Arsip untuk ‘My Stories’ Kategori

Short Note From Writter…

Here we are in Chapter Three… Serial INNOCENT ANGELS akhirnya bisa sampai di serinya yang ketiga. Cukup luar biasa untuk sebuah serial yang ditulis tanpa perencanaan. Yeah, selama semua masih bisa mengalir, maka biarkanlah mengalir sampai sebatas mana ia masih bisa mengalir.

Mungkin seri ketiga ini tidak akan menjadi menarik bagi pencinta hardcore, karena hampir semua adegan bernuansa softcore. Tetapi saya selalu berprinsip kalau sex story is not always about sex, but also about value in it. Jadi pada prinsipnya, sex story – atau kita sebut saja dengan cerita dewasa – harus memiliki riak dan liku agar selalu menarik untuk diikuti, tanpa mengekspolitasi seks itu sendiri secara berlebihan. Orang-orang berotak picik kerap mengatakan kalau penulis cerita dewasa hanya mengumbar kelamin dan sensualitas secara vulgar dan cenderung merusak moral bangsa. Mereka tidak pernah berpikir kalau apa yang tertulis dalam cerita dewasa hanya mengambil secuil kecil dari drama kehidupan seksualitas manusia. Perselingkuhan, pencabulan, free sex, perkosaan atau bentuk aktifitas seks lainnya adalah sesuatu yang nyata di dalam masyarakat. Lalu apa bedanya seorang penulis cerita dewasa dengan seorang pelukis, fotografer, novelis, sutradara atau profesi lainnya? Seks adalah sebuah fenomena klasik yang akan selalu menarik untuk dibicarakan. Dan seorang penulis cerita dewasa mempunyai caranya sendiri untuk membicarakan fenomena klasik ini.

Demikian corat-coret singkat yang coba diangkat sebagai sebuah bahan renungan. Semoga mampu sedikit merubah cara pandang ortodoks yang masih berlaku saat ini. Dan sebagai kata-kata penutup kembali saya sampaikan: Selamat Membaca…!

Somewhere in Earth, February, 2010.

Pendekar Maboek Ó

****************************

Laras

Suara ringtone berupa lagu dari salah satu grup band papan atas terdengar memenuhi kamar. Entah sudah berapa lama ponsel tersebut berbunyi, namun yang jelas sudah cukup lama untuk membuat pemiliknya terbangun dari tidurnya yang lelap. Laras berlahan membuka matanya. Gadis manis itu terlihat begitu terpaksa untuk melepaskan dirinya dari kenyamanan dunia mimpi. Rasa kantuk sebenarnya masih kuat membelenggu gadis manis ini. Bahkan kepalanya terasa begitu berat akibat kuatnya pengaruh rasa kantuk tersebut. Namun Laras berusaha untuk bangun, karena ia tahu siapa pun yang menelponnya pagi-pagi buta seperti ini pastilah memiliki tujuan yang sangat penting. Berlahan kesadaran Laras mulai bangkit dengan sempurna. Dengan berlahan pula ia mulai semakin jelas mendengar sumber suara yang membuatnya terbangun. Ketika hendak beranjak dari atas ranjang, Laras baru menyadari kalau saat ini Glen sedang memeluk tubuhnya. Laki-laki itu terbaring di belakangnya dan terlihat masih terlelap. Gadis manis itu baru sadar kalau saat ini dirinya sedang terbaring di atas ranjang Glen. Ia pun kini tidak heran kalau saat terbangun tadi ia dalam kondisi lelah yang teramat sangat. Kemarin malam Glen mencumbuinya berkali-kali sampai akhirnya ia baru bisa terlelap menjelang dini hari. Laras pun terpaksa harus memberikan pelayanan ekstra, karena bagaimanapun kemarin adalah hari spesial untuk kekasihnya ini. Beberapa plastik kondom bekas pakai yang tergeletak di lantai seakan menjadi saksi bisu jumlah ronde yang harus dilalui oleh gadis manis tersebut sepanjang permainan cinta mereka kemarin malam. Tentunya pemberian pelayanan ekstra seperti ini berarti ia harus menanggung resiko untuk rela menguras tenaga sampai ke titik maksimal yang mampu ditahan oleh tubuhnya.  Laras perlahan menggeser tangan Glen yang memeluk tubuhnya. Ia melakukannya dengan hati-hati agar kekasihnya ini tidak sampai terbangun. Setelah berhasil melakukannya, Laras lalu dengan perlahan menggeser selimut yang menutup tubuh mereka berdua dan beranjak turun dari ranjang. Tubuh Laras kini menjadi terekspos bebas karena tak ada satu helaipun benang yang melekat pada tubuh molek tersebut. Bercak-bercak merah bekas cupangan terlihat hampir di seluruh permukaan payudara montok gadis manis tersebut. Noda-noda putih bekas sperma yang mengering juga terlihat pada bagian tersebut, selain beberapa pula terlihat menempel di perut, pinggang dan pahanya. Laras nampaknya tidak memperdulikan hal tersebut, ia hanya berkonsentrasi pada nada ponsel miliknya. Hawa dingin AC (=air conditioner) yang langsung mengenai pori-pori kulitnya tanpa penghalang membuat gadis manis itu sedikit menggigil. Laras melihat kemeja lengan panjang warna biru muda milik Glen tergeletak di lantai. Ia pun menyambar kemeja tersebut dan mengenakannya. Sambil berjalan, Laras hanya mengancingkan dua kancing terbawah dan membiarkan kancing-kancing di atasnya tetap terbuka. Hal ini jelas membuat belahan payudara indah miliknya tetap terekspos. Tujuan awal gadis manis itu mengenakan kemeja memang hanya untuk mengusir rasa dingin, bukan menutupi tubuhnya. Toh, di dalam kamar itu hanya ada dirinya dan Glen saja, sehingga Laras pun merasa sama sekali tidak perlu untuk menutupi ketelanjangannya.

“Pagi banget, Jeng?”, suara Laras terdengar serak khas orang yang baru bangun tidur.

“Sorry Ras, gue ganggu lu pagi-pagi gini”.

“Nggak apa-apa Del, emang ada apa?”.

Penelpon tersebut ternyata adalah Adelia.

“Hari ini gue nggak masuk kerja, gue sakit, lu gantiin gue sementara di kantor ya”.

(lebih…)

STANDART DISCLAIMER :

  • Cerita ini adalah untuk konsumsi mereka yang telah berumur 18 tahun keatas atau dengan kata lain termasuk golongan cerita dewasa, namun jika anda berumur dibawah umur yang telah disebutkan namun tetap memaksa untuk membaca maka resiko sepenuhnya menjadi tanggungan anda.
  • Cerita ini ditulis just for fun, hanya sekedar mencari cara untuk mengeluarkan pikiran-pikiran kotor serta ide-ide gila dari dalam otak sehingga tidak mengendap dan berubah menjadi kanker.
  • Cerita ini jelas-jelas sebuah fiksi, sehingga apabila ada kesamaan tokoh, karakter, latar ataupun waktu kejadian maka semua itu hanyalah sebuah kebetulan semata.
  • Cerita ini tidak untuk dikomersialkan, sehingga apabila anda harus mengeluarkan uang di luar dari beban biaya jaringan internet untuk membaca cerita ini, maka anda berhak untuk menuntut uang anda kembali
  • Cerita ini bukan untuk di-copy paste sembarangan dan disebar-sebar tanpa etika, tolong hargai juga dong penulis yang sudah capek-capek berada di depan komputer selama berjam-jam.
  • Terakhir, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu membuat cerita ini menjadi ada.

May, 2010.

Pendekar Maboek Ó

.

Regina

“Krriiiing…!!!”.

Suara jam weker menggema dengan kencang di seluruh ruangan kamar. Seorang gadis berparas cantik nampak dengan malas menjulurkan tangannya dan menekan tombol di atas jam tersebut sehingga kemudian berhenti berdering. Pelan-pelan kemudian tangan gadis itu menggapai-gapai sampai akhirnya ia bisa menggenggam jam weker tersebut. Dengan berat gadis itu mulai membuka matanya dan mencoba melihat waktu yang ditunjukkan oleh jam weker digenggaman tangannya.

“Waaaahh… telaaat…!!!”.

Gadis itu langsung berteriak histeris, melempar selimut yang tadi menyelimuti tubuhnya dan langsung meloncat turun dari atas ranjang. Rupanya kemarin malam si gadis lupa men-set kembali jam wekernya. Tanpa mempedulikan keadaan tubuhnya yang hanya tertutupi oleh tank top berwarna biru muda dan celana dalam berwarna putih, gadis itu langsung menyambar handuk dan bergegas berlari menuju ke kamar mandi. Melihat gundukan kecil di balik tank top tersebut, terlihat sekali kalau gadis itu tidak mengenakan bra dibaliknya. Gadis itu adalah Regina dan suasana kekacauan seperti ini memang sudah hampir menjadi kebiasaannya setiap pagi.

Begitu sampai di depan pintu kamar mandi, ternyata kamar mandi itu dalam keadaan tertutup. Gina langsung menggedor-gedor pintu tersebut.

“Siapa sih di dalem…?!”.

“Sabar… sabar… dikit lagi nih…”, terdengar suara laki-laki dari dalam kamar mandi. Mendengar suara itu Gina tahu kalau yang ada di dalam adalah kakaknya, Bagas.

(lebih…)

SCENE 4 : Changing Plan

Hari Kedua.

Bandara. Pukul : 09.45

Fanny

Luar Biasa! Dengan basic model, rupanya Fanny memang sudah sangat ahli merias dirinya. kini tak terlihat lagi Fanny yang acak-acakan seperti beberapa menit yang lalu. Di depan kaca kamar mandi sebuah restoran cepat saji dalam bandara ini kini berdiri seorang wanita yang cantik dan cerah memukau. Apalagi dibalut blazer dan rok span diatas lutut membuat Fanny menjelma menjadi seorang wanita feminim, anggun dan dewasa. Jika ada mahasiswa di kampusnya yang sebelumnya tidak mengenal Fanny sebagai mahasiswa, mungkin mereka akan menyangka ia adalah dosen baru di kampus tersebut. Fanny tersenyum puas. Kecantikan lahiriah yang begitu sempurna, yang kadang ia syukuri sebagai berkah, namun kadang disisi lain ia anggap sebagai musibah. Berkah karena ia bisa memperoleh kemudahan dan penghasilan yang cukup besar kecantikannya ini. Musibah karena kecantikannya ini membuat ia sama sekali tidak pernah memperoleh sebuah cinta sejati, karena semua laki-laki yang pernah ia cintai hanya melihat dirinya bak pakaian indah untuk diperlihatkan, dipakai dan setelah bosan bisa dicampakkan begitu saja. Karena itulah kini cara pandang Fanny terhadap laki-laki telah berubah. Tak ada lagi cinta bagi Fanny, paling tidak sampai saat ini. Fanny keluar dari kamar mandi. Sepanjang perjalannya menuju meja dimana Pak Dahlan duduk menunggunya, hampir semua mata tertuju padanya. Tak hanya mata laki-laki, namun mata para wanita pun memandang sirik ke arahnya. Beberapa siulan dan godaan usil keluar dari mulut beberapa laki-laki yang dilewatinya. Walau hanya beberapa meter, namun jalan ini bagaikan cat walk yang panjang bagi Fanny, dimana ia adalah sebagai model utamanya. Di tempat duduk Pak Dahlan tersenyum kearahnya. Seakan bangga kalau wanita cantik ini yang mendapat sorotan semua mata ini adalah pendampingnya hari ini. Ia patut bangga karena mungkin saja beberapa diantara mata-mata yang memandangi Fanny sangat ingin berada pada posisinya saat ini. Beberapa meter sebelum mahasiswi favoritnya ini sampai di meja, nada ponsel Pak Dahlan berbunyi menandakan sebuah pesan masuk. Pak Dahlan mengeluarkan ponselnya dari dalam poket sabuknya. Di layar tertera nama “Sugeng”, dibukanya pesan itu dan muncul sebuah kalimat, “Sya sdah trun pswat, bpk dimna?”. Pak Dahlan dengan cepat membalas pesan tersebut, “Sya sdah d bandra, Sya sgra kesna”. Selesai mengetik pesan singkat, dilihatnya Fanny sudah duduk didepannya.

“Sudah selesai Fan? Ayo kita ke penjemputan domestik, yang kita tunggu sudah landing”.

(lebih…)

STANDART DISCLAIMER :

  • Cerita ini adalah untuk konsumsi mereka yang telah berumur 18 tahun keatas atau dengan kata lain termasuk golongan cerita dewasa, namun jika anda berumur dibawah umur yang telah disebutkan namun tetap memaksa untuk membaca maka resiko sepenuhnya menjadi tanggungan anda.
  • Cerita ini ditulis just for fun, hanya sekedar mencari cara untuk mengeluarkan pikiran-pikiran kotor serta ide-ide gila dari dalam otak sehingga tidak mengendap dan berubah menjadi kanker.
  • Cerita ini jelas-jelas sebuah fiksi, sehingga apabila ada kesamaan tokoh, karakter, latar ataupun waktu kejadian maka semua itu hanyalah sebuah kebetulan semata.
  • Cerita ini tidak untuk dikomersialkan, sehingga apabila anda harus mengeluarkan uang di luar dari beban biaya jaringan internet untuk membaca cerita ini, maka anda berhak untuk menuntut uang anda kembali
  • Cerita ini bukan untuk di-copy paste sembarangan dan disebar-sebar tanpa etika, tolong hargai juga dong penulis yang sudah capek-capek berada di depan komputer selama berjam-jam.
  • Terakhir, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu membuat cerita ini menjadi ada.

April, 2010.

Pendekar Maboek Ó

.

Regina

“Lepasin gue!”, Gina menepis tangan Bimo yang memegang lengannya.

“Gin, dengerin penjelasan gue dulu…”.

Gadis cantik itu terus meronta berusaha melepaskan pegangan Bimo di lengannya. “Lu tu emang cowok bangsat, gue nggak perlu perjelasan dari lu!”.

“Tapi Gin, semua yang lu liat itu nggak seperti yang lu pikirin…”.

“Gue bisa menilai sendiri apa yang gue liat Bim!”

“Tapi Gin…”, pegangan tangan Bimo sempat terlepas, namun pemuda itu kemudian kembali memegang kedua lengan Gina.

“Lepasin gue Bim!”.

Regina atau kawan-kawannya biasa memanggilnya Gina dan juga Bimo adalah sepasang kekasih – atau mantan kekasih tepatnya – karena dua hari yang lalu Gina baru saja memutuskan hubungan cinta mereka secara sepihak. Hubungan mereka sudah berjalan cukup lama, sekitar 8 bulan, namun semuanya kandas ketika hari itu dengan mata kepalanya sendiri Gina melihat pacarnya menggandeng gadis lain di sebuah pergelaran musik. Saking “murka”-nya, tanpa tedeng aling-aling Gina dengan penuh emosi langsung mendamprat keduanya dan pertengkaran hebat di depan publik pun tidak bisa terhindari lagi. Rupanya Bimo tidak ingin kehilangan cinta Gina dan masih berusaha memperbaiki hubungan mereka, walaupun semua usahanya itu nampaknya sia-sia belaka. Gina sama sekali tidak bisa memaafkan perbuatan Bimo yang berselingkuh dibelakangnya.

“Please Gin, tolong dengerin gue dulu…”.

“Mending lu pergi Bim, gue udah muak denger omongan lu!”.

(lebih…)

Dalam Pelukan Sang Mantan

Posted: Maret 17, 2010 in Cerita Lepas

STANDART DISCLAIMER :

  • Cerita ini adalah untuk konsumsi mereka yang telah berumur 18 tahun keatas atau dengan kata lain termasuk golongan cerita dewasa, namun jika anda berumur dibawah umur yang telah disebutkan namun tetap memaksa untuk membaca maka resiko sepenuhnya menjadi tanggungan anda.
  • Cerita ini ditulis just for fun, hanya sekedar mencari cara untuk mengeluarkan pikiran-pikiran kotor serta ide-ide gila dari dalam otak sehingga tidak mengendap dan berubah menjadi kanker.
  • Cerita ini jelas-jelas sebuah fiksi, sehingga apabila ada kesamaan tokoh, karakter, latar ataupun waktu kejadian maka semua itu hanyalah sebuah kebetulan semata.
  • Cerita ini tidak untuk dikomersialkan, sehingga apabila anda harus mengeluarkan uang di luar dari beban biaya jaringan internet untuk membaca cerita ini, maka anda berhak untuk menuntut uang anda kembali
  • Cerita ini bukan untuk di-copy paste sembarangan dan disebar-sebar tanpa etika, tolong hargai juga dong penulis yang sudah capek-capek berada di depan komputer selama berjam-jam.
  • Terakhir, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu membuat cerita ini menjadi ada.

March, 2010.

Pendekar Maboek Ó

.

Maya Fitriyanti, 28 tahun, adalah seorang wanita cantik dengan kehidupan yang tergolong baik. Dari segi fisik, tak ada satu laki-laki pun yang mampu menolak untuk mengatakan kalau ia adalah salah satu ciptaan Tuhan yang sempurna. Dengan karier yang tengah menanjak sebagai seorang dosen, serta beberapa jabatan lain yang diembannya membuat rekan-rekan seprofesinya tak segan untuk menaruh kekaguman. Keaktifan Maya di beberapa organisasi sosial pun cukup membuat namanya dikenal oleh berbagai kalangan dan golongan. Selain itu rumah tangga yang terlihat harmonis dengan suami yang berprofesi sebagai seorang pengacara, seakan menambah kesan luar biasa dari semuanya yang sudah terlihat luas biasa.

Namun jauh dari semua hal itu, orang-orang dekat Maya sama sekali tidak bisa melihat kegalauan yang mendera hatinya saat ini. Sebagai seorang wanita, Maya telah memiliki segalanya. Namun seperti kata pepatah kalau tak ada gading yang tak retak, maka kehidupan sempurna Maya pun tak lepas dari adanya kekurangan. Selama hampir tiga tahun pernikahan Maya, ia tidak juga dikaruniai seorang anak. Masalah ini ibarat duri dalam daging dalam kehidupan rumah tangga wanita cantik tersebut. Di luar mungkin mereka mungkin terlihat seperti sepasang suami istri yang harmonis dan penuh kehangatan, namun di dalam hubungan Maya dan suaminya terasa begitu dingin. Baik suami maupun mertuanya, menganggap Maya tidak mampu memberikan keturunan sehingga tidak layak disebut sebagai istri yang baik.

Masalah ini pun akhirnya membuat Maya menggoreskan sebuah cacatan hitam di dalam salah lembar kehidupannya yang sempurna. Tak ada seorang pun akan menyangka kalau istri setia seperti Maya akan melakukan perselingkuhan, bahkan tidak juga dirinya sendiri. Tetapi itu terjadi, dan semuanya diawali di hari itu …

Maya

“Terima kasih atas kedatangannya Ibu Maya, suatu kehormatan Ibu bisa datang dan bersedia berbagi ilmu dengan kami”, seorang laki-laki paruh baya menghampiri Maya dan menyalami tangannya.

“Terima kasih juga Pak Bimo, ini juga merupakan suatu kehormatan untuk saya”.

(lebih…)