Nightmare Sexploitation

Posted: Maret 14, 2010 in Nightmare Sexploitation

PROLOGUE :

From Original Writter : Mr. Shusaku

Wah satu lagi nih franchise Nightmare Campus, saya baca idenya bagus sekali, bro Pendekar Maboek dengan jurus dewa maboknya mampu membuat kita terlena nih. Semoga franchise ini bisa menghibur mupengers sekalian.

.

From Re-writter : Pendekar Maboek

Judul dari cerita ini tentu sudah tidak asing lagi bagi mereka-mereka yang sudah sering mondar-mandir di website KBB (Kisah Beauty and the Beast). Cerita ini memang dibuat berdasarkan pada serial legendaris Nightmare Campus dengan Imron sebagai tokoh utamanya. Keinginan menulis ulang cerita ini sebenarnya telah muncul beberapa tahun yang lalu di awali ketika saya secara tidak sengaja menemukan salah satu seri dari serial Nightmare Campus melalui mesin pencari google. Dari sana saya berusaha mencari sambungan cerita tersebut sampai akhirnya menemukannya secara utuh di website KBB. Cuma satu komentar saya setelah selesai membacanya secara utuh yaitu : “Deam… These are good stories!”.

Berdasarkan kekaguman pada serial ini, saya lalu iseng mencoba mencorat-coret cerita Nightmare Campus dengan menggunakan versi saya sendiri sambil menunggu kelanjutan versi original dari penulis aslinya. Namun tak disangka tak diduga, suatu hari saya ternyata bisa berkomunikasi langsung dengan penulis asli dari serial Nightmare Campus, Mr. Shusaku. Kesempatan ini pun saya pergunakan untuk mengutarakan keinginan merilis hasil corat-coret saya ini. Rupanya keinginan saya tidak bertepuk sebelah tangan dan cerita yang berjudul Nightmare Campus : Eksploiting The Slaves ini pun akhirnya terwujud.

Maka pada kesempatan ini saya ingin berterima kasih kepada Mr. Shusaku atas lisensi, sumbangan ide serta keikutsertaannya menyumbang sedikit corat-coret pada cerita ini. Dengan dirilisnya cerita ini, maka lisensi yang telah diberikan kepada saya dengan ini secara simbolis saya kembalikan lagi sepenuhnya kepada Mr. Shusaku. Dan sebagai penutup saya ucapkan semoga serial Nightmare Campus bisa terus berlanjut dengan seri-seri dan tokoh-tokoh baru yang tentu akan semakin menarik untuk diikuti.

.

All crews ready, cameras are rolling, and 3… 2… 1… ACTION…!!!

*******************************

SCENE 1 : The Beginning

Hari Pertama.

Di sebuah rumah. pukul : 09.15

Fanny

Dengan mata yang masih berat Fanny meraba-raba ke arah meja kecil yang berada di samping ranjang. Masih dengan setengah sadar ia berusaha mencari ponselnya yang terus saja berbunyi dan mungkin sudah dari tadi berbunyi. Sumber suara tersebut terdengar dari bawah ranjang. Cukup lama juga Fanny meraba-raba kolong ranjang untuk mencari ponselnya. Akhirnya dalam keadaan mata masih setengah terpejam Fanny berhasil menemukannya.

“Halo…”, sahut Fanny dengan suara serak.

“Pagi sayang, lagi ngapain nih?”

“Sapa neh?”, Fanny mengusap-usap matanya berusaha meningkatkan kesadarannya. Sekilas ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi lebih.

“Ini Pak Dahlan”.

Fanny langsung mendadak tersadar dari kantuknya mendengar nama tersebut. “Busyet pagi bener ni bandot tua nelponin gue!”, pikir Fanny dalam hatinya.

“Fan? Kamu masih disana?”.

“Eh iya Pak masih, ada apa ya Pak?”, Fanny mengusap-usap wajahya dan rambutnya yang saat ini terlihat dalam keadaan berantakan bukan main.

Sebenarnya tanpa bertanya pun Fanny sudah cukup hapal betul dengan kebiasaan dosennya yang satu ini. Setiap menelpon dosen yang dijulukinya bandot tua ini pasti tidak akan jauh-jauh dari masalah seks. Namun seingatnya baru dua hari yang lalu ia dari rumah Pak Dahlan untuk memberikan jatah syahwat, bahkan Thalib si pembantu dan Bakir si tukang gas ikut ketiban rejeki menikmati tubuhnya (baca Nightmare Sidestory: Waitting Time). Fanny merasa di hari tersebut ia sudah cukup memberikan pelayanan ekstra kepada si bandot tua, sampai-sampai ia harus menginap di rumahnya. Lalu apa kali ini dia menelpon untuk minta jatah lagi? Pagi-pagi begini? Dasar maniak pikir Fanny dalam hati.

“Baru bangun ya say? Sory nih ganggu tidur kamu, tapi Bapak ada perlu nih sama kamu hahaha…”

Oh Fanny paling benci mendengar suara tawa bantot tua ini, apalagi dengan gayanya yang sok basa-basi mesra toh ujung-ujungnya Fanny juga sudah tahu arah semua pembicaraan ini.

“Memang ada perlu apa sih Pak pagi-pagi gini?”

“Pagi? Ini kayaknya sudah siang kali non hahaha…”

“Suka-suka saya dong Pak mau bangun jam berapa, lagian hari ini saya kan kuliah sore”, sahut Fanny sewot.

“Jangan ngambek gitu dong sayang hahaha…”, rupanya Pak Dahlan bisa mendengar nada kesal yang terdengar dari suara Fanny. “Oya… Ngomong-ngomong soal kuliah, hari ini sepulang kuliah nanti kamu ada acara nggak?”

“Hhhmm..”, Fanny berusaha mengingat-ingat jadwal kegiatan dan janji-janjinya hari ini, “Kayaknya sih nggak Pak, memang kenapa?”

“Kalo kamu nggak acara, malam nanti setelah jam kuliah selesai kamu mampir ke kantor Bapak ya, ada yang Bapak mau bicarakan”

Mendengar permintaan Pak Dahlan, kecurigaan Fanny pun semakin terbukti. Bandot tua ini pasti minta upeti syahwat lagi. Rasa kesal pun kembali muncul di dalam hatinya, tapi mau tidak mau ia tahu kalau ia harus tetap menuruti kemauan Pak Dahlan selama nilai ujian mata kuliahnya belum secara resmi diumumkan. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana besok ia harus bekerja ekstra lagi untuk melayani nafsu bejat sang dosen. Pak Dahlan benar-benar memanfaatkan posisi Fanny yang terjepit. Bandot tua ini seakan-akan tahu kalau waktunya untuk mengeksploitasi tubuh Fanny hanya tersisa beberapa hari lagi sebelum nilai ujian harus disetorkannya ke Fakultas. Gadis cantik itu menyadari benar posisinya saat ini. Sampai beberapa hari kedepan, ia tidak boleh sampai membuat Pak Dahlan berubah pikiran dan merubah nilainya. Jika itu sampai terjadi maka rugilah segala usaha yang ia lakukan selama ini demi memperoleh nilai yang bagus. Maka dari itu secara tidak langsung apa yang dikatakan Pak Dahlan saat ini adalah ibarat perintah bagi dirinya.

Lama tak ada jawaban dari lawan bicaranya kembali Pak Dahlan bertanya, “Gimana? Bisa?”

Sebenarnya Fanny ingin sekali untuk menjawab “tidak bisa”, karena jika benar harus melayani dosennya ini di kampus berarti ia akan tersiksa untuk menahan diri tidak berteriak terlalu kencang ditambah rasa was-was sepanjang permainan seandainya ada orang yang lewat di depan kantor Pak Dahlan saat itu. Ia sudah hapal betul dengan gaya permainan dosennya ini yang cenderung menghujami vaginanya dengan bertubi-tubi. Tentunya wanita mana yang bisa menahan diri untuk tidak berteriak jika vaginanya dihujami benda sebesar batang penis Pak Dahlan. Tapi bertemu dengan Pak Dahlan di kantor masih jauh lebih baik daripada harus bertemu di rumahnya. Jika di kantor mungkin ia hanya harus melayani satu penis, sedangkan di rumah bandot tua itu berarti ia harus sudah siap melayani satu penis lagi atau bahkan mungkin beberapa penis lainnya. Fanny pun kembali bergidik ketika mengingat kejadian bersama Thalib dan Bakir yang dialaminya di rumah Pak Dahlan beberapa hari yang lalu.

“Fan…?”.

“Eh iya Pak”, Fanny tersentak dari lamunannya.

“Gimana? Bisa?”.

“Bis… bisa kok Pak”.

“Ok deh, kalo gitu saya tunggu di kantor ya sayang hahaha…”, kembali Fanny harus mendengar suara tawa yang dibencinya itu.

Tawa yang terdengar penuh kekuasaan atas dirinya. Fanny pun akhirnya kembali hanya bisa berkata “iya” dan “bisa” lagi dengan perasaan penuh kedongkolan. Pembicaraan pun berakhir dan kini Fanny meletakkan ponselnya di meja di dekat ranjang. Berbicara dengan dosennya ini benar-benar membuat kesal. Kantuk yang semula menguasainya kini telah raib entah kemana. Padahal ia ingat betul kalau kemarin ia tidur sangat larut atau lebih tepatnya menjelang pagi. Kalau saja orang-orang bisa melihat kusutnya wajah Fanny pagi itu, maka akan mengerti bagaimana kesalnya ia ketika saat waktu tidurnya yang berharga harus terganggu pagi-pagi begini. Apalagi ditambah kemudian dengan si pengganggu adalah seorang bandot tua berotak mesum.

“Siapa nelpon pagi-pagi gini honey?”, sebuah pelukan hangat merangkul tubuh Fanny dari belakang.

Fanny segara berusaha merubah ekspresi wajah kesalnya dan menggantinya dengan sunggingan senyum. Kemudian ia pun membalikkan tubuhnya dan terlihatlah wajah seorang pria yang terbaring disebelahnya. Pria itu adalah Rendi pacarnya. Karena kejadian dua hari yang lalu, Fanny membuat pacarnya ini kesal karena hari itu menurut Rendi adalah hari istimewa baginya. Hari itu adalah tepat sebulan mereka pacaran sehingga Rendi ingin mengajak Fanny merayakannya dan mengajak nonton bioskop. Bagi Fanny yang sudah terbiasa untuk gonta-ganti pacar sebulan tentunya bukanlah waktu yang special, apalagi Rendi baginya hanyalah sebagai pengisi waktu kosongnya setelah putus dari pacarnya yang lain setahun yang lalu. Belum ada keseriusan dalam diri Fanny menjalani hubungan dengan Rendi, namun di lain pihak tentunya hal ini berbeda dengan Rendi. Memiliki pacar secantik Fanny adalah anugrah yang tak terkira bagi Rendi. Hampir pada setiap kesempatan ia selalu memamerkan Fanny kepada teman-temannya. Rendi sama sekali tidak tahu kalau selama ini tidak hanya dirinya yang menikmati kecantikan dan kehangatan tubuh Fanny. Banyak lelaki yang sudah merasakan kehangatan tubuh sintal pacarnya itu, bahkan dia antara mereka ada yang sampai harus menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk sekedar menghabiskan waktu beberapa jam di atas ranjang bersama Fanny. Namun pada beberapa kesempatan tidak jarang pula ada juga lelaki yang sangat beruntung bisa menikmati tubuh itu secara gratis. Semua itu terasa tidak penting saat ini bagi Rendi, yang penting baginya kini adalah saat ini ia kini boleh berbangga hati karena masuk dalam daftar lelaki yang telah dapat menikmati kehangatan tubuh Fanny.

“Temen kok, minta dibawain catetannya yang gue pinjem”.

“Temen cewek atau cowok?”, Rendi memasang wajah cemburu.

“Ih kok cemburu gitu sih Di, emang nggak cukup yang kemarin?”.

Fanny berpura-pura bergelayut manja di pundak sang kekasih, seakan mencoba menenangkan kekasihnya. Ia sadar betul kalau pacarnya ini masih sangat hijau dalam bidang percintaan sehingga kadang membuat Fanny merasa tak lebih menjadi seorang baby sitter bagi Rendi. Namun semua itu seakan tidak menjadi masalah bagi gadis cantik ini karena gelontoran dana yang tidak terbatas dari Rendi membuat Fanny mengenyampingkan kepuasan lahir batinnya.

“Cukup kok, malah lebih dari cukup hehe…”.

“Kalo gitu jangan cemberut lagi dong”, sebuah kecupan kecil mendarat di bibir Rendi.

Rendi pun tersenyum mendapatkan perlakuan manja dari kekasihnya.

“Nah, gitu dong”, Fanny pun tersenyum.

Kemudian Rendidengan lembut memeluk tubuh Fanny, seakan kemarin malam laki-laki muda ini sama sekali belum puas menikmati kehangatannya. Dan tak lama seperti layaknya lelaki pada umumnya yang disajikan keindahan tubuh seorang wanita cantik, tangan Rendi pun mulai nakal meraba dan meremasi sekujur tubuh Fanny. Sedangkan si “korban” hanya bisa mendesah tanpa ada sedikitpun penolakan. Di balik selimut itu sudah dapat dipastikan kedua manusia berlainan jenis ini pastilah tidak berbalut busana lagi, karena pakaian mereka seluruhnya nampak berserakan tidak beraturan di bawah ranjang. Kemarin malam adalah pertama kalinya Rendi menikmati tubuh sang kekasih. Sebenarnya bukan ciri khas Fanny untuk menyerahkan dirinya sebelum minimal tiga bulan menjalani masa pacaran, namun karena Rendi begitu royal menghambur-hamburkan uangnya untuk dirinya selama beberapa bulan ini membuatnya memenuhi permintaan sang kekasih untuk menikmati tubuhnya. Memang mereka baru sebulan ini resmi berpacaran, tetapi sejak beberapa bulan masa PDKT Rendi sudah menanggung semua pengeluaran Fanny, dari uang kontrakan, uang kuliah, uang pulsa, service mobil sampai pakaian dan biaya salon. Hal ini pun akhirnya membuat beberapa bulan ini Fanny sama sekali tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk membiaya pengeluaran bulanannya. Karena hal ini pula membuat Fanny hampir beberapa bulan ini dapat beristirahat untuk menjual tubuhnya kepada lelaki-lelaki mata keranjang untuk membiayai kebutuhan hidupnya. Ini tentunya dikecualikan untuk kejadian dua hari yang lalu ketika dia melayani Pak Dahlan demi nilainya. Ketika kemarin Rendi mengajak dirinya menginap di rumahnya dengan alasan semua keluarganya sedang berlibur ke luar negeri, Fanny sama sekali tidak menolak. Ia mencoba menuruti permintaan kekasihnya ini sebagai cara untuk membayar hari “special” yang tidak bisa dihadirinya. Sebagai wanita yang telah memiliki jam terbang yang tinggi dalam menghadapi gaya-gaya pacaran lelaki, Fanny sadar malam itu pasti akan berakhir di ranjang. Apalagi sejak dalam bioskop, bibir, dada dan selangkangannya tidak pernah lepas dari sentuhan Rendi. Sehingga ketika Rendi dengan gaya malu-malu memintanya untuk bercinta Fanny sama sekali tidak terkejut. Bahkan malam itu di ranjang justru Fanny yang memegang kendali penuh karena sang kekasih ternyata seorang perjaka yang sama sekali buta soal masalah bercinta. Dengan jam terbang yang minim Rendi termasuk cukup kuat bermain sampai tiga ronde. Namun bagi Fanny, tiga ronde itu benar-benar terasa hambar karena dilewati tanpa sama sekali mencapai puncak orgasme. Berbeda sekali ketika ia harus melayani Pak Dahlan atau Imron. Mereka berdua walaupun menyebalkan namun mampu membuat dirinya berteriak-teriak minta ampun dan mencapai klimaks sampai berkali-kali dalam sekali permainan.

“Say… pengen lagi nih!”.

“Aduh capek nih Di, kemarin kan udah ampe 3 kali?”.

“Ayo dong, sekali lagi deh sebelum gue anter lu pulang”.

“Dasar pemula!”, runtuk Fanny dalam hati. Ia tahu walaupun ia memberikan jatah sekali lagi kepada Rendi, maka tetap saja Rendi sama sekali tidak akan dapat memberikannya kepuasan. Jadi buat apa dia musti bercapek-capek lagi. Namun melihat sang kekasih yang terus memelas dan melihat batang penis Rendi sudah tegak berdiri kembali, akhirnya Fanny mengalah.

“Tapi cuma sekali lagi, terus lu anter gue pulang, soalnya ntar siang gue ada acara sebelum ke kampus”.

“Ok deh say…”.

Fanny pun mengambil posisi bersandar di ujung ranjang. Setelah mendapatkan posisi yang enak kemudian dengan mantap membuka kedua kakinya lebar-lebar untuk memberikan akses penuh kepada batang penis sang kekasih. Untuk menggoda birahi Rendi, Fanny dengan sengaja membasahi ujung jari-jari tangan kanannya kemudian berlahan mengusap-usap permukaan vaginanya yang berbulu tipis itu. Melihat pemandangan menantang tersebut, Rendi dengan cepat merangkang mendekati Fanny. Ia lalu mencium bibir Fanny dan mengulumnya untuk beberapa lama.

“Langsung dimasukin ya say”, ucap Fanny begitu bibir Rendi terlepas dari bibirnya.

Rendi mengangguk.

Dan tidak perlu waktu lama bagi Rendi untuk kembali berhasil menghujam-hujamkan penisnya ke vagina Fanny. Fanny sendiri hanya pasrah sambil sesekali mendesah ketika Rendi menghujamkan penisnya agak keras. Namun bagi Fanny dibandingkan penis-penis yang pernah mengisi liang vaginanya, penis Rendi termasuk berukuran standar sehingga ia tidak menemukan sensasi yang berbeda dalam bercinta. Semua ini terasa hanya sebagai ritual biasa baginya. Membiarkan sang lelaki merasa berkuasa atas dirinya, kemudian diakhir memberikan teriakan kepuasan agar sang lelaki merasa jantan karena bisa menaklukkan lawan mainnya. Sebuah sandiwara yang biasa ia lakoni hampir setiap kali mengalami persetubuhan yang mengecewakan. Benar saja… ketika Fanny sama sekali belum “berkeringat” Rendi sudah menghentikan hujamannya, mencabut batang penisnya dan diakhiri dengan semprotan sperma yang membasahi dada dan sedikit wajah Fanny. Rendi pun ambruk di atas tubuh Fanny dengan nafas masih memburu. Fanny lalu mengusap-usap lembut kepala Rendi yang kini tepat berada dibelahan dadanya yang membulat padat sempurna. Kemudian direbahkannya tubuh Rendi ke samping dan ia pun beranjak bangun dari ranjang. Dibiarkannya Rendi yang masih nampak menikmati sensasi kepuasannya. Fanny pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Saat ini ia hanya ingin segera membersihkan dirinya, kembali ke rumah dan melanjutkan tidurnya. Ia tahu malam nanti ia akan bertemu dengan si bantot tua Dahlan, dan bertemu dengan dosennya ini maka sudah pasti ia akan memerlukan tenaga ekstra.

************************

SCENE 2 : Shocking Job

Hari Pertama.

Kampus Teknik Arsitektur. Pukul : 20.45

Seperti biasa waktu perkuliahan adalah waktu yang sangat membosankan bagi Fanny. Ia harus duduk tenang, mendengarkan suara dosen memberikan materi sambil terus berpura-pura mencatat. Dua jam di kelas terasa bagaikan dua hari baginya. Apalagi materi yang disampaikan cenderung tidak mengasyikkan bagi Fanny ditambah lagi di kampus memang Fanny memang tergolong mahasiswi yang cuek dan jarang bergaul dengan teman-temannya. Ia lebih memilih langsung pulang begitu jam kuliah berakhir, dibandingkan harus nongkrong di kampus untuk sekedar berbasa-basi ria. Dahulu sebenarnya ia memiliki beberapa teman di kampus, namun karena mulai terdengar gosip-gosip kalau ia adalah mahasiswa bispak, teman-temannya ini mulai mundur teratur dari kehidupan Fanny. Inilah yang membuat Fanny agak malas jika harus menjalani kegiatan belajar di kampus. Ia mencoba bertahan karena desakan orang tuanya yang menginginkan anaknya ini menjadi seorang sarjana. Paling tidak hanya ini yang bisa dia lakukan untuk membuat orang tuanya bahagia. Akhirnya jam kuliah berakhir. Semua mahasiswa berhamburan keluar kelas, karena memang jam sudah menunjukkan pukul 9 malam lebih. Begitu juga dengan Fanny. Begitu selesai memasukkan buku catatannya ke dalam tas jinjingnya, ia pun segera keluar dari kelas. Hari ini dosen mata kuliah memberikan materi ekstra karena minggu depan UAS sudah akan dimulai. Pelajaran tambahan ini membuat kelas Fanny menjadi kelas terakhir yang melaksanakan kegiatan belajar mengajar, sedangkan kelas-kelas lain sudah nampak kosong. Suasana kampus sudah begitu lengang, hanya terlihat beberapa aktifis kampus yang masih nampak kumpul-kumpul di beberapa sudut kampus. Fanny memberikan senyuman kecil ketika beberapa mahasiswa yang ia lewati melempar senyuman kearahnya. Fanny mencoba ramah walaupun sebenarnya ia tidak tahu nama mereka sama sekali. Gadis cantik itu kini nampak berjalan menyusuri lorong kampus yang menghubungkan ruang kuliah Teknik Arsitektur dengan ruangan dosen dan ruang Ketua Jurusan Arsitektur, yang juga merupakan ruangan Pak Dahlan. Lorong itu sudah nampak gelap, hanya beberapa lampu yang masih dibiarkan menyala. Begitu juga dengan ruang dosen yang sudah tidak menampakkan tanda-tanda aktifitas di dalamnya. Kalau saja Fanny boleh memilih mungkin ia akan memilih pulang ke rumahnya saat ini juga dan tidur sepuas-puasnya. Saat ini tubuhnya masih terasa begitu lelah dan letih. Bagaimana tidak, dua hari yang lalu ia harus bekerja keras melayani nafsu 3 orang lelaki buas sampai siang hari, kemudian tanpa sempat berisitirahat Rendi menjemputnya dan kembali mengekploitasi tubuhnya habis-habisan sampai saat ia mengantarnya pulang kembali.

Fanny bahkan masih bisa merasakan perih di selangkangannya sampai saat ini. Kalau saja benar Pak Dahlan memang benar meminta jatah syahwat malam ini, Fanny tahu ia sama sekali tidak akan bisa menolak. Ia hanya bisa berharap tidak sampai pingsan di ruangan dosen cabul tersebut. Maka dari itu ia segera mempercepat langkah kakinya. Selain ia merasa merinding berada sendirian diantara kegelapan, ia juga ingin agar semuanya ini cepat selesai dan bisa pulang ke rumah secepatnya. Fanny terus melangkahkan kakinya sampai akhirnya dari kejauhan ia bisa melihat sebuah ruangan yang lampunya masih nampak menyala. Ruangan itu adalah ruangan Pak Dahlan. Rupanya dia memang masih berada di dalam pikir Fanny. Ketika ia hendak kembali melangkah, tiba-tiba sebuah tepukan di bahu Fanny mengejutkan dirinya setengah mati.

“Aakh…!”, Fanny terhuyung karena terkejut. Jika saja tubuhnya tidak segera didekap mungkin ia akan terjatuh dengan keras.

“Malem-malem kok masih berkeliaran di kampus sih Non hehehe?”, rupanya yang mendekapnya adalah sosok seorang lelaki.

Fanny segera meronta untuk melepaskan bekapan tersebut. Ia kemudian mundur beberapa langkah dari sosok laki-laki tersebut. Masih dalam keadaan terkejut, samar-samar gadis cantik itu berusaha melihat wajah dari sosok lelaki tersebut. Ternyata sosok lelaki itu tak lain dan tak bukan adalah Imron, sang penjaga kampus.

“Aduh bikin kaget aja sih Pak! Kalau saya jantungan bisa mati tau nggak!”, bentak Fanny.

“Hehehe maaf Non, lagian Non juga malem-malem gini masih keluyuran aja”.

Fanny sebetulnya sama sekali tidak mengharapkan bertemu dengan Imron dalam suasana seperti ini. Masih segar dalam ingatannya bagaimana Imron dengan seenaknya masuk ke dalam ruangan Pak Dahlan ketika ia sedang memberikan jatah syahwat kepada dosennya itu. Dan Fanny juga masih ingat bagaimana Pak Dahlan juga dengan seenaknya menyerahkan dirinya untuk disetubuhi penjaga sekolah mesum ini sebagai imbalan tutup mulut (baca Nightmare Campus 5: The Illicit Conspiracy). Tak pernah ada lelaki yang begitu merendahkannya selain sosok lelaki yang saat ini berdiri di hadapannya. Namun di antara perasaan bencinya, jauh dalam hati Fanny ia juga menaruh kekaguman besar terhadap sosok Imron. Harus diakuinya diantara laki-laki yang pernah menyetubuhinya, memang hanya Imron yang selalu bisa membangkitkan gairah nafsu terliarnya. Baik dari ukuran penis maupun gaya permainan, selama petualangan cintanya, Fanny belum pernah sekalipun menemukan lelaki yang mampu memandingi Imron.

Pertama kali Imron menyetubuhinya saja, Imron sudah mampu membuat dirinya mencapai klimaks berkali-kali hanya dalam waktu dua jam persetubuhan. Sebenarnya ia sudah beberapa kali disetubuhi oleh si penjaga sekolah, bahkan sering kali melakukan threesome dengan tambahan Pak Dahlan, namun tetap saja Fanny ia tidak bisa mengingkari kalau ia selalu mendapatkan sensasi baru nan berbeda setiap kali beradu gairah dengan Imron. Di tengah kekagumannya itu tetap saja Fanny sadar tidak boleh sampai bersikap terlalu gampangan dihadapan lelaki yang jelas-jelas status sosialnya jauh berada dibawahnya ini. Cara kehadiran Imron yang tiba-tiba dihadapannya benar-benar membuat Fanny kesal. Apalagi melihat senyum cengengesan dan tatapan yang ditampilkan dari wajah mesumnya. Sebuah tatapan yang selalu membuat Fanny merasa bagaikan sebagai sebuah makanan lezat yang terhidang diatas meja dan siap untuk disantap. Nafas Fanny yang masih terlihat naik turun tidak beraturan memperlihatkan bagaimana dasyatnya ia terkejut tadi.

“Memang ada urusan apa malem-malem gini Non?”

“Saya ada janji dengan Pak Dahlan!”, sahut Fanny ketus.

“Oh… ternyata mau ngentot ya Non? “

Fanny benar-benar kesal dengan pemilihan kata yang digunakan Imron. Ia merasa begitu rendah dengan sindiran tersebut. Seolah-olah dirinya tak lebih dari sebuah benda yang tak bernilai, yang dapat digunakan kapan saja dan dimana saja.

“Eh! Jangan kurang ajar gitu dong ngomongnya Pak!”.

“Nggak usah sok marah gitu dong Non, lagian Pak Dahlan punya urusan apalagi sih kalo nggak urusan ngentot ama Non?”

“Apaan sih Pak…!”, Fanny hanya menjawab singkat, walaupun kata-kata Imron ada benarnya, namun ia tak mau lama-lama melayani kata-kata si penjaga kampus mesum ini karena hanya akan menambah kedongkolan hatinya.

“Syukur saya baru saja melemaskan “burung” bareng Non Ivana di kampus sebelah, kalau nggak bisa-bisa malem ni Non bakal dikeroyok lagi hehehehe…”.

“Ivana?”.

Fanny cukup kenal dengan nama yang disebutkan Imron tadi. Ivana adalah anak dari Pak Heryawan, Dekan Fakultas Sastra (baca Nightmare Campus 6: For My Father Only). Fanny tahu benar kalau gadis itu adalah tipe gadis baik-baik yang tidak mungkin bisa berurusan dengan bajingan tengik macam Imron. Tapi ia juga tahu Imron tidak mungkin menyebut nama itu secara kebetulan. Apakah gadis polos dan lugu itu kini sudah senasib dengan dirinya yang menjadi budak seks di kampus ini? Kalau itu benar maka hal ini benar-benar akan mengejutkan baginya, seperti mendengar sebuah petir di siang bolong.

“Iya, Non Ivana anak Pak Heryawan hahaha…”, Fanny pun kini benar-benar terkejut mendengar kenyataan ini. “Nggak usah kaget kayak gitu Non, Non Ivana sekarang juga sudah jadi budak seks Bapak, malahan waktu Bapak dapetin masih perawan lo hahaha…”.

“Ih, apa peduli saya?”, Fanny berusaha menutupi rasa keterkejutannya dengan berpura-pura tidak peduli, walaupun dalam hati ia sedikit menaruh rasa prihatin atas nasib Ivana. “Udah ah!”, Fanny pun membalikkan badannya hendak beranjak pergi. Namun ketika Fanny hendak melangkahkan kaki dan beranjak pergi, tiba-tiba ia merasakan sebuah remasan kuat pada pantatnya. Fanny hanya bisa tersentak. Tak lama kembali terdengar tawa cengengesan khas Imron.

“Met ngentot ya Non… hahaha…”, belum sempat Fanny protes atas kata-kata dan perbuatan Imron meremas pantatnya, penjaga kampus mesum itu sudah ngeloyor pergi dengan mendendangkan siulan menandakan sebuah kepuasan. Fanny pun hanya bisa menghela nafas panjang mencoba menahan kekesalannya, karena saat ini ia sendiri masih memiliki urusan yang belum selesai.

******

Di depan pintu ruangan Pak Dahlan Fanny nampak berhenti sejenak. Dari firasatnya ia tahu dibalik pintu ini telah menanti sesuatu yang mungkin sama sekali tidak akan ia duga sebelumnya. Fanny sampai harus menghela nafas panjang beberapa kali, sebelum akhirnya mampu mengetuk pintu tersebut.

“Masuk!”, suara Pak Dahlan terdengar dari balik pintu.

Fanny membuka pintu dan Pak Dahlan nampak menyambut dirinya dengan senyuman dari belakang meja kerjanya.

“Malem Fan, lama juga lo Bapak nunggu kamu Bapak kira kamu lupa, baru saja Bapak mau menghubungi kamu lagi”. Pak Dahlan nampak sibuk dengan beberapa dokumen-dokumen di atas mejanya.

“Maaf Pak, tadi ada mata kuliah tambahan dari Bu Hanna, jadi keluar kelasnya sedikit molor”.

“Udah nggak apa-apa, yang penting kamu sudah datang, ayo duduk”.

Fanny pun menggeser kursi di hadapannya kemudian berlahan duduk diatasnya. Ia meletakkan tas jinjingnya di kursi sebelah. Fanny memang membenci dosennya yang satu ini atas perbuatannya mengeklpoitasi dirinya, namun satu hal yang cukup membuatnya kagum adalah walau sudah berkali-kali menyetubuhi dirinya namun Pak Dahlan masih saja masih bersikap sopan dan berwibawa ketika berhadapan dengan dirinya. Paling tidak ini membuat Fanny masih merasa dihargai sebagai wanita. Tentunya perlakuan seperti ini tak akan pernah ia dapatkan dari Imron dan laki-laki sejenis lainnya, yang merasa dapat bersikap seenak perut terhadap wanita yang dikuasainya. Perlakukan ini yang kadang membuat Fanny masih kerap merasa segan jika berhadapan dengan dosennya ini. Cukup lama ruangan sepi karena Pak Dahlan masih nampak sibuk menandatangani beberapa surat dan dokumen dihadapannya. Sedangkan Fanny hanya bisa terdiam dan mengharap-harap cemas.

“Eehem…”, suara batuk Pak Dahlan memecah kesunyian, kemudian ia merapikan berkas-berkas dalam map dan menumpuknya diatas meja menjadi satu, “Begini Fan…”.

Lelaki paruh baya itu lalu berdiri dari kursinya dan menghampiri Fanny.

Perlahan ia berjalan menuju kebelakang gadis tersebut, kemudian menyentuh rambut panjangnya dan mulai berlahan membelainya lembut. Kemudian belaian itu berubah menjadi pijatan lembut di pundak. Cukup lama Pak Dahlan meremas-remas pundak Fanny, sebelum dengan perlahan ia mengangkat wajah Fanny dan mendaratkan ciuman lembut di bibirnya. Pak Dahlan mengulum bibir Fanny dengan penuh perasaan seolah-olah ia sudah lama sekali tidak merasakan kelembutan bibir tersebut. Fanny yang bingung harus melakukan apa hanya bisa membalas kuluman dosennya ini. Bahkan ketika lidah Pak Dahlan menerobos masuk ke dalam mulutnya, Fanny pun membalasnya sehingga mengakibatkan lidah mereka saling beradu. Tak cukup hanya memberikan Fanny frech kiss, tangan Pak Dahlan mulai bergerilya membuka tiga kancing teratas kemeja hijau corak kotak-kotak yang dikenakan Fanny. Bra hitam polos tanpa renda nampak mengintip diantara sela-sela kancing yang terlepas. Tiga kancing rupanya sudah cukup memberikan akses masuk tangan kanan Pak Dahlan menuju bukit kembar Fanny. Dengan hanya menggeser cup bra tersebut, kini bukit payudara kanan Fanny sudah sepenuhnya dalam remasan Pak Dahlan. Walau sedang berciuman Fanny tahu kalau saat ini bra yang ia kenakan sudah tidak pada posisinya yang benar. Serangan terhadap daerah selangkangan pun tak luput dilakukan Pak Dahlan sambil tetap berciuman. Karena malam itu Fanny mengenakan jeans sehingga membuat akses tangan Pak Dahlan sedikit terbatas, namun cukup membuat si pemilik merinding merasakan remasan tersebut. Ketika gairah Fanny mulai naik justru tiba-tiba Pak Dahlan menghentikan segala aktifitasnya. Ini tentu membuat Fanny sedikit bingung. Pak Dahlan hanya tersenyum. Apakah ia dapat melihat ekspresi kebingungan Fanny? Yang jelas kini ia kembali mengelus-elus rambut Fanny yang panjang dengan penuh perasaan.

“Sebenarnya Bapak mau minta tolong sama kamu”,

“Min.. minta tolong apa Pak?”, jawab Fanny masih penuh kebingungan.

Karena melihat Pak Dahlan mulai berbicara serius, Fanny mengambil kesempatan ini untuk merapikan kembali posisi bra yang berada di balik kemeja yang dikenakannya. Tentunya dalam keadaan serius seperti ini Fanny merasa kalau dadanya saat ini sudah tidak lagi menjadi fokus utama bagi Pak Dahlan.

“Besok pagi akan datang rombongan pejabat pemerintahan dari Dinas Pendidikan Nasional tingkat Pusat untuk melakukan inspeksi dan penilaian terhadap kampus kita ini selama tiga hari. Kunjungan ini sangatlah penting karena akan mempengaruhi akreditasi kampus kita”.

“Lalu apa hubungannya dengan saya?”, Fanny sama sekali tidak melihat adanya kaitan antara pembicaraan dosennya ini dengan dirinya.

“Begini… terkait dengan kedatangan rombongan tersebut Bapak minta kamu bisa ikut dengan Bapak untuk menemani mereka selama berkeliling memeriksa ruangan dan berkas-berkas yang perlu mereka periksa”.

“Oh… cuma itu aja Pak?”.

“Masalahnya bukan cuma itu Fan…”.

“Terus?”, dahi Fanny berkerut. Perasaannya mulai terasa tidak enak ketika melihat ekspresi wajah Pak Dahlan yang terlihat semakin serius.

“Pimpinan dari rombongan itu namanya Pak Sugeng. Dia minta kepada Bapak untuk diberikan pelayanan “ekstra” selama menjalankan tugasnya di kampus kita”.

“Pelayan ekstra? Maksud Bapak?”, perasaan Fanny semakin tidak enak.

“Karena ia tidak akan mengajak istrinya selama bertugas disini, maka dia minta disediakan “teman” selama dua malam menginap di hotel”.

Fanny sungguh tersentak mendengar kata-kata Pak Dahlan. Ia seakan sudah tahu kemana arah pembicaraan dosennya ini. Jika dugaannya benar maka yang dimaksud dengan “teman” disini tentu adalah dirinya. Fanny benar-benar tidak menyangka Pak Dahlan ini bisa seenaknya meminta dirinya melacur demi kepentingan pribadinya. Ia memang seorang ayam kampus, namun menjadi ayam kampus setidaknya ia dibayar atas jasanya, tidak gratis! Dan selama ini yang dia lakukan adalah demi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, bukan orang lain. Kini Pak Dahlan akan menjadikan dirinya upeti syahwat untuk seorang pejabat pemerintahan. Apa dosennya ini merasa tidak cukup menyerahkan tubuhnya untuk Imron dan Thalib secara gratis, hingga kini Pak Dahlan juga akan menyerahkan tubuhnya ini untuk seorang pejabat mesum? Lalu untuk siapa ia harus melakukan semua ini? Untuk Pak Dahlan? Untuk kampus ini? Atau untuk dirinya sendiri?

“Maaf Fan… Kamu pasti sudah mengerti dengan maksud Bapak memanggil kamu kesini, Bapak mengerti sangatlah keterlaluan meminta kamu untuk melakukannya, tapi kamu harus ingat juga kalau kamu masih memiliki keterikatan dengan kampus ini? Jika kamu menolak, terpaksa Bapak menggunakan cara-cara keras dengan tidak meluluskan permohonan ujian skripsimu atau menahan ijasah kamu”.

“Tapi Pak…!”.

“Bapak tahu kamu sudah melayani Bapak selama ini dengan sangat luar biasa, maka sesuai kesepakatan kita sebelumnya maka Bapak tetap akan mengantrol semua nilai-nilaimu yang jatuh dari semester I, sehingga kamu bisa menyelesaikan studimu di akhir tahun ini. Namun jika kamu menolak permintaan Bapak kali ini maka untuk kelulusanmu Bapak sendiri benar-benar tidak berani menjaminnya”.

Fanny hanya bisa menunduk tanpa berkata apapun. Ia tahu kata-kata Pak Dahlan memang benar, sebelum ia meninggalkan kampus ini dengan gelar sarjana maka Pak Dahlan memiliki kuasa penuh atas dirinya. Fanny sadar sebenarnya Pak Dahlan memintanya melakukan semua ini pasti demi kepentingan pribadinya, namun diluar itu semua ini juga untuk kepentingan dirinya sendiri. Mengingat nilai-nilainya yang selama ini sangatlah jauh dari memuaskan, ditambah ke depan ia juga harus memenuhi kewajiban untuk menyusun dan menjalani ujian skripsi, maka jelas kesemuanya ini tidak dapat ia lakukan tanpa bantuan Pak Dahlan. Sehingga saat ini menerima “tugas dinas” yang ditawarkan dosennya ini jelas adalah satu-satu jalan untuk bisa segera lulus dari kampus laknat ini.

Melihat Fanny yang terus tertunduk dan membisu Pak Dahlan kembali bertanya, “Gimana Fan? Bapak janji hanya untuk dua malam dan itu pun hanya akan kamu lakukan untuk beberapa jam saja tidak lebih, kamu mau?”.

Dengan berat hati Fanny pun mengangguk. Ia sesungguhnya sangat tidak menyukai berada dalam posisi seperti ini. Semua perasaan ini hanya membuatnya menjadi bertambah letih. Senyum tersungging dari bibir Pak Dahlan. Melihat Fanny yang begitu takluk di hadapannya membuat bandot tua ini merasa begitu berkuasa dan ia terlihat sangat menikmatinya.

“Kalau begitu kamu boleh pergi sekarang dan beristirahat, ingat besok pagi sebelum jam setengah delapan kamu sudah harus berada di ruangan ini lagi, hal-hal teknis akan Bapak jelaskan besok. Yang jelas besok kamu hanya perlu berdandan secantik mungkin”.

Fanny pun beranjak berdiri setelah mengambil tasnya. Ditemani Pak Dahlan ia pun berjalan gontai ke arah pintu. Pak Dahlan lalu membukakan pintu untuknya. Sebelum Fanny beranjak keluar dari ruangan tersebut, Pak Dahlan tiba-tiba menahannya. Kembali diangkatnya wajah Fanny yang semula tertunduk lesu dan kembali mendaratkan sebuah ciuman di bibir Fanny. Bahkan ciuman itu kini berlanjut menjadi sebuah lumatan yang dalam dengan diselingi beberapa kali permainan lidah.

Kali ini Fanny bersikap pasif. Ia sama sekali tak bernafsu melayani lumatan Pak Dahlan, ia hanya membiarkan Pak Dahlan memainkan bibir dan lidah di mulutnya. Rupanya Pak Dahlan menyadari kalau tidak ada respon dari lawan mainnya sehingga ciuman dan lumatan itu pun tidak berlangsung lama. Biasanya Pak Dahlan akan marah besar jika Fanny bersikap seperti ini, namun kali ini ia tahu kalau sedang memerlukan jasa gadis cantik tersebut, sehingga ia cukup tahu diri untuk tidak melampiaskan kekesalannya. Dua hari ke depan wanita cantik di depannya ini akan menjadi aset yang sangat berharga untuk dirinya, sehingga akan sangat riskan memaksakan kekuasaannya dengan kekerasan.

“Kamu cantik banget Fan!”, hanya itu yang keluar dari mulut Pak Dahlan begitu ia menyelesaikan lumatan bibirnya, “Sekarang kamu istirahat ya!”.

Fanny kembali hanya mengangguk tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Fanny lalu melangkah keluar dari ruangan. Dalam hati ia bersyukur malam ini ia tidak perlu harus bersetubuh dengan si bandot tua, namun di sisi lain ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya esok hari. Saat ini Fanny hanya ingin segera tidur dan berharap saat terbangun nanti semua ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Dengan langkah gontai ia pun menghilang ditengah kegelapan lorong kampus. Sedang Pak Dahlan sendiri nampak tersenyum-senyum di depan pintu ruangannya sambil mengawasi kepergian Fanny. Terlihat dari senyuman di wajahnya, mungkin saat ini bisa terlihat kalau di dalam otak jahatnya ia sedang membayangkan kenaikan jabatan yang akan ia peroleh jika semua ini berjalan dengan lancar.

****************************

SCENE 3 : Morning Warming Up

Hari Kedua.

Kampus Teknik Arsitektur. Pukul : 07.20

Tak seperti pagi-pagi biasanya, Fanny sudah nampak cantik di dalam mobil sedan KIA berwarna red wine miliknya. Biasanya kehidupan Fanny selalu berbanding terbalik dengan orang-orang pada umumnya. Ia akan tidur di pagi hari dan baru beraktifitas menjelang malam hari. Kehidupan Fanny memang identik dengan dunia malam. Dengan wajah indo bule, tinggi 167 cm, berat 49 kg dan berdada 34C, ditambah lekuk tubuh indah bak biola, ditunjang rambut sebahu berwarna kemerahan, serta kaki yang panjang dan mulus, menjadikan Fanny dalam waktu singkat menjelma menjadi seorang model yang cukup dikenal. Terkenal sebagai model rupanya tidak cukup untuk memenuhi segala kebutuhan hidup Fanny. Inilah yang kemudian mendasari Fanny untuk mengambil profesi sampingan sebagai seorang wanita panggilan. Sebagai seorang model memudahkan akses Fanny untuk menjerat lelaki-lelaki hidung belang yang berduit. Malahan justru profesi sampingan inilah yang membuat Fanny mampu membeli segala yang dia mau, tentunya dengan resiko yang mengharuskan Fanny hidup dengan pola kehidupan terbalik seperti saat ini. Beruntung sejak mengenal Rendi beberapa bulan ini ia bisa mengurangi sedikit aktifitas malamnya, sehingga paling tidak ia mulai bisa hidup dalam siklus hidup yang normal. Mobil Fanny kini sudah memasuki areal parkir kampus. Karena saat ini memang masih terlalu pagi untuk jadwal kegiatan kampus, sehingga Fanny dapat dengan mudah mencari parkiran untuk mobilnya. Disapunya pandangan matanya sekeliling areal parkir. Terlihat areal kampus begitu sepi, yang nampak hanyalah dua orang mahasiswa yang berjalan menuju gedung Fakultas Sastra. Mungkin saja mereka semalam menginap di kampus. Sebelum keluar ia memandangi wajahnya sejenak di kaca spion depan mobilnya. Sangat cantik! Wajah yang dikagumi oleh banyak lelaki. Walau tanpa make up yang tebal wajah itu selalu akan nampak cantik. Keluar dari mobil Fanny pun berjalan perlahan menuju gedung Fakultas Teknik. Sambil berjalan ia masih tetap berharap semua ini hanyalah sebuah mimpi buruk, walaupun ia tahu harapan itu hanyalah akan menjadi harapan yang sia-sia. Tak lama ia sudah berdiri di depan ruangan Pak Dahlan. Jam tangan Fanny menunjukkan pukul setengah delapan lebih, namun tidak ada tanda-tanda kalau Pak Dahlan berada di dalam ruangan. Benar saja, ketika gagang pintu ia putar pintu tersebut tidak terbuka. Berarti Pak Dahlan belum datang.

“Dasar! Minta orang dateng pagi-pagi gini, eh dia sendiri nggak nampak batang hidungnya”, runtuk Fanny.

Justru kini Fanny kebingungan harus menunggu Pak Dahlan. Di kantin, jam segini belum buka. Di perpustakaan pasti masih terkunci juga. Sempat pula Fanny berpikir untuk menunggu di tempat Imron di belakang kampus, namun ia mengurungkan niatnya. Ia berpikir jika ia menunggu di sana maka tidak bisa dijamin balik kesini ia akan masih serapi ini. Akhirnya ia memilih untuk tetap menunggu di depan kantor Pak Dahlan. Fanny kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas, dan berinisiatif menelpon dosennya.

“Pak, Bapak dimana sih? Saya sudah di depan ruangan Bapak nih!”, omel Fanny begitu terdengar suara Pak Dahlan di ujung telepon.

“Bapak sudah di parkiran nih, kamu tunggu saja disana”.

Benar saja, beberapa menit setelah Fanny menutup ponselnya sosok Pak Dahlan terlihat berjalan dengan tenang menuju ke arahnya. Pak Dahlan nampak gagah dengan berbalut setelah jas berwarna coklat dengan celana panjang berwarna senada, kemeja putih dan dasi merah marun. Cukup perlente untuk ukuran duda seusianya, walaupun pakaian tersebut tidak bisa menutupi perutnya yang membuncit.

“Sudah lama nunggunya?”.

Fanny tidak menjawab. Ia cemberut sambil memasang wajah masam, semasam-masamnya.

“Aduh… gitu aja ngambek, sudah makan kamu Fan?”, Pak Dahlan meletakkan tas kopernya dan sebuah bungkusan yang entah apa isinya di lantai, kemudian memasukkan kunci untuk membuka pintu ruangannya.

Fanny hanya menggeleng. Pak Dahlan hanya tersenyum melihat tinggah mahasiswi favoritnya ini. Ketika pintu dibuka Pak Dahlan mempersilakan Fanny masuk dan gadis cantik itu pun melangkah masuk. Setelah menutup pintu laki-laki tambun itu beranjak untuk meletakkan koper di samping kursinya dan bungkusan yang dibawanya diatas meja. Fanny sendiri hanya berdiri memandangi dosennya itu.

“Nanti kita makan di bandara saja, sambil menunggu pesawat yang membawa rombongan datang sekitar jam 9 atau jam 10”, Pak Dahlan masih nampak sibuk mengatur posisi barang-barang yang ada di ruangannya, sambil terus berbicara tanpa memperhatikan apakah Fanny mendengarkan kata-katanya atau tidak.

“Kemarin Pak Sugeng menelpon Bapak, katanya rombongan yang datang sebanyak lima orang, tiga laki-laki dan dua perempuan. Mereka akan menginap di Hotel ****. Nah… di siang hari kamu bertugas menemani ibu-ibu tersebut. Mereka mau shopping, mau jalan-jalan atau kegiatan-kegiatan lainnya di luar pelaksanaan tugas mereka menilai kampus kita, itu tugas kamu yang meng-handle. Untuk Bapak-Bapaknya biar Bapak yang menangani. sedangkan malam harinya baru kamu bertugas seperti yang kita bicarakan kemarin… bla… bla… bla…”.

Fanny berusaha menyimak kata-kata Pak Dahlan, walaupun tidak semuanya dapat ia cerna dengan baik.

“OK… sekarang langkah pertama! Kamu ganti pakaian kamu dengan ini…”.

Pak Dahlan membuka bungkusan yang tadi dia bawa. Ternyata di dalamnya terdapat sebuah blazer berwarna hitam dan rok span berwarna senada, juga ada tank top berwarna krem muda.

“Memang kenapa dengan pakaian saya yang sekarang Pak?”, Fanny sedikit protes karena merasa pakaian yang dikenakannya kini sudah cukup sopan. Fanny sendiri kini terbalut dalam kemeja biru muda dengan dipadu cardigan biru tua, serta celana jeans hitam dan high heals.

“Tidak ada yang salah dengan pakaian kamu, tapi pakaian kamu itu terkesan mahasiswa banget. Bapak mau kamu tampil feminim bukan casual. Ingat kamu ini sekarang berperan sebagai asisten Bapak, bukan mahasiswa Bapak”.

Fanny pun tidak bisa protes lagi, “You’re the boss!”, ucap Fanny dalam hati. Setelah meletakkan tasnya diatas sofa, diambilnya bungkusan pakaian tersebut dan hendak beranjak keluar ruangan.

“Eh… kamu mau kemana?”, Pak Dahlan menahan Fanny ketika ia terlihat hendak melangkah meninggalkan ruangan.

“Ganti pakaian Pak”.

“Kenapa musti keluar? Kamu ganti pakaian disini saja!”.

“Ah? Disini Pak?”

“Iya, disini? Memang kenapa? Malu? Kamu kan sudah sering telanjang di depan Bapak, kok pakai acara malu-malu segala?”.

Kata-kata dosennya ini memang benar. Bagian mana dari tubuhnya ini yang tidak pernah luput dari pandangan dan sentuhan Pak Dahlan. Bahkan tidak hanya Pak Dahlan, semua laki-laki yang pernah mem-booking-nya sudah pernah melihatnya telanjang. Namun tentunya semua itu terjadi karena adanya unsur godaan nafsu dan rangsangan yang memicu gairahnya. Sehingga bisa dikatakan kalau tanggalnya pakaian dari tubuh Fanny lebih banyak dikarenakan oleh faktor alam bawah sadarnya. Sebagai wanita normal dalam keadaan sadar seperti ini, tentunya menanggalkan pakaian di depan seorang laki-laki tetap saja ada perasaan risih dalam dirinya. Melihat Fanny yang masih mematung, Pak Dahlan bak komandan yang memerintahkan anak buahnya terlihat memberikan isyarat tangan dengan kesal agar Fanny cepat menanggalkan pakaiannya.

Dengan ekspresi yang tak kalah kesal, Fanny pun dengan segera menanggalkan cardigan berikut dengan kaosnya, sehingga dalam sekejap tubuh atasnya kini hanya terbalut sebuah bra hitam berenda. Setelah membuka high heals-nya, kini Fanny membuka resleting jeansnya dan kemudian jeans itu pun terlepas dengan menyisakan sebuah celana dalam g-string hitam membalut daerah selangkangannya. Dinginnya AC mulai menyerang tubuh Fanny yang hampir polos ini. Fanny pun segara menyambar pakaian yang telah disiapkan oleh dosennya di atas meja.

“Tunggu!”, Pak Dahlan berjalan mendekati Fanny yang hendak memasukkan tank top melewati lehernya.

Tiba-tiba saja Pak Dahlan menyambar tubuh Fanny dan mencium bibirnya dengan membabi buta. Sergapan ini mengakibatkan tank top berikut blazer yang dipegang oleh Fanny terjatuh di lantai. Rupanya gairah Pak Dahlan tiba-tiba saja muncul melihat tubuh sang mahasiswi yang hanya berbalut pakaian dalam mini serba hitam seperti itu. Tubuh Fanny kini melengkung hanya bertumpu pada genggaman tangan Pak Dahlan. Ia sama sekali tidak siap mendapat serangan tiba-tiba seperti ini, sehingga Fanny nampak gelagapan menerima ciuman demi ciuman di bibirnya. Tak hanya bibirnya, kini leher dan permukaan dada Fanny juga mendapat serangan dari bibir Pak Dahlan. Berantakan sudah seluruh make up yang dipoleskan Fanny di wajahnya sejak pagi tadi. Setelah keterkejutannya mulai menghilang, Fanny berlahan mulai bisa menandingi serangan demi serangan yang dilancarkan Pak Dahlan pada bagian atas tubuhnya. Ia tahu kini didepannya ada seorang laki-laki yang sedang dilanda nafsu luar biasa, dan ia adalah alat pemuasnya. Dua insan berbeda generasi ini terus berciuman dengan panasnya. Kini bagian dada menjadi sasaran berikutnya setelah bibir, leher dan mulut Fanny. Bra hitam memang masih menggantung di pundak Fanny namun dengan kondisi kaitan yang sudah terlepas, sehingga payudara Fanny kini sudah sepenuhnya dalam genggaman tangan Pak Dahlan. Payudara kanan Fanny sedang teremas-remas, sedangkan payudara kirinya menerima sedotan dan cupangan. Bekas-bekas merah sudah mulai bermunculan di permukaan gunung kembar sempurna tersebut, menandakan bagaimana dasyatnya gairah Pak Dahlan. Desahan demi desahan pun mulai keluar dari mulut Fanny, menandakan ia mulai terbuai dalam permainan dosennya ini.

“Aakhh…!”, sesekali juga terdengar teriakan lirik dari mulut Fanny ketika Pak Dahlan menggigit pelan puting payudaranya.

“Bentar Pak…”, Fanny hendak menghentikan sejenak serangan Pak Dahlan pada tubuhnya.

Namun laki-laki tambun itu masih saja asyik dengan aktifitasnya tanpa memperdulikan kata-kata Fanny tadi.

“Tolong Pak, berhenti sebentar”, gadis cantik itu mendorong pelan kepala Pak Dahlan yang masih menempel di dadanya. Dorongan ini akhirnya menyebabkan kuluman mulut Pak Dahlan terlepas dengan paksa. Fanny merasakan sedikit perih ketika puting payudaranya menjadi sedikit tertarik.

Seakan sadar kalau ia tidak membawa pakaian dalam cadangan, sedangkan saat ini cairan vaginanya sudah mulai membanjir, kesempatan jeda ini Fanny gunakan untuk melepaskan g-string dan branya. Apalagi sebelum dihentikan tadi tangan Pak Dahlan mulai bergerilya di pahanya dan Fanny tahu pasti kalau sasaran berikutnya dari tangan tersebut pastilah daerah selangkangannya. Memakai celana dalam basah seharian sambil menemani tamu-tamu penting sudah pasti tidak akan terasa nyaman. Tak perlu waktu lama untuk kedua potong pakaian dalam mini itu pun tergeletak ke kursi. Dengan begitu kini tubuh Fanny tampil polos di hadapan Pak Dahlan. Vagina yang berbulu tipis, begitu juga dengan payudara padat miliknya pun kini terekspos bebas di hadapan Pak Dahlan. Ini tentu akan semakin meninggikan gairah laki-laki paruh baya ini. Rupanya jeda ini juga digunakan Pak Dahlan untuk melepaskan celana panjangnya. Dengan masih mengenakan stelan jasnya, kini batang penis Pak Dahlan sudah mengacung dengan tegak di hadapan Fanny. Walau sudah berkali-kali digenjoti oleh batang penis dosennya ini, namun tetap saja setiap kali Fanny melihat batang penis besar dan berurat ini ia selalu bergidik dibuatnya. Pak Dahlan mulai berjalan mendekati Fanny. Fanny hanya bisa menahan nafas, seakan ia tahu detik-detik penis besar itu untuk menghujam lubang vaginanya akan segera tiba. Dan benar saja Pak Dahlan membalikkan tubuhnya dengan cepat, lalu membuka kedua kakinya lebar-lebar dan menekan punggungnya sehingga membuat posisi Fanny menjadi menungging.

Genggaman tangan Pak Dahlan kini berada di bongkahan pantat Fanny. Fanny hanya bisa memegang ujung meja dengan keras dan memejamkan matanya. Ia tahu vaginanya saat ini belum cukup basah, sehingga hujaman awal penis Pak Dahlan pada lubang vaginanya pasti akan terasa sangat menyakitkan.

“Mmmhhmm…!”, benar saja begitu batang penis Pak Dahlan menerobos lubang vaginanya rasa sakit yang luar biasa langsung terasa di sekujur tubuh Fanny. Ia sampai harus mengatupkan gigi-giginya agar suara teriakan tidak keluar dari mulutnya, karena jam segini mungkin saja sudah banyak mahasiswa berdatangan di luar sana.

Seakan berbanding terbalik dengan yang dirasakan Fanny, Pak Dahlan justru merasakan nikmat luar biasa ketika penisnya menghujam lubang vagina Fanny. Dinding-dinding vagina mahasiswinya ini terasa begitu keset dan kuat meremas permukaan penisnya, sehingga dengan semangat ia terus menghujam-hujamkan batang penisnya ke dalam lubang surga milik mahasiswi favoritnya ini. Beberapa hujaman penis Pak Dahlan di awal terasa begitu menyakitkan bagi Fanny, namun ia berusaha bertahan sambil tetap menguasai diri agar tidak sampai berteriak terlalu keras. Ia sudah sangat berpengalaman berada dalam situasi seperti ini, Fanny cukup tahu kalau rasa sakit ini akan segera menghilang setelah dinding vaginanya menyesuaikan diri untuk beberapa saat.

“Aakhh…!”, walaupun mencoba bertahan untuk berteriak, namun beberapa kali desahan lirih tetap saja keluar dari mulut gadis cantik tersebut.

“Oooh…”, lenguhan lirih pun juga keluar dari mulut Pak Dahlan.

Sebenarnya bermain cinta secara terburu-buru seperti ini bukanlah gaya permainan Pak Dahlan. Fanny mengenal betul karakter dosennya ini dalam bercinta. Pak Dahlan adalah tipe lelaki dengan gaya berlahan namun menghayutkan. Ia sangat menikmati saat-saat foreplay dalam bercinta, dengan memperlakukan wanita teman mainnya bak seorang putri raja di ranjang. Setiap detail tubuh si wanita akan dengan teliti ditelusuri dan diberikan rangsangan maksimal, sehingga ketika memasuki tahap penetrasi si wanita akan betul-betul siap. Penetrasipun selalu akan dilalui dengan berbagai variasi sehingga si wanita akan benar-benar terhanyut dalam birahinya sendiri dan semuanya akan diakhiri dengan sebuah orgasme yang luar biasa. Pagi ini permainan Pak Dahlan terasa begitu berbeda dari biasanya. Permainan Pak Dahlan kali ini lebih menyerupai dengan gaya permainan Imron ataupun pembantunya Thalib, cenderung kasar dan terburu-buru. Fanny sendiri sebenarnya bisa memakluminya, ia pikir semua ini karena sang dosen tidak memiki waktu yang cukup untuk memberikannya foreplay yang sempurna. Bahkan biasanya sebelum penetrasi, batang penis Pak Dahlan pasti selalu transit ke mulut Fanny untuk mendapatkan pijatan dari mulut dan lidahnya. Agaknya untuk kali ini batang penis Pak Dahlan memang nampak sedikit terburu-buru, sehingga lebih memilih rute langsung menuju daerah selangkangan.

“Aaakhh… pelan-pelan dong Pak!”, Fanny berteriak lirih dengan nada protes ketika Pak Dahlan mengangkat satu kakinya dan menghujamkan penisnya dengan kasar. Rupaya rasa sakit ini akan berlangsung lebih lama dari perkiraan Fanny, karena sampai detik ini dinding vaginanya masih terasa belum cukup basah.

“Sorry Fan…”, hanya itu yang terucap dari mulut Pak Dahlan sambil terus menghujamkan batang penisnya.

“Aaakkh… sakit Pak!”, pekik Fanny lagi.

“Tahan bentar aja Fan, lagi enak nih”.

Setelah beberapa kali hujaman kembali memompa lubang kenikmatan Fanny, maka kini dengan penis yang masih menancap Pak Dahlan menarik tubuh Fanny menjauh dari meja. Agaknya ia ingin mengganti posisi, karena begitu ia mencabut penisnya ia mendorong pelan tubuh Fanny sehingga Fanny terduduk di sofa. Fanny membiarkan saja ketika dosennya ini kembali membuka lebar kedua kakinya, sehingga vagina berwarna kemerahan itu menjadi membuka maksimal. Sebelum Pak Dahlan memasukkan kembali batang penisnya, Fanny meludahi jari-jari tangan kirinya kemudian mengusapkannya pada lubang vaginanya. Ia berharap itu cukup memberikan cairan tambahan pada dinding-dinding vaginanya. Rupanya cara ini cukup berhasil, karena ketika Pak Dahlan kembali menghujamkan batang penisnya dan kemudian kembali menggejotnya rasa sakit pada dinding vaginanya mulai berkurang. Kini Fanny pun mulai bisa menikmati dan mengimbangi permainan laki-laki bertubuh tambun tersebut.

“Oooh… nikmat banget Fan, memekmu kamu memang luar biasa!”.

Fanny tidak menjawab. “Aaahh… ooohh…”, hanya beberapa desahan dan erangan yang keluar dari mulutnya.

Genjotan terus menerus menghujami vagina Fanny sambil diselingi ciuman dan beberapa sedotan pada puting payudaranya. Fanny makin melayang. Jika saja ia tidak ingat jika ia melakukan persetubuhan ini di kampus, mungkin saat ini ia akan berteriak sekeras-kerasnya guna menunjukkan kenikmatan yang ia rasakan. Setelah beberapa persetubuhan mengecewakan dengan Rendi, Fanny sangat berharap dosennya ini bisa membuatnya mencapai orgasme. Mungkin saja harapannya ini akan segera terwujud, karena tubuhnya mulai terasa merinding dan vaginanya kian membanjir namun Pak Dahlan sama sekali tidak menunjukkan penurunan dalam tempo permainan. Dan benar saja, begitu Pak Dahlan mempercepat genjotan penisnya dan terus makin cepat, Fanny pun melenguh panjang. Kepalanya mendongak ke langit-langit dengan ekspresi wajah penuh kenikmatan. Ia berasakan benar tubuhnya menggigil dan cairan orgasme mengalir deras dari vaginanya. Orgasme yang begitu didambakannya telah ia capai, semua berkat dosennya yang perkasa ini.

“Oooohh….!!”, lenguhan panjang pun terdengar lirih.

Setelah mencapai orgasmenya dengan sukses, bukan berarti Fanny bisa beristirahat. Pak Dahlan justru makin ganas menggenjot penisnya. Ia tahu sebentar lagi dosennya ini juga akan mencapai klimaks permainan. Untuk itu Fanny membantu sang dosen dengan mengapitkan pahanya sedikit sehingga jepitan dinding vaginanya akan lebih kuat. Dan setelah beberapa genjotan lagi, Pak Dahlan pun mencabut batang penisnya dan menyemprotkan cairan spermanya beberapa kali ke perut dan dada Fanny. Cairan kental itu kemudian meluber turun ke sekujur tubuh Fanny.

“Aaaahh…!!”, terdengar kepuasan yang luar biasa dari lenguhan Pak Dahlan tersebut.

Kemudian Pak Dahlan pun jatuh terduduk di sambil Fanny. Ia mulai mengatur nafasnya sambil menikmati kenikmatan yang baru saja ia dapatkan. Dengan inisiatif sendiri, Fanny berjongkok di depan dosennya itu dan mulai mengulum dan menjilati batang penisnya. Paling tidak dengan cara ini gadis cantik itu ingin menunjukkan rasa terima kasihnya atas orgasme yang baru saja diberikan Pak Dahlan kepada dirinya. Setelah merasa cukup pulih, Pak Dahlan mengangkat tubuh Fanny dan mendudukkan disampingnya. Mereka pun berciuman kembali namun kali ini tanpa ada nafsu didalamnya, yang nampak hanyalah kemesraan antara dua insan ciptaan Tuhan berlainan jenis. Kemudian mereka saling berpelukan dan merangkul satu sama lain. Saat ini Fanny sama sekali lupa kalau lelaki yang dipeluknya ini adalah lelaki yang dikala kesalnya ia sebut bandot tua, dosen mesum dan sebutan lainnya. Saat ini ia merasa begitu tenang berada dalam pelukan lekaki paruh baya yang lebih layak menjadi bapaknya ini. Mereka cukup lama berada dalam kebisuan, mencoba mengembalikan alam sadar mereka yang sedari tadi melayang-layang penuh kenikmatan.

“Fan…”, Pak Dahlan memecah kebisuan.

Fanny mendongakkan kepalanya dan memandang wajah dosennya itu.

“Siap-siap yuk, udah jam tuh…”, Pak Dahlan menunjuk ke arah jam dinding dihadapan mereka yang menunjukkan pukul 08.15.

Fanny pun baru sadar kalau kini dia sedang berada dalam pelukan Pak Dahlan dan masih dalam keadaan telanjang bulat. Namun ia memang sama sekali tidak berusaha untuk menutupi ketelanjangannya. Toh baginya sama saja, mereka hanya berdua di ruangan itu dan lelaki yang memeluknya saat ini sudah memiliki akses penuh atas tubuhnya. Yang membuatnya ingin segera mengenakan pakaian adalah disaat kesadarannya mulai pulih, dinginnya AC di dalam ruangan itu mulai terasa menusuk pori-pori kulitnya. Pak Dahlan mungkin tidak merasakan dingin seperti yang ia rasakan karena paling tidak ia masih mengenakan kemeja, jas lengkap dengan dasinya, walapun tanpa celana. Pak Dahlan kemudian membantu Fanny berdiri. Ia lalu mengambil celana dan celana dalamnya dan mulai mengenakannya. Sedang Fanny sendiri nampak sibuk memunguti satu persatu pakaiannya yang berserakan di sekitar ruangan. Sekilas dilihatnya dirinya sendiri pada cermin di dinding belakang sofa. Tak terlihat lagi Fanny yang tadi pagi begitu rapi, bersih dan cantik. Kini yang terlihat adalah Fanny yang begitu sembrawut dengan tata make up yang sudah tak merata lagi, ditambah rambut yang berantakan. Nampaknya Fanny harus bekerja keras untuk mengembalikan semuanya seperti semula. Ketika hendak mengenakan celana dalamnya, Fanny melihat bekas cairan sperma yang sudah mengering masih menempel di bagian perut dan dadanya. Ia lalu mengambil tissue dari dalam tasnya dan mencoba membersihkan bekas sperma tersebut. Namun bagaimanapun kerasnya ia menggosok usaha Fanny nampaknya sia-sia belaka, karena sperma kering itu nampak begitu lengket di tubuhnya. Sperma kering itu terlihat seperti bercak-bercak putih yang memenuhi bagian perut dan sedikit payudaranya.

“Pakai ini saja, Fan”, Pak Dahlan mendekati Fanny dan mengusapkan sapu tangan yang telah dibasahi ke bagian-bagian tubuh Fanny menempel noda sperma. Bagian payudara justru mendapat usapan ekstra walaupun bagian itu terlihat paling sedikit terkena muncratan sperma. Aaakkh…”, Fanny mendesah ketika puting payudaranya tersentuh usapan sapu tangan.

Desahan itu pun menjadi semakin lirih ketika Pak Dahlan menaikkan kakinya dan mengusap lembut bibir vaginanya. Pak Dahlan hanya tersenyum melihat mahasiswinya ini bergelinjang akibat usapannya. Begitu kaki Fanny kembali diturunkan, tanpa diduga sebuah pelukan dam ciuman mendarat di bibir Fanny. Fanny tersentak menerima serangan tiba-tiba tersebut. Pelukan Pak Dahlan semakin kencang seiring lumatannya yang semakin ganas ke bibir Fanny. Kali ini Fanny tidak pasrah begitu saja menerima serangan dosennya ini. Pada sebuah kesempatan Fanny mendorong tubuh Pak Dahlan sehingga wajah dosennya ini menjauh dari wajahnya.

“Ingat Pak, bentar lagi jam setengah 9 dan saya masih telanjang”.

“Oh iya, Bapak hampir lupa! Habis kamu benar-benar menggairahkan, diberi berapa kali pun Bapak tak akan pernah puas”.

Fanny cukup tersanjung mendengarnya. “Tapi ingat Pak, setelah pagi ini selama dua hari kedepan saya bukan lagi milik Bapak tapi sudah menjadi milik orang lain”, Fanny seakan mempertegas kalau dirinya tidak mau ditengah-tengah “tugas dinas”nya dosennya ini meminta jatah syahwat padanya, alias tidak menerima double job.

“Ok, tapi Bapak harap setelah semua ini selesai kamu masih punya stamina yang cukup, karena Bapak akan merapel jatah Bapak yang hilang selam dua hari”. Tawa Pak Dahlan pun terdengar di seluruh ruangan.

Fanny pun bergidik mendengarnya

.

To be continued…

****************

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s