Demi Sebuah Jawaban Ujian (remakes version)

Posted: September 11, 2010 in Other Stories

Short Note from Re-writter :

Bagi yang pernah berkunjung ke blog KBB atau mungkin beberapa forum lain, maka sudah pasti  anda pernah membaca cerita ini. Cerita ini memang adalah cerita dengan judul yang sama dan dari penulis yang sama pula, Aliyah, namun dalam versi yang berbeda. Beberapa waktu yang lalu saya menerima cerita ini dari penulisnya langsung melalui email, dengan permintaan agar saya membantu menyunting dan mengeditnya. Kebetulan juga bulan ini saya lagi kehabisan stok cerita, maka saya pun memilih untuk merilis cerita ini dengan versi saya sendiri, sambil berusaha untuk seminimal mungkin mengubah alur yang telah disusun oleh penulis aslinya. Untuk Aliyah sebagai original writter, mohon maaf atas kelancangan saya membongkar pasang cerita anda. So, dengan segala kerendahan hati saya sebagai re-writter hanya bisa mengucapkan: selamat menikmati remakes dari cerita “Demi Sebuah Jawaban Ujian” ini, semoga dapat memuaskan para pembaca. Thanks!

September, 2010

Pendekar Maboek Ó

.

Di Sekolah.

Pukul 14.00

Luisa

“Neng Luisa…!!!”.

Sebuah suara memanggil seorang gadis yang baru saja keluar dari sebuah kelas di salah satu SMU swasta terkenal di ibukota. Saat itu kegiatan belajar mengajar disekolah baru saja selesai, dan semua siswa bersiap-siap untuk pulang. Gadis yang dipanggil itu berhenti sejenak lalu memutar tubuhnya ke belakang sambil menatap seorang lelaki setengah baya yang tergopoh-gopoh lari kearahnya. Melihat siapa yang datang, gadis itu langsung memisahkan diri dengan teman-temannya, lalu mengajak lelaki tadi masuk kembali ke dalam sebuah kelas kosong untuk berbicara 4 mata saja. Nampaknya ada hal yang sangat serius yang ingin mereka bicarakan.

“Gimana Mang? Bisa?”, gadis itu berkata setengah berbisik.

“Bisa sih Neng, tapi masalahnya Mamang ngga bisa sendirian, Mamang mau ngajak si Encup nih”.

“Lo kan perjanjiannya kan ngga gitu? Nanti kalo si Encup bocorin rahasia ini gimana?”.

Nada suara gadis itu terdengar sedikit meninggi.

“Tenang Neng, si Encup tuh orang kepercayaan Mamang, dia ngga bakal bikin ulah kok”.

“Tapi Mang…”.

Kedua orang berbeda generasi itu nampak terus saling berdebat sambil berbisik. Nampaknya keduanya masih belum menemukan titik temu terhadap permasalahan yang sedang mereka bahas.

Nama gadis itu adalah Luisa. Usianya baru 17 tahun. Dan sekolah di kelas 3 sebuah SMU swasta terkenal di ibukota ini. Luisa merupakan cewe terpopuler disekolahnya. Gadis belia itu sangat cantik, dengan hidung mungil yang lucu. Dia memiliki kulit putih bersih yang mulus,  mata bulat dengan bulu mata yang lentik dan panjang hitam lurus sepunggung. Gadis manis itu memiliki tubuh mungil khas remaja, dengan dada yang tidak begitu besar namun montok dan menantang serta dihiasi seragam SMU yang ketat, Rok yang beberapa centi diatas lutut, dan kaus kaki putih panjang yang menutupi keindahan betisnya. Ya, kecantikan wajah dan tubuhnya, nyaris sempurna, sangat sesuai dengan selera om-om hidung belang. Ditunjang bibirnya tipis menggoda, dan selalu dihiasi senyum nakal remaja, membuatnya sebagai magnet bagi kamu lelaki, termasuk lelaki yang baru saja diajaknya ngobrol dikelas saat ini.

Sedangkan Lelaki setengah baya yang baru saja berbicara dengan Luisa adalah Mang Hamad. Dia adalah pesuruh sekolah ini yang bertugas antara lain sebagai tukang sapu sekaligus tukang kebun sekolah. Umurnya sudah 52 tahun. Dia bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam. Rambutnya yang putih tipis nyaris botak sedangkan kumis dan janggutnya tumbuh liar tak teratur. Tetapi yang paling tidak mengenakan untuk di lihat adalah tampanganya sangat jelek. Tahun ini dia sudah bekerja selama 12 tahun dan dia dipertahankan kepala sekolah karena sangat baik dan rajin. Murid-murid sekolah itupun sangat senang bergaul dengannya yang sangat ramah.

“Mamang yakin nih kalo si Encup bisa dipercaya?”.

“Yakin kok Neng”.

“OK deh terserah Mamang aja kalo gitu”.

“Tapi ada masalah dikit nih Neng”.

“Masalah apa?”, Luisa mengerutkan dahinya.

“Kita kan kerjanya berdua, jadi bayarannya bisa di tambah ngga nih? Hehehe…”.

“Uuuh… bayaran mulu seh yang dipikirin? Kerja juga belum!”, umpat Luisa kesal.

“Lo ini penting Neng, masalahnya kerjaan yang Neng kasih cukup berbahaya lo…”.

“Iya… iya… soal bayaran gampang deh, pokoknya selesaiin dulu kerjaannya!”.

“OK deh Neng, kalo gitu kan kita bisa sama-sama enak hehehe…”. Mang Hamad menggaruk-garuk kepalanya sambil tertawa cengengesan. “Tapi Neng, nanti “barang”nya Mamang kasih kemana?”.

Luisa kemudian membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan sebuah buku tulis. Gadis itu merobek selembar kertas dari buku tulis tersebut dan mulai menuliskan sesuatu di atasnya.

“Nih alamat rumah saya, “barang”nya Mamang bawa saja ke rumah dan inget jangan sampai ada yang tau tentang hal ini!”.

Mang Hamad menerima kertas tersebut, melihat sejenak dan kemudian memasukkannya ke dalam saku bajunya. “Beres Neng, tenang aja…”.

Sekitar 10 menit mereka berdua mengobrol cukup serius di dalam ruangan tersebut. Tak lama setelahnya, gadis cantik itu terlihat berjalan keluar dari dalam kelas tersebut dengan tersenyum penuh arti. Demikian juga dengan lelaki setengah baya itu yang menyusul kemudian. Entah apa maksud pembicaraan mereka tadi, namun yang jelas terdengar sangatlah penting. Paling tidak bagi mereka berdua. Akhirnya selepas keduanya berpisah, gadis cantik itu kembali menyusul teman-temannya, bersiap-bersiap untuk pulang.

****************

Di Sebuah Perumahan.

Pukul 16.00

Dengan sepeda bututnya, Mang Hamad menyusuri jalan di sebuah perumahan elite, dimana hanya ditinggali oleh mereka yang tergolong menengah keatas. sepeda itu berhenti di sebuah rumah bertingkat dua dengan taman garasi mobil disampingnya. Mang Hamad menjulurkan tangannya ke dalam pagar untuk mencari knop bel. Tak lama kemudian dari dalam sana keluar seorang gadis belia dengan senyuman khasnya yang nakal. Gadis itu adalah Luisa. Tubuhnya yang indah itu terbungkus hotpans ketat berwarna putih dan baju berkancing tanpa lengan yang berwarna sama dengan bawahannya. Penampilan sangat sexy sore itu.

“Si Encup sudah datang Neng?”.

“Lo emang Encup ikutan kesini juga?”.

“Iya Neng, malahan “barang”nya si Encup yang bawa tuh”.

“Ngga ada tuh Mang si Encupnya”.

“Nyasar kali tu anak ya?”.

“Aduh gimana nih? Bisa berantakan nih rencananya”, suara Luisa terdengar sedikit bernada panik.

“Tenang aja Neng, mungkin…”.

Belum selesai Mang Hamad berucap, tiba-tiba dari kejauhan terlihat seorang pemuda berpakaian sederhana, malah terkesan lusuh berlari tergopoh-gopoh ke arah mereka.

“Nah itu dia Neng hehehe…”.

“Hos… hos… hos…”, deru nafas pemuda tersebut terdengar memburu begitu sampai di depan rumah. Ia terlihat begitu kelelahan, sehingga beberapa menit pemuda itu hanya berusaha mengatur kembali nafasnya. Pemuda berwajah lugu kampungan itu adalah Encup, anak buah Mang Hamad di sekolah. Tugas Encup di sekolah adalah sebagai tukang kebun sekaligus waker yang tugasnya dilakukan bergantian dengan Mang Hamad.

“Kemana aja lu Cup?”.

“Maaf Mang, tadi angkot yang ane naikin mogok di jalan, jadi musti di dorong dulu rame-rame”.

“Tapi lu inget bawa “barang”nya kan?”.

“Bawa kok Mang…”, suara Encup masih terdengar sedikit terbata-bata, akibat nafasnya yang belum sepenuhnya teratur.

Mang Hamad terlihat tersenyum kecil mendengar jawaban Encup. Sedangkan Luisa sendiri saat ini masih terlihat sedikit dongkol, karena Mang Hamad seenaknya melibatkan Encup dalam rencana mereka dan hampir saja pemuda itu merusak semua yang telah ia rencanakan.

“Ya udah, kita masuk aja yuk Mang.”, kata gadis itu.

Maka diikuti Encup, Mang Hamad pun akhirnya memasukkan sepedanya ke dalam setelah Luisa membukakan pagar untuknya. Saat Mang Hamat mengikuti Luisa dari belakang, sesekali matanya menatap pantat gadis itu yang bergoyang kesana-kemari dengan indahnya. Luisa menyuruh Mang Hamad memasukkan sepedanya ke garasi yang kebetulan hari itu kosong, yang menandakan hari itu ada yang memakai mobil Luisa. Kemudian kedua laki-laki itu mengikuti si empunya rumah memasuki rumah itu setelah melepas alas kaki mereka dan menaruhnya di depan pintu. Ketiganya akhirnya kini sudah duduk di ruang tamu dengan interior dan furnitur yang terlihat serba sederhana dan minimalis.

“Mana “barang”nya Mang?” Tanya Luisa.

“Ntar dulu Neng”, Mang Hamad kemudian memberikan isyarat kepada Encup yang duduk di sampingnya. Mengerti dengan isyarat tersebut, lalu Encup mengeluarkan beberapa lembar kertas dari kantong saku celana belakangnya dan menyerahkannya kepada Mang Hamad.

“Ini dia Neng hehehe… Tapi ini harus cepat-cepat dikembalikan. Takut kepala sekolah tahu”.

“Tenang aja. Cuman bentar kok”, jawab Luisa dengan tersenyum.

Ketika Liusa hendak mengambil map yang dipegangnya, buru-buru Mang Hamad melarangnya. “Eiit… Tapi duit perjanjiannya sudah ada kan Neng?”.

“Uh! Santai sajalah Mang. Tapi saya musti lihat dulu dong apa yang Mang Hamad bawa”.

“Hehehe… Boleh, boleh…”.

“Bawa sini dong Mang?”

“Ini Neng. Seperti yang Neng mau”, kata Mang Hamad sambil menyerahkan lembaran kertas tersebut. Mang Hamad tersenyum. Luisa melihat satu persatu lembaran kertas tersebut dan kemudian ikut juga tersenyum bahagia.

“Benar kan itu yang Neng Luisa mau?”.

“Benar Mang. Pintar juga nih si Mamang”.

“Hamad Abdul Aziz”, jawab Mang Hamad sambil membusungkan dan menepuk-nepuk dadanya. Kemudian laki-laki paruh baya itu mengambil kembali lembaran-lembaran kertas yang dipegang oleh Luisa, karena perjanjian mereka saat ini belumlah tuntas.

“Eeehemm…”, terdengar suara batuk dibuat-buat dari samping Mang Hamad. Agaknya Encup juga ingin dihargai jasa-jasanya di depan Luisa. Paling tidak pemuda itu ingin diketahui kalau ia juga memiliki jasa dalam proyek “kejahatan” ini.

“Apaan sih lu Cup!”, bentak Mang Hamad ketika Encup kembali terbatuk untuk kedua kalinya.

Luisa hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah lucu kedua laki-laki yang ada di depannya.

“Tapi ngga ada yang tahu kan?”, ucap gadis cantik itu mencoba mengalihkan perhatian kedua laki-laki yang kini sedang saling tatap tersebut, dan agaknya usaha itu berhasil.

“Sumpah ngga ada neng. Tenang aja semuanya beres. Sekarang sih cuma tinggal urusan duit komisi yang Neng udah janjikan hehehe…”.

Luisa terdiam sejenak. Dia memang menjanjkan sejumlah uang kepada pesuruh sekolahnya ini untuk “jasa” yang telah dilakukannya. Tapi terus terang dia tidak menyangka kalau Mang Hamad akan berhasil. Luisa sebenarnya orang yang berada. Uang jajannya lumayan banyak. Orang tuanya selalu memberikan uang jajan setiap bulan (bukan perhari seperti siswa lain), dengan jumlah yang cukup banyak untuk ukuran anak SMA. Hal itu dimaksud agar Luisa jadi disiplin dan bisa me-manage keuangannya sendiri. Tapi sayang, Luisa sangat boros sekali. Suka hura-hura. Dia memang dikenal cukup gaul, modis karena badannya memang bagus dan wajahnya pun cantik. Gaya hidupnya sangat mewah. Maka maka tak heran baru pertengahan bulan seperti ini dia sudah kehabisan uang. Kalo sudah begitu maka jangan harap orang tuanya akan memberikan uang tambahan.

“Mana duitnya Neng? Mau mabok-mabokan dulu nih hehehe…”, tambah Mang Hamad lagi.

“Eh…. gini Mang… anu…. eehmm… gimana ya bilangnya?”, ucapan Luisa terdengar terbata-bata.

“Apa? Jangan bilang ngga ada duit nih Neng?”

“Bukan begitu… Jadi gini Mang, duit Luisa memang lagi ngga ada sekarang, habis ke pake. Gimana kalo saya bayarnya bulan depan aja?”

“Ya elah Neng. Tahu gitu ngga mau deh Mamang ambil resiko kayak gini”, terdengar nada kekecewaan dari kata-kata Mang Hamad. Di sampingnya, Encup juga memperlihatkan ekspresi kekecewaan yang sama. Langsung saja bayangan indah untuk bisa membelikan Siti, kekasihnya, sebuah hadiah dari bagian hasil yang akan diterimanya dari “proyek” ini sirna begitu saja.

“Maaf deh Mang… Bulan depan ya…”, kata Luisa memelas.

“Masa utang? Kalo gitu ngga jadi deh, capek-capek saya nyolongin ini…”, Kata Mang Hamad sambil berdiri dan siap-siap beranjak dari tempat duduknya.  Encup sendiri nampak bingung melihat perdebatan kecil yang terjadi antara Mang Hamad dan Liusa. Mau tidak mau ia pun kemudian ikut beranjak dari tempat duduknya.

Luisa lalu memutar otak dengan cepat. Dia tidak boleh membiarkan Mang Hamad pergi membawa “barang” itu, karena benda itu sangat penting baginya. Menyangkut masa depannya. Maka dia bertekad akan melakukan apapun asal dia bisa mendapatkannya. Maka dia lalu berdiri dan berusaha menghentikan kedua laki-laki tersebut.

“Mang…”, panggil Luisa pelan. Suaranya dibuat se-sexy dan sememelas mungkin. Mang Hamad menoleh ke belakang dan menghentikan langkahnya. Encup yang mengikutinya di belakang juga melakukan hal yang sama.

“Apa lagi? Ada uang ada barang!”, ucap Mang Hamad ketus dan kembali membalikkan tubuhnya.

Gadis cantik itu kemudian memegang tangan Mang Hamad. “Tolong dengerin penawaran saya dulu dong Mang…”.

Laki-laki paruh baya itu pun kembali menghentikan langkahnya. Kini ia menatap wajah cantik Luisa dengan tatapan serius.

“Jangan gitu dong Mang, kan saya udah bilang kalo saya lagi ngga ada uang sekarang…”, sejenak Luisa menghentikan kata-katanya. Agaknya ia sendiri tidak yakin apakah ia berani untuk mengajukan penawaran gila yang beberapa saat lalu terlintas di benaknya. Namun mengingat semua ini menyangkut masa depannya, akhirnya kata-kata itu pun keluar dari mulut mungilnya. “Gimana kalo “barang” itu  saya ganti “barang” juga?”.

“Emang pasar loak bisa barang diganti barang?”. Masih terdengar nada kesal dari perkataan Mang Hamad.

“Saya yakin barang yang ini Mamang suka deh!”, sahut Luisa menggoda.

Mang Hamad mengerutkan keningnya. “Barang apaan?”.

“Mamang ikut saya dulu deh…”, Luisa lalu menarik tangan Mang Hamad.

Laki-laki paruh baya itu nampak kebingungan dengan tingkah Luisa. Namun ia tetap tidak melawan dan mengikuti langkah gadis cantik itu.

“Lu tunggu di sini aja ya Cup!”, ucap Mang Hamad sebelum mereka berdua beranjak semakin menjauh.

Encup yang nampak sedari tadi juga menunjukkan ekspresi keheranan, hanya bisa mengangguk pelan.

“Hei Neng, mau kemana sih?”

Luisa diam saja. Ia tetap menarik tangan Mang Hamad dan mengajaknya masuk ke dalam kamar. Setibanya di dalam Luisa langsung menutup pintu.

“Barangnya ada di dalam sini ya Neng?”. Mang Hamad menyapu pandangannya kesekeliling ruangan kamar. Luisa hanya tersenyum nakal mendengar pertanyaan laki-laki paruh baya tersebut.

Ruangan kamar tersebut terlihat rapi dengan ornamen-ornamen kecil khas gadis ABG. Ranjang cukup besar dengan bed cover biru bercorak bunga-bunga, sebuah meja rias dan meja belajar kecil, dan kamar mandi dalam. Di dinding terlihat poster-poster artis-artis pria. Terlihat sekali kalau kamar itu adalah kamar Luisa sendiri.

Luisa

“Iya Mang, “barang”nya ada disini”.

“Mana?”.

Kembali Luisa tersenyum ke arah Mang Hamad yang berdiri bengong tak mengerti. Luisa yang sekarang telah saling berhadapan dengan Mang Hamad, perlahan-lahan membuka kaos tanpa lengannya dihadapan Mang Hamad sehingga sehingga BH-nya yang warna pink dan perutnya yang mulus dan putih menjadi terlihat oleh Mang Hamad. Mang Hamad melotot dan kaget dengan tindakan berani gadis itu. Matanya semakin melotot saat Luisa juga melepaskan BH  dan melemparkannya berikut dengan kaos yang tadi dikenakannya ke atas ranjang, sehingga kini kedua payudara Luisa terbuka lebar-lebar dan ia bisa melihatnya dengan bebasnya.

“Barang yang ini yang saya maksud…”, kata Luisa memamerkan buah dadanya.

Memang payudara Luisa betul-betul indah menggoda. Bulat sempurna dan padat. Keduanya begitu menantang untuk diraba-raba dan diremas-remas. Sementara kedua putingnya berwarna kemerahan nampak segar menantang untuk dikulum. Mang Hamad masih terlihat bengong seakan tidak tahu harus berbuat apa atas aksi nekat luisa tersebut. Laki-laki paruh baya itu hanya bisa menelan ludah beberapa kali melihat pemandangan indah di depannya.

“Mang, bagaimana kalo duit yang saya janjikan diganti dengan tubuh saya? Hari ini Mang Hamad boleh menikmati tubuh saya sampai Mamang puas, asalkan Mamang serahkan barang itu”, Luisa memberikan penawarannya. Ia sadar benar kalau penawarannya ini pastilah tidak akan bisa ditolak oleh Mang Hamad. Bagaimana tidak, penawaran sebuah tubuh gadis muda cantik yang ranum tentunya sangat sayang untuk disia-siakan.

Lalu tangan gadis cantik itu menggapai tangan Mang Hamad yang berotot. Tangan Mang Hamad yang masih terbengong lalu ditempelkannya di payudaranya. Tangan kekar itu kini terlihat tepat memenuhi payudara Luisa. Permukaan tangan Mang Hamad bisa merasakan kelembutan dan kepadatan bongkahan bukit kembar tersebut. Hal ini membuat tangan Mang Hamad menjadi agak basah berkeringat. Tapi walaupun masih dalam keadaan setengah sadar, secara refleks tangan itu tetap meremas payudara Luisa dengan lembut.

“Aaahh… terus… Mang…”, desah Luisa manja.

“Luisa… tetek kamu indah sekali… bening banget… kenyal lagi…”, ucap Mang Hamad tanpa melepaskan telapak tangannya dari bukit kembar sang gadis cantik.

Beberapa detik kemudian Luisa menarik lepas tangan Mang Hamad dari dadanya. Langsung saja ekspresi protes terpancar dari wajah laki-laki paruh baya itu. Luisa kembali hanya tersenyum kecil melihat tingkah pola penjaga sekolahnya tersebut.

“Asal Mamang mau kasih barang itu, Mamang boleh kok menikmatinya sampai puas”.

“Benar nih Neng??”, tanya penjaga sekolah itu seolah-olah tak percaya.

“Benar Mang…”, kata Luisa sambil meremas-remas sendiri kedua payudaranya yang montok. Sesekali ia juga melemparkan senyuman nakal sambil memelintir-melintir puting payudaranya. Tingkah Luisa tersebut benar-benar membangkitkan gairah birahi Mang Hamad.

“Mamang sepakat deh, kalo Neng bisa muasin Mamang “barang” ini boleh Neng ambil hehehe…”.

“Gitu dong Mang hehehe…”.

“Oya, si Encup gimana tuh Neng?”, agaknya Mang Hamad teringat akan anak buahnya yang juga bisa dikatakan berjasa dalam “proyek” yang mereka rencanakan.

“Hhhhmmm…”, Luisa mengerutkan keningnya sejenak. Kembali sebuah ide gila terlintas di benaknya. “Si Encup diajak aja sekalian Mang, biar rame hehehe…”.

Mata Mang Hamad langsung terbelalak mendengar perkataan Luisa. Ia sama sekali tidak menyangka kata-kata itu akan meluncur dari mulut gadis secantik dan berwajah sepolos Luisa. Dari penampilannya sehari-hari di sekolah, Mang Hamad sudah menyangka kalau  Luisa pasti bukanlah gadis yang lugu dalam soal percintaan. Namun melakukan permainan cinta secara keroyokan, sama sekali tidak pernah ia bayangkan dapat dilakukan oleh gadis cantik di hadapannya ini.

“Se… serius Neng?”.

Luisa tidak menjawab. Kembali ia hanya melemparkan senyum menggoda. Setelah itu ia beranjak menuju pintu kamar dan kemudian membukanya sedikit. Dari dalam Luisa mengeluarkan kepalanya dari balik pintu dan mulai memanggil Encup yang masih berada di ruang tamu.

“Cup, sini dulu…!”, teriak gadis cantik itu untuk kedua kalinya.

“Eh, iya… iya Neng…”, terdengar teriakan suara Encup dari ruang tamu.

Tak lama si Encup terlihat tergopoh-gopoh berlari mendekati Luisa.

“A… ada apa ya Neng?”, ucapnya terbata-bata.

“Lu masuk gih!”, selesai berucap, kemudian Luisa menarik kepalanya dan masuk kembali ke dalam kamar.

Dengan perlahan dan sedikit ragu-ragu Encup membuka pintu kamar tersebut. Segera setelah pintu itu terbuka dengan lebarnya, tiba-tiba saja Encup merasa tersedak dan aliran darah ke jantungnya terasa terhenti detik itu juga. Dengan mata terbelalak ia melihat Luisa berdiri dengan tubuh bagian atas terbuka total. Gadis cantik itu terlihat santai walaupun kini dua pasang mata menatap tubuh atasnya dengan nanar, dan ia terlihat sama sekali tidak merasa perlu untuk menutupi ketelanjangannya tersebut.

“A… ada apa ini Neng? Sa… saya bingung?”, ucapan Encup terdengan semakin terbata-bata.

Bukannya Luisa yang menjawab pertanyaan tersebut, namun justru Mang Hamad yang memberikan komentar. “Udah lu ikutan aja, kita mau dikasi hadiah enak nih sama Neng Luisa hehehe…”.

Jawaban itu sama sekali tidak memberikan solusi atas kebingungan yang dialami Encup saat ini. Yang bisa pemuda lugu itu lakukan saat ini hanya bisa berdiri terpaku menatap ke arah Luisa, dengan tatapan mesum. Bagaimana tidak, dihadapannya kini terpampang sebuah pemandangan indah melebihi apa pun keindahan yang pernah dilihatnya.

“Gimana Neng? Kita ambil bayarannya sekarang ya? Hehehe…”.

“Boleh deh Mang, tapi sekalian aja ya soalnya kalo satu-satu takut bokap nyokap keburu pulang”.

“Terserah Neng aja deh, yang penting kita sih enak-enak aja hehehe…”.

Mang Hamad langsung berjalan mendekati Luisa dan langsung memeluk tubuh gadis cantik itu. Sedetik kemudian bibir Mang Hamad mendarat mulus di bibir mungil Luisa. Keduanya pun langsung saling melumat satu sama lain dengan panasnya. Encup hanya bisa tercengang dengan mulut ternganga melihat adegan panas yang tersaji dihadapannya. Apalagi ketika tangan Mang Hamad dengan bebasnya meremas-remas kedua payudara Luisa sambil tetap berpagutan panas. Pemandangan itu terlihat begitu eksotis sehingga menstimulasi otak dan selangkangan Encup secara bersamaan.

“Neng ternyata jago banget cipokan ya? Hehehe…”.

“Kan baru segitu doang Mang, belum yang ini nih…”, ucap Luisa menunjuk ke arah kedua payudaranya. Kedua payudara itu memang adalah bagian tubuh yang paling dibanggakan oleh Luisa. Untuk ukuran seorang gadis ABG, Luisa memang dapat dikatakan memiliki payudara yang besar dan padat. Bukit kembar nan kenyal berukuran 36 B itu, pastilah mampu membuat setiap laki-laki yang melihatnya berdecak kagum sambil memasang wajah mupeng.

“Kalo gitu Mamang nyusu dulu ya Neng? Hehehe…”.

“Boleh Mang, sini saya tetekin”.

Lalu selesai berkata Luisa mengarahkan kepala Mang Hamad ke payudaranya. Mang Hamad yang sudah terangsang dengan ganasnya mencium payudara Luisa, dicium, dijilat, dikenyot, dihisap dan digigit putting gadis cantik yang berwarna kemerahan tersebut. Saat ini laki-laki paruh baya itu terlihat bak seorang bocah yang begitu kehausan akan air susu ibunya. Luisa sendiri terlihat kewalahan menerima kuluman dan sedotan Mang Hamad di payudara kirinya. Apalagi kemudian dengan ganas pula tangan kanan laki-laki itu meremas-remas kuat payudaranya yang lain.

“Mang.. aaahhh.. aahhh en… enak.. Mang?”.

“Iya… Neng… putingmu… manis…”.

“Ayo Mang nikmatin sepuasmu… ahhhh……”, desah Luisa.

Sementara payudara Luisa sedang di “makan” oleh mulut Mang Hamad, kedua tangannya kini mulai beralih merambah ke paha gadis cantik itu. Dirabanya sebentar paha mulus itu lalu diturunkannya hotpans Luisa sampai sebatas paha. Sejenak Mang Hamad menghentikan kulumannya dan lanjut menurunkan hotpans yang dikenakan Luisa sehingga sepenuhnya terlepas melewati kaki sang gadis. Kini Luisa berdiri dikamar itu dalam keadaan setengah telanjang dihapan penjaga sekolah itu dan juga anak buahnya dengan hanya memakai celana dalam saja. Sungguh pemandangan yang menggairahkan. Ketika Mang Hamad hendak melorotkan pula celana dalam pink bercorak garis putih yang dikenakannya, Luisa menghentikannya.

“Ngga adil nih, masa saya udah telanjang Mamang masih pake pakaian lengkap sih?”.

“Hehehe… lupa Neng, kalo gitu Mamang buka pakaian juga deh”.

Dengan terburu-buru Mang Hamad membuka kaos lusuh yang dikenakannya. Kemudian disusul dengan celana jeans yang dikenakannya, sehingga hanya menyisakan celana dalamnya saja. Luisa sendiri terlihat bergidik melihat tonjolan besar yang ada di balik celana dalam itu. Tonjolan itu terlihat begitu besar, sehingga membuat selangkangannya berdenyut-denyut hebat. Gadis cantik itu bisa membayangkan bagaimana tonjokan itu akan segera mengobrak-abrik lubang kenikmatannya.

“Eh Cup, lu buka baju juga dong, bengong aja!”, bentak Mang Hamad.

Mendengar bentakan Mang Hamad tadi, Luisa baru kembali menyadari keberadaan Encup di kamar tersebut. Ia kemudian menoleh dan melihat si Encup sedang meremas-remas selangkangannya sendiri. Agaknya adegan ciuman panas yang dilakukannya dengan Mang Hamad tadi membuat Encup terbakar birahinya. Luisa kembali hanya tersenyum kecil. Dalam pikiran gadis cantik itu terbayang kegilaan yang akan segera terjadi, dimana ia akan melayani dua laki-laki secara bersamaan. Memang bercinta dengan laki-laki bukanlah hal asing bagi Luisa, namun melayani dua laki-laki sekaligus saat ini adalah sebuah pengalaman baru baginya.

Kini ketiga orang anak manusia berlainan jenis itu kesemuanya terlihat hanya mengenakan celana dalam mereka masing-masing. Luisa kini juga bisa melihat pula tonjolan di balik celana dalam Encup. Tonjolan itu terlihat hampir sama besarnya dengan tonjolan milik Mang Hamad. Kembali Luisa bergidik dibuatnya. Selangkangannya pun kini berdenyut semakin kencang. Dua buah penis besar? Sungguh tak pernah terpikirkan di benak Luisa, akan apa yang mungkin akan segera ia alami.

“Sekarang Mamang boleh dong ngelepas yang ntu?”, ucap Mang Hamad sambil menunjuk ke arah selangkangan Luisa.

Gadis cantik itu hanya mengangguk pelan.

Kemudian dibantu oleh Luisa semdiri, Mang Hamad kemudian meraih celana dalam yang dikenakan oleh gadis cantik itu dan ditarik ke bawah hingga kaki. kini otomatis vagina ranum sang gadis terpampang dengan jelas dan menyerbakkan aroma harum disekitar kamar itu. Kedua laki-laki yang ada diruangan tersebut pun langsung menelan ludah dibuatnya.

“Ooh Neng Luisa… bau apa ini? Harum sekali?”.

“Bau vagina Luisa, Mang Hamad…. Kan Luisa baru mandi”.

“Wangi ya Mang?”, tanya Encup dengan nada penasaran.

“Wangilah Cup, lu ngga percaya? Neh lu cium sendiri hehehe”.

Lalu Mang Hamad melemparkan celana dalam Luisa kepada Encup. Dengan sigap pemuda itu menangkapnya. Kemudian ia langsung mencium kain mungil itu dan kontan saja wangi semerbak yang berasal dari celana dalam itu menggoda hidungnya.

“Bener wangi Bang hehehe…”.

“Waaaww… pasti rasanya enak juga ya…”, ucap Mang Hamad sambil memperhatikan dengan seksama vagina milik Luisa. Bulu-bulu hitam halus terlihat masih sedikit menutupi lubang kenikmatan berwarna kemerahan tersebut.

“Kalau Mang Hamad mau mencoba boleh kok… Sodok aja sama batang Mang Hamad yang mulai nonjol ntu…”, Luisa memang saat ini bisa melihat batang kemaluan Mang Hamad sudah mulai mendesak dari balik celana dalam yang dikenakannya. Kemudian dengan tatapan nakal gadis cantik itu juga memberi syarat tangan agar si Encup ikut mendekatinya. “Encup juga mau? Ayo sini…”.

Dengan gerakan eksotis dan dalam keadaan telanjang, Luisa berjalan mendekati ranjang diikuti oleh Mang Hamad dan Encup. Kedua laki-laki itu bak dua ekor serigala yang mengintai seekor domba dan siap menerkamnya bulat-bulat. Luisa lalu membaringkan tubuhnya ditempat tidur. Mang Hamad dan Encup melotot hebat melihat tubuh gadis cantik yang sudah telanjang bulat tersebut tergolek pasrah diatas ranjang. Apalagi ketika dengan nakal Luisa membuka lebar kedua kakinya, mata kedua laki-laki itu pun langsung tak bisa lepas menatap ke arah vagina sang gadis. Nafas mereka berubah menjadi semakin liar. Saat itu Luisa benar-benar merasa begitu sexy dan terangsang ketika melihat tatapan mata kedua laki-laki yang berada dihadapannya. Tubuhnya yang mulus, putih dan kencang itu terpampang dengan jelas diatas ranjang, sehingga membuat darah tersirap naik bagi siapapun yang melihatnya.

“Luisa, ka.. kamu… hgeehh… vagina….bagus….sekali…. ka.. kamu… mau.. ya…”.

“Iya… Mang. selesaikan aja sekarang. Habis itu berikan “barang”nya ya”.

Benar-benar Luisa telah menyerahkan seluruh tubuhnya kepada kedua laki-laki kelas bawah dihadapannya ini demi sebuah “barang” yang belum pasti kebenarannya. Lalu Mang Hamad berlutut di depan Luisa, sementara Encup berdiri di belakangnya menatap nanar ke arah kedua payudara sang gadis. Kemudian ketika laki-laki setengah baya itu mengarahkan kepalanya ke vagina Luisa, Encup juga ikutan berjongkok dan mulai meremas-remas payudara montok di hadapannya. Luisa menahan nafas menantikan permainan lidah yang akan diberikan oleh penjaga sekolah dan anak buahnya tersebut.

“Ooooh. OOhhhhHH. Aduuhh. Enaak ………. !”.

Mang Hamad menyapukan lidahnya pada bibir kemaluan Luisa. Lidahnya semakin liar saja, kini lidah itu memasuki liang vagina sang gadis dan bertemu dengan klitorisnya. Sementara bersamaan dengan itu Encup kini juga mulai mengulum dan menjilati payudara kanan Luisa dan meremas bagian kirinya. Badan Luisa bergetar seperti tersengat listrik dengan mata merem-melek menerima rangsangan yang menyerang tubuhnya secara bersamaan. Gadis yang sudah terangsang berat itu mengelus-elus kepala Encup yang sedang menikmati bukit kembarnya, seraya membuka pahanya lebih lebar guna memberi akses penuh untuk lidah Mang Hamad. Kepalanya terlihat menengadah menatap langit-langit kamarnya. Mulutnya menganga memperlihatkan bagaimana rasa nikmat yang kini sedang melandanya. Mang Hamad nampaknya sudah pengalaman menaklukan wanita, dengan jarinya dia buka vagina Luisa sehingga lidahnya dapat menelusuri lebih ke dalam. Selain dengan lidah, Hamad juga mengerjai liang vagina gadis itu dengan jari-jarinya, jadi sambil menjilat jarinya juga aktif mengorek-ngorek liang itu sehingga area itu semakin berlendir.

“Oohhh…enak banget. Pintar banget sih oralnya….ohhh…ohhhh….”, desah Luisa.

“Enak Neng? Hehehe…”, tanya Encup sambil kemudian mengecup bibir gadis cantik itu.

“Iya Cup… terus… sedot yang kenceng…. Aaaahh….”.

Encup pun kemudian kembali mengulum, menjilat dan menyedot kedua payudara Luisa secara bergantian. Bekas-bekas kuluman Encup pun kini mulai meninggalkan bercak-bercak dipermukaan payudara montok tersebut. Tak ada lagi Encup yang tadi polos dan lugu. Nafsu birahi kini mengubah pemuda desa itu menjadi seorang “serigala” yang ganas. Belum lagi “serigala” ganas lainnya juga kini sedang beraksi di selangkangan sang gadis. Dengan dua jarinya, Mang Hamad mulai mengocok-ngocok lubang vagina Luisa. Hal ini membuat tubuh molek sang gadis bergelinjang hebat.

“Oooh. AAaaahhHHH. AAaaahhHHH. AAaaahhHHH”.

“Oooh. AAaaahhHHH. AAaaahhHHH. AAaaahhHHH”.

Luisa sudah tidak mampu lagi menahan segala rasa nikmat yang melanda tubuhnya. Tanpa ragu-ragu lagi ia berteriak dan mendesah sekencang-kencangnya. Luisa, anak kelas 3 SMU yang cakep dan populer itu, yang jadi idaman seluruh cowok di sekolahnya, kini dibuat jadi tak berkutik dan mendesah-desah makin tak karuan oleh dua orang kampung dengan status rendahan itu. Tak akan pernah ada yang menyangka hal ini seperti ini akan dilakukan oleh seorang Luisa. Sungguh saat ini seberapa banyak cowok yang mengenal Luisa ingin sekali berada di posisi Mang Hamad dan Encup saat ini. Sungguh dua laki-laki yang teramat sangat beruntung.

Jilatan Mang Hamad dan remasan Encup itu ternyata benar-benar ampuh. Sampai-sampai membuat Luisa, cewek bermata indah itu, sekarang jadi basah kuyup vaginanya dibuatnya. Wajah Mang Hamad pun ikut menjadi basah terkena tetesan cairan dari vaginanya. Namun dengan liar ia terus menjilati vagina basah Luisa sehingga menjadi semakin kuyup saja. Sedangkan kuluman Encup, kian membuat bukit kembar sang gadis menjadi padat dan menantang. Mang Hamad dan Encup terlihat semakin memegang kendali permainan sampai akhirnya kini Luisa benar-benar pasrah dan mengikuti saja seluruh permainan keduanya. Hal ini membuat kedua laki-laki itu semakin ganas dan menikmati aksi-aksi mereka atas tubuh Luisa. Dominasi tersebut membuat mereka semakin bernafsu dan bergairah.

Kini Mang Hamad mengeluarkan kepalanya dari Vagina Luisa. Setelah itu ia menepuk bahu Encup dan memberikan isyarat agar anak buahnya itu juga menghentikan aktifitasnya. Hal itu membuat Luisa merasa tanggung dan mau marah. Tapi dia sadar saat ini mereka berdua adalah raja dan dia sebagai “pelayan” harus bisa memuaskan lawan mainnya tersebut ini demi “perjanjian” tadi. Selain itu, penghentian ini justru membuat Luisa menjadi penasaran akan permainan berikutnya yang akan disajikan baik oleh Mang Hamad maupun Encup.

“Ayuk, sekarang Neng duduk ya,” kata Mang Hamad sambil menyuruh Luisa duduk setengah tiduran di ranjang. Sementara ia sendiri bersama dengan Encup sudah berdiri di pinggir ranjang, sambil memegang pinggiran celana dalam mereka masing-masing. Nampaknya kedua laki-laki itu ingin Luisa melihat batang mereka yang akan dibuka.

“Neng Luisa pasti belum pernah lihat kontol orang-orang kampung kayak punya kita-kita. Sekarang kita kasih lihat deh. Gratis. Hehehe..”, kemudian kembali Mang Hamad memberi isyarat kepada Encup. Tak lama setelah itu mereka berdua secara bersamaan menurunkan celana dalamnya masing-masing sehingga menyembullah dua buah penis yang sudah mengeras itu di hadapan Luisa. Kedua batang penis itu besar dan panjang dengan batang yang hitam dan ujungnya yang bersunat berbentuk helm tentara, membuat Luisa terkesiap karena panjangnya. Ini merupakan sepasang penis terbesar yang pernah dilihat langsung olehnya. Ukuran keduanya tentu jauh berbeda dengan punya pacarnya. Walau merasa ngeri saat membayangkan kedua penis itu akan segera mengoyak vaginanya, tapi Luisa tak bisa menyembunyikan kekagumannya.

“Kok bengong seh Neng? Belum pernah liat penis bangkok ye? Hahaha…”, ucap Mang Hamad bangga.

Luisa memang tidak menjawab, namun ekspresi wajah cantiknya sudah cukup menggambarkan apa yang sedang dipikirkannya saat ini.

“Kayaknya si Neng bakal puas banget nih hari ini ya Mang?”.

“Iya dong Cup! Hahahaha… Ayo dong Neng, jangan cuman diliatin doang, “dikerjain” juga dong batang kita-kita hahahaha….”. Mang Hamad memberikan isyarat agar Luisa mendekati dirinya.

Maka tanpa diminta dua kali Luisa beranjak dari ranjang dan mulai mendekati Mang Hamad. Setelah mengambil posisi berjongkok kemudian dengan sedikit keraguan ia mulai meraih batang penis milik laki-laki tersebut. Tubuh Mang Hamad bergetar saat gadis cantik itu mulai mengelus-ngelus penis miliknya dan mengocoknya pelan.

“Tangannya halus… enak…”, desah Mang Hamad.

Encup yang sedari tadi memang telah mengocok-ngocok sendiri batang penisnya, kemudian ikut bergabung dan mendekati Luisa.

“Ane juga dong Neng”.

Liusa pun menurutinya. Kini kedua tangan tangan gadis cantik itu terlihat mulai sibuk mengocok-ngocok kedua batang penis milik dua laki-laki yang kini berdiri di sebelahnya. Kedua batang penis itu kini mulai nampak menegang dan terlihat semakin membesar dan membesar. Tangan Luisa yang mungil terlihat sudah tidak mampu lagi menggenggam kedua batang itu secara penuh. Semakin kencang ia mengocok penis-penis tersebut, maka semakin ngeri ia melihat perubahan yang terjadi. Ia bisa merasakan kini kalau selangkangannya menjadi semakin berdenyut hebat.

“Uh… kirain udah profesional, eh taunya cuman bisa main tangan. Kasi yang lebih dong Neng!”, Mang Hamad nampak protes karena Luisa sedari tadi hanya mengocok-ngocok penisnya dengan tangan.

Sadar dengan makna kata-kata Mang Hamad lalu pelan-pelan Luisa memajukan wajahnya. Dia melanjutkan kocokannya sambil menyapukan lidahnya pada kepala penis milik Mang Hamad, sehingga laki-laki paruh baya itu mulai mendesah merasakan belaian lidah Luisa pada penisnya serta kehangatan yang diberikan oleh lidah dan mulutnya. Setelah belasan tahun lamanya Mang Hamad menduda, ia akhinya kembali bisa menikmati kehangatan tubuh wanita. Wanita muda dan cantik lagi. Dia sunguh sangat terangsang. Luisa sendiri walaupun merasa jijik dan kotor, tanpa disadari mulai terangsang dan mulai mengulum benda itu dalam mulutnya.

“Enak tenannn….”, kata Mang Hamad.

Luisa terus memaju-mundurkan kepalanya sambil mengulum penis itu, sedangkan tangannya yang lain terlihat terus bekerja mengocok batang milik Encup. Dengan telaten gadis cantik itu berusaha membagi konsentrasi antara mengulum batang penis Mang Hamad sekaligus memijat buah pelirnya, dengan kegiatannya mengurut dan mengocok batang penis Encup. Mang Hamad merasa semakin keenakan sehingga tanpa sadar ia menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga penisnya menyodoki mulut Luisa seolah menyetubuhinya. Kini Luisa berhenti memaju-mundurkan kepalanya dan hanya pasrah membiarkan mulutnya disenggamai penjaga sekolah itu itu, kepalanya dipegangi sehingga tidak bisa melepaskan diri.

“Uuhhh… gitu , enak… mmmm !”, gumam laki-laki setengah baya itu sambil memegangi kepala Luisa dan terus memaju-mundurkan pinggulnya.

Setelah beberapa menit Mang Hamad melepaskan pegangannya di kepala Luisa, sehingga gadis itu bisa melepaskan diri untuk sejenak mengambil nafas. Tak lama kini giliran penis Encup yang mendapatkan service mulut Luisa dan berganti penis Mang Hamad yang mendapat service tangannya. Tak kalah dengan penis Mang Hamad, penis Encup juga terlihat memenuhi mulut mungil Luisa. Gadis cantik itu bersyukur Encup tidak segalak bosnya sehingga ia tak perlu takut tersedak dibuatnya. Aktifitas mengulum dan mengocok itu terus berulang-ulang dilakukan Luisa secara bergiliran.

Luisa merasakan wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir Mang Hamad yang berbulu lebat itu, penis di dalam mulutnya semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya. Memang kini giliran penis Mang Hamad yang mendapatkan service mulut Luisa, sedangkan Encup mengocok-ngocok sendiri batang penisnya sambil sesekali meremasi payudara Luisa yang menggantung.

“Ohhh… Luisa, terus… terus!”, desah Mang Hamad sambil membelai rambut gadis itu.

Saking enaknya, pertahanan Mang Hamad langsung jebol dalam waktu kurang dari 5 menit. Wajahnya menegang dan cengkeramannya pada pundak gadis itu makin mengeras. Luisa yang menyadari lawan mainnya akan segera keluar mempergencar serangannya, kepalanya maju mundur makin cepat dan “cret… cret…”, sperma Mang Hamad menyemprot dalam mulutnya. Dengan lihainya Luisa menelan dan menyedot cairan kental itu tanpa ada yang menetes dari mulutnya. Sungguh kenikmatan oral terdahsyat yang dialami Mang Hamad sehingga membuatnya melenguh tak karuan.

“Uoohh… sedot terus Luisa, enak… enak…!”.

Luisa melakukan cleaning service-nya dengan sempurna, seluruh batang itu dia bersihkan dari sisa-sisa sperma. Setelah mulutnya lepas tak terlihat sedikitpun cairan putih itu menetes dari mulutnya. Sungguh teknik yang sempurna, demikian pikir Mang Hamad.

Luisa kemudian tersenyum genit ke arah penjaga sekolahnya itu.

“Neng memang gadis nakal ya, Luisa”, katanya.

“Asal Mamang mau bantu Luisa, apapun saya lakukan buat Mang Hamad”, sahut Luisa dengan masih tersenyum menggoda.

“Iya Neng, tapi ini kan baru hidang pembuka belum juga hidangan utamanya hehehe…”.

“Mau hidangan utamanya sekarang?”, Luisa mengerlingkan matanya nakal.

“Mamang istirahat dulu deh Neng, kasi si Encup dulu deh”.

Mendengar hal itu senyum langsung terkembang di bibir tebal Encup. Pemuda kampung itu langsung berjalan mendekati Luisa. Sebenarnya Luisa tidak terlalu sreg melayani Encup, karena bagaimanapun bukan dirinyalah yang mengajak pemuda itu. Namun mau tidak mau ia pun harus mengakui kalau Encup juga memberikan jasa yang cukup besar atas keberhasilan rencana yang disusunnya.

“Mang, ane ngambil hidangan utamanya dulu boleh kagak?”.

“Boleh deh Cup, asal lu jangan keluarin pejuh lu di memek Neng Luisa!”.

“Sip deh Mang, yuk Neng kita mulai hehehe….”.

Kemudian Encup menggandeng tangan Luisa dan mengajaknya naik ke atas ranjang. Di atas ranjang, tubuh molek gadis muda itu dibaringkannya dan kemudian Encup membuka kedua paha Luisa. Ekspresi mupeng langsung terpancar di wajah lugunya. Bagaimana tidak, kini dihadapannya tersaji sebuah pemandangan indah berupa sebuah vagina gadis muda yang merah merekah. Begitu terlihat ranum dan menggairahkan.

“Permisi numpang masuk ya Neng hehehe…”.

Tanpa menunggu jawaban dari Luisa, langsung saja Encup mengacungkan batang penisnya yang sudah menegang. Dengan cekatan ia menggesek-gesengkan ujung penisnya yang menyerupai jamur dipermukaan vagina Luisa. Kemudian dengan susah payah Encup berusaha mendorong batang penisnya ke dalam lubang kenikmatan sang gadis. Walau sudah terlihat basah, namun lubangnya yang sempit membuat Encup sulit memasukinya.

“Ih memek Neng kayak perawan aja seh? Susah amat dimasukinnye hehehe…”.

“Pelan-pelan dong Cup, cari selahnya, sini Luisa bantuin”.

Luisa lalu memegangi batang penis Encup dan mengarahkannya perlahan ke lubang vaginanya. dengan perlahan pula gadis cantik itu mendorong penis itu masuk ke dalam.

“Teken Cup…!”.

Dengan hati-hati kemudian Encup mendorong masuk batang penisnya. “AAakkh…”, desahan pelan terdengar dari mulut Luisa ketika batang besar itu berlahan melesak masuk ke dalam vaginanya. sambil memegangi kedua paha Luisa, Encup kemudian mulai memompa lubang kenikmatan sang gadis. Jepitan dinding vagina Luisa ia rasakan begitu menjepit, tidak seperti milik perek kampung yang biasa ia gunakan untuk menyalurkan nafsu.

“AaaakkHHh…. OooHhh…”, beberapa menit tubuh kedua insan berbeda status itu berguncang-guncang di atas ranjang. Mang Hamad yang sedari tadi melihat adegan itu mau tidak mau mulai kembali terangsang. Penis yang tadinya lemas kini mulai terlihat menegang ketika melihat tubuh mulus Luisa begitu kontras berguncang di bawah tubuh hitam kerempeng Encup. Maka langsung saja Mang Hamad beranjak dari tempat duduknya dan mendekati mereka berdua.

“Gimana Cup? Mantap kagak?”.

“Mantap pisan Mang, ni memek top banget dah!”, sahut Encup sambil terus menggenjot dengan semangat.

“Giliran dong Cup! Kita garap bareng aja sekalian nih si Neng hahaha….”.

Encup menuruti perkataan bosnya itu. Ia lalu menghentikan genjotannya dan menarik keluar batang penisnya. Mang Hamad kemudian beranjak naik ke atas ranjang mendekati Luisa yang nampak terbaring dengan nafas terengah. Mang Hamad lalu mengambil posisi duduk di samping gadis cantik itu. Laki-laki paruh baya itu pun kemudian memanggil Luisa untuk duduk dipangkuannnya. Posisi mereka sekarang saling menghadap dimana Mang Hamad masih duduk di ranjang dan Luisa diatasnya. Tanpa ada rasa malu-malu lagi Luisa menuruti keinginan penjaga sekolahnya itu. Bahkan tanpa sungkan dia mencium bibir Mang Hamad.

“Neng ini memang ngegemesin banget! Hahaha…”.

“Masa seh Mang?”.

“Iya, mungil tapi centil!”, ucap Mang Hamad dan kemudian langsung melayangkan ciuman ke bibir Luisa.

Sambil berciuman tangan Mang Hamad kembali meremas bagian-bagian sensitif tubuh gadis mungil itu. Sekarang Penjaga sekolah bejat itu menyusu dari payudaranya. Pipi pria itu sampai kempot menyedot puting Luisa, sepertinya dia sangat gemas dengan payudara Luisa yang putih montok dengan puting kemerahan itu. Luisa senang-senang saja payudaranya dikenyot. Dia sendiri nampak mendesah nikmat dengan kepala menengadah dan mata terpejam. Dengan nakal dia ikut meremas-remas batang Mang Hamad yang masih lemas. Perlahan-lahan nafsu gadis itu mulai naik lagi. Begitu juga dengan Mang Hamad. Dengan tempo singkat penisnya sudah kembali bangun.

“Masukin ya Mang. Luisa sudah ngga tahan nih”, kata Luisa yang diiyakan Mang Hamad. Luisa lalu mengangkat pantatnya dan mengarahkan vaginanya ke penis yang sudah menegang maksimal itu. Inilah kali pertama Luisa akan merasakan penis terbesar yang akan memasuki lubang vaginanya yang sempit. Memang penis milik Encup yang tadi terasa penuh, namun rupanya penis Mang Hamad terasa jauh lebih besar. Walau sedikit ngeri, tapi nafsunya mengalahkan semuanya. Beberapa kali kepala penis itu terpeleset dan gagal masuk kecelah vagina Luisa.

“Susah banget sih Mang? Punya Mamang gede sih”.

“Sini Mamang bantu”.

Mang Hamad lalu membantu dengan mengarahkan penisnya ke vagina gadis itu. Luisa mengigit bibirnya merasakan sedikit perih saat ujung kepala penis Penjaga sekolahnya itu masuk. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam miliknya. Sedangkan dipinggir ranjang Encup hanya menatap keduanya sambil mengocok-ngocok sendiri batang penisnya.

“Pelan-pelan Mang. Sakit….”.

“Iya Neng. Memek Neng sempit amat sih”.

Luisa merintih menahan nyeri saat penis besar itu menyeruak perlahan ke dalam kemaluannya yang sempit, demikian juga Mang Hamad meringis menahan sakit merasakan penisnya tergesek dinding vaginanya. Dengan beberapa kali gerakan tarik dorong yang keras maupun lembut, penis itu akhirnya terbenam setengahnya kedalam vagina Luisa. Itupun luisa sudah merasa penuh sekali. Penis itu terasa sangat sesak di liang vaginanya, ini memang bukan pertama kalinya bagi Luisa, namun penis mantan pacarnya Johan tidaklah sebesar milik Mang Hamad.

Dan ketika dengan kasar Mang Hamad tiba-tiba menekankan batangnya seluruhnya hingga amblas. Luisa tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. Perasaan luar biasa bercampur pedih menguasai dirinya, hingga badannya mengejang beberapa detik.

“ahh…… Mang…… ohhhhhhh……. sakit…….”, Luisa melolong dengan panjang.

“Oohh….. enak banget Neng, sempit, legit, padahal udah gak perawan…!”, katanya sambil menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama makin cepat. Luisa sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap dia menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang senggamanya sungguh membuatnya seperti terbang keawang-awang. Mereka bersetubuh dengan gaya woman on top.

“Oh, Luisa…… memekmu… bener-bener masih seret, ohh… ohhh!”, puji Mang Hamad ditengah genjotannya. Luisa hanya hanya memejamkan mata sambil mendesah. Dia sudah mulai bisa menikmati penis Mang Hamad di liangnya. Bahkan dia sekarang mulai ikut menggoyang-goyangkan pantatnya diatas penis hitam itu. Encup yang masih berdiri di pinggir ranjang juga ikut semakin kencang mengocok penisnya sendiri.

“Oh, Mang…. ohhhh… ohhhhhh….. enak……”, desah Luisa. Dia memacu dan menggoyangkan pinggulnya pada pangkuan Mang Hamad dengan penuh semangat. Ketika memandang ke depan, dilihatnya wajah orang tua itu sedang menatapnya dengan takjub, segaris senyum terlihat pada bibirnya, senyum kenikmatan karena telah berhasil menikmati gadis terpopuler disekolah ini.

“Kamu benar-benar cantik Luisa. Dada kamu juga bagus”, ujarnya. Dengan posisi demikian, Mang Hamad dapat mengenyot payudara Luisa sambil menikmati goyangan pinggulnya. Kedua tangannya meraih sepasang gunung kembar itu, mulutnya lalu mencium dan mengisap putingnya secara bergantian. Remasan dan gigitannya yang terkadang kasar menyebabkan Luisa makin melayang, dia makin lama makin cepat mengoyangkan pinggulnya diatas tubuh Mang Hamad. Di ambang klimaks, tanpa sadar Luisa memeluk Mang Hamad dan dibalas dengan pagutan di mulutnya. Mereka berpagutan sampai Luisa mendesis panjang dengan tubuh mengejang.

‘Oh… Mang…. Luisa…. mau ke…. lu…. ar…. rrrrr”, jerit Luisa. Sekitar 2 menit kemudian, tubuh Luisa meliung keras, menjerit menahan desah, saat berhasil mencapai orgasme, matanya membeliak dan tubuhnya berkelejotan. Mang Hamad masih terus mengenjot hingga orgasmenya makin panjang.

Vagina Luisa berdenyut kencang seolah menghisap penis Mang Hamad dan mencengkeram penis itu keras sekali. Meski begitu, entah apa yang menjadi doping Mang Hamad, penis penjaga sekolah  itu tetap saja berdiri tegak seperti tongkat baja yang tidak bisa lemas. Penis itu terus menyodok vagina Luisa meski gadis cantik itu sudah kepayahan.

“Turun yuk Neng, kita main dibawah aja”.

Mang Hamad kemudian membimbing Luisa turun dari ranjang. Laki-laki setengah baya itu lalu mendekap tubuh telanjang Luisa. Masih dengan kemaluan yang menyatu, mereka lalu berlutut di lantai. Mang Hamad kemudian menunggingkan pantat Luisa, memaksa gadis cantik itu berposisi merangkak dengan bertumpu pada lutut dan siku. Dengan posisi pantat Luisa yang menungging lebih tinggi dari kepala, Mang Hamad makin leluasa menggagahi wanita cantik itu. Dia melebarkan kedua kaki Luisa, membuat vagina wanita itu kembali membuka. Segera saja penis Mang Hamad kembali menggenjot vagina gadis seksi itu secara brutal, sambil beberapa kali menampari bongkahan pantat montok tersebut. Kesempatan ini digunakan oleh Encup untuk mendekati Luisa. Gadis cantik yang kini sedang berahadapan dengannya itu langsung disorongi batang penis miliknya.

“Di kulumin dong Neng!”.

Encup lalu menyodok masuk penisnya ke dalam mulut Luisa. Gadis cantik itu hanya bisa menerima dengan pasrah batang penis Encup menyeruak masuk ke dalam mulutnya. Ketika Encup mulai mengocok mulut Luisa, kini gadis mungil itu harus menerima dua kocokan penis dari dua tempat yang berbeda secara bersamaan. Satu di vaginanya dan satu lagi di mulutnya. Sensasi seperti ini sungguh sebuah sensasi yang baru bagi Luisa. Tidak pernah ia merasakan kenikmatan sebegitu luar biasa ketika melayani dua laki-laki sekaligus. Rasa nikmat terasa lebih hebat ketika ia bermain dengan satu laki-laki. Rasa ini membuatnya mabuk dan melayang.

“Ahhkh… aahh… oohh…”, Luisa merintih-rintih lirih merasakan vaginanya kembali digenjot oleh penis Mang Hamad. Tubuh Luisa kian lemas mengalami percintaan yang begitu lama. Lenguhan dan erangan Luisa akhirnya lenyap sama sekali dan hanya menyisakan rintihan-rintihan tak berdaya. Tubuh mulusnya yang telanjang bulat tersentak maju mundur dengan pasrah mengikuti sodokan penis Mang Hamad pada vaginanya. Tubuhnya benar-benar terasa letih dan lemas. Meski begitu gelombang orgasme terus-menerus menghajar tubuhnya, membuat Luisa hanya bisa menggeliat lemah tertahan karena suara desahan dan teriakannya tertahan penis Encup yang menggenjoti mulutnya.

“Gantian dong Mang, ane pengen ngerasain jepitan memek si Neng lagi nih”.

“Ntar dulu deh Cup, tanggung nih! Aaakkhh….”.

“Hhhhmmm… Hhhmmm… Hhhmmm…”, gumaman tertahan terus keluar dari mulut Luisa yang dipenuhi oleh batang penis Encup.

“Ok Cup, kite gantian….”.

Dengan semangat Encup menarik keluar penisnya dari mulut Luisa. Kemudian pemuda itu naik ke atas ranjang dan bersiap menggantikan posisi Mang Hamad. Begitu Mang Hamad menarik keluar batang penisnya dari vagina sang gadis, Encup dengan segera menghujamkan penisnya dan mulai mengocok lubang kenikmatan Luisa. Luisa sendiri sudah tidak mampu lagi membedakan penis siapa yang kini berada di dalam vaginanya. Ia sendiri kini kembali sedang dilanda birahi hebat pasca klimaks pertamanya tadi.

“Enak sekali memek Neng Luisa… beruntung sekali saya Neng… ha… ha….”, jerit Encup bagai kesetanan.

“Terus… terus… kocok terus… kocok yang kenceng…”, Luisa tak kalah keras merancau. Yang ada di pikirannya kini hanya meraih kenikmatan sepuas-puasnya. Ia bisa merasakan kalau gairahnya kembali akan mencapai puncak.

Penis Encup dengan kasar menyodok-nyodok vaginanya berulang-ulang. Cairan vagina Luisa yang membludak seolah berbuih melicinkan gesekan penis pemuda kampung itu pada dinding vaginanya. Sebagian cairan vagina itu mengalir membasahi paha Luisa sebelah dalam. Encup kian ganas mengenjot Luisa. Dengan tangan terus-menerus meremas-remas pantat Luisa. Sementara Mang Hamad mengocok-ngocok sendiri batang penisnya sambil meremas-remas payudara Luisa yang terguncang-guncang.

Penis Encup terus menyodoki vagina anak 17 tahun yang cantik itu dengan gerakan tidak teratur, kadang cepat kadang pelan, membuat Luisa kian tersiksa oleh kenikmatan yang kembali mendera tubuhnya. Kadang-kadang saking terangsangnya, Luisa menggoyangkan pantatnya sendiri maju mundur untuk mempercepat sodokan penis Encup pada vaginanya. Pemuda kampung itu tertawa senang di tengah dengus kenikmatannya menyaksikan Luisa yang menggoyangkan pantatnya sendiri.

“He he he.. Oke juga nih Neng…”, Encup tertawa. “Ayo, goyang terus… Ayo.. terus…”, Mang Hamad sendiri terdengar menyemangati kedua insan tersebut. Ditengah hebatnya goyangan mereka, tiba-tiba Encup lalu menghentikan sodokan penisnya sama sekali, untuk mengetahui reaksi Luisa. Secara reflek Luisa langsung menggerakkan pantatnya lebih kuat dan lebih cepat. Orgasme berkali-kali telah membuat Luisa kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. yang dia inginkan sekarang hanyalah bagaimana meraih kenikmatan seksual sebanyak mungkin. Karena itulah Luisa terus menerus menggoyangkan pantatnya membuat vaginanya tetap terpompa oleh penis Encup. Sementara itu Encup juga mengimbangi gerakan pantat Luisa yang kian liar. Encup memegangi pinggul Luisa lalu menarik pinggul yang bulat itu maju mundur mempercepat goyangan pantat Luisa.

Beberapa lama tubuh Encup dan Luisa menyatu sambil terus berguncang hebat di atas ranjang. Kini giliran kembali terjadi pertukaran ketika Mang Hamad memberikan isyarat kepada Encup. Dengan segera Encup menarik batang penisnya untuk kemudian berganti dengan penis Mang Hamad. “AaakKhh…”, Luisa hanya bisa terus berteriak dan mendesah ketika pertukaran penis itu berlangsung.

“Ayo… terus… goyang terus…”, kini giliran Mang Hamad menyemangati Luisa yang makin liar, sementara tangannya terus meremasi pantat Luisa yang montok dengan penuh kegemasan. Luisa kian tak tahan menerima sodokan penis Mang Hamad. Perlakuan Mang Hamad dan Encup yang begitu brutal menyetubuhinya secara bergantian ternyata justru membuat orgasme Luisa lebih cepat meninggi. Luisa merasakan gelombang orgasme kembali meregangkan syaraf seksualnya mencoba menembus pertahanannya. Akhirnya sang gadis mencapai puncak permainan untuk kedua kalinya hari itu. melihat Luisa melemas, Mang Hamad menghentikan genjotannya sejenak.

“U… udah dulu Mang, Luisa capek…”, ucap Luisa sedikit terengah. Masih dalam posisinya menungging dan penis Mang Hamad masih menancap di vaginanya.

“Mamang belum cape Neng… malah belum keluar nih, si Encup juga belum nih. Kalau udahan sekarang, perjanjian kita batal lo Neng…”, ancamnya.

“Ok… ok… lanjutin ajah Mang”, kata Luisa tak punya pilihan. Kedua laki-laki kampung itu hanya saling menatap satu sama lain saling mengeluarkan senyuman mesum mendengar perkataan Luisa.

Merasa belum terpuaskan dengan posisi doggy style yang dipraktekkannya, Mang Hamad kemudian memaksa Luisa kembali menelentang di lantai, lalu direntangkannya kedua tangan Luisa ke samping dan dipeganginya pergelangan tangan wanita itu erat-erat. Kemudian kembali penis Mang Hamad menyodok-nyodok vagina Luisa. Luisa tidak bisa bergerak dengan posisi seperti itu. Tubuh Mang Hamad yang besar menindih tubuh putih mulus Luisa dengan ketat. Sodokan penis Mang Hamad menggenjot vagina Luisa dengan begitu kasar membuat pantat Luisa sampai terbanting-banting keras di lantai marmer yang dingin.

Beberapa menit kemudian kini giliran Encup yang menggenjoti vagina Luisa. Begitu seterusnya, kedua laki-laki itu terus menerus bergantian menggenjoti lubang kenikmatan sang gadis cantik. Luisa hanya bisa pasrah dan lemah menerima dua buah penis yang bergiliran mengobrak-abrik selangkangannya. Kedua laki-laki itu terlihat begitu mendominasi permainan, sedangkan Luisa saat ini hanyalah menjadi objek “penderita”.

“AAAKkkkHH… memek! Nikmat…”, rancau Mang Hamad ketika menggenjoti vagina Luisa.

“DasYaaatt…!!! Ngga Kuku deh…!!!”, Encup tak kalah kencang berteriak-teriak tak karuan ketika ia mendapatkan giliran berikutnya.

“Oooh. AAaaahhHHH. AAaaahhHHH. AAaaahhHHH”.

“Oooh. AAaaahhHHH. AAaaahhHHH. AAaaahhHHH”.

Teriakan, lenguhan dan desahan kencang mengisi ruangan kamar Luisa. Semuanya berpadu menggambarkan bagaimana panasnya persetubuhan dasyat yang sedang terjadi saat itu. tubuh molek dan mulus milik Luisa sedang dikerumuni oleh dua laki-laki kumal dan kampungan dengan ganasnya. Pemandangan itu terlihat begitu ekstrim tetapi begitu menggairahkan pula.

Luisa yang sudah tidak punya tenaga lagi hanya bisa pasrah dan berharap ini cepat berakhir. Meski begitu Luisa harus menunggu cukup lama untuk itu. Selang sepuluh menitan kini Mang Hamad yang terlihat menggenjotkan penisnya, tubuh Luisa kembali menggeliat dan mengejang, hanya kali ini terlalu lemah. Sementara penis Encup kembali terlihat menggenjoti mulut mungil Luisa, juga dengan tak kalah ganasnya. Selang beberapa lama, baik Mang Hamad maupun Encup terlihat sama-sama menegang hebat. Luisa bisa merasakan kedutan-kedutan di mulut dan vaginanya. Ia tahu kedua laki-laki itu akan mencapai klimaks dalam waktu dekat. Sementara itu gairah birahi juga tak kalah hebat melanda dirinya sendiri. Luisa bisa merasakan kalau dorongan hebat juga akan segera meledak dalam dirinya dalam waktu dekat.

“Ohh… aahh…”, Luisa mengerang lirih dengan tubuh mengejang dan gemetar. Dari vaginanya yang kembali berdenyut keras, Mang Hamad segera tahu kalau gadis cantik yang sedang digagahinya itu kembali mengalami orgasme. Vagina Luisa mencengkeram penis Mang Hamad dengan kuat seolah hendak membetot penis itu sampai lepas.

Dan benar saja tak lama kemudian hampir secara berbarengan, ketiga insan berbeda usia itu berteriak hebat. “AAAAAKKhhhh….!!! OOOhhhHH…. AAAAKKHHhhhH…!!!!”.

Luisa merasakan cairan kental menyemprot kencang di dalam vagina dan mulutnya secara bersamaan. Sementara cairan cintanya juga tak kalah kencang menyembur kencang dari lubang senggamanya. Sampai semprotan terakhir Encup dan Mang Hamad menarik keluar batang penis mereka secara bersamaan. Saat itu juga tubuh Luisa langsung ambruk di lantai. Dalam posisi terlentang lemas, terlihat cairan putih kental keluar berlahan dari mulut dan juga lubang vaginanya. Luisa tidak mampu lagi melakukan apa-apa sehingga ia membiarkan saja semuanya mengalir dengan sendirinya. Tiga kali klimaks hari ini membuat tenaganya benar-benar terkuras. Encup dan Mang Hamad juga terlihat tak kalah lemas. Keduanya terlihat terduduk dengan keadaan nafas menderu kencang. Keduanya mencoba untuk mengembalikan kondisi mereka masing-masing pasca klimaks yang mereka capai tadi.

Beberapa saat setelah merasa kondisinya telah pulih, Mang Hamad mendekati Luisa. Kemudian dengan perlahan ia merabai tubuh Luisa yang tergolek lemah. “Udah dulu mang…. aduh capek… istirahat dulu….”, desah Luisa pelan.

Kali ini Mang Hamad menurut saja. Dia juga mau mengistirahatkan penisnya yang dari tadi “bekerja keras”. Dia lalu membopong Luisa. Direbahkannya gadis itu diatas ranjang. Luisa telentang dengan lemasnya. Entah sudah berapa kali dia sudah mengalami orgame sepanjang permainan mereka tadi. Tapi dia tahu ini belum selesai. Luisa menerima minuman yang diberikan oleh Encup yang tadi sempat keluar kamar. Kerongkongannya yang tadinya kering kembali terisi. Mang Hamad juga membantu Luisa mengurangi lemasnya dengan memijat-mijat gadis itu.

.

Pukul 17.40

Luisa

Baik Luisa, Mang Hamad maupun Encup kini telah terlihat pulih. Bahkan Mang Hamad dan Encup terlihat sudah mengenakan kembali pakaian mereka masing-masing. Sedangkan Luisa sendiri terlihat hanya menggunakan selimut untuk menutupi ketelanjangannya. Tubuhnya terasa begitu lengket oleh cairan sperma yang mengering, sehingga ia memilih untuk mandi nanti dahulu sebelum berpakaian kembali.

“Terima kasih lo Neng. Memek Neng Luisa enak sekali”, ucap Mang Hamad sambil cengengesan.

“Saya juga makasi nih Neng hehehehe…”, Encup mengelus-ngelus kepalanya sendiri.

“Ya udah. Sekarang mana “barang” nya. Saya butuh banget nih Mang”.

“Tuh ambil aja Neng di atas meja”.

Luisa lalu mengambil sebuah buku tulis dari meja belajarnya dan segera menyalin jawaban yang tertera pada beberapa lembar kertas yang diberikan oleh Mang Hamad. Apa yang disalin oleh Luisa tadi adalah lembar jawaban Ujian Akhir Nasional (UAN) yang besok akan dihadapinya. “Proyek” yang direncanakan Luisa bersama dengan Mang Hamad adalah mencuri lembar jawaban tersebut dari ruang Kepala Sekolah. Sebagaimana kita ketahui UAN akan selalu menjadi momok menakutkan bagi para siswa SMU maupun SMP, karena ketidaklulusan akan menjadi aib bagi mereka dan keluarga. Tak heran setiap akhir tahun ajaran siswa-siswa kelas tiga akan melakukan apapun agar mereka bisa lulus dari hadangan UAN. Termasuk salah satunya Luisa, yang merelakan tubuhnya untuk dinikmati penjaga sekolah rendahan seperti Mang Hamad dan Encup demi prestise, kelulusan dan selembar ijasah.

Beberapa menit kemudian Luisa menyerahkan kembali lembaran tersebut. “Nih Mang, ingat besok Mamang cariin lagi jawaban buat mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris”.

“Tenang Neng, asal imbalannya sama nikmatnya kayak yang sekarang Mamang usahain deh”.

“Soal itu bisa diatur deh!”.

Akhirnya kedua laki-laki kampung itu pun keluar dari rumah Luisa dengan senyuman dan sejuta kenangan kenikmatan yang baru saja mereka alami.

****************

Keesokan harinya

Pukul 13.40

Sekolah sudah lenggang setelah bubaran jam 13.15 tadi, tidak ada kegiatan apa-apa lagi di sekolah karena hari ini memang sekolah sedang disterilkan dalam rangka melaksanakan UAN. Suasana sekolah terlihat begitu lengang dan sunyi. Sama sekali tidak terlihat tanda-tanda kehidupan, karena baik guru maupun murid-murid memang sejak tadi telah meninggalkan areal sekolah. Di tengah kesunyian tersebut, dari sebuah toilet di tingkat 3 yang jarang dilewati orang terdengar sayup-sayup suara desahan dari dalam.

“Aaah… iyahhh Mang, lebih keras dikit… ahhh…. aahhhh!!!”, erang Luisa yang bersandar pada tembok dan menerima hujaman penis Mang Hamad pada vaginanya.

Seluruh kancing seragam gadis itu telah terbuka dan cup branya telah terangkat ke atas. Rok abu-abu yang dikenakannya juga terlihat terangkat hingga pinggang, sedangkan celana dalamnya bergantung tanggung pada lutut kaki kirinya yang terangkat dan bertumpu di bak. Di belakang sang gadis terlihat Mang Hamad dengan semangat memaju-mundurkan pinggulnya, mengocok vagina Luisa.

“Luisa mau nyampe nih Mang….”.

“Tahan dikit lagi Neng, Mamang juga dah mau nih!”.

Mang Hamad pun semakin mengencangkan kocokannya, sehingga membuat tubuh Luisa bergoyang semakin kencang. Kedua insan berlainan jenis itu nampak begitu menikmati persetubuhan yang sedang mereka lakukan. Memang percintaan terakhir dengan Mang Hamad membawa sensasi tersendiri bagi Luisa, melebihi sensasi ketika ia bercinta dengan pacarnya sekalipun. Maka ketika ia harus membayar lembar jawaban hari berikutnya dengan tubuhnya, Luisa sama sekali tidak menolak.

“Ooooh… Neng, Mamang keluar nih…!!!”.

“Iya Luisa juga Mang!!”.

“Crettt…. crettt… crettt…”,  beberapa kali semprotan sperma Bang Hamad mendarat di buah pantatnya yang sekal. Kedua insan itu baru saja mencapai puncak kenikmatan bersama di toilet itu.

“Oohh… nikmat bener!”, lenguh Mang Hamad ketika semprotan sperma terakhirnya keluar.

Luisa sendiri kemudian berjongkok dan mulai membilas pantat dan vaginanya dengan air. Setelah merasa bersih gadis cantik itu pun lalu berdiri kembali dan mengenakan kembali celana dalam serta merapikan rok abu-abunya.

“Gimana Neng tadi ujiannya? Hehehe…”.

“Untung ada jawaban dari Mang Hamad jadi tadi ujiannya lancar, coba ngga bisa puyeng setengah mati nih!”, kata Luisa agak lemas sambil mulai mengancingkan kembali kemeja hem putihnya.

“Pokoknya kalau Neng butuh bantuan sih cari aja Hamad bin Abdul Aziz, dijamin tokcer hahahaha…”, kelakarnya genit sambil membelai pantat Luisa dari balik rok abu-abu yang dikenakannya.

“Masih ada dua hari lagi lo Mang, besok ujian Bahasa Indonesia, inget jawabannya pagi-pagi harus sudah ada!”.

“Tenang Neng, hari ini memang bukan Mamang yang jaga malam tapi si Encup, nanti Mamang kasi tau si Encup, asal imbalannya juga asyik punya kayak gini terus pasti deh si Encup semangat nyolongin jawabannya buat Non hehehee…”.

“Udah ya Mang, inget lo kasi tau si Encup, sekarang saya pulang dulu…”, ucap Luisa sambil beranjak menuju pintu toilet.

“Eh tunggu dulu dong Neng!”.

“Apa lagi seh Mang?”.

“Ini kan belum dibersihin Neng hehehe…”, kata Mang Hamad sambil melirik ke arah penisnya yang kini sedang digenggamnya.

“Apaan seh Mang? Saya harus buru-buru nih!”, Luisa agaknya hendak menolak. Bagaimanapun ia sudah merasa telah memberikan bayaran yang sepadan, sehingga tidak perlu lagi memberi “tips” tambahan.

“OK terserah Neng aja, tapi saya tidak jamin lo kalo besok si Encup bisa ngasi tu jawaban ke Neng”.

Nada bicara Mang Hamad memang terdengar kalem dan tenang, namun makna dibalik kata-kata tersebut jelas bernada ancaman. Luisa sangat menyadari itu. Posisinya saat ini jelaslah tidak dalam posisi tawar yang kuat, sehingga mau tidak mau ia harus menuruti kata-kata Mang Hamad, paling tidak sampai UAN berakhir.

“Tunggu Mang….”, Luisa menahan gerakan Mang Hamad yang hendak kembali mengenakan celananya kembali. Kemudian dengan segera Luisa berjongkok di depan laki-laki setengah baya itu. Tanpa menunggu lagi gadis cantik itu langsung menggenggam batang penis Mang Hamad dan mulai mengulumnya. Mata Mang Hamad langsung terlihat merem merek merasakan kuluman sang gadis. Luisa melakukannya dengan perlahan, sehingga seluruh sisa-sisa sperma yang ada di penis tersebut bersih.

Mang Hamad benar-benar menikmati “kekuasaan”nya atas Luisa, bahkan laki-laki itu cenderung memanfaatkannya. “Aaakhh… cakeep…!!”.

“Udah ya Mang…”, ucap Luisa tetap berjongkok sambil memandang wajah Mang Hamad, setelah beberapa menit ia melaksanakan “tugas”nya.

“Iya deh Neng, gini dong Neng kalo ngasi service jangan setengah-setengah hahahaha…”.

Luisa pun berdiri dan langsung melengos seolah-olah tidak menyukai apa yang baru saja dilakukannya. Walaupun ia sangat menikmati persetubuhannya dengan Mang Hamad, namun tentu ia tidak ingin terlihat rendah di mata penjaga sekolah tersebut. “Inget di luar jangan macem-macem loh, gak enak kalau diliat orang!” Luisa mewanti-wanti pria itu setelah kembali membenahi diri.

“Tenang Neng… tenang, Mamang juga bisa dipecat atuh kalau ketahuan gitu hehehe”, jawab Mang Hamad terkekeh-kekeh.

“Inget besok lo Mang, jangan ampe lupa!”, ucap Luisa tegas.

“Tenang Neng hehehe…”.

Luisa pun kemudian beranjak hendak keluar dari toilet tersebut. Namun belum beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba ia merasakan sebuah remasan di bongkahan pantatnya. Luisa pun berbalik dan memandang Mang Hamad dengan tatapan kesal. Laki-laki setengah baya itu justru hanya membalasanya dengan tawa cengengesan. Tanpa berkata-kata apa lagi, Luisa kembali membalikkan badan dan segera keluar toilet.

Tak lama setelah itu Mang Hamad juga terlihat keluar dari toilet dengan wajah segar dan begitu bahagia. Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya bisa merasakan kenikmatan tubuh seorang gadis muda dan cantik seperti Luisa. Pengalaman penuh kenikmatan ini, kini merubah cara pandangnya terhadap gadis-gadis muda yang ada disekolah tempatnya bekerja. Matanya kini semakin awas melihat kemungkinan untuk mendapatkan sasaran baru. Bersama dengan Encup, saat ini kedua laki-laki penjaga sekolah itu telah menjelma menjadi “partner in crime”. Sungguh tidak sabar rasanya Mang Hamad menunggu datangnya tahun ajaran baru. Tahun dimana wajah-wajah muda dan cantik baru akan segera berdatangan. Wajah-wajah yang begitu segar dan siap untuk di “santap”.

.

TAMAT (The End).

Original writter : ALIYAH.

Re-writter : PENDEKAR MABOEK.

.

.

Mau baca original story-nya? : klik disini

Komentar
  1. Matijoni mengatakan:

    Wew.. Ini versi re-make nya ya. Manteb. Jd lebih idup ceritanya (dan yg di balik celana)
    Foto luisa lbh pas jg buat visualisasi karakter. Cakep bgt, dan IGO lg..! Kykny msh banyak koleksi yg laen nih. Di share dong brew..
    Nb: sangat dinanti kelanjutan dara2 muda yg makin liar, binal, dan sintal! Hehe..

    Re : thanks apresiasiny sob, iya iseng bikin versi remakes terinspirasi dr dunia musik nih, masa lagu-lagu aja yg bs d bikin versi remakes-nya? cerita xxx jg boleh dong ikutan tren hehehe…

    dara-dara muda musti break dulu bentar nih, soalnya mau bikin proyek yg lain, tp bakal lanjut kok tenang aja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s