Mengapa Malam Pertama Tidak Berdarah?

Posted: Juli 16, 2011 in Artikel

Malam Pertama

Bisa saja terjadi malam pertama tidak berdarah. Pertama, karena memang sudah tidak perawan lagi dan baru ketahuan saat malam pengantin, dan itu adalah bukti otentik bahwa istri sudah tidak perawan.

Kedua, sebenarnya sang istri masih perawan tapi jenis selaput daranya lebih tebal dan kurang elastis sehingga tidak mudah koyak ketika berhubungan. Oleh karena belum koyak atau koyaknya belum sampai ke tepi cincin selaput dara maka kemungkinan berdarah jadi kecil, atau bahkan sama sekali tidak berdarah. Bukti bahwa sang istri masih perawan tidak bisa ditunjukkan dengan darah di malam pertama.

Malam pertama dan darah memang sulit dipisahkan. Baik pria maupun wanita sama-sama menanti dengan harap-harap cemas tetesan darah yang keluar dari vagina saat berhubungan seks di malam pertama pernikahan.

Kendati masih gadis dan belum pernah mengalami cedera selaput dara, malam pengantin bisa saja berakhir tanpa terlihat adanya tetesan darah. Secara medis ini bisa dimengerti sebab selaput dara tidak selalu harus berdarah sekalipun sang istri masih perawan. Mengapa bisa begitu?

Banyak wanita yang bertanya apakah selalu ada darah yang keluar ketika berhubungan seks pertama kali? Jawabannya variatif. Beberapa wanita mengeluarkan darah yang banyak tapi tidak sedikit wanita yang tidak berdarah sedikitpun.

Berdasarkan sifat lubang-lubangnya dan elastisitasnya, selaput dara terdiri atas beberapa jenis. Pada wanita yang selaput daranya tebal dan kaku, besar kemungkinan selaput daranya tidak berdarah di malam pertama pernikahannya. Nanti di malam-malam berikutnya setelah beberapa kali penis penetrasi selaput dara baru sobek dan terjadi perdarahan.

Atau bahkan untuk jenis selaput dara yang sangat kaku, tidak akan sobek dan berdarah meski melakukan hubungan seks berulang kali. Selaput dara jenis ini baru benar-benar koyak setelah sang wanita melahirkan anak.

Kasus malam pertama dimana sang pengantin wanita tidak berdarah sering menjadi prahara di awal pernikahan. Karena curiga istri tidak berdarah saat senggama membuat suami berpikir istrinya sudah tidak gadis lagi. Padahal meski tidak berdarah, sang istri belum tentu tidak perawan. Masalah seperti ini tidak jarang berbuah dengan perceraian.

Karena itu pentingnya memahami pengetahuan seks bagi remaja pria maupun wanita. Kalau saja setiap suami tahu bahwa selaput dara itu ada beberapa jenis, tentu dia akan lebih arif menghadapi istri yang sesungguhnya masih perawan meskipun tidak berdarah di malam pertama. Tidak berdarah bukan berarti sudah tidak perawan.

.

JANGAN CEMAS

Malam pertama dan darah, hampir pasti tak dapat dipisah. Hubungan pertama bagi lelaki selalu berharap disertai darah dari vagina wanita. Dan kadang, wanita pun cemas, menunggu tanda itu, sebagai bukti kesucian dirinya. Tapi, bagaimana jika ternyata, sehabis “pertempuran” nikmat itu tak ada juga darah? Cemas? Stres? Timbul praduga? Duh!

Tak usah cemas. Banyak pertanyaan yang diajukan oleh kaum perempuan menyangkut darah di malam pertama. Apakah selalu ada darah pada kali pertama berhubungan seksual? Sebetulnya jawabannya sangat variatif. Beberapa perempuan memang berdarah agak banyak, sebagian lain mengeluarkan darah sedikit, namun banyak pula malah tak ada darah sama sekali. Karena itu kalau Anda tak berdarah di malam pertama perkawinan, tak usah terlalu cemas. Apalagi risau dituduh telah berhubungan intim sebelumnya.

Sumber di keluarga.org menyebutkan bahwa sebenarnya darah keluar dari selaput dara yang terletak di dalam vagina yang robek ketika mengadakan kontak seksual. Sedangkan pada perempuan yang tidak berdarah pada malam pertamanya, kemungkinan ia tidak memiliki selaput dara atau mungkin robek tanpa disadari. Ada banyak sebab mengapa Anda tak berdarah. Bisa jadi karena aktivitas olah raga seperti berkuda, senam lantai, dan bersepeda. Atau karena Anda memakai tampon. Bisa juga tanpa sengaja vagina Anda tertembus benda. Kalau itu terjadi, tentu saja tak akan ada darah di malam perkawinan.

Malah, Anda termasuk perempuan yang memiliki selaput dara tebal, sehingga walaupun tertembus benda apa pun, selaput dara Anda tetap utuh dan tidak mengeluarkan darah. Jadi jangan terburu cemas.

Jangan asumsikan macam-macam. Sepanjang Anda tak pernah berhubungan seksual sebelum pernikahan dengan pria lain, kenapa musti takut? Jangan bayangkan bahwa darah yang keluar dari vagina akan seperti darah waktu haid. Darah dari selaput dara yang robek itu hanya seperti tetesan kecil dari jari yang teriris. Jadi perempuan yang akan melangsungkan pernikahan, juga bagi para calon suaminya, jangan terlalu berpikiran yang tidak-tidak. Bukan berarti dengan tak keluarnya darah pada malam perkawinan, maka Anda tak perawan.

Kalau pun selaput darah Anda pernah robek sewaktu gadis, toh itu bukan semata kesalahan Anda. Kecelakaan dapat terjadi di mana saja. Dan yang paling ekstrim pun, jika Anda diperkosa oleh lelaki bejat, maka Anda tetap dapat disebut “perawan” karena dipaksa melakukan kontak seksual tanpa pernah Anda kehendaki.

Anggap hanya mitos. Keperawanan tak diukur dari robeknya selaput dara atau keluarnya darah saat malam pertama. Bahkan keluarnya darah, rasa perih, atau robeknya selaput dara cenderung menjadi mitos dalam hal seks. Yang benar adalah bila perempuan terangsang, maka ia akan mengeluarkan cairan dan vagina siap menerima penis sehingga tak akan terjadi robekan, keluar darah atau bahkan rasa perih saat hubungan seks kali pertama.

Jadi keperawanan itu diukur dari sejauh mana Anda menjaga etika moral seks yang diajarkan agama. Bukan dari robeknya selaput dara, rasa perih atau bahkan keluarnya darah saat hubungan pertama. Robeknya selaput dara hanya dapat diketahui oleh pemeriksaan dokter. Kalau Anda belum pernah berhubungan seks sebelumnya, yakinilah, darah di malam pertama hanyalah mitos.

Jangan diamkan. Meski begitu, Anda jangan diam saja, dan menunggu reaksi suami. Bicaralah! Jika Anda tak membicarakan masalah itu, situasi takkan berubah. Malah akan menjadi kaku. Apalagi jika suami Anda justru berprasangka buruk terhadap Anda. Ingat. Malam pertama merupakan awal dari kayuhan bahtera perkawinan Anda.

Ahli terapi seks di Human Sexuality Center of Long Island, Joel D Block, PhD., menegaskan komunikasi berperan besar dalam menentukan kebahagian suami isteri. Komunikasi seksual yang baik berasal dari komunikasi intim yang baik pula. Dapatkan keintiman dengan berbicara tentang emosi, opini, gagasan, harapan, dan rasa takut Anda. Maka itu akan lebih mudah. Bicara lebih baik daripada hanya menangis. Memang, tak harus saat itu juga Anda bicara dengan suami. Pilih waktu yang Anda rasa tepat untuk membicarakan persoalan itu. Ingat, jaga jangan sampai amarah dia meledak.

.

CONTOH KASUS :

SAYA ibu rumah tangga (28), sudah menikah tiga tahun dan mempunyai satu putri berusia dua tahun. Kehidupan saya dan suami cukup bahagia, namun ada suatu persoalan yang selalu membayangi saya. Saat baru menikah, di malam pertama saya tidak “mengeluarkan darah”. Suami saya memang tidak mempersoalkan hal itu dan hingga saat ini kami tidak pernah membicarakannya. Mungkin ia menjaga perasaan saya. Tetapi, hati saya tetap merasa tidak enak dan saya merasa tidak mampu membuktikan kepada suami saya bahwa saya masih perawan. Hal ini membuat saya merasa rendah diri. Saya betul-betul belum pernah melakukan hubungan seksual dengan siapa pun kecuali dengan suami saya saat malam pertama itu. Mengapa saya tidak dapat “mengeluarkan darah” meskipun saya yakin masih perawan? Dapatkah selaput dara robek tanpa saya ketahui?

JAWAB :

SELAPUT dara merupakan bagian dari alat kelamin perempuan yang paling banyak menjadi topik pembicaraan. Keutuhan selaput dara yang oleh sebagian besar masyarakat awam dianggap dapat dibuktikan dengan terjadinya perdarahan dari vagina pada saat pertama kali melakukan hubungan seksual, merupakan lambang kesucian atau keperawanan (virginity) bagi seorang perempuan yang belum menikah. Banyak cerita tragis tentang kehidupan seorang perempuan yang dihubungkan dengan masalah keutuhan selaput dara.

Bahasa Latin dari selaput dara adalah hymen yang berasal dari nama dewa Junani yaitu dewa perkawinan. Selaput dara merupakan tonjolan dari lapisan bagian dalam vagina (mukosa vagina) dan terletak pada bagian paling luar vagina (mulut vagina). Umumnya selaput dara berbentuk seperti “renda” yang mengelilingi bagian tepi mulut vagina. Ketebalan, kelenturan, serta bentuk selaput dara amat bervariasi.

Vagina sendiri berbentuk seperti liang yang dibatasi dengan lapisan mukosa di permukaannya dan otot-otot di bawahnya. Vagina mempunyai daya elastisitas yang amat baik dan diameternya dapat mengembang sedemikian rupa dengan pengaruh hormon-hormon dan rangsangan seksual. Demikian juga dengan selaput dara. Variasi ketebalan, kelenturan serta bentuk selaput dara menentukan mudah tidaknya selaput dara ini “robek” bila terjadi peregangan pada vagina.

Seperti halnya jaringan tubuh lainnya, selaput dara juga mempunyai pembuluh-pembuluh darah. Letak serta besar pembuluh darah ini amat bervariasi pula. Hal-hal di atas ini yang amat mempengaruhi adanya “perdarahan” saat pertama kali terjadinya hubungan seksual. Contohnya sebagai berikut. Selaput dara yang tipis, lentur serta mempunyai lekukan (rugae) sehingga berbentuk seperti anemon (lihat gambar) adalah jenis selaput dara yang paling elastis dan tidak mudah robek saat terjadinya penetrasi oleh benda-benda tumpul termasuk penetrasi penis saat hubungan seksual.

Miss V

Selaput dara yang tebal, serta tidak mempunyai lekukan-lekukan sehingga berbentuk seperti cincin (anular) mungkin merupakan jenis selaput dara yang mudah robek bila teregang.

Jenis lain dari selaput dara adalah yang hampir menutupi seluruh mulut vagina dan hanya mempunyai lubang-lubang kecil tempat keluarnya darah haid sehingga berbentuk seperti saringan (cribriform) . Selaput dara seperti ini tentu saja dapat dipastikan akan robek saat melakukan hubungan seksual.

Selaput dara yang menutupi seluruh mulut vagina seperti penutup gendang, akan menyebabkan tidak dapat keluarnya darah haid. Hal ini merupakan kelainan yang dikenal dengan nama hymen imperforata. Wanita dengan selaput dara semacam ini akan mengalami pengumpulan darah haid di dalam vagina, dan seringkali juga rahimnya. Keluhan yang dinyatakan adalah hingga usia akil balik ia tidak pernah mengalami haid namun setiap bulannya ia tetap merasakan rasa tidak enak pada perut bagian bawah seperti mereka yang sedang mengalami haid. Selaput dara jenis ini biasanya cukup tebal, dan memerlukan tindakan pembedahan kecil yang amat sederhana untuk membuat lubang yang cukup untuk tempat keluarnya darah haid. Tidak seluruh selaput dara dirobek, sehingga pada saat berhubungan seksual pertama kalinya, perempuan yang pernah mengalami tindakan pembedahan untuk membuat lubang pada selaput daranya ini masih mungkin mengalami perdarahan lagi.

Letak dan jenis pembuluh darah yang bervariasi juga mempengaruhi adanya dan jumlah perdarahan yang terjadi. Bila robekan selaput dara terjadi pada daerah yang kebetulan hanya sedikit sekali mengandung pembuluh darah dan pembuluh darahnya berukuran amat kecil, maka saat hubungan seksual perdarahan yang terjadi dapat sedikit sekali, bahkan hanya setitik sehingga tidak dapat dikenali. Terlebih bila saat melakukan hubungan seksual terjadi ejakulasi, darah yang hanya setitik itu akan tercampur dengan cairan sperma. Bila robekan pada selaput dara mengenai pembuluh darah yang cukup besar, tentu saja perdarahan yang terjadi akan tampak nyata.

Letak selaput dara pada mulut vagina cukup tersembunyi di belakang bibir kemaluan kecil (labia mayora). Pada perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seksual dan belum pernah melahirkan anak melalui jalan lahir biasa, bibir kemaluan kecil tampak menangkup di depan mulut vagina, sehingga amat sulit menampakkan mulut vagina dan selaput dara meskipun perempuan tersebut terbaring dengan kedua sisi terentang (posisi litomi). Dengan selaput dara yang demikian terlindung akan sulit sekali terjadi robekan pada selaput dara saat melakukan aktivitas biasa termasuk aktivitas olah raga seperti berlari, berkuda dan senam. Kecuali bila terjadi perlukaan pada darah alat kelamin yang cukup hebat yang tentunya juga akan mengenai bibir kemaluan kecil dan bibir kemaluan besar. Dengan kata lain, hampir tidak mungkin terjadi robekan pada selaput dara bila bukan ada suatu benda yang sengaja atau tidak sengaja menusuk ke arah liang vagina atau terjadi suatu kecelakaan yang begitu hebat hingga mencederai seluruh alat kelamin luar juga. Pada kondisi seperti ini tentunya perempuan yang mengalaminya akan merasakan nyeri karena pada daerah alat kelamin luar ini banyak terdapat ujung-ujung saraf yang menyebabkan daerah tersebut amat sensitif.

Pemeriksaan selaput dara

PEMERIKSAAN untuk menilai utuh tidaknya selaput dara juga bukan merupakan pemeriksaan yang mudah. Pemeriksa haruslah seorang yang ahli dan sudah biasa melakukan pemeriksaan tersebut. Pertama-tama perempuan yang akan diperiksa akan dibaringkan dalam posisi terlentang pada meja khusus untuk pemeriksaan ginekologi. Kedua kakinya diletakkan pada penyangga khusus sehingga kedua sisi pahanya akan terentang. Dengan satu tangan pemeriksa akan menyingkapkan kedua bibir kemaluan kecil sehingga selaput dara dan mulut vagina dapat ditampakkan.

Agar selaput dara dapat ditampakkan dengan jelas, perempuan yang diperiksa harus cukup santai. Untuk dapat menilai ada tidaknya robekan pada selaput dara maka mulut vagina dan selaput dara harus agak diregangkan.

Setelah selaput dara tampak teregang, baru dapat ditampakkan lokasi robekan. Pemeriksa yang belum biasa atau belum ahli dalam hal ini seringkali akan mendapatkan kesulitan melakukan penilaian adanya robekan, terutama bila robekan itu adalah robekan yang sudah lama pada selaput dara yang berbentuk seperti anemon (memiliki rugae).

Setelah uraian di atas khususnya mengenai adanya variasi kelenturan selaput dara maka tentu saja pemeriksa tidak dapat menyimpulkan apakah perempuan yang diperiksa ini masih “perawan” atau tidak dalam arti apakah perempuan yang diperiksa ini sudah pernah melakukan hubungan seksual atau tidak.

Seorang perempuan dengan selaput dara yang utuh tetapi elastis, dapat saja sudah pernah melakukan hubungan seksual tanpa mengalami robekan pada selaput daranya. Sebaliknya seorang perempuan dengan robekan pada selaput dara dapat saja mengalami robekan bukan karena hubungan seksual tetapi karena kecelakaan, karena melakukan masturbasi menggunakan jari atau benda-benda lain yang dimasukkan pada liang vagina, atau karena pemakaian tampon.

Konsultasi : Dwiana Ocviyanti Idrus, dr. SpOG

.

Sumber : dari berbagai sumber

Komentar
  1. Nia ok mengatakan:

    Saya punya pacar,kami pacaran sudah 4 tahun, jujur saya dan pacar saya sudah melakukan hubungan intim,pada saat itu kami melakukan nya kenapa tidak berdarah ,sedangkan saya baru melakukan cuma selali ini,kenapa tidak keluar darah sama sekali, trus pacar saya bilang di kiranya saya sudah tidak perawan,dan dia tidak percaya , gimana saya harus bilang ke pacar saya?

    Re : bilang aja ke dia “gue wanita gue juga manusia, cintai gue seutuhnya jiwa dan raga, bukan hanya sebatas wilayah vagina!”

  2. kania mengatakan:

    hal ini benar2 suatu momok yang menyeramkan buat wanita…karena banyak pria hanya menilai keperawanan dari setetes darah aja…jd sering kali wanita menjadi korban ketidak adilan. apalagi kalau pasangan meminta pembuktian kesetiaannya dan kejujurannya dr keperawanannya..waduh kashnnya engkau wanita.

    Re : Benar! Untuk wanita: “hormatilah dirimu sendiri dan berikan kehormatanmu untuk orang yang juga menghormatimu”

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s