Hati-hati Dampak Novel Romantis

Posted: Desember 20, 2012 in Artikel

Novel Romantis

Novel Romantis

Sebagian besar wanita pasti menyukai cerita fiksi romantis. Misalnya pertemuan antara pria impian, jatuh cinta, menghadapi cobaan dalam hubungan dan berakhir dengan kebahagiaan selama-lamanya. Kisah cinta romantis yang telah ada sejak abad ke 18 terbukti masih banyak disukai oleh kaum wanita.

Cerita romantis membuat gadis remaja hingga dewasa terbuai dan memimpikan merasakan hal yang sama dengan tokoh yang ada dalam novel yang ia baca. Sebuah penelitian tentang perubahan perilaku pembaca buku romantis, yang dimuat dalam jurnal Medis di Inggris menemukan, novel romantis merupakan ancaman tak terlihat bagi kesehatan seksual dan emosional wanita.

“Jika pembaca percaya bahwa cerita yang ditawarkan fiksi romantis, mereka akan mengalami masalah,” kata penulis dan konselor hubungan asal Inggris, Susan Quilliam seperti dikutip News. Menurutnya, kisah cinta di novel terlalu romantis dan kerap sangat jauh dari kenyataan yang ada, sehingga wanita merasa tak puas dengan kehidupan yang mereka jalani.

Ia mencontohkan beberapa novel, misalnya After The Honeymoon karya Ollie atau Morning Glory karya Lavyrle Spencer. Dalam survei yang dimuat dalam Jurnal Keluarga Berencana dan Perawatan Kesehatan Reproduksi, ia menemukan, novel romantis dan erotis kerap mempromosikan hubungan seksual yang sebenarnya tak diinginkan wanita.

Novel ini juga kadang berisi hubungan seks tak sehat seperti tidak menggunakan alat pencegah kehamilan. “Kadang pembaca kerap melakukan apa yang ia baca karena ia tidak ingin melakukan hal yang bertentangan dengan kisah di novel,” tukasnya.

Bahkan, fiksi romantis juga menyajikan kekerasan seksual, sering dilengkapi karakter ibu tunggal, pria kasar, atau mitra yang melakukan kekerasan. Kerap kali, fiksi romantis juga menyajikan ketidakpuasan seksual wanita akibat naik-turunnya hubungan. “Kami ingin wanita menyadari apa yang mereka inginkan daripada harus diberitahu. Kami mengingatkan, bahwa melakukan hubungan seksual bukanlah hal yang membuktikan kekuatan hubungan,” ujarnya.

Menurut Susan, novel romantis merupakan fiksi paling digemari pembaca wanita. Sebagian wanita bahkan membaca 30 judul novel romantis sebulan. Dan dalam beberapa kasus, novel romantis mungkin menyebabkan wanita membuat keputusan kesehatan yang buruk, termasuk tidak menggunakan kondom saat berhubungan seks, layaknya skenario yang digambarkan dalam novel.

Namun Susan menekankan, dia tidak mengatakan wanita sangat lugu dan tidak memahami perbedaan antara fiksi dan kenyataan. “Novel menambah pandangan yang mendasari wanita seperti emosi dan alasan nafsu serta pengambilan keputusan yang solid. Wanita tidak harus mencoba untuk mengikuti semua emosi mereka, melainkan harus menyeimbangkannya dengan alasan,” jelasnya.

Susan mengatakan ia mendapat surat dari para wanita yang berada dalam hubungan stabil, tetapi merasa tertarik secara emosional dengan pria lain. Para wanita hanya secara emosional saja, sehingga mereka harus meninggalkan hubungan stabil saat ini, karena gairah telah memudar dan harus mencari cinta yang baru daripada mencoba untuk menyelesaikan masalah.

Pendapat Dokter

Novel

Novel

Menurut Dr Ryan Thamrin, seksolog dari Klinik Artha Sari Jakarta, membaca novel merupakan aktivitas yang dapat membuka wawasan, terlebih lagi jika kita membaca sesuatu yang memang hobi kita. Karena secara tidak langsung biasanya kita ikut masuk ke alur cerita dari novel tersebut.

Namun, jika pada akhirnya mempengaruhi atau tidak aktivitas seks, kembali lagi pada individu masing-masing dalam memfilter isi cerita novel tersebut. Novel karya Djenar Maesa Ayu yang berjudul Jangan Main-main dengan Kelaminmu, misalnya.

Thamrin mengatakan, memang secara khusus belum pernah ada penelitian tentang pengaruh membaca novel dengan aktivitas seks seseorang. “Secara khusus belum ada, tapi secara random terkadang suka menanyakan hal-hal seperti itu,” jelasnya.

Persoalan selanjutnya adalah, apakah ada korelasi antara membaca novel romantis dengan aktinitas seks seseorang ? Sejauh ini, di bawah alam sadar terkadang muncul fantasi serupa seperti yang dibaca. Namun di alam nyata, kembali lagi kepada keberanian setiap individu untuk menyampaikan atau menunjukkan hal tersebut kepada pasangannya.

“Sejauh ini ada beberapa orang yang berani untuk mengajak pasangannya melakukan apa yang mereka dalam sebuah novel. Tetapi tidak juga mereka hanya melakukannya dalam imajinasi saja,” ungkap Thamrin.

Dari segi medis, lanjut Thamrin, tak ada korelasi yang terlihat antara membaca novel romantis dengan hubungan seks yang dilakukan seseorang. Secara alam bawah sadar kadang seseorang yang terlalu menghayati isi novel romantis atau eksotis ingin melakukannya. Tapi pada kenyataannya mereka tidak berani untuk mengutarakan hal tersebut kepada pasangannya.

Apa Kata Pembaca Novel?

Membaca novel romantis atau eksotis kadang membuat para pembacanya ingin melakukan apa yang ia baca dengan pasangannya. Tapi ada beberapa kisah pembaca novel romantis yang tidak terpengaruh sama sekali.

Eka misalnya. Ibu rumah tangga ini mengaku sangat hobi membaca novel romantis dan eksotis, tapi ia sama sekali tidak pernah terpengaruh dengan cerita yang ada dalam novel tersebut. Ia hanya berimajinasi dan membayangkan apa yang dilakukan oleh tokoh dalam cerita novel tersebut.

“Saya suka baca novel romantis dan eksotis, misalnya Biru karya Fira Basuki. Tapi saya hanya menikmati isi ceritanya saja. Saya tidak pernah ingin melakukan apa yang mereka lakukan, apalagi berhubungan dengan aktivitas seks, saya dengan suami sama sekali tak berpengaruh,” tutur Eka beberapa waktu lalu.

Namun, ada juga yang menjadikan novel sebagai guru dalam hal pengalaman bercinta. Sebut saja Mawar, salah satu karyawan bank swasta yang juga hobi membaca novel romantis dan eksotis.

Ia mengaku bahwa novel menjadi guru terbaiknya dalam aktivitas seks dengan pasangannya. “Kalau aku, suka mempraktikkan apa yang aku baca dalam novel dengan pasangan. Misalnya novel Baby Proposal karya Dahlian dan Gielda Latifa. Sensasi yang aku rasakan terasa lebih kalau mempraktikkan apa yang aku baca. Rasanya puas bisa merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh dalam novel yang aku baca,” jelasnya.

Hal yang berbeda dirasakan oleh seseorang yang enggan disebutkan namanya. Ia mengaku sangat hobi membaca novel-novel romantis. Namun, secara gamblang, ia mengaku tak pernah merasakan kenikmatan melakukan hubungan seks dengan pasangannya.

Ia hanya bisa menikmati masturbasi ketika membaca novel. “Jujur saja, membaca novel itu sangat mengganggu aktivitas seks saya dengan pasangan karena saya tidak pernah merasakan nikmat seperti saya merasakan kenikmatan ketika masturbasi waktu membaca novel,” katanya.

Tak banyak memang yang mengalami perubahan aktivitas seks setelah membaca novel romantis. Bagi mereka yang merasakan, hal itu tentunya sangat mengganggu, dan butuh pengobatan atau terapi.

.

Sumber : http://m.koran-jakarta.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s