Saya Ingin Sekali Memakainya

Posted: Juli 16, 2011 in Other Stories

.

Entah sudah berapa lama saya mulai mengenal seorang pria yang akan saya ceritakan ini, tapi yang jelas membuat suatu pengalaman yang unik bagi saya.

Usia pria ini berkisar antara antara pertengahan 40an dan mungkin saja sudah lebih dari itu. Rambutnya sudah banyak yang memutih. Tapi penampilannya masih cukup gagah dan terkesan sangat rapih. Wajahnya pun cukup tanpan. Dari awal pertemuan dengan pria ini, saya sudah bisa menebak bahwa dia seorang yg memiliki karier yang sudah lanjut dan menempati posisi yang tinggi.

Saya mulai pertama kali berjumpa dan melihat pria ini sekitar 1 bulan sejak saya mulai berkantor di gedung perkantoran ini. Kami sama sama sedang menunggu lift di suatu tingkat untuk transit pindah ke lift yg lain untuk mencapai lantai yang di tuju.

Rxxxx

Pada awalnya saya tidak begitu memperhatikan pria ini, beitu juga dia mungkin karena memang suasana ramai dengan orang yang akan naik lift itu. Hanya selintas terkesan seorang pria yang rapih. Pada kesempatan berikutnya saya bertemu lagi di tingkat yang sama untuk menunggu lift. Pria ini sudah lebih dulu berada di lantai itu, baru kemudian saya tiba di lantai itu. Ketika itu saya membawa tas dan tangan satunya penuh membawa map dan dokumen dokumen. Ketika lift terbuka dan kami masuk, di lift hanya ada saya dan pria itu saja. Dia segera menekan lantai yg di tuju, tapi saya agak sedikit kerepotan karena tangan penuh dengan bawaan. Pria itu segera menyadari akan hal itu dan menanyakan lantai berapa yg akan saya tuju, dia menolong menekankan tombol tingkat yg saya tuju. Saya mengucapkan terimakasih ke pria itu dan dia membalasnya senyuman saya dengan senyumannya. Saya tidak tahu kesannya seperti apa pada saat itu. Sampai saya turun dari lift, tidak ada pembicaraan apa-apa. Sayapun melupakan begitu saja kejadian itu. Tapi setelah selang beberapa waktu bertemu lagi di lantai yg sama dan kali ini sama sama memberi salam dengan sedikit senyum. Sejak itu saya semakin sering bertemu dengan dia, kadang di lantai dimana pertama kali kami bertemu ataupun di lantai lain seperti loby maupun basement.

Waktu berjalan terus dan entah mengapa saya mulai merasa mengapa semakin sering saya bertemu pria itu, tapi saya tidak terlalu memikirkannya, bisa saja karena kebetulan. Apalagi kalau dia memang berkantor di gedung yg sama, wajar saja. Karena bukan pria itu saja yg sering bertemu di lift pun banyak. Tapi kadang kadang saya menyadari ketika di dalam lift, dari beberapa sudut lift yg bercermin pria ini sering memperhatikan saya dengan mencuri curi pandang.

Suatu ketika pada jam makan siang, karena malas untuk mencari cari makanan ke luar, saya makan di salah satu fast food sendirian. Ketika itu suasana cukup ramai dan boleh dikatakan kursi kursi penuh di duduki. Ketika sedang menikmati minuman, mata saya mendadak terpancing dengan seseorang yang sedang berjalan di dekat situ mondar mandir mencari tempat duduk. Ternyata pria yang sering bertemu di lift. Ketika matanya bertemu dengan pandangan mata saya, dia tersenyum dan mendekati saya. Dia minta izin apakah boleh duduk di kursi di depan saya. Karena tidak terlalu memikirkan kemudian saya persilahkan saja. Saya sendiri sudah hampir selesai ketika itu.

Itulah pertama kali pria ini mulai berkomunikasi dengan saya. Pembicaraan saat itu tidak ada yang khusus, hanya percakapan basa basi tentang kami sering bertemu di lift, tentang cuaca hari ini dan cerita sedikit tempat tempat makan di sekitar situ. percakapan tidak sampai mengenai tentang pribadi masing masing. Tidak sadar saya juga menjadi agak lama berada di situ, padahal saya sudah selesai makan. Pria itu juga sempat meminjam lighter saya untuk merokok. Bicaranya cukup sopan dan tidak ada terlihat becanda yg kurang sopan, mungkin juga karena usianya itu. Tapi memang sempat saya menyadari dia melirik lirik ke arah sekitar dada. Memang waktu itu saya memakai blus putih yang agak tipis dengan sengaja 2 kancing di atas di buka sehingga dada sedikit agak terbuka sampai sekitar sedikit terlihat belahan dada. Apalagi waktu itu seingat saya, saya memakai bra yang agak terbuka cup bagian atasnya.

Karena sudah agak lama juga di sana, saya pura pura lihat jam dan minta izin untuk pergi duluan, tapi ternyata pria itu juga bermaksud keluar juga. Akhirnya kami keluar bersamaan dari tempat itu. Di loby kantor kami berpisah karena saya masih ingin melihat sesuatu di loby.

Di lain waktu juga sering saya melihat pria itu di fastfood yg sama. Dia makan sendiri dan sementara itu saya bersama sama teman teman kantor. Tapi yg lucu adalah dia selalu duduk di kursi yang mundah untuk memandang saya, entah dari depan atau dari samping. Walaupun tidak terjadi sesuatu yang khusus, tapi terasa hubungan dengan pria itu menjadi lebih dekat. Bila bertemu di loby maupun di lift, tidak sekedar menyalami saja, tapi sedikit dengan pembicaraan. Waktu terus berjalan dan pria itu pun sampai mengenal nama saya, karena sering saya bersama sama rekan kerja di lift itu dan menyebut nama saya. Sebaliknya saya sama sekali tidak mengenal namanya, jarang terlihat dia bersama orang lain.

Ada lagi satu hal yg sangat surprise tentang pria ini. Ketika itu saya dan suami habis menghadiri suatu pesta perkawinan di suatu hotel di Jakarta. Sebelum pulang saya ke kamar kecil terlebih dahulu, dan ketika keluar dari toilet menuju loby hotel, saya berpapasan dengan pria ini. Saya terkejut dan dia juga demikian. Rupanya rekan bisinisnya dari luar negeri menginap di hotel itu. Dia sempat memuji muji penampilan saya malam itu karena terkesan berbeda. Memang malam itu saya memakai makeup agak berani dan memakai longdress dengan bahu dan punggung yang terbuka. Dia menanyakan dengan siapa saya malam itu. Saya katakan suami menunggu di loby.

Setelah kejadian itu berlalu cukup lama, suatu sore di hari kerja saya baru saja membeli minuman dari basement dan akan kembali ke lantai kantor saya, tiba tiba seorang pria menyapa saya dari arah belakang. Saya sedikit kaget, ternyata pria yang sering bertemu dengan saya itu. Dia sepertinya baru saja pulang dari luar dan mau kembali ke kantornya. Dia menanyakan ke saya mengapa belum pulang, memang suasana di loby gedung adalah suasana orang orang pulang kantor. Saya katakan bahwa ada sedikit kerjaan jadi belum pulang, tapi tidak akan sampai malam. Saya juga balik bertanya dengan pertanyaan yg mirip dengan pertanyaan dia.

Dari basement sampai lantai tempat transit lift saya terus bersama pria ini. Sebenarnya ada hal yang agak membuat saya heran selama ini, saya sudah tahu lantai yang selalu di tuju dan sebenarnya untuk mencapai lantai itu ada lift langsung bisa menuju sampai sana, tapi dia selalu memakai lift yg terpaksa harus transit di lantai dimana saya sering bertemu dia.

Ketika lift yg sedang kami tunggu terbuka, ternyata kosong dan hanya kami saja berdua di lift itu. Setelah pintu lift tertutup dan akan bergerak, tiba tiba terasa lift tersebut seperti anjlok sedikit. Tentu saja saya agak kaget, begitu juga pria itu. Tapi kemudian lift mulai bergerak. kami sama sama tersenyum dan terasa lega.

Ternyata masih ada kelanjutannya setelah itu. Kira kira dipertengahan jalan, mendadak itu terguncang agak keras hingga saya hampir terjatuh. Tapi untung pria ini segera memegang tangan dan pinggang saya sehingga tidak sempat jatuh. Lift itu berhenti mendadak di tengah tengah, sebelum mencapai tingkat yg di tuju. Tentu saja kami sangat khawatir awalnya. Tapi untung pria ini bisa menenangkan saya. Dia segera menekan tombol interkom yg ada di lift. Tapi tidak segera ada jawaban. Setelah menekan berkali kali kemudian baru ada yg menjawab. Pria ini menjelaskan musibah yg sedang kami alami. Kami diminta menunggu karena segera akan ada orang teknisi yg akan memeriksa kerusakan lift tersebut.

Untung saja lampu di dalam lift tetap menyala, tapi sepertinya regulator udara dan AC berhenti. Kami pun sempat berbincang bincang masalah kerusakan lift tapi akhirnya kami terdiam. Lama tidak ada kabar dari teknisi lift. Pria itu berusaha menekan tombol interkom dan menanyakan perkembangannya sambil mengatakan agar lebih cepat lagi membetulkan liftnya dengan alasan di dalam ada seorang wanita dan dia mengatakan kasihan lama lama di dalam lift. Saya sendiri sudah mulai capai berdiri tapi sudah lebih tenang dari sebelumnya. Tanpa ragu ragu kemudian saya duduk di lantai lift, biarlah kotor sedikit. Kemudian pria itu juga ikut duduk di sebelah saya. Mungkin bermaksud agar saya tidak terlalu khawatir, kemudian dia berusaha berbincang bincang hal yg lain. Sebenarnya waktu duduk itu saya agak risih sedikit awalnya karena hari itu saya memakai rok yang agak mini sehingga kalau duduk terlihat rok semakin tertarik ke atas. Tapi kemudian saya tidak terlalu ambil pusing lagi, karena ini dalam situasi emergency. Ketika kami berbincang bincang, saat itu terasa sorotan mata pria itu begitu tajam dan seakan berbicara tidak hanya dengan memandang wajah saja, tapi ke seluruh badan saya juga. Entah mungkin itu hanya perasaan saya saja.

Pembicaraan sampai pada dia meminta kartu nama saya kalau boleh. Dia terlebih dulu mengeluarkan kartu namanya dan diserahkan ke tangan saya. Tercantum di situ posisi jabatan pria itu yg menduduki posisi yg cukup tinggi. Kemudian gantian saya membuka dompet dan mengeluarkan kartu nama saya. Ketika membuka dompet, pria ini sempat melihat bagian dalam dompet dan terliaht beberapa foto di sana. Dia menanyakan akan foto itu dan minta izin untuk melihat sebentar. Memang di dompet saya menyelipkan beberapa foto anak anak dan suami. Pria ini lebih merapat lagi ke saya dan dia tersenyum ketika memandang foto-foto itu. Saya katakan bahwa putri putri saya sekarang sudah lebih besar lagi dari pada yg ada di foto itu. Dia memuji kedua putri saya, katanya dua duanya cantik cantik dan mukanya mirip dengan ibunya. Saya pun tersenyum. Dia juga melihat foto suami dan menanyakan usianya, yang ternyata pria ini hanya sedikit lebih tua beberapa tahun dari suami. Tapi kemudian dia bertanya tentang foto saya, karena memang di situ tidak ada. Saya katakan bahwa ada juga hanya saja di simpan di sela sela dompet, jadi tidak kelihatan. Pria ini ingin melihat juga foto tersebut. Sebenarnya foto yg dimaksud itu adalah foto lama saya berdua dengan suami yg ketika itu baru saja kami menikah.

Foto lama yang terselip di dompet itu dengan agak sedikit sulit mengeluarkannya kemudian saya tarik keluar. Ketika saat mengeluarkan foto tersebut, tanpa di duga terjadi sesuatu hal yg bisa membuat kata “oops…”. Bersamaan dengan foto keluarlah beberapa yang lainnya sehingga berserakan ke lantai seperti beberapa kartu nama relasi, SIM, KTP, dan…. satu bungkusan kecil dan tipis… yaitu kondom.

Tentu saja tidak lepas dari pengelihatan pria ini. Cepat cepat saya mengumpulkan kartu kartu yg berserakan itu. Pria ini juga ikut membantu dan salah satunya, dia menyerahkan bungkus kondom tersebut ke saya. Tentu saja saya agak malu ketika menerimanya dan yang keluar dari mulut saya secara spontan tanpa dipikirkan adalah ” just in case….” sambil tersenyum ke dia. Pria itu balik tersenyum dengan penuh arti, tapi segera mengalihkan pembicaraan ke foto yang baru saja saya keluarkan. Mungkin karena merasa takut saya jadi tidak enak perasaannya ke dia. Sambil sibuk merapihkan dompet, saya menerangkan tentang foto yang sedang dia pegang itu.

Tidak lama setelah itu pembicaraan kami berdua pun terhenti, karena memang kami sudah cukup capai juga menunggu di ruangan lift yang sempit dan terasa mulai pengap dan panas di sana. Terasa keringat mulai membasahi punggung, leher dan dada, padahal 2 kancing dari atas blus sudah sejak awal tidak terkancing dan cukup terbuka sekitar dada. Terasa keringat di dada mulai mengalir ke bawah melewati belahan payudara. Dengan berpura pura memegang megang kalung mutiara yang dipakai hari itu, tangan sedikit sedikit mengelap keringat yg sudah membasahi dada. Ingin rasanya menyelipkan dan mengelapnya dengan saputangan, tapi saya merasa tidak enak dengan pria ini yang duduk di sebelah saya.

Pria ini kemudian tiba tiba berdiri menuju interkom dan memanggil manggil teknisi, menanyakan kapan bisa benar kembali dengan nada sudah sedikit agak kesal. Lagi lagi dia mengatakan katanya kasihan wanita yg di dalam lift ini. Dari interkom terdengar suara yg mengatakan sebentar lagi selesai.

Pada saat pria ini berdiri dan bercakap cakap di interkom, kesempatan bagi saya untuk mengelap keringat. Dengan cepat saya membuka lagi satu kancing blus, supaya leluasa saya mengelapnya. Terasa bra yang saya pakai juga sudah basah dan tidak enak rasanya. Belum juga selesai mengelap keringat, pria itu berbalik ke arah saya dan bermaksud untuk duduk lagi di sebelah saya. Tentu saja dia melihat saya mengelap ngelap dada dan sekitar belahan payudara. Segera saya minta maaf karena berbuat kurang sopan di depan pria ini dengan alasan baju sudah basah dengan keringat. Pria ini memakluminya dengan segera mengalihkan pemandangannya dari dada saya. Tapi karena kejadian ini, saya lupa mengancing lagi kancing baju yg tadi saya buka. Belakangan saya tahu ternyata pria ini dengan mencuri curi pandang terus melihat ke bra saya yang jelas terlihat dari sudut pandang dia.

Tidak lama kemudian terasa angin dari AC mulai masuk ke ruangan lift dan setelah itu dengan sedikit terasa anjlok dahulu , lift mulai bergerak. Kami merasa senang sampai sampai sudah tidak ingat berapa lama kami terkurung di lift itu. Tapi ternyata setelah itu tidak selancar itu pula kami keluar dari lift.

Tidak lama kemudian lift berhenti lagi. Tapi kali ini terdengar suara orang dari balik pintu lift dan sepertinya berusaha mau memaksa membukakan pintu lift. Kami pun segera berdiri dengan penuh harapan bisa cepat keluar. Setelah berdiri, pria itu dengan nada yg agak pelan mengatakan bahwa kancing blus saya terbuka. Saya segera sadar dan mengancingkannya.

Perlahan lahan pintu lift terbuka dan ternyata lift berhenti di antara dua lantai. Teknisi yg membukakan pintu lift berada di tingkat yang atas, sedangkan celah yg memungkinkan untuk keluar adalah lantai yang bawahnya. Kami harus keluar dari lift dengan sedikit meloncat. Pria itu keluar duluan dengan maksud agar dia bisa menjaga saya ketika loncat. Sepatu saya lempar terlebih dahulu dan tanpa sepatu saya keluar dari lift dengan melompat. Di bawah pria ini sudah menunggu dan berjaga jaga agar ketika loncat saya tidak terjatuh. Dia bersiap siap seakan kan menerima badan saya seluruhnya. Pada saat melompat, memang tidak semudah yang dibayangkan dan kenyataannya kalau tidak ada pria itu membantu menangkap saya di bawah, bisa bisa kaki saya terkilir. Pria ini menangkap saya ketika kaki sampai di lantai dan saya segera berpegang kuat kuat ke badan pria ini, mungkin lebih tepat dibilang memeluk pria ini. Setelah itu kami pun berdua tertawa dan ada rasa lega karena selamat bisa keluar dari lift yang rusak. Saya sudah tidak peduli lagi dengan rok mini yang hari itu saya pakai ketika melompat dan memeluk pria ini, yang jelas dia pasti melihat pemandangan yang digemari para pria, walaupun saya memakai stocking. Sebelum teknisi lift datang ke lantai itu kami sudah meninggalkan lantai tersebut melewati tangga darurat gedung, kami masih sedikit trauma dengan lift ketika itu dan lantai kantor saya tidak jauh dari lantai itu.

Sebelum masuk ruangan kantor, saya ke kamar kecil terlebih dahulu, karena memang sudah tidak tahan juga selama terkurung di lift. Saya sempat bercermin juga dan terlihat baju sudah kusut dan tidak enak di pandang lagi, begitu juga rambut. Sementara sekedar merapikan blus dan rambut kemudian saya masuk ke office dan langsung menuju ruang kerja saya. Suasana kantor sudah sepi, hanya pak satpam saja yg menjaga di pintu masuk. Maklum esok harinya adalah hari libur, karyawan banyak yang pulang cepat. Dari jendela ruang kerja saya terlihat pemandangan di luar sudah gelap. Saya jadi lemas, karena tadinya hanya mau sebentar saja meneruskan kerjaan. Kalau sudah begini saya sudah kehilangan semangat kerja dan ingin pulang saja jadinya. Sebelum pulang saya bermaksud membenarkan makeup dan mengganti baju. Biasanya di kantor saya selalu meinggalkan blus dan baju dalam. Tapi hari itu memang sedang tidak beruntung, blus cadangan tidak ada karena minggu lalu saya memakainya dan tidak membawa gantinya untuk di taruh di kantor. Tidak ganti langsung pulang juga tidak enak rasanya pakai baju yang sudah tidak nyaman ini. Akhirnya saya hanya mengambil jas atasan saya yg tergantung di dekat kursi kerja dan membawa peralatan makeup ke kamar kecil.

Di kamar kecil saya memperbaiki makeup dan merapihkan kembali rambut yg sudah tidak teratur ini. Karena saya pikir hanya tinggal untuk pulang saja, blus dan bra yang saya pakai hari itu saya buka dan saya ganti dengan hanya memakai jas saja. Saya lihat di cermin kalau kancing jas tertutup, tidak terlalu terlihat bahwa saya hanya memakai jas tanpa memakai dalaman apa apa lagi, hanya memang belahan di dada jadinya agak rendah lagi. Ketika kembali ke kamar kerja, di luar suasana sudah semakin gelap saja. Sebelum mematikan komputer, saya check email dahulu. Baru saja komputer mati dan saya akan berdiri untuk pulang, tiba tiba telpon di meja berdering. Saya juga agak heran siapa gerangan jam seperti ini menelpon. Kalau dari suami atau anak anak biasanya langsung ke handphone. Ketika saya angkat ternyata dari pria yang tadi bersama saya di lift. Sedikit basa basi saya mengucapkan terimakasih selama di lift telah menolong saya. Minimum karena ada pria itu saya bisa lebih tenang, tidak terbayangkan kalau hanya saya sendiri saja di lift itu. Pria ini menanyakan mengapa saya belum pulang juga, kemudian saya katakan bahwa baru saja mau akan pulang. Kemudian dia menanyakan apakah ada rencana acara malam ini. Dia terus terang ingin mengajak makan malam saya kalau tidak ada acara lain malam itu. Saya pikir memang tidak ada acara khusus malam ini dan terus terang saya agak ingin lebih mengenal pria ini juga lebih banyak dalam hati. Kemudian saya katakan tidak ada acara apa apa dan setuju saja dengan ajakan dia untuk makan malam. Dia akan mampir ke kantor saya sebelumnya, tapi saya pikir karena kantor juga sudah sepi dan tidak mau lama lama menunggu di ruang kerja, kemudian saya katakan bahwa biar saya saja yang ke tempatnya. Pria itu kemudian memberi tahu saya bahwa nanti di pintu depan kantornya bilang saja nama pria itu ke satpam di sana, sebelumnya dia akan memberi tahu satpam di kantornya, karena sekretaris nya sudah pulang menurut dia.

Ketika sampai di lantai kantor pria itu, suasana sama seperti di kantor saya, sudah sepi. Apalagi lantai tempat pria itu berkantor sepertinya lantai khusus untuk ruangan ruangan rapat dan ruangan para Management perusahannya. Satpam menunjukkan jalan menuju ruangan pria itu. Selama melewati jalan menuju kamar pria itu, yang ada hanya ruangan ruangan tertutup dan ruangan rapat. Ketika kamar pria itu saya ketuk, terdengar suara pria itu dari dalam untuk mempersilahkan masuk. Ketika masuk dia segera menyambut saya dengan senyumannya. Dia sedikit membahas masalah lift tadi, tapi kemudian dia mempersilahkan saya duduk di kursi tempat menerima tamunya di ruangan itu juga, berupa satu set sofa dam meja yang cukup besar. Sementara itu dia kembali ke meja kerjanya untuk sedikit beres beres katanya. Saya tidak langsung duduk, tapi melihat lihat berbagai macam pajangan yg ada di ruangan kerja pria ini. Ada beberapa piala dan beberapa foto yg dipajang di dinding. Sepertinya pria ini penggemar olah raga golf. Ada juga foto pria ini bersama dengan seorang public figure terkenal di suatu turnamen golf. Saya sempat menanyakan ke pria ini mengenai golf. Di salah satu pojok ruangannya ada tempat latihan patting golf juga. Di salah satu meja kecil di ruangan itu ada karangan bunga dengan dekorasinya yg cukup indah dan di dekat karangan bunga itu ada seperti foto keluarga pria ini. Putra putranya sepertinya sudah besar besar.

Kemudian saya duduk di sofa yang panjang dan mengambil majalah bisinis berbahasa inggris yg tergeletak di meja itu. Tidak lama kemudian pria ini menghampiri saya dan duduk di sofa yg sama dengan menghadap saya. Dia menanyakan ke saya ingin makan malam apa. Saya katakan terserah pria ini saja, karena hampir semua makanan saya suka. Tiba tiba dia berbicara dengan nada agak serius yang saya sendiri tidak menduganya. Pembicaraan persisinya saya sudah lupa, tapi kira kira terjadi pembicaraan seperti berikut;

“Mbak Rxxxx, boleh saya lihat sekali lagi yg ada di dompet Mbak…”

“Foto saya maksudnya?….”

“Bukan, bungkusan kecil yang Mbak selipkan di dompet…”

Saya jadi segera teringat ketika isi dompet saya berserakan di lantai lift, salah satunya satu bungkus kecil kondom. Karena saya juga kurang ngerti maksud pembicaraanya, refleks saja dompet yg sedang saya pegang kemudian dibuka dan plastik kecil kondom yg dimaksud saya keluarkan dan saya berikan ke pria ini. Kemudian dia sebentar memandang bungkus kondom itu dan kembali memandang saya.

“Apa Mbak selalu membawa ini kemana mana?…” tanyanya tanpa basa basi lagi.

Saya sendiri waktu itu bingung untuk menjawab dengan kata kata yg tepat, hanya bisa mengatakan “ya” saja tanpa punya kata kata pilihan lain yg bisa untuk beralasan.

“Saya ingin sekali memakainya….” sambil memandang bungkus plastik kecil itu. Tapi belum sempat saya menjawab apa apa, pria ini sudah bicara lagi.

“Maaf mbak R, sampai saya mengeluarkan kalimat seperti ini. Tapi saya tidak bisa membohongi perasaan hati saya….”, kemudian dia meletakkan plastik kondom itu di meja.

Pria ini mulai bercerita panjang dengan sikap yang begitu mempersona saya, terlihat cara bicaranya mengesankan sebagai pria yang sudah matang dan mengenal seluk beluk hidup.

“Pertama kali ketika berjumpa dengan Mbak R di lantai dimana kita sering bertemu, terus terang sangat berkesan sekali melihat penampilan Mbak dan itu terus mengganggu pikiran saya”.

“Banyak wanita yang cantik cantik dan sexy yang bekerja di gedung ini, tapi Mbak R berbeda dengan lainnya. Penampilan yang tidak terlalu berlebihan, tapi terlihat begitu sexy dan saya tahu Mbak wanita yang telah mantap dalam hidup ini”.

“sejak pertemuan pertama dengan mbak, saya selalu mencari kesempatan untuk bertemu mbak walaupun hanya sebentar”.

“Saya juga sering memperhatikan Mbak R dari kejauhan ketika kadang kadang kita berada di tempat makan siang yang sama, tapi mbak bersama orang lain. Sepertinya mbak R ini benar benar mengenal bagian badan yg mana yg bakal menjadi perhatian pria dan itu mbak R sengaja meng expose nya”.

“Saya sering memperhatikan dan maaf…sedikit mengintip penampilan mbak dalam berbusana. Seperti sengaja melihatkan bagian dada yg cukup membuat pria menjadi penasaran dan begitu serasi dengan kalung kalung yang mbak sering pakai itu”.

“Bukan hanya itu saja…, tapi seperti stocking yang selalu mbak R pakai. Selalu membuat saya berilusi pakaian mbak R yg selalu di pakai di balik baju itu. Beberapa kali ketika mbak R memakai rok yg agak mini dan makan di fastfood restoran, sempat terlihat oleh saya ujung tali garter yg menjepit ujung stocking mbak di bagian paha, terlihat sexy sekali”.

“Pernah dalam suatu kesempatan, saya berada di belakang mbak sedang menunggu teman di loby, dan waktu itu mbak memakai baju yg jarang jarang mbak pakai untuk ke kantor, baju terusan dari bahan kaos yang sangat fit dibadan mbak, sampai terlihat jelas liku liku badan mbak. Saya masih ingat warnanya coklat susu muda. Sama sekali saya tidak bisa melihat garis underwear mbak, tapi terlihat garis yg terbentuk dari tali garter ke stocking mbak. Sempat saya memikirkan jangan jangan mbak R hari itu ke kantor tanpa underwear”.

“Maaf sekali lagi tindakan saya yg kurang sopan dan diam diam itu yg terus memperhatikan mbak”.

“Semua itu bagi saya hanya sebatas kekaguman dan rasa penasaran yg semakin hari semakin memuncak tanpa tidak mampu untuk lebih jauh lagi bertindak. Tapi kejadian sore tadi di lift ketika isi dompet mbak berserakan dan dari dalamnya kelauar sebungkus kecil kondom membuat saya menjadi nekat untuk berbicara seperti ini dan mengharapkan sesuatu hal yang lebih jauh lagi. Terus terang selama di dalam lift tadi seakan saya tidak ingin cepat pulih kerusakan lift itu”.

“Tidak bosan bosannya tadi saya melihat stocking mbak yg berujung di pertengahan paha dan terlihat terikat dengan tali garter”.

Sejenak dia berhenti bicara dan mendadak begitu hening ruangan yang cukup besar itu. Saya sendiri terdiam tidak ada kata kata atau komentar yang keluar dari mulut dan begitu terpesona dengan kata katanya seakan terhipnotis. Tanpa disadari, pria ini sudah begitu lama memperhatikan gerak gerik saya selama ini dengan begitu rinci. Kemudian dia mulai meneruskan pembicaraanya, tapi kali ini dengan raut muka yg sedikit lain dari tadi. Seakan ada sesuatu penyesalan dari diri dia.

“Sekali lagi saya minta maaf tentang pembicaraan saya yg seperti ini dan mungkin kurang berkenan di hati mbak….sudah lah lupakan yg saya katakan tadi, hanya saja itulah yg sebenarnya yg ada di hati saya selama ini”.

Kurang lebih begitulah kata kata yg disampaikan oleh pria ini walaupun sebenarnya lebih banyak lagi yg dia ungkapkan.

Tapi kata katanya yg terakhir ini memancing perasaan saya untuk lebih tahu lagi apa yg masih ada di hati pria ini dan saya sangat ingin mendengarkannya saat itu. Saya minta dia jangan berhenti di situ tapi minta untuk meneruskan ceritanya sampai selesai. Saya katakan bahwa saya banyak punya waktu malam ini untuk mendengarkan cerita dia. Kemudian pria ini meneruskan pembicaraanya.

“Di lift tadi saya melihat berkali kali mbak R berpura pura memegang kalung mutiara ini dengan maksud….”, tiba tiba dia memutus pembicaraannya. Ketika itu jari jari tangannya sudah sedang memegang megang kalung mutiara yg ada di leher.

Dia menanyakan apakah saya sudah mengganti baju, karena sepertinya dia tidak melihat blus yg saya pakai tadi. Saya katakan bahwa saya sudak tidak pakai blus yg tadi karena sudah basah dengan keringat dan tidak enak untuk di pakai. Saya tidak memperjelas lagi penjelasan selanjutnya, karena dia bisa lihat sendiri apa yg sedang saya kenakan dan sepertinya sepintas dia juga sudah mengintip apa yg saya kenakan di balik jas itu. Kemudian pria ini menyambung pembicaraanya lagi yg sedang dikatakannya tadi.

“Di lift tadi saya melihat berkali kali mbak R berpura pura memegang kalung mutiara ini dengan maksud mengelap keringat mbak yang di dada. Terus terang pemandangan itu begitu menggoda saya dan tidak tahan ingin bertindak yg bukan bukan….”. Terasa salah satu jarinya menyelinap masuk menyentuh ke kulit leher sekitar dada dan perlahan menyelusuri tepi kerah jas yang saya pakai itu ke arah bawah.

Setelah itu dia masih meneruskan ceritanya, tapi terus terang setelah itu saya tidak konsentrasi lagi mendengarkan ceritanya hingga tidak ingat lagi apa yang dia ceritakan waktu itu. Saya hanya ingat apa yg terus kemudian pria ini lakukan, tanpa saya bereaksi apa apa membiarkan pria ini bertindak sekehendak hatinya.

Rxxxx

Ketika jari tangannya berhenti bergeser sampai di pangkal belahan dada dimana kancing jas pertama terletak, saya merasa mendadak jantung seperti akan berhenti. Saya memikirkan akan hal yg lebih lanjut lagi, yaitu dia akan melepas kancing jas saya satu persatu hingga kancing terlepas semua. Tapi ternyata dugaan saya meleset. Jarinya kemudian mulai bergerak lagi menuju atas menyisiri tepi kerah jas sampai ke sekitar leher dengan kembali menyentuh kalung mutiara, tapi kali ini terasa lebih dari satu jari yang menyentuh kulit. Saya merasa sedikit lega tapi terus terang ada juga perasaan sedikit kecewa mengapa dia tidak teruskan ke bawah membuka kancing jas. Pria ini sudah benar benar menguasai hati saya. Tindakannya yg serba pelan dan halus tanpa ada rasa tergesa gesa ini membuat saya semakin hilang kendali.

Gerakan jari jarinya berkali kali turun naik seperti yang saya ceritakan tadi dan semakin lama semakin dalam jari jarinya menyelinap ke dalam balik kerah jas. Terus terang apa yg dia lakukan ini membuat saya begitu terangsang. Terasa kedua puting saya mengeras dan ujungnya sedikit ngilu terasa karena bergesekan dengan kain jas. Entah sudah bagaimana raut wajah saya saat itu, tapi yg jelas pria ini terus bertindak dengan membaca dan memandangi expresi wajah saya. Sampai suatu ketika gerakan jarinya berhenti dan ujung jarinya terasa menyentuh puting saya. Terasa puting saya dijepit oleh kedua jarinya dan di tekan sedikit keras. Karena refleks dari itu, tidak tahan mulut saya terhentak seperti orang sedang minum keselek, menahan agar saya tidak mengeluarkan suara.

Tapi kemudian dia melakukan apa yg saya harapkan di hati kecil sejak tadi, kancing jas satu persatu dia buka dan setelah itu dengan leluasa dia memainkan kedua payudara saya dengan kedua tangannya.

Sampai di sini saya masih bisa mengingat ingat apa yg pria ini lakukan, tapi setelah itu saya sudah lupa apa yg dia perbuat, yg jelas waktu itu saya begitu terangsang dan hati ini begitu panas rasanya.

Saya mulai ingat kembali ketika sadar sudah berdiri di depan kursi sofa yg tadi saya duduki dan begitu juga pria ini berdiri berhadap hadapan dengan saya. Jaraknya begitu dekat sekali. Dia membuka jas saya dan dibiarkan jatuh ke lantai. Tanpa pria ini minta, saya mencoba membuka kancing rok saya yg ada di pinggang. Tapi kemudian tangannya menghalanginya. Dia katakan agar saya diam saja dan biarkan dia melepaskan apa yg saya pakai satu persatu. Tangannya membuka resleting rok saya dan membiarkan jatuh ke lantai. Kemudian dia duduk di sofa dan memandang ke arah saya. Wajahnya tepat sejajar dengan selangkangan kaki saya. Tangannya mulai menyentuh dengan halus paha saya yg tidak tertutup stocking, memandangi celana dalam, garter dan talinya. Sesekali kedua tangannya mengelus bagian belakang saya. Pria ini seakan seperti seseorang yang akan memakan kue teramisu dengan sedikit demi sedikit mencicipi setiap bagian dari kue, tidak mau langsung memakannya.

Kemudian pria ini menengadah memandang ke arah wajah saya sambil bertanya soal celana dalam yg saya pakai. Dia menanyakan apakah celana dalam jenis inikah yg sering saya pakai sehingga dari arah belakang tidak mengecap garis celana dalam itu. Hari itu saya memakai celana dalam warna hitam yg ukurannya sangat minim sehingga kalau dari arah belakang seakan tidak memakainya, hanya berupa kain tipis yang melintasi selangkangan kaki, atau saya menyebutnya T-back panty. Biasanya wanita senang memakai ini apabila ingin mengenakan baju yang sangat fit di badan dan tidak ingin terlihat panty line nya. Setelah itu jari telunjuk dan jari tengahnya dia masukkan ke selangkangan kaki saya dan kemudian menekan kedua jarinya ke celana dalam saya yang tepat berada di sekitar vagina luar. Kemudian dia mengatakan ke saya bahwa daerah itu begitu basah dan licin merembas keluar dari celana dalam. Dalam hati saya mengatakan, tentu saja sudah basah dari tadi. Tapi ketika itu saya tidak bisa keluar kata kata. Kemudian dia bertanya lagi, apakah sedemikian banyak selalu yg keluar dari vagina ketika saya terangsang.

Tidak lama kemudian kedua tangannya sudah berada di kedua pinggul saya dan memegang tepi celana dalam, perlahan lahan dia tarik ke bawah. Dalam pikiran saya ketika itu, dia akan segera menjilat lendir yang sudah banyak keluar dari vagina saya, karena biasanya kalau suami sudah memanas manasi seperti ini selanjutnya dia akan membenamkan wajahnya di selangkangan dan terus menjilat masuk kedalam vagina saya. Tapi lagi lagi meleset dugaan saya. Dengan 2 jari yang tadi menekan selangkangan saya kini langsung masuk ke dalam vagina. Ketika masuk jari jarinya itu saya tidak tahan lagi sampai sedikit keras mengeluarkan suara dan terasa kedua kaki begitu lemas tidak tahan lagi untuk berdiri terus. Jarinya kemudian dia tunjukkan ke saya, terlihat penuh dengan cairan saya. Kemudian dia jilat sendiri jarinya sampai bersih. Dia mengatakan ke saya bahwa sudah lama sekali dia tidak mencicipi yg keluar dari vagina ini.

Tidak tahan untuk berdiri, akhirnya saya berlutut di depan pria ini dan tidak tahan lagi segera saya berusaha membuka resleting celana dia dan menurunkannya sampai semua terlepas dari kakinya. Saya yg menjadi tidak sabar lagi dengan apa yg pria ini lakukan terhadap diri saya. Penisnya sudah begitu tegang. Kemudian saya kecup dan terus masuk kedalam mulut saya. Kini giliran pria ini yg mulai begitu terangsang hingga mengeluarkan suara ketika saya melakukan oral. Baru sebentar saja terasa sudah mulai sedikit sedikit keluar cairannya dari belahan penisnya. Ketika saya tekan dengan ujung lidah dan sedikit membelah ujung penisnya, dia sedikit mengeluarkan suara agak keras dan kedua tangannya memegang kedua pipi saya dan berusaha agar saya memberhentikan apa yg sedang saya kerjakan. Berkali kali dia mengatakan kata “jangan”. Saya tahu dia tidak tahan dengan oral saya. Belakangan saya tahu bahwa dia mengaku sudah lama tidak melakukan hubungan sex dan sebab sebab nya dia ceritakan ketika makan malam bersama dia.

Saya juga tidak ingin dia terlanjur selesai dengan oral saja. Bungkus kondom yang tergeletak di atas meja kemudian saya ambil dan membukanya. Sebelum memasangkan ke penisnya, saya mengatakan seperti ini sebagai jawaban dia ketika dia mulai menanyakan soal kondom ini.

“Ini saya pakaikan, ….ingin memakai kondom milik saya kan….” dengan maksud menggoda pria setengah baya ini. Terlihat raut wajahnya tersenyum sambil mengatakan,

“Mbak R…, tidak terbayang apa yg saya lakukan malam ini, tidak bisa melupakannya….”.

Saya berusaha berdiri dan kemudian menaiki sofa dimana pria ini duduk dan pelan pelan saya menurunkan badan dan duduk di pangkuan dia berhadap hadapan. Saya sendiri sudah tidak begitu ingat lagi bagaimana kejadiannya waktu itu karena saya juga sudah begitu terangsang. Hanya saja ketika terasa vagina bagian luar menyentuh penisnya, segera saya genggam dan dibenarkan posisisnya hingga terasa clitoris sudah menyentuh kepala penisnya. Setelah itu perlahan lahan saya mulai menurunkan badan dan bersamaan dengan itu terasa penisnya sedikit sedikit masuk ke dalam saya. Tentu saja nikmatnya sulit untuk saya bisa tuliskan disini. Seingat saya kami bersamaan tidak tahan sampai mengeluarkan suara.

Saya tidak ingin segera selesai dan ingin menikmati selama mungkin. Saya berusaha tidak terlalu cepat menggerakan pinggul saya dan sepertinya pria ini juga mengharapkan hal yang sama. Mukanya terlihat begitu menikmati gerakan saya, kedua tangannya memegang kedua pinggul saya, sesekali terasa tangannya mendorong pinggul agar saya bergerak agak cepat. Tapi kadang kadang terasa juga jari jari tangannya mencengkram kedua pinggul saya, seakan sedang menahan sesuatu perasaan.

Saya juga semakin terangsang dan sesekali secara refleks, penisnya yg sedang berada di dalam, saya jepit. Setiap saya melakukan itu, bersamaan jari jarinya juga mencengkram pinggul saya. Terasa semakin banyak cairan yg keluar dari dalam saya sehingga semakin terdengar suara seperti air bergemercik. Apalagi ketika itu juga pria ini bicara soal suara itu dengan kata kata yg membuat saya semakin terangsang.

Rangsangan sex yg pria ini berikan semakin menjadi jadi ketika dia mulai memainkan kedua payudara saya dengan bibir dan lidahnya. Begitu lembut sentuhan bibirnya dan sesekali dia menggigit dengan ringan puting saya hingga tidak tahan lagi saya menahan rangsangannya. Saya tahu pria ini bisa bertahan agak lama karena memakai kondom itu, kalau tidak saya rasa dia sudah mencapai klimaks. Karena kondom ini justru saya semakin tidak tahan. Karena kondom yg saya pakaikan ke pria ini permukannya tidak rata saja, tapi memiliki ulir ulir yg menonjol di permukaan sehingga ketika penisnya bergerak keluar masuk vagina, terasa ulir ulir itu menyentuk clitoris dan dinding dalam vagina saya yg sensitif.

Tidak sadar gerakan pinggul saya semakin cepat, ketika sadar pria ini yg mengatakan bahwa dia sudah tidak tahan dan akan segera mencapai klimaks. Saya minta dia tahan sedikit, karena saya juga ingin mencapai klimaks. Tapi sebelum saya mencapai klimaks, pria ini terlanjur mencapai klimaks nya. Terasa begitu terangsang ketika terasa penisnya menyentak nyentak mengeluarkan cairannya kedalam kondom.

Sampai selesai saya tidak jadi mencapai klimaks, tapi sudah cukup puas malam itu. Mungkin kalau saat itu pria ini tidak memakai kondom dan mengeluarkan didalam vagina, mungkin saya bisa mencapai klimaks ketika cairan dari penisnya menekan kedalam. Sempat beberapa saat kami terdiam dalam posisi tetap seperti itu, dipangkuan pria ini. Saya merebahkan diri ke dadanya dan sambil memeluk kepalanya, badan terasa lemas sekali. Sebelum saya bangkit dari pangkuannya, pria ini sempat mencium pipi saya berkali kali dengan mengatakan sesuatu yg saya sendiri sudah lupa sekarang, tapi sejak awal sampai selesai dia tidak pernah mencium bibir saya, padahal sebenarnya banyak kesempatan, apalagi kalau saya sudah lagi tidak ingat apa apa lagi, bisa saja. Sepertinya pria ini mau tetap menghormati saya dalam arti sopan santun dia terhadap saya. Sempat juga saya membersihkan penisnya dengan tisu sebelum saya pergi ke kamar kecil untuk bersih bersih. Ketika menuju kamar kecil tidak bertemu siapa siapa, karena saya sadari penampilan saya sudah tidak teratur lagi. Agak lama juga saya di toilet. Saya rapihkan jas agar sebisa mungkin kelihatan tertutup dadanya walaupun dibalik jas saya tidak mengenakan apa apa lagi. Begitu juga stocking, garter berserta talinya saya rapikan kembali. Terutama tali tali garter yg terlepas dari ujung stocking karena tangan pria ini tadi. Celana dalam sudah tidak bisa saya pakai lagi karena sudah begitu basah dari awal, dan juga saya sadar ketika di toilet bahwa celana dalam saya masih ada di ruangan pria itu, mungkin ada di sekitar sofa itu.

Ketika kembali ke kamar kerja pria ini, dia menyerahkan celana dalam itu sambil tersenyum. Tapi aku katakan ke dia itu disimpan saja buat kenang kenangan. Mendengar itu wajahnya berseri seri dan mengatakan bahwa tadinya dia mau meminta itu untuk kenang kenangan, tapi tidak jadi mengatakan itu karena tidak enak.

Tidak lama setelah itu kami pun akhirnya turun ke loby dan tidak lama mobilnya yang berwarna hitam dan terkesan mobil resmi untuk kerja pun tiba. Supirnya membukakan pintu dan segera kami masuk. Mobil melaju menuju restoran yang di tuju. Di mobil sempat pria ini berbisik seperti ingin menegaskan sesuatu, bahwa saya tidak memakai celana dalam lagi. Tangannya juga sempat memegang paha saya juga waktu dia bertanya.

Kami malam itu makan di restoran Jepang, dia saya ajak makan teppanyaki. Banyak yg kami bicarakan di sana, tentang keluarga dia, begitu juga tentang keluarga saya dll. Suasananya cukup meriah juga karena di sebelah kami ada 2 orang pria Jepang yg sedang makan juga di sana. Saya juga sempat berbincang bincang dengan kedua pria Jepang itu. Pria yg bersama saya ini sempat memuji muji lancarnya saya berbahasa Jepang. Ketika kami menikmati makanan sambil berbincang bincang, terlihat kadang kadang garis matanya bergeser ke celah jas yg di dada saya. Saya tahu tidak sengaja dia mungkin melirik dan melihat ke payudara saya yg memang susah juga kalau mau ditutup rapat benar hanya dengan jas.

Dari pembicaraan malam itu, saya mengetahui bahwa pria ini anak anaknya sudah besar besar, bahkan ada yg akan segera menikah dalam waktu dekat. Sudah lama dia tidak beristri lagi. Karena masalah pribadi, di sini saya tidak ceritakan lebih lanjut. Tapi dari cara dia bicara, saya tahu pria ini sangat mencintai istrinya dan terlihat pria ini orang yg baik baik.

Selesai makan malam, saya diantar pulang sampai ke rumah, tidak terlalu larut juga malam itu. Sebelum keluar mobil, pria ini mengucapkan terimakasih untuk menemani dia bersama makan malam dan pengalaman tak terlupakannya itu.

Ketika masuk ke rumah, suasana sudah begitu sunyi, sepertinya anak anak sudah pada tidur. Saya langsung menuju kamar tidur. Ternyata suami belum pulang, dan memang saya tahu hari ini dia akan pulang malam. Segera saya bersiap siap untuk mandi. Ketika membuka baju, terasa vagina saya masih basah ketika disentuh dengan jari, tapi tidak banyak. Padahal tadi di toilet saya merasa sudah cukup membersihkannya. Selesai mandi dan mengeringkan badan, karena agak capai, segera merebahkan diri di tempat tidur tanpa memakai apa apa. Sedikit memejamkan mata untuk beristirahat. Tapi tidak sadar jari tangan sudah berada di sekitar clitoris, dan perlahan lahan memainkannya, terasa sedikit nikmat dan terangsang. Mungkin karena tidak mencapai klimaks tadi sehingga rasanya hati ini penasaran terus. Tapi kemudian tanpa disadari saya tertidur lelap.

Tiba tiba saya terbangun dan ketika terbangun itu terasa saya begitu terangsang dan seperti sedang menikmati sesuatu. Terasa ada sesuatu yg bergerak di vagina saya dan begitu merangsang. Berat sekali mata ini ketika akan membuka. Hanya saja saya merasa itu masih malam hari, dan suasana kamarpun remang remang. Ketika mata benar benar terbuka terlihat muka suami di depan muka saya dan mengucapkan selamat malam sambil mengecup bibir saya. Saya sedikit terkejut tapi segera menyadari, suami sedang dia atas saya dan dengan posisi normal dia memasukkan penisnya kedalam vagina. Saya balas dia dengan senyuman dan saya peluk dia. Tanpa banyak bicara kami berdua terus menikmati apa yg sedang kami lakukan. Kali ini saya merasa bebas mengeluarkan suara tanpa takut terdengar siapa siapa. Tidak lama di berbisik dengan sedikit nada menggeram.

“Kenapa ciumanmu begitu nafsu malam ini dan ketika kamu masih tidur, saya pengang vagina kamu begitu basah dan semakin di jilat semakin basah….”. Suami memanas manasi dengan kata kata seperti itu.

“Nanti aku ceritakan….tapi sekarang tolong jangan berhenti…” balas saya.

Setelah itu suami semakin bereaksi membuat saya semakin hanyut di pelukannya. Setelah itu saya tidak ingat lagi yg kami lakukan. Menjelang mencapai klimaks saya ingat posisinya suami terlentang memperhatikan gerakan saya yg sedang duduk diatas dia. Saya dulu yg tidak tahan, sampai akhirnya mencapai klimaks. Kemudian suami menyusul, dan ketika dia mencapai klimaks terasa cairannya menekan masuk kedalam saya hingga saya mencapai klimaks lagi. Karena tidak tahan menahan sesuatu yg begitu nikmat, sampai bahunya saya gigit hingga merah. Belakangan setelah selesai kami bercengkrama, suami menunjukkan bekas gigitan saya. Geli sekali saya melihatnya sampai tertawa kecil sambil memandangi luka kecil di bahunya.

.

Catatan pinggir.

Setelah kejadian itu, pria ini mengirim email ke saya. Berikut ini adalah salinan apa adanya dari email dia.

From: xxxx@xxxxx.com

Subject: Terimakasih Mbak Rxxxx

To: rxxxh@xxxxx.net

Dear Rxxxx,

Hari itu merupakan hari yang penuh surprise bagi saya dan tidak mungkin bisa terlupakan.

Kejadian di lift, di kamar kerja saya dan makan malam yg begitu berkesan.

Sudah berapa lama saya tidak pernah melakukan seperti malam itu, dan tidak ingat lagi berapa tahun yang lalu terakhir kali. Bahkan saya sendiri sampai tidak percaya kepada diri sendiri, masih bisa begitu bergairah dan melakukan hal itu dengan begitu puas. Ternyata terbukti bahwa sex yg simple pun tanpa model yg macam macam bisa membuat suatu kepuasan yg luar biasa.

Maaf agak straight bicara saya, karena sulit menjelaskan dengan kata kata yg lebih halus,

Gerakan Rxxxx begitu menakjubkan, pinggulnya yg bergerak kedepan dan kebelakang di pangkuan saya, dengan tidak begitu cepat bahkan terkesan begitu lembut, tapi membuat saya merasakan suatu kenikmatan yg begitu hebat. Bagaimana milik saya yg sedang didalam tempat Rxxxx dan kamu mainkan, sulit untuk saya ungkapkan. Begitu bahagianya suami kamu dapat merasakan itu setiap malam, terus terang saya iri. Postur tubuh kamu yg begitu sexy ketika bergerak di pangkuan saya.

Ketika di mobil, sejujurnya saya sampai berfikir yg tidak tidak, untung ada supir di depan. Karena saya tahu Rxxxx dibalik rok yg mini itu tidak mengenakan apa apa.

Di restaurant, malam itu (maaf) berkali kali saya mengintip buah dada kamu yg indah itu, seakan tidak puas puasnya, serasa ingin menyentuhnya sekali lagi. Saya malu sendiri, sudah seperti remaja yg sedang puber saja mengintipi dada wanita.

Pagi tadi, di loby gedung saya melihat anda. Saya ada dibelakang anda sedang menunggu lift, tapi anda tidak sadar sepertinya. Saya juga sengaja tidak menegurnya. Saya takut dengan hati saya yg akan mengingatkan kejadian malam itu kalau bertemu kamu pagi tadi. Masih terlalu membakar hati saya kejadian malam itu.

Pagi ini anda terlihat wajahnya begitu ceria dan cantik sekali. Penampilannya pun terkesan sexy juga pagi ini walaupun cukup simple yg Rxxxx pakai itu. Saya bisa maklum kalau pria yg di sebelah anda berkali kali melirik ke anda, apalagi masih muda.

Saya tidak terlalu mengharapkan apa apa dari Rxxxx lebih lanjut lagi, karena saya memahami benar bagaimana commitment hidup yg anda jalani, sesuai yg saya dengar ketika di restaurant.

Akan saya simpan di hati sebagai kenang kenangan, dan yg satu itu tetap saya simpan dikamar tanpa saya cuci.

Regards,

Xxxxxxxxxx

.

Sumber : ratih65.netfirms.com

Special thanks to Rxxxxx

Komentar
  1. savend mengatakan:

    bang pendekar, ratih65 itu udah tutup yah websitenyaa??

    Re : Yup udah tutup jg, tp katanya ntar ada web baru pengganti tp lom tau jg nih alamat url-nya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s