Tes Keperawanan Bagi Siswi, Bukan Solusi

Posted: Oktober 7, 2010 in News

JAMBI, KOMPAS.com – Ketua DPW Partai Keadilan Provinsi Jambi Henry Mashur menilai wacana penerapan tes keperawanan bagi siswi baru SLTP dan SLTA bukan solusi yang tetap dan tidak dapat diterapkan.

“Penerapan tes keperawanan bagi siswi dalam penerimaan siswa baru (PSB) bukan solusi tepat. Yang paling penting ialah menanamkan nilai-nilai keagamaan sejak dini kepada generasi muda, program itu yang perlu diperkuat oleh pemerintah saat ini,” katanya Minggu (26/9/2010).

Keperawanan

Pernyataan tersebut disampaikan Henry Mansur menanggapi rekannya di DPRD Provinsi Jambi Bambang Bayu Suseno (BBS) yang mewacanakan perlu tes keperawanan bagi siswa dalam PSB.

Menurut Henry, menanamkan nilai-nilai keagamaan merupakan solusi yang tepat untuk menyelamatkan pelajar dari pergaulan bebas dan perbuatan mesum, bukan tes keperawanan bagi calon siswi, cara itu bukan solusi.

Bila anak sudah dibekali agama yang kuat, pengaruh-pengaruh negatif yang dapat menjerumuskan remaja ke dalam pergaulan bebas dapat terhindar dengan sendirinya.

Mereka diyakini akan mejauhi perbuatan maksiat serta enggan untuk mengakses informasi yang berbau pornografi.

Selain itu, mendapatkan pendidikan yang baik merupakan hak bagi setiap pelajar di Jambi, tanpa terkecuali.

Lewat pendidikan, akan menciptakan sumber daya manusia yang handal dan berdaya saing tinggi, apalagi dibekali norma keagamaan yang kuat maka lahirlah generasi muda Jambi yang berkualitas dan berakhlatul karimah.

“Ini yang seharusnya diutamakan. Anak-anak mesti kita bekali nilai-nilai agama, dan pemerintah harus menfokuskan pada program pembinaan spiritual itu. Dengan anggaran yang besar pun tidak masalah. Ini akan menjadi solusi yang tepat untuk saat ini,” kata anggota Komisi IV DPRD Jambi itu.

.

Mahasiswi Tolak Perda Keperawanan

JAMBI–MI: Mahasiswi beramai-ramai mendatangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jambi. Mereka menolak pemberlakuan tes keperwananan bagi siswi baru SMP dan SMA ke dalam peraturan daerah, karena tidak manusiawi.

“Kami menolak tes keperawanan bagi siswi. Itu tidak manusiawi. Harusnya dewan sadar bahwa pendidikan itu milik semua orang tanpa terkecuali,” kata Reti, mahasiswi Bahasa Inggris Universitas Batanghari, Jambi di tengah kerumunan pendemo, Jumat (1/10).

Apa yang diwacanakan dewan sangat meresahkan calon peserta didik di tiap tingkatan. Selain itu, mereka yang serius ingin bersekolah hanya lantaran tidak perawan akan termarjinalkan. Adanya pembedaan status perawan dan tidak perawan dinilai tidak manusiawi.

“Harus diakui kini pergaulan bebas cukup marak tapi bukan itu akar permasalahannya. Pergaulan tidak ada hubungannya dengan pendidikan. Apalagi sampai tidak bisa bersekolah, dewan harusnya berkaca,” tegasnya.

Penolakan serupa juga disampaikan mahasiswi lainnya, Madona Frezzelia yang menyatakan soal pergaulan bebas tergantung si anak itu sendiri. Bila memiliki mental yang baik, tentu akan berprilaku baik dan menghindari perbuatan mesum dan sebagainya. Itu akan didapat, bila orangtua mengajarkan kebaikan dan membekali anak dengan agama.

Sebelumnya, anggota Komisi IV DPRD Provinsi Jambi Henry Mashur menjelaskan, wacana yang dilontarkan rekannya, Bambang Bayu Suseno erat kaitannya dengan rancangan perda yang hendak disampaikan badan legislatif (Baleg) DPRD. Dalam rancangan itu tidak ada menyebutkan soal tes keperawanan. “Itu rancangan perda untuk meningkatkan kualitas mutu pendidikan di Jambi. Tidak ada soal tes keperawanan,” bantahnya. (Ant/OL-8)

.

Sumber : dari berbagai sumber

.

Komentar :

Aduh… aduh… ni anggota DPRD bukannya mengusahakan pendidikan murah untuk rakyat, eh malah bikin murid-murid – terutama cewek – makin sulit untuk sekolah. Ngurus UAN aja ngga becus eh sekarang isi ngurusin keperawan orang. Urus dulu moral sampeyan baru ngurusin moral orang lain! Perawan nggak perawan, pendidikan itu adalah salah satu bentuk Hak Asasi Manusia yang dilindungi oleh UUD. Menilai wanita bukan dari selangkangannya – kecuali otak loe emang mesum – tapi dari hati dan tingkah lakunya sehari-hari. So girls… fight for your rights!!!

Sebagai pengetahuan gw cantumin sebuah artikel yang membahas sebab hilangnya perawan seorang wanita, dan itu jelas bukan hanya karena berhubungan intim. Check this out!

.

Selaput Dara Bukan Ukuran Virginitas Wanita

 

Keperawanan

Diceritakan oleh Prof Dr Junizaf, SpOG(K), pernah ada pria memeriksakan istri yang baru beberapa hari dinikahi karena di malam pertama mereka tidak setetes darah pun keluar dari vagina. la merasa tertipu dan mengira keperawanan sang istri sudah hilang sebelum ia menikahinya.

Melalui pemeriksaan, uroginekolog dari FKUI RSCM ini justru mendapati yang sebaliknya. “Selaput dara wanita sangat liat sehingga belum berhasil ditembus di malam pertama mereka,” tuturnya. Dan setelah mendapat penjelasan yang benar, pria itu pun memahami kekeliruannya dan mengurungkan niat menceraikan istri barunya itu.

Ketidaktahuan soal keperawanan dan organ reproduksi tak hanya terjadi pada pria. Banyak wanita juga masih memiliki pengetahuan yang sangat minim. Tak heran, redaksi kerap menerima pertanyaan, “Apa berhubungan seks sekali saja, keperawanan bisa hilang?”, “Bisakah hamil kalau hubungan intim hanya satu kali?”, “Apakah memasukkan jari ke vagina bisa merusak selaput dara?”, “Mengapa tidak keluar darah waktu pertama kali berhubungan?” Dan ada banyak pertanyaan serupa.

.

Bisa robek tanpa seks

Memang tidak mudah menilai keperawanan karena banyak hal yang bisa ikut memengaruhi. Ditegaskan oleh Dr Budi ML, SpOG, dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Jatisampurna, virginitas tak bisa diukur dari robeknya selaput dara. Tak bisa juga dilihat secara kasat mata melalui ciri-ciri fisik seperti payudara turun atau pinggul yang mengendur.

“Keperawanan harus dilihat dan diperiksa melalui tes medis yang dilakukan oleh dokter ahli. Tidak bisa dilihat dari fisik saja,” ucapnya kepada GHS.

Memang masih terus beredar mitos di kalangan remaja maupun orang dewasa bahwa wanita yang sudah tidak perawan dapat diketahui dari tanda-tanda fisiknya, seperti pantat turun, payudara mengendur, atau cara berjalan yang tidak lagi lurus.

Menurut Dr Budi, mitos tersebut sebenarnya keliru, tetapi karena telanjur diyakini oleh sebagian masyarakat, seolah-olah benar. Begitu juga dengan mitos keperawanan yang diukur dari perdarahan yang timbul akibat pecahnya selaput dara.

“Selama ini masyarakat berpendapat bahwa keperawanan seseorang akan hilang ketika berhubungan seksual, yang menyebabkan pecahnya selaput dara. Padahal, selaput dara kondisinya berbeda antara satu wanita dengan lainnya,” ujarnya.

Ada selaput dara yang tipis sehingga lebih mudah robek atau pecah. Ada pula selaput dara yang sangat kuat atau liat sehingga tidak mudah pecah. Yang perlu dipahami juga, pecahnya selaput dara tidak harus melalui hubungan seksual saja.

“Aktivitas olahraga seperti senam, benturan karena jatuh, dan lainnya juga bisa menyebabkan selaput dara sobek,” tuturnya. Penggunaan tampon saat menstruasi juga dapat menyebabkan selaput dara robek.

.

Elastisitasnya berbeda

Jenis selaput dara juga beragam. Jika selaput dara kaya akan pembuluh darah, otomatis ketika pecah akan terjadi perdarahan cukup banyak. “Sebaliknya, jika selaput dara tersebut tidak memiliki pembuluh darah, otomatis ketika pecah juga tidak berdarah,” ucap Dr Budi.

Jadi, perdarahan pada saat hubungan seksual tidak bisa dijadikan tolok ukur menilai keperawanan seorang wanita. Justru perdarahan bisa saja terjadi karena pengencangan atau ketegangan pada vagina, yang sering disebut kelainan vaginismus, pada saat hubungan seksual. Kondisi ini menandakan si wanita tidak bisa menikmati hubungan intim, malah bisa saja ia merasa sakit dan tersiksa.

Bila kedua pasangan dapat menikmati hubungan seksual dengan baik sehingga tidak menimbulkan ketegangan pada vagina, kemungkinan terjadi perdarahan sangat kecil, malah mungkin sama sekali tidak terjadi. Itu artinya, tambah Dr Budi, tak hanya suami yang menikmati hubungan seksual tersebut, tetapi istri juga bisa menikmatinya.

Selaput dara, lanjutnya, berupa lipatan mukosa tipis yang mengelilingi jalan masuk vagina. Terdapat beberapa bentuk dan berbeda pada tiap wanita, serta memiliki elastisitas yang berlainan pula.

Itu sebabnya tidak semua wanita mengeluarkan darah pada saat hubungan seksual pertama. Ada yang baru keluar setelah beberapa kali berhubungan, bahkan ada yang tidak keluar darah sama sekali.

“Jangan heran jika ada wanita yang telah berulang kali melakukan hubungan seksual, namun sama sekali tidak pernah keluar darah,” tutur dokter spesialis kebidanan dan kandungan ini.

.

Sumber : kompas.com

Komentar
  1. Ninja Gaijin berkata:

    lagipula ide ini diskriminatif. kalo yg cowok ga bisa dites kan?

    Re : betul bro, diskriminatif bgt! cowok n cewek tu sama d anugrahi tubuh oleh Tuhan, nmany anugrah ya trserah masing2 dong mau d apain, itu nmany hak asasi manusia… ngurus tes PNS aja ngga becus tuh! skrng tmbah tes perawan, mau cari “sumber” duit tambahan kali ye???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s