraan, kadang kami tiga kali bersetubuh dalam satu pertemuan. Malah dalam perasaanku, setelah punya pacar resmi Niki semakin ganas dan liar dalam berhubungan.

Pernah juga kami jalan Sabtu siang, Nirwan sedang punya acara kantor sampai malam, jadi Niki agak bebas. Kami berenang di HI yang saat itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa bule dan pasangan lokal. Niki sebenarnya tidak dapat berenang, jadi kami hanya berendam. Niki menggelayut di lenganku sambil bergerak ke sana kemari di dalam kolam. Sentuhan buah dadanya di lenganku lama-lama membuatku terangsang, apalagi di bawah air sekali-sekali tubuh bawah kami bersentuhan.

Aku membawa Niki ke tepi, lalu sambil bergelayutan di tepi kolam, pangkal pahanya kuarahkan ke semburan air hangat di dinding kolam.

“Iiih.. enaak.. anget..!” Niki membisiki.

“Memang..!” sahutku, tanganku meraih gundukan bibir vagina di celana renangnya, lalu jari-jariku kugesekkan di celahnya untuk mencari kelentitnya.

“Aahh..” Niki hanya mendesah sambil melebarkan kakinya, menikmati gesekanku di belahan vaginanya, terutama pada kelentitnya yang mengeras.

Kolam mulai ramai, maka kami naik berteduh di gazebo yang paling pojok. Niki rebah telentang di kursi panjang, aku di sebelahnya sambil mengurut pahanya. Aku berusaha mengambil posisi agar tanganku terhalang dari pandangan orang lain. Niki menekuk sebelah kakinya, walau tidak telalu mencolok tapi pangkal pahanya sedikit mengangkang, memudahkan pijatanku nyelonong ke gundukan kemaluannya. Beberapa waktu kemudian akhirnya kami memutuskan untuk check-in, sekalian makan siang di kamar.

Masuk ke kamar kami langsung melepas pakaian dan melemparkannya jauh-jauh, lalu dalam telanjang kami bergulat liar. Hasil foreplay berjam-jam di kolam renang membuat batangku tegang terus menerus dan vaginanya yang menggunduk keras dibanjiri cairan birahi, sementara kelentitnya sejak tadi sudah menonjol kencang. Kami sudah tidak memerlukan pemanasan lagi.

Niki tergeletak miring dengan kaki kiri menggantung di pundakku. Aku mengarahkan batang kemaluanku ke liangnya yang menganga dengan posisi menyamping. Dengan posisi ini jari kiriku dapat leluasa menyentuh klitorisnya, sementara batangku dapat membenam maksimal di liangnya. Niki mengerang dan terlonjak-lonjak saat kemaluanku bergerak keluar masuk di liangnya diiring gosokan jariku di kelentitnya.

Goyangan Niki yang liar memilin kemaluanku dengan ketat, membangkitkan rasa nikmat yang semakin memuncak. Remasan-remasan dinding vaginanya semakin efektif dengan posisi ini, membuat gelombang kenikmatan yang menggebu menjebol benteng pertahananku. Aku membenamkan batangku dalam-dalam saat spermaku menyembur bersama meledaknya rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuh. Untunglah Niki juga segera mencapai orgasme, diiring jeritan dan rintihan silih berganti. Kukunya mencengkeram lenganku, sementara vaginanya menjepit ketat dan memeras penisku hingga tuntas.

Setelah makan kami beristirahat sebentar, lalu bercumbu lagi sepuasnya sampai kami benar-benar puas. Menjelang jam sembilan malam Niki kuantar pulang dengan mata setengah terpejam akibat kelelahan dan kenikmatan. Sampai di rumah, pas cowoknya mau pulang dari kantor. Akhirnya mereka keluar juga entah kemana, yang kutahu Niki sudah lemas sekali dan pastinya ‘males ngapa-ngapain’.

Aku sangat menghargai keputusan Niki, tapi sebagai lelaki (yang sudah sangat dimanjakan dengan berbagai kesenangan) aku tetap cemburu dan penasaran. Diam-diam aku mencari berbagai informasi tentang Nirwan melalui jaringan koneksiku. Hasilnya sungguh mengecewakan, karena ternyata si Nirwan itu tidak seperti yang kubayangkan (sorry tidak dapat cerita banyak, pokoknya brengsek lah!). Aku sungguh tidak rela kalau Niki akhirnya jatuh ke tangannya, tapi tentu tidak etis kalau aku mengadu kepadanya soal investigasiku, ini yang membuatku bingung dan tetap belum rela melepaskan (alasan klasik yaa..!).

Karena acara mengikuti misi kesenian ke Bandung, aku dan Niki sibuk beli ini itu untuk persiapan, dilanjutkan packing pakaian dan perlengkapan sampai malam. Aku tidur di rumahnya, tapi karena kecapean kami tidak sempat menyalurkan hasrat, maka paginya batangku keras sekali. Sambil kencing barangku kucuci bersih tapi tetap keras mencuat di balik celana pendek, yah.. apa boleh buat!

Aku mendaratkan pantatku di sebelah Niki yang duduk di sofa sambil nonton berita pagi. Bantal kuletakkan di pangkuan supaya keteganganku tidak tampak oleh pembantu yang mondar mandi di sekitar kami. Saat si Sri (pembantu itu) pindah menyapu teras, kutunjukkan pada Niki ketegangan barangku dengan mengangkat bantal.

“Iih.. keras banget..!” katanya saat meremasnya, ia juga menunjukkan putingnya yang bangkit membayang di balik kaos tipisnya.

Lewat lengan kaosnya yang longgar tanganku menyusup mencari puting yang mencuat, sementara ia terus mengurut penisku. Niki mulai menggeliat, tanganku pindah mengusap pahanya, terus menyusup ke dalam celana pendeknya yang longgar. Aku berhasil mencapai klitorisnya. Niki merintih sambil membaringkan tubuhnya di sofa untuk memudahkan pencapaian tanganku ke kemaluannya.

“Yang.., jangan nekat.. ada si Sri tuh..!” Niki mencoba bertahan dengan mulut kemaluan yang berangsur semakin basah oleh sentuhanku.

Ia mengangkat kepala mengamati posisi Sri yang kini menyapu halaman.

“Bentar lagi dia selesai lho..” Niki berbisik mencegahku, tapi pahanya makin mengangkang dan celana longgarnya makin tersingkap.

Posisi itu makin memudahkan jariku menjelajahi kemaluannya. Dengan ibu jari kugesek klitorisnya seraya jari tengahku amblas ke dalam liangnya yang sudah licin berdenyut.

Niki merintih saat jariku keluar masuk di liangnya, sementara jempolku menggetarkan kelentitnya.

“Udah gitu aja, enak Yaang..!”

Aku yang sudah keras dari tadi mana dapat ditahan, kukeluarkan senjataku lalu lewat sela-sela celananya kepala penisku menyumpal di mulut vaginanya.

“Aahh.. Yangg.. nekaatt kamuu, udaah cepetan..!”

Niki mengubah posisi jadi agak menungging, tangannya bertumpu di lengan sofa seperti orang push-up. Dengan tangan bertumpu di sandaran sofa, kutekan batangku hingga amblas di liangnya yang sempit. Niki merintih sambil menggoyang dan meremas dengan vaginanya, matanya tetap memantau ke pekarangan. Sementara sambil batangku keluar masuk di liangnya dengan cepat, jariku terus merangsang kelentitnya.

Dalam waktu beberapa menit ia orgasme dan aku menyusul tidak lama kemudian. Inilah orgasme tercepat dalam riwayat persenggamaanku. Saat Sri selesai menyapu, kami juga sudah selesai merapikan bekasnya.

Dalam perjalanan ke Bandung Niki kelelahan, tidur terus di bis. Di sana kami sibuk sehingga tidak ada yang penting diceritakan, lagi pula Niki jatuh sakit. Sepulang dari Bandung aku dapat laporan dari sumberku tentang Nirwan yang dapat JOB besar dari ‘bisnis pentungannya’ (sorry lagi Ki, aku tidak cerita ke kamu).

Tapi akhirnya sial buat dia, karena Niki memergokinya kencan dengan sahabatnya, orang yang justru mengenalkan mereka. Niki marah besar dan bubar..! (Aku bersyukur, Niki tidak jatuh ke tangan gigolo tanggung. Pernah kucoba mengorek dari Niki soal ‘kehebatan’ permainan Nirwan yang profesional, maksudnya untuk kutiru. Tapi Niki tidak pernah mengaku, ia malah bilang aku lah yang terhebat. Bener nggak sih!)

#########################

III. Babak Ketiga : Terbaik Untuk Semua

Sepeninggal Nirwan, hubunganku dengannya tenang-tenang saja, acara bercinta melepas kerinduan berjalan lancar, rutin tapi penuh variasi. Seringkali aku mengantar atau menyusul ke kampusnya sekedar agar dapat jalan bersama.

Sementara aku sulit menghilangkan kecanduanku pada remasan saktinya, Niki juga punya ketergantungan tinggi terhadap pijatanku. Maka saat pulang dari kampus, biasanya Niki mengemudi dan aku duduk di jok belakang jok, lalu dengan kedua tangan aku memijat leher dan punggungnya. Niki sangat menikmatinya, apalagi bila saatnya aku melepas kaitan BRA, kedua tanganku menyusup ke dada memilin putingnya.

Niki memang driver yang hebat, sambil mendesah-desah menikmati sentuhanku ia tidak kehilangan konsentrasi mengemudi. Bahkan saat jok sebelah direbahkan hingga rata, dan dari situ aku dapat menjangkau pangkal pahanya dengan tanganku, sambil menggelinjang dan mendesah Niki tetap mengemudi dengan stabil.

Posisi ini termasuk favorit. Bayangkan, kakiku di jok belakang sementara badan menggeletak di jok samping yang direbahkan. Rok disingkapkan sebatas panggul hingga tanganku dapat memeluk paha kiri sambil menciuminya. Kaca mobil yang gelap membuat seolah Niki sendirian di mobil, sementara dengan leluasa jariku dapat menggosok vaginanya (yang kadang terbungkus CD kadang tidak) sampai basah. Niki tinggal mengatur duduknya agar cukup mengangkang. Saat-saat dibutuhkan menginjak kopling, kaki kirinya diturunkan, lalu sesudahnya dikangkangkan lagi, dan kembali jariku dapat bekerja.

Posisi ini dapat memberikan sensasi kenikmatan lama sekali (pernah sampai beberapa putaran tol dalam kota!) tanpa orgasme. Maka sesudah beberapa jam berputar-putar, seringkali kami tidak tahan lagi untuk menyelesaikan dengan permainan akhir, kami mendarat di mana saja yang paling dekat.

************

Oktober 1995 ..

Niki kembali cerita bahwa ia akan dikenalkan pada seseorang dalam acara ulang tahun saudaranya. Aku tidak terlalu perduli, kupikir paling-paling seperti model Nirwan. Untuk persiapannya Niki kuantar mencari kado, lalu ke salon untuk potong rambut. Kami tidak sempat pulang, jadi Niki dandan di mobil yang parkir di tempat tersembunyi. Kulayani ia berhias dengan beraneka perlengkapannya, bahkan saat ganti pakaian kubantu merapikannya (Saat membuka jeans sempat kurangsang kemaluannya sebentar, dan ia suka). Aku mengantarnya lalu turun di jalan sebelum ia masuk ke kompleks yang dituju.

Aku baru tiba di rumah saat Niki menelpon, ternyata ia hanya sebentar di tempat pesta. Ia tidak antusias menceritakan Yogi, cowok baru itu, berbeda dengan Nirwan yang diceritakan dengan menggebu-gebu. Untuk mengurangi kekecewaannya, kusemangati ia dengan komentar yang menyejukkan.

Beberapa hari kemudian aku ketemu dan diperkenalkan dengan Yogi. Ia memang tidak seganteng Nirwan, tapi kurasakan ia jujur dan tegas, hal yang diperlukan Niki. Aku sendiri dapat mengobrol enak dengannya, dan ia nampaknya mempercayaiku. Niki tampaknya mencoba serius dengan Yogi, walaupun jatahku masih dipenuhi.

************

Pilihannya : Januari 1996 ..

Kepastian hubungan Niki dan Yogi kuperoleh saat ia kuajak ‘one night sailing’ dengan Awani Dream. Kapal pesiar yang lagi ngetop itu sengaja kupilih untuk mendapat suasana yang nyaman dalam berbincang. Sambil duduk-duduk di anjungan kapal, Niki cerita bahwa ia sudah memutuskan untuk menikah dengan Yogi, sehingga ia harus serius mempersiapkannya.

“Persiapan apa yang kamu rencanakan Ki..?” tanyaku.

Niki menarik napas berat, “Aku harus beresin semua urusan dengan cowok, termasuk Aji dan Fendi. Aku harus siap ditemani dia tiap hari, bukan lagi kamu, untuk segala macam urusan. Aku juga harus belajar cara hidup dia, karena akan jadi cara hidup kita nantinya.”

Niki menjelaskan dengan tenang, tegas dan dewasa. Matanya memandang jauh ke tengah laut.

Kupeluk tubuhnya yang terbungkus jaket, kumainkan anak rambut di keningnya.

“Jadi, hubungan kita sampai disini saja..?” aku menegaskan.

“Enggak gitu Mas, aku pengennya masih seperti biasa. Bedanya aku nggak bisa lagi nyediain waktu rutin, tapi setiap saat aku punya waktu luang kita bisa bersama. Niki masih butuh kamu Mas! Cuma yang jelas kita nggak bisa lagi seperti kemarin-kemarin.” ia menjawab.

“kalau ini baik buat kamu..,”

“Mudah-mudahan yang terbaik. Yang paling berat, aku harus belajar nggak tergantung kamu, kita musti pelan-pelan belajar berjauhan..!”

Sambil menghela napas, Niki mengahiri penjelasannya.

“Mulai sekarang..?” tanyaku sambil melepas pelukan, menjauhkan badanku.

“Ya enggak dong..! Kamu nih.. ada-ada aja..!” sahutnya sambil menarik tanganku yang melonggar dari pundaknya, tangan satunya dengan nakal mengusap celanaku bagian depan, dengan dilindungi jaketnya ia mulai meremas-remas.

Batangku mulai menggeliat seperti kena setrum, maka pembicaraan serius pun selesai.

“Ayo turun..!” kataku sambil menyeretnya dari anjungan.

Kami berjalan sepanjang lorong kapal, ber ‘hello’ kepada siapa saja yang ketemu atau hampir ketabrak karena kami berjalan setengah berlari.

Begitu masuk ke kamar, kami langsung berciuman ganas. Lidah kami saling membelit, sementara tanganku melucuti pakaiannya hingga yang tersisa tinggal CD. Aku terpaksa melepas ciuman untuk membuka pakaianku lalu melemparkannya jauh-jauh ke tempat tidur. Di balik celana dalam yang tipis itu terlihat bulu-bulu halus di pangkal pahanya yang mulus, juga dadanya yang besar terpampang di wajahku, mengundang tanganku untuk meremasnya.

Niki melonjak saat jari kiriku menyentuh permukaan liang nikmatnya yang mulai basah. Aku mencium bibirnya lagi, sambil kugerakkan perlahan jari tengahku menyusup di balik CD-nya, kugerakkan naik turun menggosok permukaan vaginanya yang semakin basah.

Masih sambil berdiri, kupindahkan ciumanku ke bukit kembarnya, membuat napasnya makin tidak beraturan. Kucium belahan dadanya, lalu kujilat puting susunya, kumainkan lidahku di sana dan kurasakan napas Niki semakin memburu menghembus kepalaku. Tangan kiriku yang menggosok permukaan liangnya, bergerak ke bawah membuka CD Niki. Ia merenggangkan kaki dan memudahkan CD-nya meluncur turun, kudorong dengan lutut sampai merosot lepas. Kembali tangan kiriku menuju selangkangannya, dengan jari tengah kuusap lembut permukaan liang kemaluannya yang tidak lagi terbungkus apa-apa.

Jari telunjuk dan jari manisku kugunakan untuk membuka liang kemaluannya lebih lebar, sedangkan jari tengahku menyusup ke bagian tengahnya yang hangat dan berlendir, mengocoknya keluar masuk perlahan. Niki mengerang sambil berusaha mengatur napasnya yang semakin memburu. Itu tidak berlangsung lama, karena beberapa saat kemudian tubuh Niki menggelinjang hebat seperti kehilangan keseimbangan. Kulepas tanganku dari liang kemaluan dan kupeluk tubuhnya untuk mencegah jatuh. Lalu kubaringkan di atas tempat tidur. Niki terbujur lurus sambil menarik napas panjang-panjang, menikmati sisa orgasme pertamanya.

Aku tidak tahan lagi, kutindih Niki dari atas dan kuarahkan kepala penisku ke permukaan liang kemaluannya, kugosok-gosokkan perlahan, dan begitu kutemukan liangnya, kudorong pinggulku sedikit sehingga kepala kemaluanku masuk ke dalam. Niki mendesah sambil memelukku lebih erat, bibirnya melahap bibirku seraya memainkan lidah di mulutku.

Kugoyang-goyangkan pinggulku tapi tidak kutekan, sehingga kepala kemaluanku berputar menggilas mulut vaginanya. Niki mengelinjang sambil melenguh, sepertinya ia sudah terangsang lagi.

Ia berbisik di telingaku, “Abisin.. Mas, cepetan.. sekarang..!”

Niki sudah tidak sabar, begitu pula aku.

Sekali lagi kudorong pinggulku dengan sedikit menghentak, kemaluanku melesak sekitar setengah batang. Niki mendesah panjang, kurasakan batang kemaluanku basah oleh cairan birahi. Rasanya hangat dan nikmat karena dinding liang vaginanya memijit-mijit seperti menghisap batang kemaluanku ke dalam. Dalam posisi tertanam setengahnya, kugoyang penisku perlahan, Niki mengangkangkan paha dengan menggenggam kedua pergelangan kakinya. Lalu penisku meluncur perlahan di lorong nikmatnya sampai seluruhnya amblas. Niki mengerang perlahan, kemudian berdesah panjang.

Aku mulai mengocok liang kemaluannya dan Niki mendesah-desah keenakan. Semakin lama kocokanku semakin kencang, dan desahan Niki yang tadi perlahan kini berubah menjadi jeritan-jeritan kecil. Kapal mulai melaju di laut lepas, membuat goncangan-goncangan kecil yang konstan, mengayun tubuh kami dalam buaian yang mengasyikkan.

Beberapa menit kemudian, kurasakan kenikmatan mendesak di ujung kemaluanku, dan kupercepat kocokanku. Niki sendiri semakin liar mencakari punggungku. Lalu seiring benturan gelombang yang memecah di lambung Awani Dream, gelombang birahiku menyembur, membasahi liang vagina Niki yang menggelinjang hebat, kami orgasme bersama.

Malam itu kami menghabiskan waktu nyaris tanpa tidur. Selesai nonton kabaret, kami berkaraoke, nonton film, kembali ke kamar dan bercumbu lagi. Paginya kami pulang sama-sama lunglai namun dengan senyum kepuasan. Lembaran baru sudah menanti untuk dijalani.

Hari-hari selanjutnya merupakan ujian berat untukku, di kantor Niki sudah memproklamirkan Yogi sebagai calon suaminya, sehingga aku berusaha untuk tidak terlalu sering kelihatan bersamanya. Aku terpaksa mencari kesibukan lain. Beberapa kali memang Niki punya waktu kosong. Dan itulah hari bahagiaku karena Niki ternyata tidak berubah, ia masih ganas dan liar saat bercinta denganku apalagi dalam waktu yang terbatas. Gejolak birahinya dapat kurasakan lewat remasan vagina pada batang kemaluanku, juga garukan dan cakaran di punggungku.

Pernah juga, kami pulang dari Bogor dan hanya punya waktu sangat singkat, setengah jam, pas seukuran waktu tempuhnya. Menjelang masuk tol kami sudah saling remas, tangan Niki parkir di selangkanganku, sementara aku meremasi buah dadanya. Selewat tol Bogor, Niki membelokkan mobil ke tempat istirahat, lalu menuju WC umum, aku menunggu di mobil. Seperti kuduga, saat Niki kembali CD dan BRA-nya sudah pindah ke dalam tas.

Saat antri keluar dari daerah istirahat, kancing blus tersisa tinggal yang paling atas, memudahkanku meremas buah dadanya yang kencang. Mobil melaju perlahan di jalan tol, kepalaku menyusup di pangkuan Niki untuk menghisap putingnya yang keras. Dengan duduk agak merosot dan kaki kiri di kangkangkan, Niki mengendalikan laju mobil dengan piawai. Aku tiduran di paha kirinya, tangan kiriku leluasa menjelajahi liang kemaluannya yang basah sambil bibirku menghisap putingnya.

Niki merengek saat jariku menyusup, mengorek liang vaginanya. Aku berusaha mencium vaginanya, kusuruh Niki agak maju dan lebih mengangkang. Dengan menekuk leher, susah payah bibirku berhasil mencapai kemaluannya. Saat lidahku semakin kuat menjilati klitoris bersamaan dengan kocokan jariku di liangnya, Niki menjerit lalu mengejang. Pertama kalinya Niki orgasme sambil mengemudi!

Kami jalan pelan menghabiskan sisa waktu, Niki mengeluarkan batang kemaluanku dari celana, berusaha mengocok untuk penyaluran ketegangannya, tapi sisa waktu tidak memadai. Aku turun sekitar 2 km dari rumahnya lalu naik taksi.

************

Maret 1996 ..

Niki

Sekarang ini Niki tiap hari ditelpon Yogi di kantor, dan pulangnya selalu dijemput. Sementara itu tempat nyaman untuk Niki menerima telpon adalah di ruanganku. Saat-saat Niki ngobrol di telpon perasaanku seperti diiris-iris tapi aku pikir ia sedang melatihku menerima kenyataan. Positifnya, setidaknya aku masih dapat memandangnya kalau duduk di dekatku.

Untungnya aku punya banyak foto Niki yang kujepret sendiri, berapa dalam pose yang cukup merangsang. Ini modalku untuk onani kalau ‘kebutuhan’ sudah sangat mendesak. Niki pernah juga menanyakan soal ‘kebutuhan’ ini dan kujawab apa adanya. Lalu suatu malam ia menelpon ke HP-ku.

“Mas, kamu di kamar?” tanyanya.

“Ia, lagi mandangin foto kamu.” jawabku.

“Yang dadaku terbuka..?” lanjutnya.

“Iya, sama satunya lagi yang di kursi.” jawabku lagi.

“Ooo.., yang aku lagi ngangkang..?” ia menegaskan.

“Ciumin dong dadaku.., pentilku..,” ia berbisik dengan mendesah, kuberi kecupan lewat telpon, lalu, “Jilat dong memekku.. aku kangen.. bajumu aku buka yaa.. dada mu kucium..,” desahannya menggiringi fantasiku.

Niki terus mendesah dengan membisikkan kata-kata erotis membuat khayalanku melambung, dengan dibantu baby oil cepat sekali aku orgasme.

************

Siasatnya : Mei 1996 ..

Jadwal kesibukan Niki yang ketat akhirnya cair juga, deadline skripsinya membuat kami harus sering ketemu. Bahkan Yogi memintaku membantu untuk penulisan (pasti ini siasatnya Niki), karena ia tidak dapat banyak membantu. Maka disusunlah jadwal penyelesaian tugas akhir, isinya antara lain jadwal membahas materi, ketemu dosen pembimbing, pengetikan, revisi dan sebagainya.

Kejadiannya, hampir tiap hari aku bersama Niki mengerjakan berbagai hal berkaitan dengan skripsinya. Ada saja urusannya, kadang hanya di kantor, kadang ke rumah dosen, kadang harus keluar mencari bahan-bahan. Yogi biasanya menjemput, kecuali kalau kegiatan di luar kantor. Yang rutin adalah hari Sabtu, biasanya aku dan Niki kerja seharian di ruanganku ditemani Yogi.

Kebersamaan ini membuatku ‘kumat’ lagi. Bahkan yang lebih parah, menurut Niki sekarang aku ‘nakal’. Pada setiap kesempatan aku mencoba untuk menyentuhnya. Niki tidak menolak, hanya sedikit ‘risih’ dengan kenekatanku.

Misalnya bila Niki mendatangiku, sambil ia berdiri di samping meja tanganku pasti menyusup ke sela-sela pahanya, menggosok belahan mulut kemaluannya.

Niki mengomel, “Awas keliatan orang..!” tapi ia tidak beranjak, justru berdesis menikmati dengan mata terus melirik ke seluruh ruangan takut kepergok.

Sekali waktu saat libur, aku memproses data survey dan Niki memeriksanya, Yogi meninggalkan kami berdua karena ada keperluan. Begitu Yogi berangkat, Niki langsung menghampiriku di depan komputer.

“Mana tabelnya, udah bisa dicek..?” tanyanya sambil menyandarkan pantatnya ke bibir meja, persis di sebelah monitor.

“Nih, tinggal diprint..!” jawabku sambil menunjuk ke monitor, tapi tanganku yang lain merogoh ke dalam roknya.

Niki merenggangkan kakinya memudahkan penjelajahan jari-jariku menyusur pahanya, menuju mulut kemaluannya yang masih terbungkus CD. Agar tidak kecipratan cairan (dan menimbulkan kecurigaan Yogi) akhirnya CD-nya kulepas dan kukantungi.

Gundukan bibir vaginanya mulai menebal, sentuhan jari tengahku pada kelentitnya membuat Niki mendesah. Kaki kanannya digosok-gosokkan pada selangkanganku, menekan batang kemaluanku yang mengeras.

Melihat Niki sudah mengelinjang dengan bernafsu, kursi kugeser tepat di hadapannya. Roknya kusibakkan, kedua kakinya menopang di lengan kursi, lalu bibirku mulai kudekatkan ke vaginanya. Jilatan lidahku di liang vaginanya membuat Niki terlonjak-lonjak, pinggulnya mengeliat-geliat menikmati penjelajahan lidahku di liang kenikmatannya. Dengan jilatan pada kelentit dan kocokan jariku pada liangnya, Niki mencapai orgasme pertamanya.

Kini giliranku. Sandaran kursi kulepas, lalu Niki kuminta menungging dengan telungkup di atasnya. Celana trainingku kuperosotkan dan sambil bertumpu di lengan kursi kutancapkan kemaluanku dari belakang. Aku hanya bergerak maju mundur, kubiarkan Niki menggoyang pinggulnya sambil mengayun kursi putar ke kiri ke kanan, membuat daging lembut dan hangat itu segera menjepit batangku dan memijitnya dengan ahli.

Goyangan Niki semakin cepat disertai erangan, menandakan kenikmatannya semakin memuncak. Akhirnya guncangan cepat berirama yang menggiling kemaluanku melemparkan gelombang kenikmatan kami ke puncak, menyembur membasahi liang vaginanya.

Saat Yogi menjemput, semuanya sudah bersih tanpa bekas, tisyu yang digunakan untuk membersihkan meja kursi dan karpet bekas tetesan spermaku dibuang ke closet dan disiram. Bahkan, CD Niki yang kukantongi pun kukucek dan kubersihkan dengan tisyu wangi.

************

Meluapnya : Juli 1996 ..

Hari terakhir penyerahan skirpsi sudah sangat mepet, mau tidak mau kami harus bekerja siang malam. Agar dapat konsentrasi, aku dan Niki memutuskan menginap di luar. Niki beralasan ke Yogi bahwa kami menginap di tempat dosen pembimbing karena harus selalu berkonsultasi dengannya, untungnya Yogi mau mengerti. Kukatakan rumahnya di pinggir kota dan belum terjangkau telpon, jadi untuk menghubungi kusuruh lewat HP-ku.

Hari itu Niki cuti tiga hari dan aku minta ijin untuk urusan keluarga. Niki berangkat duluan ke apartemen di bilangan Cilandak yang kupinjam dari seorang kawan dengan membawa berbagai keperluan, makanan, obat-obatan, buku-buku dan kertas. Aku menyusul membawa notebook, printer laser, kabel-kabel, dan disket.

Sebenarnya semua bahan sudah selesai ditulis Niki. Yang perlu kulakukan tinggal memasukkan berbagai gambar dan tabel ke dalam format dokumen, lalu menyusun format pencetakan termasuk indeks dan bibliografi. Pekerjaan gampang tapi makan waktu, maka begitu sampai berbagai peralatan itu langsung ku-setting. Sementara itu sambil menunggu aku beres-beres, Niki menggeletak di ranjang masih dalam pakaian kantor.

Selesai membereskan peralatan aku langsung menggeletak di sebelah Niki. Aku sedikit lelah karena menggarap skripsi di malam hari dan tugas kantor di siang hari, makanya rasanya nikmat dapat bergolek sebentar. Sambil beristirahat kami berpelukan sambil berciuman mesra, kegiatan yang sudah lama tidak dilakukan.

Belakangan ini, karena waktu ketemu yang terbatas, biasanya tangan atau bibirku langsung menuju vaginanya. Ciumanku direspon dengan hangat dan liar. Kami bergulingan di ranjang dari satu tepi ke tepi yang lain dengan tangan saling menjelajah ke seluruh tubuh, memberikan rangsangan yang hebat pada birahiku.

Lalu Niki pipis dulu ke kamar mandi. Sementara ia di kamar mandi, aku membuka pakaian lalu kembali mengeletak berselimut handuk. Niki menyusulku ke ranjang melanjutkan percumbuan yang terhenti. Ia menciumiku dengan menindih tubuhku, tangannya memeluk leher, dadanya menekan kenyal ke dadaku. Tanganku memijat menjelajahi punggung terus ke pinggul, ke bawah lagi meremas pantatnya. Aku merasa ada yang aneh di pinggulnya, tanganku menyelusup ke dalam roknya dan ternyata benar, ia sudah tanpa CD. Kelakuan Niki memberikan sensasi luar biasa kepadaku membuat kemaluanku membengkak.

Dengan bibir masih bertaut, kugulingkan tubuh Niki, lalu aku gantian menindihnya. Aku mengambil posisi di atas Niki yang mengangkang dengan rok tersingkap. Kutempelkan kemaluanku pada belahan vagina Niki yang sudah basah, lalu kugosokkan maju mundur sepanjang belahan itu, persis seperti masa awal percintaan kami, saat Niki masih perawan.

Walau batangku sudah sangat keras dan mulut vagina Niki sudah megap-megap mencari kepala kemaluanku untuk dilumatnya, tapi aku tetap bertahan dengan posisi ini. Posisi yang membangkitkan kenangan pada masa Niki masih virgin, saat-saat yang menyenangkan; di mobil, di hotel, teras rumah, dengan pakaian lengkap, setengah lengkap, atau bugil.

Gesekan batangku pada klitoris membangkitkan nikmat yang merambat halus, membuat aku dan Niki makin terbakar birahi. Rangsangan birahi membuat kepala kemaluanku mulai mencari-cari peraduan seperi belut yang merayap rayap mencari liangnya. Demikian pula Niki, vaginanya bak mulut bayi yang kelaparan mencari dot. Dalam waktu singkat keduanya ketemu, kepala belutku begitu bertemu liangnya langsung amblas. Vagina Niki yang merengek kehausan begitu bertemu dotnya langsung dikenyot dan dilumat habis.

Sambil terus berciuman, vagina Niki kugenjot dengan tusukan-tusukan cepat, disambut Niki dengan goyangan melingkar pada pinggulnya. Kerinduan kami yang menggunung membuat perasaan kami lepas; mendesah, merintih, mengerang, menjerit dan berteriak, seiring gelombang kenikmatan yang bergulung-gulung melemparkan kami ke puncak kemesraan yang dahsyat.

Kami terbangun sekitar jam 8 malam. Niki memanaskan makanan lalu makan sama-sama. Sesudahnya aku mulai bekerja dengan berbagai file yang harus digabung, sementara Niki membuat checklist pekerjaan yang harus kulakukan. Niki tidur duluan dan aku selesaikan semua yang ada dalam checklist, malahan dua bab pertama sudah selesai kuformat.

Esoknya aku bangun dan langsung mencetak halaman-halaman yang sudah kuformat tadi malam, sementara Niki yang baru selesai mandi menggelendot di sebelahku. Aroma sabun cair yang segar membuat tubuh Niki terasa kontras dengan tubuhku yang bau keringat.

“Kamu seger banget Ki. Pengen nyium tapi aku masih bau asem..!” kataku memujinya.

“Makanya mandi dulu, sana..!” sahutnya.

“Yuk, kumandiin..!” ia menyeretku bangkit ke kamar mandi.

Kamar mandi dengan kamar tidur menyatu hanya dibatasi tirai, di situ Niki melucuti pakaianku lalu aku dicemplungkan ke dalam Bathtup-nya yang besar berbentuk bundar seperti di film-film (norak yaa!). Niki juga melemparkan handuk yang melilit tubuh telanjangnya dan ikut nyemplung. Aku yang beberapa hari kurang tidur merasakan rileks berendam di air hangat didampingi Niki yang memijat dadaku. Dengan lembut dan telaten ia menyabuni seluruh tubuhku, lalu membasuhnya dengan shower. Elusan Niki membuatku ngantuk dan akhirnya ketiduran lagi entah berapa lama.

Aku terjaga oleh rasa hangat yang menjalari tubuh. Terendam air bak yang tinggal 20 cm, Niki bersila di sebelahku sambil mengurut kemaluanku yang setengah berdiri dengan perlahan dan lembut.

“Udah bangun, Yang..,” katanya sambil tersenyum mesra.

“Hampir, baru setengah..” jawabku ngantuk, ternyata rasa hangat itu datang dari kemaluanku.

Ia kembali tersenyum manis, lalu meneruskan usapannya. Jari-jarinya dengan ahli menyusuri leher kemaluan tepat di bawah helm melingkari penisku yang semakin tegang dan berdenyut-denyut. Lalu telapak tangan kirinya menahan batangku sambil tangan kanannya mengurut lembut sisi depannya dari ujung ke pangkal, kembali lagi ke ujung bolak balik. Tekanannya yang lembut dan konstan membuatku menggeliat terlonjak-lonjak.

Aku tidak tahan, kuraih tubuhnya lalu kuseret ke atas tubuhku. Niki tahu yang kuinginkan, ia mulai dengan mencium bibirku. Sesudah satu ciuman panjang yang menggairahkan, ia berjongkok di atas batangku yang tegang, digenggamkan ke arah liang vaginanya, lalu pelan ia menurunkan tubuh dan.. slep.. batangku menyeruak masuk menerobos liangnya yang peret akibat berendam air hangat.

Dengan tangan bertumpu di dadaku, Niki menaik-turunkan pantatnya mengocok batangku yang tegang keluar masuk di vaginanya yang sempit. Meskipun bukan sekali ini kami berhubungan, tetapi aku benar-benar merasakan kenikmatan yang amat sangat, baru kali ini batangku merasakan jepitan liang senggama yang terendam air, lembut, rapat dan peret. Niki pun nampaknya merasakan kenikmatan yang sama, bahkan sesekali aku mendengar dia mengerang.

Niki menggenjot tubuhnya dengan gerakan-gerakan yang luar biasa, maju mundur, kiri kanan, naik turun dan berputar-putar. Saat lelah ia berhenti, dan mulailah dinding vaginanya meremas batang penisku membuatku benar-benar tidak tahan lagi menerima kenikmatan bertubi-tubi ini. Aku mengerang tertahan dan Niki makin memperkuat remasannya, ditambah gerakan maju mundur perlahan.

Beberapa detik kemudian, aku merasakan puncak kenikmatan yang luar biasa, spermaku yang menyemprot dengan deras menyiram vaginanya. Niki masih melanjutkan gerakan kecil maju mundur memanfaatkan sisa-sisa keteganganku makin lama makin cepat, lalu dengan jeritan kecil tubuhnya menegang, vaginanya menjepit keras, lalu terkulai memelukku.

Kami bekerja dan bercinta siang malam, pakaian tidak termanfaatkan karena sepanjang waktu kami nyaris telanjang. Hari kedua Niki tidak membantu lagi karena semua materi sudah selesai. Pekerjaan yang tersisa tinggal memperbaiki format dan mencetak, untuk yang ini Niki membiarkanku kerja sendiri. Sedangkan ia secara cermat menyuplaiku makanan bergizi tinggi dan energy drink berlimpah.

Hari ketiga semua selesai tercetak sebanyak 7 set. Kami membereskan semua perlengkapan, lalu sebelum pulang kami sempatkan bersenggama sekali lagi. Entah kapan lagi kami bisa begini Ki..!

Sidang skripsi sukses dilewati Niki. Kesibukan selanjutnya adalah lamaran dari keluarga Yogi yang sudah lama dipersiapkan. Niki masih harus meminta tandatangan pengesahan kepada para penguji dan menyelesaikan beberapa kewajiban administrasi, sementara Yogi tidak dapat mengantar karena mengurusi keluarganya dari daerah. Untuk itu Niki memintaku mengantarnya.

Niki sangat berhati-hati, menjaga jangan sampai terjadi kesalahan fatal yang dapat membatalkan perkawinannya. Makanya waktu kami sempit sekali, kebersamaan kami hanya selama perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Untung beberapa tanda tangan dapat di dapat dengan mudah, sehingga kami punya kelebihan waktu hampir satu jam. Kami mampir di kedai eskrim yang dulu biasa kami datangi.

Kedainya unik, di lantai satu berjajar meja dan kursi seperti warung biasa. Di lantai dua menggunakan sofa empuk berbentuk melingkar dengan sandaran tinggi untuk sepasang, sehingga setiap pasangan yang duduk tidak kelihatan oleh pasangan lain kecuali oleh yang lewat saat baru datang atau mau pulang. Lantai tiga menggunakan sofa yang sama, tapi posisinya diatur saling membelakangi, sehingga kalau mau melihat benar-benar harus melongok. Posisi ini membuat kapasitas bangkunya lebih sedikit dibandingkan lantai dua, dan selalu penuh.

Aku memesan di lantai tiga yang untungnya masih tersedia satu sofa, paling pojok lagi! Kami memesan jenis yang gampang dan cepat lalu bergegas ke atas. Sementara Niki ke kamar mandi, aku melepas sepatu, sabuk dan mengeluarkan kemeja dari celana. Niki kembali bersamaan dengan datangnya pesanan, kami langsung bersila di sofa menikmatinya.

Niki menyadarkan kepalanya ke bahuku, kuusap rambut dan pipinya.

“Yang.., makasih yaa, kamu banyak bantu aku..” Niki berbisik di telingaku, aku tidak menjawab, hanya memeluk dan mengecup keningnya.

“Cium aku dong Yang..!”

Kucium bibirnya dengan lembut, dan kami berciuman panjang. Lalu lidah kami mulai ikut aktif, saling menyentuh, membelit, dan akhirnya tanganku pun ikutan. Kami saling berciuman mesra, sesekali ciumanku mendarat di lehernya yang jenjang. Niki hanya menggeliat kegelian diperlakukan seperti itu.

“Oohh.. Yaang..!” suara manjanya menusuk ke telingaku.

Sambil berciuman, buah dadanya yang montok kupegang, kuremas lembut untuk merasakan ketegangannya. Niki hanya dapat mendesis menahan keenakan yang dirasakan. Kancing blusnya kubuka satu persatu sambil tetap mencium dan mengecup wajahnya, dan akhirnya tersisa satu yang paling atas (seperti biasa). Kuteruskan dengan membuka kaitan BRA-nya yang kuselesaikan dengan mudah. Ciumanku bergerak ke pangkal dadanya yang kenyal, juga putingnya. Kepala dan rambutku diremas dan dipeluk erat ketika putingnya kuisap.

“Aah.. mmhh..!” rintihannya membangkitkan nafsuku.

Suasana hening dan dingin AC membangkitkan nafsu birahiku. Kami terus berpelukan erat sambil berkecupan mulut. Buah dadanya terasa hangat bergesekan dengan dadaku. Tangan kiriku mulai menyusuri pahanya yang bersila, menyusup ke dalam roknya. Niki mengangkat sebelah kakinya dan jariku langsung menyentuh bulu halus yang melingkari vaginanya, Niki sudah melepas CD di kamar mandi. Lalu jari-jariku mulai menyelinap ke dalam liangnya yang basah, mengocok dengan jari tengah dan memainkan klitoris dengan jempol. Niki berusaha menekan suara rintihannya selembut mungkin.

Nafsu yang menggelora membuatku makin nekat, dengan berjongkok aku menciumi vagina Niki, lidahku menggelitik klitoris, kadang menyelusup ke dalam liangnya. Niki hanya dapat menghentak dan mengejang, tidak berani bersuara keras. Tubuhnya merosot di sofa membiarkan pahanya mengangkang menikmati jilatanku. Sementara sambil berjongkok menjilati kemaluannya, celanaku sudah turun dan batangku yang keras sudah lepas dari sarangnya.

Vagina Niki sudah berdenyut di lidahku, pahanya mengejang hampir orgasme. Aku bangkit dan beralih mencium lehernya, Niki terkejut melihat aku menggenggam batang kemaluan yang tegak mengacung.

“Jangan nekat dong, Yaang..!” ia mencoba bangkit.

Tapi nafsuku sudah tidak dapat diajak kompromi, tubuhnya kutindih sambil menciumi lehernya, ia berusaha merapatkan paha tapi terganjal lututku. Dengan mudah tongkatku menemukan liangnya yang basah dan langsung menusuk dengan kuat.

“Yang, kamu nekat. Malu dong.. Yang.., ahh..!” ia merintih lirih, tapi pinggulnya menggeliat dan vaginanya meremas tongkatku dengan jepitan yang luar biasa.

“Yang.. kamu nakal.. jahat..!”

Hanya dalam beberapa menit Niki mengejang dan memelukku erat, disusul orgasmeku beberapa detik kemudian.

Setelah istirahat sekitar lima menit, kami langsung beres-beres di kamar mandi. Tidak ada waktu untuk santai-santai, kami harus cepat pulang. Dalam perjalanan Niki berdiam terus, setiap kutanya selalu dijawab pendek-pendek. Aku merasa ada yang tidak beres.

“Kamu marah Ki..?” tanyaku.

“Ya marah dong..!” jawabnya ketus, “Kalo di situ kita cipokan, pelukan, kobel-kobelan sih wajar aja. Dulu juga kita sering.” ia meneruskan.

Aku agak terkejut, cara bicaranya menandakan ia benar-benar marah.

“Mentang-mentang aku butuh kamu, doyan kontol kamu, terus bisa diajak ngentot di tempat sembarangan..!” Niki nyerocos terus, belum pernah ia bicara sekasar ini.

“Sorry, kirain..” aku mencoba menjawab, tapi langsung dipotong.

“Kirain apaan? Kirain aku pengen..? Aku menikmati..? Aku orgasme? Iya memang, aku pengen, menikmati, dan orgasme, tapi karena aku memang selalu orgasme kalo kena kontol kamu..!” suaranya makin meninggi.

“Mustinya kamu jaga dong. Hargai dong aku, kaya cewek apaan aja, bisa dientot dimana aja.. jangan mentang-mentang kontolnya dibutuhin..!”

Aku merasa sangat bersalah, sangat menyesal tapi mau apa lagi. Gara-gara mengikuti nafsu!

“Ki, aku memang salah. Salah banget sama kamu.” aku terdiam tidak mengerti harus ngomong apa.

“Aku nggak bermaksud membela diri, tapi sejak bisa ngaceng lagi tiap saat aku selalu sama kamu. Dua bulan nggak ketemu nafsuku udah ke ubun-ubun, aku gelap mata..” aku coba berdalih.

“Lagi, sesudah ini kita tidak mungkin ketemu lagi. Makanya aku jadi nekat, maafin aku yaa Ki..?”

“Mas.., aku sayang kamu, jadi pasti kumaafkan, cuma aku kecewa sama kamu..”

#########################

IV. Babak Keempat : Dan Semua Harus Berakhir..!

Demikianlah, aku tidak menyangka hubungan kami jadi begini. Aku kecewa kepada diri sendiri, yang membuat kebersamaan yang kami bangun berakhir buruk. Otakku buntu, tidak tahu harus berbuat apa kepada Niki.

Sesudahnya kami ketemu seperti biasa di kantor. Niki nyaris tidak berubah, ia masih ber ‘Hai..’ dengan suaranya yang khas, terima telpon di ruanganku, dan kadang mendatangi mejaku seperti dulu. Tapi aku tidak berani lagi macam-macam, serba salah menghadapi Niki dalam situasi seperti ini.

************

Kekuatan Cinta : November 1996 ..

Aku surprise karena Niki meninggalkan pesan di laciku, ia ingin ketemu besok sore. Rasanya aku ingin bersorak dan meloncat-loncat mendapat kabar itu.

Besoknya, di tempat yang dijanjikan aku dijemput Niki. Ia manis sekali dengan kemeja kembang dan celana pendek, tapi agak kurus dan nampak lelah. Seperti yang dipesan, aku sudah menyiapkan massage gel dan minyak lulur. Selama perjalanan Niki sangat ceria, kami ketawa-ketawa seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Aku meremas tangan kirinya yang memegang versneling, seperti yang biasa kami lakukan dulu.

“Di sini dong megangnya, emangnya nggak kangen?” Niki memindahkan tanganku ke lututnya.

Aku ketawa, “Kangen bangeet..!” kataku sambil mengusap pahanya perlahan, terus naik sampai ke pangkalnya.

“Pindah belakang dong..!” lanjutnya.

Aku tergelak lalu merebahkan jok kursiku, lantas melompat ke belakang untuk ‘memijat’-nya.

Kami langsung check-in di Hotel ‘S’ di Bandara yang menurut Niki ‘aman’. Selesai aku memindahkan bawaan ke kamar, Niki sudah mencopot pakaian luarnya dan berbaring di tempat tidur berselimut handuk.

“Mas, aku dipijit dulu yaa..!” kata Niki manja.

Aku naik ke tempat tidur membawa massage gel, “Habis pijit terus ngapain..?” tanyaku sambil menggosoki telapaknya.

“Aku tidurr..” jawabnya.

Kugelitik pinggangnya, ia menjerit-jerit minta ampun.

“Udah telungkup, celananya buka sekalian.. nanti kotor kena minyak..!” kataku.

Ia berbalik menelungkup. CD-nya kutarik lepas, lalu kulipat rapi. Aku mengurut kakinya mulai dari telapak terus ke betis dan pahanya. Sambil kupijat dengan perlahan, Niki cerita tentang persiapan perkawinannya yang kurang dua minggu lagi. Ia nampak lelah oleh berbagai urusannya. Kurasakan lewat jari-jariku ototnya keras dan kaku, maka kupijat hati-hati dengan tekanan yang tepat agar ia rileks.

“Kamu kecapean Ki..?” kataku sambil menggosok punggung.

“Memang..” katanya, “Makanya, bikin aku segar dong..! Habis ini nggak mungkin lagi kita ketemu..” tiba-tiba ia terdiam agak lama, baru melanjutkan, “Aku sedih kehilangan kamu Mas..!”

“Kamu akan bahagia..” aku menenangkan.

“Mudah-mudahan..” ia berkata lirih.

“Udahlah.., kamu pasti bahagia, sekarang rileks aja.. tuuh ototmu di sini kaku banget.” aku mengalihkan pembicaraan.

Kugosok dengan lembut lengannya, terus turun ke telapak tangan dan jarinya. Tidak lama kemudian ia tertidur, kuselimuti tubuh telanjangnya dengan handuk, lalu kutinggal mandi. Selesai mandi aku berbaring sambil menunggu ia bangun.

Sekitar satu jam kemudian ia terjaga, langsung memelukku, “Dingin..” katanya.

Aku balas memeluknya, punggungnya kugosok supaya hangat. Dadanya yang lembut kenyal menempel rapat di dadaku hingga detak jantungnya dapat kurasakan. Kami berciuman mesra sambil tetap berbaring berpelukan.

“Mas, sayang Niki nggak..?” ia bertanya seperti remaja pacaran.

Aku mengiyakan, mencium keningnya, “Ini terakhir kita begini. Dua minggu lagi aku married..” katanya, lalu, “Senengin Niki yaa Mas..! Puasin..! Abis ini bantu Niki jadi isteri setia yaa..!”

Aku mengangguk, sementara bibirku mulai menciumi lehernya.

“Kamu tau nggak ini tanggal berapa..?” Niki kutanya, ia menggeleng.

“Dua tahun lalu, tanggal ini pertama kali burungku masuk ke lubangmu.” kataku.

Ia surprise, “Masa.., ulang tahun penusukan dong..!” katanya sambil memegang batangku yang setengah tegang.

Kubiarkan ia mengelus senjataku, sementara aku menciumi dadanya, menjilati putingnya, lalu turun ke perutnya. Niki mendesah lirih sambil meremas pelan batangku yang digenggamnya.

Dari perut, jilatanku beralih ke lipatan pahanya. Niki medesah sambil sebelah tangannya menjambak rambutku. Aku mecoba bertahan tidak menyantap bibir vagina yang terpampang menantang di depanku. Kujelajahi paha Niki perlahan dengan lidahku, meluncur ke betis terus ke ujung kaki. Aku bertekad mengulang seingatku, apa yang kulakukan dua tahun lalu.

Niki mulai mengejang saat lidahku pindah ke kaki sebelahnya menyusuri paha, terus menuju pangkalnya yang mengangkang lebar. Ia merintih lirih, tidak sabar menunggu penjelajahan lidahku, maka sampai di pangkal paha bibir luarnya, langsung kujilati. Semakin turun jilatanku ke dalam celah, Niki makin menggeliat. Akhirnya saat lidahku menyapu klitorisnya Niki melonjak, mulut vaginanya bergetar menyambut lidahku. Erangannya semakin menjadi-jadi.

Aku berlutut di antara kedua pahanya yang mengangkang, mengarahkan batangku, kugosok-gosokkan kepala kemaluanku di mulut vaginanya. Niki menghentakkan pinggul mencoba meraih batang kemaluanku dengan liangnya yang basah, tapi kubiarkan dulu supaya ia makin penasaran. Perlahan aku mulai mengarahkan batangku ke liang vaginanya. Kutekan pelan, Niki menggigit bibirnya dan mendesah, “Ahh.. Mass..!”

Begitu masuk setengah, batang kemaluanku kutahan, kuputar kiri kanan sambil kutarik sedikit, baru kudorong lagi. Sensasi ini membuat Niki menggelinjang dan meracau. Putar kiri kanan, tarik sedikit, lalu dorong lagi, dan akhirnya.. “Bless..” batang kemaluanku terbenam penuh di lubang kemaluannya.

Niki mendesah dan mengangkat pinggul, membiarkan kemaluanku menyesaki liangnya, pinggulnya bergerak liar dengan jemarinya menancap di pundakku. Goyangannya membuatku terengah-engah menahan nafsu, Niki hari ini luar biasa sekali, pikirku.

Sejurus kemudian, Niki membalikkan tubuhku dan menekan pundakku hingga telentang di atas tempat tidur. Dengan posisiku sedemikian rupa, ia mengangkangi batang kemaluanku dan mendudukinya. Erangan keluar dari mulutku saat Niki bergerak maju dan mundur. Ia lalu mengatupkan kedua pahanya, menempelkan telapak kakinya di dadaku, membuat kemaluanku serasa dijepit.

Niki mulai berkeringat kelelahan, kubalikkan lagi tubuhnya, ia mengangkat kedua betisnya ke pundakku. Rintihan keluar dari tubuhnya yang menegang, kutekan batang kemaluanku melesak dan menggerakkannya lebih cepat. Tubuh Niki menggelinjang lalu vaginanya mulai meremas, menandakan hampir orgasme.

Aku diam sesaat merasakan remasan Niki yang dahsyat. Kami berdiam sambil bibir bertautan, hanya geliat-geliat pinggul Niki melengkapi remasan vaginanya di sekujur batangku. Lalu aku mulai bergerak naik-turun perlahan, kutancapkan batangku setengah lalu kutarik lagi, satu.. dua.. tiga.. sampai tujuh kali. Pada tusukan ke delapan kutekan penuh sambil kugoyangkan. Niki menjambak rambutku dan membuka lebar pahanya. Kugenjot terus dengan kombinasi lambat dan cepat, kuobok-obok isi kemaluannya dalam irama goyang-goyang tekan, goyang-goyang tekan, membuat ia mengerang dan menjerit kecil.

“Ohh.. Mass.. kamu nakal..!” bisiknya seraya meremas-remaskan vagina.

Aku bertumpu pada lutut menggenjot penisku keluar masuk vagina Niki yang semakin berdenyut.

“Yangg.. aduuh.. keras banget.. oohh..!” Niki bergetar, pinggulnya naik turun, berputar kiri kanan dengan teratur.

Goyangan pinggul dan pantatnya tambah menggila dan liangnya seakan mau melumat habis dan mematahkan penisku. Gelinjang pantat dan pinggul Niki makin menjadi-jadi, menggelepar dengan mata merem-melek. Niki mencakar punggungku tanda mau orgasme.

Tiba-tiba, “Yaang.. aduuh.. gilaa.. uuhh..!” dia sekali lagi mencakariku, itu memang kebiasaannya kalau meregang menahan klimaks luar biasa.

Aku terus menggenjotkan penis dengan teratur sambil konsentrasi merasakan nikmat yang semakin mendesak di ujung penisku. Gelombang dahsyat yang menyedot seluruh perasaanku menyembur dari ujung kemaluan, memancar dalam di liang vaginanya. Aku mengejang beberapa detik, lalu terkulai dalam pelukannya.

Kami menghabiskan waktu dengan berpelukan, mengenang cerita masa lalu, dan membakar surat-surat, lalu sebelum pulang aku minta lagi, Niki tidak keberatan.

Akhirnya dua minggu kemudian Niki menikah. Aku tidak tahu apakah aku dapat melupakannya. Mungkin Niki akan sepenuhnya mengurusi rumah tangga, suami pilihannya, dan aku tinggallah jadi masa lalunya.

#########################

Penutup :

Saat membantunya menyiapkan resepsi, aku tetap tidak dapat konsentrasi, pikiranku masih tentang hari-hariku setelah ini. Apakah aku sanggup untuk tetap ‘berteman’ tanpa meremas tangan, mengusap pangkal paha, meremas dadanya? Apakah aku sanggup untuk membantunya jadi ‘isteri setia’?

Ketika memeriksa gedung, Yogi bersama beberapa teman panitia sibuk memeriksa kelengkapan di tempat terima tamu, sedangkan Niki bersamaku dan Ranti (seorang temannya) memeriksa pelaminan. Saat Ranti menjauh, Niki meraih selangkanganku yang terhalang kursi dari pandangan orang-orang sekitarku, diam-diam ia meremas batangku yang langsung mengeras.

“‘Ki, nekat kamu..!” ujarku lirih.

“Biarin.. gemess..! ” ia menjawab dengan cuek, malah menarikku ke balik sekat dan melumat bibirku, sambil bawah perutnya menggesek-gesek batang kemaluanku.

Ahh.., Nyonya Yogi.. perlukah aku berubah..!

.

TAMAT

Penulis : anonim.

Sumber : http://www.rumahseks.blogspot.com

Komentar
  1. Noel mengatakan:

    BAgus buanget gan…
    mirip kaya kisah hidup gue…
    salam dari jkt….

    Re : jujur ini bukan crita hasil tulisan gw, dpt nemu nih dr blog tetangga tanpa d sertakan nama penulis aslinya, but enjoy aja ’cause I like this story too

  2. rudi mengatakan:

    Gan aku kok ketawa-tawa yah baca ceritanya….
    lagi eroor kali yah kepalaku…

    Re : coba cek ke dokter deh, kali aja ada sedikit gejala gegar otak ringan hehe

  3. inoeng mengatakan:

    ((y)ˆ⌣’)(y) ℳāªªāªªƝ††††āªªāªªƑ. ߪηĝє†. Wanitaa memang tak bisa di tebak…makhluk paling aneh di dunia…..

    Re : Bangeeett…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s