Selamat Pagi Cinta

Posted: Oktober 7, 2010 in Other Stories

Hanya satu membran elastis yang membedakan antara kebahagiaan dan kesedihan. Sahabat Ray, Dita, pernah berkata, “Orang hanya bahagia saat duka itu tiada, dan berduka saat bahagia itu hilang. Tak ada bahagia, maka tak ada susah, begitu pun sebaliknya. Hukum alam yang mudah dicerna. Tapi apa yang terjadi bila ada seseorang yang ingin dan bahkan mampu berada di ambang batas antara keduanya?”

Orang itu adalah orang paling cerdas di dunia. Sekaligus menjadi orang terdingin di dunia. A human without soul. A zombie.

#########################

Cynthia, girl with love

 

Cynthia

 

Yang bilang kalau Ray adalah maniak seks, berarti ia salah besar. Ray bukan maniak. Ia tidak pernah mencuri pakaian dalam, ataupun mengoleksi ribuan film dan gambar porno. Ia tidak masturbasi tiap sepuluh menit. Dan ia tak pernah memperkosa. Tapi yang mengatakan Ray menggemari seks, berarti ia benar. Ray menikmati seks, seperti ia menikmati makan dan minum. Hanya tidak terlalu, secukupnya saja.

Cynthia hanya tertawa, bangkit dari tempat tidur, lalu setengah menyeret selimut melangkah menuju kamar mandi. Ray menatap punggung mulus gadis itu dengan tersenyum. Cynthia memang pasangan yang menyenangkan, setidaknya sampai tadi pagi. Gadis itu tak pernah mengeluh dan tak pernah menuntut lebih dalam hubungan mereka. Just sex, itu yang mereka sepakati saat pertama kali mereka bercinta sebulan yang lalu. Dan Cynthia cukup bisa memegang komitmennya, meskipun Ray tak jarang mendengar gadis itu mengigau dalam tidur dan berbisik,

“Jangan pergi..”

Gadis-gadis itu mencintainya. Mencintai kehangatannya. Bukan just sex, meskipun itu yang mereka setujui mula-mula. Mereka yang sudah pernah dipeluknya semalaman tanpa bercinta. Ray tahu itu. Tapi terikat bukan sesuatu yang diinginkannya, dan ia selalu menekankan pada gadis-gadis itu untuk paham bahwa ia tak bisa membalas cinta mereka. Terkadang Ray merasa bersalah, tapi itulah dirinya.

Ray bangkit dari tempat tidur, mematikan rokok yang masih tersisa setengah. Tadi pagi, setelah Cynthia membangunkannya dengan mengulum penisnya, setelah mereka bercinta, gadis itu memulai perbincangan yang menyedihkan.

“Ray, I think I’m stupid.

Stupid?”

“Ya. Sometimes you make me feel like I can’t live without you.

“Wajar.”

See? Bahkan aku ngga bisa marah walau kamu cuman nanggapin begitu.”

“Lalu? Aku bukan seorang yang romantis. Dan kurasa perasaan itu wajar datang setelah make love.”

“Oh ya? Kamu juga begitu? Kurasa tidak. Kamu punya banyak sekali wanita di hidupmu. Aku mungkin cuman salah satu teman semalam. Mungkin akulah si Senin, dan si anu jadi si Selasa. Lalu si Kamis.”

“Lalu di mana stupid-nya?”

Stupid-nya? Because I let it be.

What? The feeling? So don’t be.”

How? Aku bukan kamu. Aku ngga punya segudang harem. Aku cukup satu.”

“Ya, blame me for that.”

You talk like it’s an easy thing to do.

“Semua mudah kalau mau.”

“Aku bukan maniak.”

“Aku juga bukan.”

Dan Cynthia terdiam, memainkan jemarinya di dada telanjang Ray. Sebelum akhirnya mengatai Ray sebagai maniak seks.

Ray cukup kecewa dengan perbincangan itu. Itu berarti Cynthia sudah memakai perasaannya sebagai seorang wanita, dan bagi Ray tak ada yang paling merepotkan daripada mengalihkan perasaan itu dari si gadis. Lalu hanya tersisa dua jalan, yang pertama adalah meninggalkan Cynthia sebelum gadis itu bertambah bodoh, dan yang kedua membicarakan baik-baik dengan resiko mengarah ke jalan pertama. Bagaimanapun juga, kehilangan Cynthia adalah sesuatu yang patut disayangkan.

“Cyn, boleh ikut?” Ray berbisik di balik tirai plastik.

“Jangan,” terdengar suara Cynthia di sela gemerisik air dari shower.

Ray tak mengatakan apapun. Lalu perlahan ia mendengar suara isak tangis dari balik tirai. “Cyn, jangan begitu,” ucap

Ray, meraba tirai dengan jemarinya.

“Kenapa ngga pulang saja. Aku sedang bodoh. Aku ngga mau dilihat siapapun.”

“Cyn..”

“Seks nikmat, kan? Aku hanya pemberi kenikmatan, kan? Iya. Begitu juga kamu. Tapi aku sedang bodoh, sampai lupa hal itu. Jangan tertawa, Ray. Jangan tertawa..”

“Kamu kenapa sih? Dulu-dulu ngga pernah seperti ini?”

Lama tak ada sahutan dari balik tirai. Suara air dari shower dan isak lamat-lamat menjadi pengisi kesunyian antara Ray dan Cynthia.

“Ray..Albert ngelamar aku ke Papa. Kamu kira apa yang harus kukatakan?”

Ray hanya diam. Pemuda itu membayangkan Albert, pemuda bertubuh tambun bermata sipit, yang cinta buta pada Cynthia. Tidak bahkan Albert menjauhi Cynthia, setelah si gadis mengatakan bahwa ia sudah tidak perawan sejak SMA. Bahkan Albert semakin bertekad untuk menunjukkan cinta tulusnya pada Cynthia. Dan sikap keras kepala Albert pula lah yang membuat Cynthia lebih memilih menghilang bersama Ray, daripada menghadapi Albert di rumahnya.

“Katakan apa yang ada di hatimu,” bisik Ray, merasa sedikit kecewa.

“Apa yang bisa kukatakan? Kalau aku sudah punya kamu? Kalau aku akan membayar semua hutang budi Papa padanya kelak? Ray, aku tidak berasal dari keluarga yang bebas. Tidak se-naif itu.. tidak se-naif itu..”

“Cyn..”

“Lagipula, siapa kamu? Who the hell are you?”

“Kamu kok jadi bodoh seperti ini sih?” ucap Ray, nadanya sedikit keras, “Kamu punya kehidupan! Dan tak ada seorang manusiapun yang berhak untuk mengaturnya! Kalau kamu mau, semua bisa! Kamu cukup bilang..ugh!!”

Cynthia menyingkap tirai, memutus kalimat Ray dengan menempelkan bibir basahnya di bibir pemuda itu. Ray membiarkan matanya tetap terbuka. Pemuda itu menyaksikan kedua mata Cynthia yang terpejam, dan sungai air mata yang menyatu dengan basah air di wajah si gadis. Refleks, Ray mengangkat kedua lengannya dan memeluk tubuh Cynthia. Gadis itu menarik kepalanya beberapa saat kemudian.

“Aku cinta kamu! Aku cinta.. aku ngga mau munafik..,” isaknya.

Ray memeluk tubuh gadis itu erat-erat. Tak ada nafsu di sana, meskipun ketelanjangan tubuh mereka saling beradu. Cynthia tersedu di dada Ray, jemarinya meremas lengan Ray.

Ray membiarkan Cynthia menangis beberapa menit, sampai akhirnya pemuda itu mendorong tubuh si gadis sedikit menjauh.

“Cyn, aku pulang.”

Cynthia menyeka matanya dengan punggung tangan.

“Jangan pergi, Ray..,” isak si gadis.

“Kalau aku ngga pergi sekarang. Nanti kamu tambah bodoh.”

“Aku suka jadi bodoh,” bisik Cynthia. Ray menghela nafasnya.

“Semua orang suka jadi bodoh kalau sedang jatuh cinta.”

Cynthia tak menyahut, lengannya berusaha merengkuh Ray, tapi pemuda itu melangkah mundur. Cynthia menatap Ray, dan pemuda itu tersenyum padanya.

“Cyn,” ucap Ray, “aku ngga suka cewek bodoh.”

“Ray..”

“Aku pulang.”

“Ray..”

“Kalau sudah pintar, telpon aku di kantor.”

“Ray..”

Ray melangkah keluar dari kamar mandi, menutup pintu di belakangnya. Ray memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Ia tak suka terlibat dalam urusan semacam ini. Ia tak pernah menginginkan seorang gadis untuk jatuh cinta padanya. Ray tak ingin seorang gadis menjadikannya sebagai penentu dalam memilih jalan hidup. Ray tak ingin menerima tanggung jawab sebesar itu. Ia tak suka kebodohan yang ada dalam kata cinta.

Ray baru saja selesai mengenakan kemejanya, saat pintu kamar mandi terbuka. Pemuda itu menoleh dan melihat Cynthia dengan berbalut handuk tersenyum padanya. Ray membalas tersenyum, melangkah mendekati gadis itu. Cynthia meraih dasi di tangan Ray, lalu mulai mengalungkannya di leher si pemuda.

“Mungkin aku akan menariknya, membunuh dirimu, lalu membunuh diriku sendiri,” bisik Cynthia, seraya jemarinya bergerak lembut merapikan simpul dasi.

“Oh, silahkan saja. Tak ada bedanya antara hidup dan mati. Orang bersyukur karena hidup penuh warna. Dan orang mati bersyukur karena warna-warna hidup tak semuanya indah, bahkan terkadang terlalu buruk untuk dilihat.”

Cynthia menekan simpul dasi ke atas, sementara satu lagi tangannya menarik ujung dasi ke bawah. Ray memejamkan matanya sambil tersenyum.

“Aku serius,” desis Cynthia.

“Aku juga,” balas Ray berbisik.

“Tapi aku memilih untuk tidak jadi orang bodoh,” bisik Cynthia. Dan ikatan di leher Ray mengendur. Pemuda itu membuka matanya, melihat senyuman tersungging di bibir Cynthia.

“Cepat sekali berubahnya?” tanya Ray sambil menyeringai.

Cynthia menarik tangannya dan berkata, “Mungkin bodohku membuat aku pintar. Aku bodoh karena mencintaimu. Kamu tak suka orang bodoh. Jadi kupikir aku lebih baik tetap berusaha untuk pintar.”

Ray tertawa.

“Aku takkan pernah bisa miliki kamu ya, Ray?”

“Ngga.”

“Suatu saat nanti?”

“Ngga juga.”

Oh s’well, what sould I do about you?

Be smart.

Cynthia meraih bibir Ray dengan bibirnya.

“Jangan pergi sampai siang nanti..” desah gadis itu.

“I won’t,” bisik Ray, lalu menarik handuk yang menutupi tubuh Cynthia.

Mereka bercinta. Lagi.

Ray terbangun saat jam dinding menunjukkan pukul setengah empat sore. Pemuda itu menoleh dan mendapati Cynthia berbaring memunggunginya. Ray tersenyum dan mendekatkan wajahnya, lalu mengecup lembut pundak gadis itu.

“Good bye, lover,” bisik Ray. Cynthia tak bergerak.

Ray lalu mengangkat tubuhnya, bergerak selembut mungkin turun dan meraih pakaian yang berserakan di lantai. Sepuluh menit kemudian Ray sudah berada di depan gedung apartemen Cynthia. Menatap silhouette gadis itu di balik jendela, Ray tersenyum. Firasat pemuda itu mengatakan bahwa itu lah terakhir kalinya ia menginjakkan kaki di tempat itu.

#########################

Lenvy, girl with passion

 

Lenvy

 

Tetes-tetes air hujan masih juga deras menerpa bumi kala Ray berhasil menyesakkan tubuhnya di antara kerumunan orang yang berteduh di emper toko alat-alat olahraga itu. Pemuda itu mengeluh, membersihkan tetes air yang menempel di wajahnya. Beberapa pasang mata memandangnya dengan rasa ingin tahu. Ray memang mencolok di antara kerumunan orang itu. Wajahnya yang bersih tak menunjukkan ciri khas pejalan kaki, begitu pula pakaian necis yang ia kenakan. Hanya rambut gondrongnya yang membuat ia tampak sedikit kumuh, namun tetap saja berbeda dengan orang-orang yang berteduh bersamanya.

Ray mengerti, bahwa beberapa orang masih menyimpan keberadaan jurang kesenjangan sosial itu dalam hati mereka. Apalagi sejak terjadinya krisis moneter di akhir 1997. Banyak kejahatan yang terjadi berdasarkan hal itu. Tak ada yang bisa disalahkan dari pola pemikiran yang demikian, hanya sistem pemerintahan yang buruk, itu saja, yang membuat perbedaan begitu mencolok di antara lapisan masyarakat. Yang miskin terjun bebas, yang kaya cuma terpeleset. Yang kaya melarikan diri, yang miskin memprotes dengan menaikkan angka kriminalitas. Suatu kewajaran sekaligus kenyataan yang menyedihkan. Dan Ray tak bisa memungkiri bahwa ia termasuk salah seorang yang ‘cuma’ terpeleset gara-gara krisis moneter tersebut, walaupun ia bukan termasuk yang melarikan diri.

“Permisi, Pak, bisa pinjam korek?” pemuda itu bertanya sambil tersenyum pada salah seorang bapak di sampingnya.

Bapak itu, tentu saja, memandang penuh selidik, namun begitu matanya bertemu dengan senyum simpatik Ray, si Bapak merogoh sakunya dan mengeluarkan sekotak korek api.

Ray menerima kotak itu dan sudah bersiap menyalakan rokok yang sudah terselip di bibirnya, saat seseorang mendesak tubuhnya dan membuat rokoknya terjatuh.

“Hey!” Ray berseru, lebih pada dirinya sendiri. Pemuda itu membungkukkan tubuhnya dan memungut batang rokok yang untungnya tidak terkena genangan air.

“Sial, untung ngga basah. Rokok mahal,” gumam pemuda itu, menyelipkan kembali batang rokok itu ke sela bibirnya.

Sikapnya yang wajar, bahkan cenderung kocak membuat beberapa pasang mata yang semula menatap iri menjadi lebih hangat.

“Ini, Pak,” ucap Ray, mengembalikan kotak korek api pada Bapak di sebelahnya, yang menerima sambil tersenyum dan menganggukkan kepala.

Ray menatap tirai hujan yang membatasi emper toko dengan dunia luar. Lirikannya berusaha menembus tirai tersebut, mengamati mobil-mobil yang lalu lalang di depan halte bis. Ray berpikir kesal, seandainya saja ia tadi tidak berusaha melarikan diri dari Rusdi, mungkin ia lebih memilih menunggu di halte tersebut, bersama dengan rekan-rekannya yang lain. Tapi tentu saja ia tidak ingin berlama-lama berbincang dengan Rusdi, pria yang selalu punya semangat berlebih untuk membanggakan dirinya sendiri itu, yang tak pernah mau mengaku kalah darinya dalam urusan wanita. Tadi, tepat sebelum Rusdi mulai berceloteh tentang pengalaman seksnya bersama Ida, yang Ray tahu bahwa hal itu tak mungkin terjadi karena ialah yang sudah meniduri gadis itu tanpa sepengetahuan siapapun, Ray melarikan dirinya ke emper toko alat sepatu. Malas benar ia menanggapi omong kosong Rusdi.

Ray memang begitu, ia sangat membenci orang-orang yang hanya bisa omong besar tanpa bisa membuktikan omongannya sendiri. Bahkan Ida pernah berkata,

“Siapa? Rusdi? Gila apa? Orang itu kasar dan menyebalkan kalau diajak bicara. Bukan tipe cowok yang enak diajak kencan.”

Padahal kalau dihitung-hitung, Ida bukanlah gadis nomor satu di kantor, dan mendapatkan Ida bagi Ray jauh lebih mudah dari membalikkan telapak tangan.

Dari jauh, Ray bisa melihat raut tak senang orang-orang yang berdiri di sebelah Rusdi. Merasa geli sendiri, pemuda itu menatap arloji di pergelangan tangannya.

Ini sudah lebih dari lima belas menit, pikirnya dalam hati. Kemana gadis itu?

Senyum Ray mengembang saat melihat sebuah sedan ungu berhenti di halte bis. Pemuda itu mengangkat tas kulitnya ke atas kepala, dan berlari menembus tirai hujan. Ray hanya tersenyum sinis, saat melihat Rusdi menatapnya dengan rasa ingin tahu.

Pintu mobil terbuka, dan semua orang bermata awas pasti bisa melihat seraut wajah ayu dengan senyum mempesona di belakang kemudi.

“Ciao, Rus,” ucap Ray, memasang seringai terbaiknya.

Rusdi terdengar mendengus, sementara matanya tak lepas dari sosok di belakang kemudi. Ray sebetulnya ingin memamerkan gadis itu pada Rusdi, sekedar ingin menyatakan bahwa ‘kamu tak ada apa-apanya, boy’, namun kondisi alam tak mengijinkannya untuk berbuat demikian. Begitu Ray menutup pintu, gadis ayu itu menekan pedal gas.

“Sori, Ray. Jalanan macet benar tadi,” ucap Lenvy, gadis di belakang kemudi, pada Ray yang sibuk menyeka wajahnya dengan tissue.

Ray masih juga tersenyum-senyum, “Ah, ngga apa-apa.”

“Kenapa? Kamu nampak senang?”

“Tidak. Malah kecewa, soalnya aku ingin memamerkan kamu pada rekan-rekanku.”

Gadis itu tertawa dan berkata, “Konyol benar kamu.”

“Biar saja. Kan asik, ngenalin cewek cakep.”

Lenvy tak menyahut ucapan Ray. Saat itu jalanan memang lebih padat dari biasanya.

“Jadi, bagaimana kerjaanmu hari ini?” tanya Lenvy, memecah keheningan.

“Ah, baik-baik saja. Kamu?”

“Aku? Parah. Orderan begitu banyak, sementara anak-anak maunya menikmati liburan,” dan Lenvy mulai bercerita tentang agen modelling yang dikelolanya bersama sang kakak. Ray mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Lalu, kamu saja yang turun,” ucap Ray kemudian. Lenvy tertawa.

“Aku? Ngga ah. Aku lebih suka menikmati liburan.”

“Nah loh?”

“Iya. Sama kamu,” ucap Lenvy, sembari matanya melirik ke arah Ray.

Pemuda itu hanya tersenyum dan berkata, “Jangan begitu. Aku tahu kamu orang sibuk. Aku ngga mau jadi pengganggu.”

“Pengganggu? Siapa bilang kamu mengganggu?”

Ray tertawa, memilih untuk tidak meneruskan perbincangan itu.

“Jadi, Ray. Kemana kita sekarang? Ke rumahmu atau ke rumahku?”

“Wah? Aku menangkap nada yang bandel di sana.”

Lenvy terkekeh. Saat itu lalu lintas sedang macet total. Lenvy memalingkan wajahnya pada Ray, menatap mata pemuda itu sambil tersenyum. Sesaat kemudian gadis itu memiringkan tubuhnya.

“Kiss me?” bisiknya lirih. Ray menggerakkan kepalanya, menemukan kelembutan bibir gadis itu tak berapa lama kemudian. Bahkan Ray bisa merasakan Lenvy lebih bergairah daripada biasanya. Gadis itu melumat bibir Ray, sambil sesekali memasukkan lidahnya ke dalam mulut si pemuda.

Tet-teett!!

Lenvy menarik bibirnya dan tertawa. Ray memandang ke arah jalanan yang lengang di depan mereka, dan kepalan tangan yang keluar dari dalam mobil di belakang mereka, lalu ikut tertawa.

“Ke rumahku ya, Ray?” bisik Lenvy tanpa menoleh.

Ray tak menyahut. Ia memang sedang jenuh setelah bekerja seharian. Dan seks sudah pasti merupakan obat yang mujarab untuk mengusir kejenuhan, seperti yang Ray yakin benar sama dengan yang ada di pikiran Lenvy.

“Kamu yakin?”

“Sini, kamu yang nyetir,” Lenvy berkata, membelokkan mobilnya ke salah satu gang pinggir jalan dan menghentikannya. Ray tertawa, membuka pintu mobil dan bergegas menuju sisi mobil yang lain.

Selalu saja begitu, Ray menyetir sampai ke rumah, sementara Lenvy memuaskan hobi seksualnya. Foreplay, begitu Ray dan Lenvy menyebutnya, dan tentu saja orang-orang yang lain juga.

Ray dan Lenvy pertama kali berjumpa di sebuah seminar, tepat sebulan yang lalu. Waktu itu Ray ditugaskan untuk mewakili kantornya, mendengarkan semua omong kosong para pakar periklanan ibukota. Ray yang memang tak pernah ambil pusing dengan ide-ide brilian orang lain, lebih suka menghabiskan waktunya dengan melirik gadis-gadis eksekutif yang banyak berseliweran selama seminar berlangsung. Satu lirikannya menemukan sosok Lenvy, dengan bibir bawah si gadis yang tergigit saat beradu pandang dengannya. Beberapa lirikan lagi, dan sebuah senyum menggoda, gadis itu tak menolak saat Ray melangkah mendekatinya.

Lenvy, sosok wanita karir jaman millenium. Muda, cantik, dan penuh gairah. Usianya yang sebaya dengan Ray, membuat semua perbincangan terasa lebih menyenangkan. Gayung bersambut saat Ray menyinggung masalah sex after lunch, euforia kalangan eksekutif muda yang workaholic. Bahkan Lenvy, yang semula mengatakan bahwa ia ‘tidak terlalu’ menyukai hal itu, bukan ‘tidak pernah’ melakukannya, terpaksa mengakui bahwa Ray membuatnya ketagihan, setelah pemuda itu menyetubuhinya seharian suntuk di sebuah kamar hotel.

Ray tahu, penilaian Lenvy padanya tak jauh berbeda dengan penilaiannya sendiri. Khusus kalangan orang muda, Ray adalah sosok yang didambakan semua gadis. Mapan, mempesona, dan memabukkan. Hubungan mereka pun berkembang menjadi mutualisme, saat Lenvy menyanggupi untuk menyediakan models agency-nya sebagai partner bayangan biro periklanan tempat Ray bekerja.

Semua senang, tak ada yang merasa dirugikan.

Anik hanya melongo, seperti biasa, saat menyaksikan majikannya masuk ke dalam rumah dengan menggandeng lengan Ray.

“Ayo, Ray,” desis Lenvy tak memperdulikan tatapan bertanya dari Anik. Nafasnya terengah. Ray menurut saat gadis itu menariknya menuju kamar tidur. Lenvy punya hasrat yang besar, bahkan terkadang Ray merasa gadis itu mengerikan di tempat tidur. Lima menit yang lalu, Lenvy masih mengulum penisnya dengan ganas di dalam mobil, dengan sentuhan luar biasa yang nyaris saja membuatnya ejakulasi di dalam mulut si gadis. Sekarang pun Ray harus mempertahankan nafsunya yang bergolak hebat, saat Lenvy menciumi seluruh bagian tubuhnya sambil melucuti pakaian yang melekat di tubuh mereka berdua.

Tak berapa lama kemudian, hanya erangan Lenvy yang terdengar di dalam kamar.

Ray terbangun, mendapati suasana kamar yang remang-remang. Pemuda itu mengeluh dalam hati, saat merasakan sekujur tubuhnya yang penat. Matanya lalu memandang ke sekeliling kamar. Tak ada sosok Lenvy dimanapun. Bangkit dari tempat tidur, Ray menyambar celana panjangnya di lantai. Sedikit terkejut juga ia melihat arloji di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Belum pernah ia berada di rumah Lenvy sampai selama itu.

Ray memandang kemeja yang tersampir di meja dekat pintu. Pemuda itu tersenyum geli. Lenvy nyaris saja membuat kemeja Kenzo kesayangannya sobek tadi. Gadis yang luar biasa, pikir Ray lalu melangkah mendekati pintu. Baru saja hendak meraih kemejanya, mendadak pemuda itu menangkap suara-suara ganjil dari luar kamar. Ray mendekatkan telinganya pada daun pintu. Alisnya berkerenyit.

“Kamu!! Jangan!!”

PRANG!!

Nyaris saja Ray melompat saking terkejutnya. Apa yang tengah terjadi? pikir pemuda itu dalam hatinya. Sedikit curiga, Ray memutar gagang pintu. Pintu membuka sedikit, tapi Ray hanya bisa melihat ruang tamu.

“Beb. Jangan, Beb. Aku mohon. Jangan,” terdengar suara seorang gadis. Ray yakin seratus persen kalau itu adalah suara Lenvy.

“Apanya yang jangan-jangan?” Kali ini suara seorang pria, berat dan kasar. Tanpa sadar Ray mengulurkan tangannya ke samping, meraba permukaan meja, sedikit kecewa saat hanya menemukan sebuah vas bunga.

“Aku cinta kamu, Beb. Hanya kamu. Sumpah! Sumpah!”

Ray menunggu, melacak lagi dengan matanya sosok-sosok yang mungkin terlihat dari tempat di mana ia berada.

“Cinta! Cinta! Lalu siapa yang sama-sama dengan kamu siang tadi? Setan?”

Ray terperangah. Rupanya Lenvy dan orang itu tengah membicarakan dirinya. Dan Ray tak bisa memperkirakan kalau pria itu tahu bahwa ia masih ada di dalam rumah Lenvy. Bagus, pikir Ray dalam hati, sekarang ia dalam kesulitan. Ray menoleh dan menatap jendela kamar. Ia menggerutu dalam hati, seandainya saja ia masih remaja, jendela dan pagar setinggi apapun bukan halangan baginya. Sekarang? Saat rokok dan seks sudah meracuninya terlalu banyak?

Tapi, Ray, bisik hatinya lagi. Kamu akan lari dari masalah?

“Aku cek kamarmu!” Ray mendengar pria itu berkata-kata lagi. Ray menggenggam vas bunga erat-erat di tangannya dan merapatkan pintu kamar.

“Beb! Kamu kok ngga percaya sih? Beb!! Beb!!”

Lalu sebuah pemikiran lain melintas di benak Ray. Kalau ia melibatkan dirinya dalam masalah ini, lalu masalah apa lagi yang akan menantinya? Siapa orang itu saja ia tak tahu. Lenvy juga bukan gadis yang layak untuk ia bela dengan mempertaruhkan nyawa. Berpikir demikian, Ray mengambil keputusan bulat. Ia harus cepat! Pemuda itu meletakkan vas bunga kembali ke atas meja, lalu dengan secepat kilat ia menyambar pakaian, dasi, dan sepatunya.

Ray merinding saat mendapati semak-semak di bawah jendela. Nyaris saja ia menjerit saat salah satu ranting tanaman menusuk telapak kakinya.

“Busyet,” desis pemuda itu, lalu terpaksa menundukkan tubuhnya saat terdengar pintu kamar membuka.

“Kan? Aku sudah bilang kalau tak ada siapa-siapa?” Ray mendengar suara Lenvy, tertangkap nada lega di sana. Ray merasa gusar dalam hati, coba saja ia tidak terbangun tadi.

“Tapi mereka semua bilang kalau mereka melihat ka..”

Kata-kata pria itu terhenti. Ray tak bergerak sedikitpun. Beberapa saat lamanya, tak terdengar suara apapun. Lalu lamat-lamat Ray mendengar suara retsleting ditarik. Pemuda itu tersenyum seketika.

Ray menunggu beberapa menit, sebelum akhirnya memastikan bahwa situasi cukup aman baginya untuk berlalu dari tempat itu. Masih sempat Ray mendengar suara desahan nafas dari dalam kamar, sebelum kakinya melangkah. Mereka pasti sudah terlalu sibuk untuk mendengarku, pikir Ray geli. Pemuda itu melangkah menuju teras. Kurang beberapa langkah, di sudut yang tak terkena lampu, Ray mengenakan kembali pakaiannya.

Ray tak terkejut mendapati Anik di depan pintu. Gadis itu menatapnya dengan mata membelalak. Ray mengedipkan matanya dan menghampiri pembantu rumah tangga yang tampak gugup itu.

“Tolong, bilang Nona kalau tas saya masih di mobilnya,” ucap Ray sambil tersenyum. Pembantu itu hanya mengangguk.

“Lalu, tolong bukakan pagar?”

Sebelum berlalu dari rumah Lenvy, Ray masih sempat melirik plat dua digit di bumper Jaguar yang diparkir di depan pagar. Melihat ke dalam mobil, Ray tak menemukan siapapun. Ray tersenyum getir. Dari pergaulannya yang luas, ia bisa menebak siapa kira-kira yang berada di dalam rumah Lenvy saat itu. Ray bersyukur ia tak melibatkan dirinya dalam masalah yang lebih besar daripada sekedar bercinta dengan WIL konglomerat metropolis.

“Edan,” gumam Ray, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana, dan mulai melangkahkan kakinya menelusuri trotoar yang belum kering. Entah ia harus merasa bangga, atau merasa bodoh, atau bahkan kecewa. Ray tak tahu. Yang ia tahu ia harus menyiapkan rencana untuk kelangsungan hubungannya dengan Lenvy. Bukan hanya seks, tapi juga urusan kantor.

#########################

Reni, girl with flower

 

Reni

 

Semalaman tidur nyenyak tanpa gangguan, dan hari yang menyenangkan di kantor. Tak heran raut Ray tampak cerah sore itu. Saat ia melangkah keluar dari lift, seorang pemuda menghampirinya, memberikannya keceriaan tambahan dengan mengatakan,

“Mas, mobilnya sudah selesai. Sudah saya ambilkan. Ini kuncinya.”

Ray menyeringai. Akhirnya, pikir pemuda itu dalam hati, setelah selama seminggu ia menggantungkan dirinya dengan pertolongan orang lain. Ray menepuk pundak office-boy itu dan berkata, “Yos, kamu adalah berkat hari ini.”

Usai berkata demikian, Ray meninggalkan Yossi, si office-boy, yang termangu-mangu. Jemari Ray memainkan gantungan kunci sambil kakinya melangkah.

Di basement, Ray melepaskan ikat rambut dan dasinya. Matanya segera menangkap sosok kesayangannya diparkir tak jauh dari pintu keluar. Wardoyo, Satpam empat puluhan tahun yang juga merupakan teman setia Ray saat lembur, berdiri di dekat mobilnya. Wardoyo mengangkat sedikit ujung topinya saat Ray tiba.

“Wah, Mas Ray. Akhirnya si kuda balik juga.”

Ray tertawa dan berkata, “Iya, Pak. Masa kesatria ngga punya kuda.”

Wardoyo tertawa. Ray memang sosok yang paling ramah yang pernah ia temui selama ia bekerja sebagai satpam di gedung itu. Saat semua orang hanya memandang kepadanya dengan ujung mata, pemuda itu muncul di basement pada hari pertamanya bekerja sambil membawa dua cangkir Nescafe panas. Saat semua sosok yang dilihat Wardoyo mengingatkannya pada orang-orang yang telah berandil merusakan negeri Indonesia tercinta, Ray malah mengingatkannya pada Cak Giyanto, gerilyawan pembela Kota Pahlawan, idolanya saat masih kanak-kanak. Gondrong dan penuh semangat hidup.

Ray berdiri di samping Wardoyo, menatap mobilnya dengan bangga. Ia masih ingat pada kejadian minggu lalu, saat sahabatnya Hendro meminjam mobilnya dengan alasan menjemput ibunya yang datang dari Lampung.

“Yakin, Ray. Aku pasti pelan-pelan.”

Semula Ray tak percaya, mengingat Hendro bukan tipikal orang yang bisa menghargai suatu barang. Tapi melihat wajah Hendro, pemuda yang sudah menipu ibunya dengan berkata bahwa ia sukses di Surabaya itu, Ray akhirnya tak tega dan melepaskan mobilnya dibawa Hendro dengan sejuta wanti-wanti.

Toh akhirnya ia terpaksa membayar mahal kepercayaannya, dengan meringis saat Hendro memberikan kwitansi perbaikan mobilnya. Ray tak perduli darimana Hendro dapat uang, Ray juga tak perduli bagaimana sahabatnya itu memberikan segudang alasan untuk mengatakan bahwa dirinya tak bersalah. Yang ia tahu, ia harus menjalani hidupnya tanpa mobil kesayangannya. Itu sudah cukup untuk membuat hidupnya tambah susah. Jadi bisa dibayangkan bagaimana girangnya perasaan Ray saat menatap mobilnya.

“Bisa kencan lagi nih, Mas Ray?” celetuk Wardoyo. Ray menoleh dan meleletkan lidah, “Kok bisa bilang begitu, Pak?”

Wardoyo menepuk bahu pemuda itu dan tertawa, “Mas Ray, kayak Bapak ngga tahu sampeyan saja.”

Ray terkekeh dan berpikir dalam hati, seandainya saja Wardoyo tahu bahwa ia tak selalu membutuhkan mobil untuk memperoleh teman kencan.

Tapi bicara tentang kencan, hari itu memang Ray ada acara. Dan itu salah satu penyebab juga mengapa ia sangat bersyukur mobilnya kembali. Mungkin Reni sudah menawarkan untuk menjemputnya malam itu, tapi Ray tentu saja lebih suka pergi sendiri.

Ray tiba di rumah Reni tepat pukul setengah delapan malam. Tersenyum pemuda itu saat melihat si gadis sudah menunggu di teras rumah. Ray melangkah turun dari mobilnya.

“Hai,” sapa Reni, gadis mungil berambut sebahu itu dari balik terali pagar.

Ray mengangguk, menolehkan kepalanya ke arah kanan. Ia tahu, lima rumah dari tempatnya berdiri saat itu, sahabat karibnya Jay pasti sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan kantornya.

“Kenapa? Takut dilihat temanmu?” tanya Reni, membuat Ray merasa kikuk.

“Ah, ngga kok,” sahut pemuda itu, menggaruk-garuk kepala, “aku cuman pingin mampir sebentar nanti sebelum pulang.”

“Pulang? Apa yang ngebikin kamu berpikir kalau aku bakal ngasi kamu pulang?”

Ray tertawa. Saat itu Reni sudah membuka gerbang pagar. Satu genggaman erat di pergelangan tangan, Reni menyeret Ray masuk ke pekarangan.

“Jadi, ada yang ingin kamu katakan?” tanya Reni, berhenti melangkah dan memutar tubuhnya menghadap Ray. Saat itu jarak mereka hanya satu meter. Ray bisa menghirup aroma melati yang keluar dari tubuh si gadis.

“Apa ya?” Ray terlihat berpikir sejenak, lalu sambil menjentikkan jari ia berkata, “Oh iya, mobilku sudah kembali. Itu

berita yang menyenangkan.”

Reni meruncingkan bibirnya, “Bukan itu.”

“Lalu?” gumam Ray, sementara matanya menatap langit.

“Sayang, memang jawabannya ada di atas?” ucap Reni, menirukan gaya iklan shampoo. Ray menyeringai. Satu gerakan, pemuda itu meraih dagu gadis di depannya dan melayangkan sebuah kecupan lembut.

“Selamat ulang tahun, maaf terlambat dua hari. Tapi aku kan sudah telepon,” bisik Ray di bibir si gadis.

Reni membuka matanya yang sempat terpejam dan tersenyum.

“Not as I expected. But it’s alright. It’s sweet.”

Gadis itu lalu melangkah mundur dengan menggigit bibir bawahnya. Matanya menemukan mata Ray. Pemuda itu menundukkan kepalanya dan menyeringai.

“Kukira kita akan pergi makan di luar?” gumam Ray.

Tak ada sahutan. Ray mengangkat kepalanya, tak lagi menemukan sosok Reni. Tertawa sendiri, pemuda itu melangkahkan kakinya menuju teras. Ia bukannya tak tahu apa yang diinginkan Reni darinya saat itu. Bahkan ia sudah menduganya sejak melihat Reni hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek selutut.

Bercinta, seperti yang diinginkan gadis-gadis lain darinya.

Seperti pula kata Jay suatu saat padanya, “Kukira gadis-gadis itu cuman rindu sama penismu. Tak lebih dari itu.” Dan meskipun Ray yakin bahwa dirinya punya lebih dari sekedar permainan seks yang memuaskan, tetap saja kata-kata Jay terngiang di telinganya setiap saat seorang gadis mengajaknya bercinta.

Ray mendapati Reni bersandar di dinding samping pintu ruang tamu. Satu dekapan dan lumatan di bibirnya, Reni lalu berbisik, “Jangan di sini. Nanti dilihat si Mbok.”

Gadis itu lalu merangkul lengan Ray dan mengajaknya lebih masuk ke dalam rumah. Tak ada orang sama sekali hari itu selain si Mbok yang entah di mana. Semua sedang berlibur ke Bali. Hanya Reni yang tertinggal, menghadapi ujian akhir semester, dan tentu saja.. menunggu kedatangan Ray.

Bagi Ray, Reni termasuk salah seorang gadis yang paling menyenangkan. Dibandingkan dengan yang lain, Reni memiliki jiwa lebih besar. Gadis itu bisa menerima keadaan seburuk apapun yang terjadi dalam hubungan antara dirinya dengan Ray. Seperti yang terjadi malam itu, saat handphone Ray mendadak berbunyi.

“Ugh, siapa sih,” gumam Ray, mengulurkan tangannya meraih handphone di lantai. Gerakan pinggul pemuda itu terhenti, dan Reni, yang masih tertindih berat tubuh Ray membuka matanya.

“Halo? Ah, wazzup, Yen? Kapan? Oh, okay. Lalu?”

Reni terlihat menunggu dengan sabar, matanya menatap mata Ray yang saat itu memandang lurus ke depan.

“Hmm. Lalu? Eh, sebentar,” Ray menundukkan kepalanya, tersenyum menatap seringai di wajah Reni. Pemuda itu lalu mengecup bibir gadis di bawahnya dan berbisik lirih setelah menjauhkan handphone, “Kamu bandel.”

“Ssshh,” Reni berbisik, “terusin dulu teleponnya, aku pijatin dari sini.”

Ray terkekeh pelan, lalu mengangkat kepalanya kembali. Reni masih tetap terlihat tak bergerak. Hanya senyuman nakalnya yang tersungging di wajah.

“Halo? Oh, sori. Ada teman. Iya, cewek. Nah? Hahaha. Lanjutin ceritanya.”

Ray melanjutkan perbincangannya, sementara mata Reni tampak perlahan memejam. Bibir bawah gadis itu tergigit beberapa saat kemudian, dan dua lengannya terangkat memeluk pinggang Ray. Lima detik sebelum tubuh gadis itu menegang, erangan tertahan keluar dari bibirnya.

“Oh. Bisa. Bisa. Udah dulu, ya? Oke, minggu depan? Iya. Sip. See ya!”

Ray mematikan handphonenya. Pemuda itu menatap wajah Reni, tersenyum saat menyaksikan butir-butir kecil keringat di kening si gadis.

“Gadis bandel,” bisik Ray, “kamu ngga nyisain buat aku.”

Reni membuka matanya, balas tersenyum tipis.

“Siapa suruh telepon?”

“Terus. Sudah licin begini?” Ray berkata sambil menyeringai. Reni tertawa, menarik kepala Ray ke dadanya. Ray menggerak-gerakkan pinggulnya perlahan.

“Ray..”

“Ya?”

“Ngga usah keluar kalau ngga mood.”

“Hmm? Kenapa bilang begitu?”

“I know you, lah. It doesn’t matter, kan?”

Ray tertawa, mengangkat tubuhnya dan berguling ke samping tubuh Reni. “Yah, it doen’t matter at all,” bisik pemuda itu,

lalu memejamkan matanya. Reni beringsut, meletakkan kepalanya di atas dada Ray.

“It’s my birthday..,” Reni berbisik. Ray menggumam mengiyakan.

“Kamu ada di sini..,” Reni berbisik lagi. Ray tak menyahut, hanya memainkan jemarinya di punggung si gadis.

“Dan kamu ngga ejakulasi..”

Sampai di situ Ray membuka mulutnya dan terkekeh.

“Hahaha. Katanya you know me? Mestinya aku yang merasa bersalah, soalnya kamu klimaks waktu aku sedang teleponan.”

“Aku sengaja kok.”

“Wah? Hahaha. Emang bisa disengaja?”

“Bisa, lah. Tapi kamu ngga masalah, kan?”

“Jujur aja, enaknya jadi kurang. Trus..”

“Trus kamu jadi ngga mood. Trus akhirnya kamu malah jadi gila gara-gara kepaksa dan ngga pingin membuat aku ngerasa bersalah. Trus akhirnya kamu bikin aku sakit. Trus kamu bakalan minta maaf. Gitu kan?”

Ray terkekeh sekali lagi, tapi tak menjawab tuduhan si gadis padanya. Mereka berdua terdiam beberapa saat lamanya. Reni meraba penis Ray, dan tersenyum tipis saat menyadari penis itu sudah melemas.

“Bisa ya, orang kok ngga punya rasa?” tanya Reni, memecah keheningan.

“Siapa?” sahut Ray, “Aku? Aku punya kok.”

“Bertaruh, kamu ngga pernah make waktu sedang make love.”

Ray terdiam beberapa saat dan berkata, “Mungkin. Terkadang ngga juga.”

“Kamu menikmati ngga sih?”

“Tentu saja.”

“Apa yang kamu rasakan? Apa yang kamu nikmati?” tanya Reni sekali lagi, mengangkat tubuhnya dan berbaring miring sambil menatap wajah Ray. Mata pemuda itu masih terpejam, tapi bibirnya tersenyum.

“Aku? Aku merasa enak. Itu saja. Apa yang aku nikmati? Aku menikmati raut wajahmu. Erangan kamu. Desahan kamu. Respons kamu. Itu menyenangkan.”

“Hanya itu?” Reni tersenyum, “Kalau kamu ejakulasi? Apa artinya?”

“Artinya?” Ray berkata, membuka matanya dan mengangkat lengan, lalu menggunakan telunjuknya untuk menyentuh pelipis,

“Artinya itu adalah sensorik. Bukan motorik. Manusia kan punya saraf yang tak bisa dikontrol oleh otak.”

“Jadi kalau ngga salah, kamu sebetulnya ngga mau ejakulasi?”

Ray tertawa sebelum menjawab, “Bagaimana kalau dikatakan, aku tak pernah mempermasalahkannya? Kurasa itu lebih baik.”

“Apa itu? Gengsi? Atau memang kamu..”

“Katakanlah aku lebih bisa mengontrol diriku sendiri,” sela Ray, matanya melirik mata gadis di sampingnya. Senyuman masih tersungging di bibir pemuda itu. Reni menghela nafasnya dan kembali meletakkan kepalanya di dada Ray.

“Perbincangan yang ngga mutu. Toh semuanya akan kembali pada pertanyaan, siapakah aku buat kamu,” bisik Reni lirih. Ray tak menanggapi pernyataan itu.

“Ray..”

“Apa?”

“Boleh aku minta hadiah ulang tahunku?”

“Hmm..oke. Apa itu?”

“Sesuatu yang ngga pernah kamu berikan sama gadis lain. Kalaupun pernah, aku ingin jadi yang kedua setelah gadis itu.”

“Ren..”

“Ngga. Bukan hubungan yang terikat. Aku tahu kamu ngga suka. Aku juga ngga yakin aku bakal jadi nomor dua.”

“Aku sudah bisa menduganya.”

“Oh ya? Apa sih?”

“Celana dalamku?”

Reni terkekeh, menggigit dada Ray manja. “Bukan itu, bego.”

Ray ikut tertawa, “Hahaha. Lalu apa?”

“Perasaan kamu. Semalam saja.”

“Hmm,” Ray menggumam, “itu susah.”

“Bahkan untuk hadiah ulang tahunku? Walaupun hanya semalam?”

“Yap.”

Reni terdiam beberapa saat lamanya, sebelum gadis itu menekan tubuhnya lebih merapat ke tubuh Ray.

“Kalau begitu, peluk aku sampai jam dua belas. Jangan lepaskan aku?”

Ray tersenyum dan berbisik, “Tentu.”

Lima belas menit lamanya, sebelum Reni berbisik.

“Ray, bersyukurlah aku bukan cewek yang keras kepala.”

Ray menganggukkan kepalanya.

“Kamu telepon aku besok?” tanya Reni dari balik pagar.

Ray menganggukkan kepalanya, “Iya. Tapi kalau ngga sibuk, ya?”

“Aku tebak, pasti besok malam kamu ada kerjaan sama cewek lain.”

Ray terkekeh dan mengangkat bahu, “Ngga tahu.”

“Iya. Apa urusanku juga,” senyum Reni, “sudah, pulang sana.”

“Ren..,” Ray memanggil sebelum masuk ke dalam mobil.

“Apa, Ray?” Reni mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk.

“Kamu tunggu setengah jam?”

“Buat apa?”

“Lihat saja nanti,” senyum Ray, mengedipkan mata nakal, lalu masuk ke dalam mobil, meninggalkan Reni termangu.

Dua puluh menit kemudian mobil yang dinaiki Ray berhenti di depan rumah Reni. Ray tersenyum saat mendapati gadis itu masih menunggunya di teras. Reni menghampiri Ray dengan senyum di bibir, tapi Ray masih bisa melihat kantung mata milik si gadis yang membesar.

“Reni,” ucap Ray, menatap mata gadis itu dari balik terali pagar. Beberapa lamanya mereka saling berpandangan, sampai akhirnya Ray menyeringai. Pemuda itu merogoh sesuatu dari balik bajunya dan mengeluarkan sekuntum bunga mawar berwarna merah darah yang masih segar. Bibir Reni sedikit terbuka saat Ray menyodorkan bunga itu melewati terali.

“Ini,” ucap Ray sambil tersenyum,” sesuatu yang hanya pernah kuberikan pada satu orang gadis sepuluh tahun yang lalu. Sejak itu, tak ada seorangpun yang layak menerimanya.”

Reni meraih bunga itu dengan jemari yang sedikit bergetar. Ray sekarang bisa melihat bulir-bulir air mata mengalir di pipi si gadis. Ah wanita, pikir Ray dalam hatinya, seberapa keras kepalanya kah kalian dalam urusan cinta? Seberapa luas hati kalian dalam menghadapinya?

“Aku ingin dipeluk..,” bisik Reni, memainkan tangkai bunga mawar di tangannya.

“Jangan,” bisik Ray, mengulurkan tangan dan meraba batang hidung Reni.

“Ray.. kenapa aku?”

Ray terkekeh dan berkata, “Katakanlah kamu satu dari sekian banyak gadis yang berulang tahun bersamaku, tapi satu-satunya yang berani meminta sesuatu sebagai hadiah ulang tahunnya.”

Usai berkata demikian Ray membalikkan tubuh dan masuk ke dalam mobil. Reni tak mengatakan apapun, tak juga menatap kepergian Ray.

Di dalam mobil, sepuluh menit kemudian, Ray mendengar handphone-nya berbunyi lagi. Tersenyum, pemuda itu menyapa, “Halo, Ren.”

“Ray brengsek! Kamu buat aku jatuh cinta! Ayo! Balas cintaku!!”

“Ren, tunggu sampai tahun depan.”

“Sialaann!! Awas kalau ketemu lagi!!”

Ray tertawa tebahak-bahak.

Reni juga terdengar tertawa dari seberang.

Tertawa bahagia, kah, Reni? Atau tertawa sedih? Atau bahkan dua-duanya?

#########################

Ella, girl with brain

 

Ella

 

Kamis kelabu, setidaknya itu yang ada di benak Ray siang itu. Langit masih mendung di atas kepalanya. Semua pekerjaan sudah selesai, bahkan sebelum waktu yang diharapkan Ray untuk menyelesaikan segalanya. Pak David tadi sudah menyuruhnya pulang dan istirahat, tapi Ray mana mau duduk diam di rumah tanpa melakukan apapun. Bagi Ray, duduk diam dan menunggu sebuah peristiwa terjadi dalam hidup adalah sebuah kesia-siaan, sementara dengan mencari seseorang akan mendapatkan lebih banyak. Itu berarti hari ini ia harus memburu salah seorang dari sekian banyak teman wanitanya, sebab hari itu ia tak ada janji.

Dari jauh Ray bisa melihat Rusdi, lagi-lagi, berkoar pada Ruri, pegawai customer service yang baru itu. Ray mencibir dan menebak-nebak, apa yang sedang dibualkan Rusdi pada gadis malang itu. Mungkin masalah penisnya yang sebesar meriam? Atau kekasihnya yang berjumlah ribuan?

“Hei, Ray, kenapa tertawa?” seseorang menyapanya, membuat pemuda itu sedikit terkejut. Ray menoleh dan melihat Ella sudah berdiri di sampingnya. Gadis itu tampak manis dengan kaus krem berkerah rendah dan jas hitamnya.

“Itu, si Rusdi. Aku heran kok ada saja yang betah diajak ngobrol sama dia.”

Ella menoleh ke arah Rusdi, lalu menutup mulutnya dan tertawa.

“Iya. Tapi biarlah. Si Rusdi kan butuh pelampiasan juga.”

Ray terkekeh, “Paling-paling efeknya sebulan. Namanya juga omong besar.”

“Jangan begitu, Ray. Si Rusdi ada benarnya juga kadang-kadang.”

“Kadang-kadang, kan?”

Ella tertawa lagi, sebelum meletakkan sebuah map berwarna merah di meja Ray.

“Ini, kamu coba nilai konsepnya Joko.”

“Wah, kenapa aku? Pasti deh ulah Pak David.”

“Siapa suruh kamu bengong duluan.”

Ray tersenyum, “Iya. Ngga ada kerjaan juga. Okelah. Untuk kapan?”

“Mestinya sih sudah kelar. Tapi biasalah, Pak David, pasti tanya kamu dulu.”

“Heran, memangnya aku dukun?”

“Dia kan cinta mati sama kamu.”

“Siapa? Pak David? Amit-amit. Mending sama kamu.”

Ella melirik dengan senyum dikulum. Sesaat kemudian gadis itu menepuk pundak Ray dan berkata, “Jangan begitu. Kamu kan bukan Rusdi.”

“Eh, maksudnya apa?”

“Ya, kamu kan ngga pernah omong kosong.”

“Hahaha,” Ray tertawa, “masa kamu jadi ge-er gitu?”

“Ngga. Siapa juga yang mau sama kamu, Ray?” cibir Ella.

“Lalu maksudnya aku bukan Rusdi tadi?”

“Ya, kalau-kalau saja kamu ngomong sama gadis lain selain aku.”

“Kenapa dengan kamu?”

“Ayolah, Ray. Sejak pertama kali kamu bekerja di sini, aku sudah tahu kalau kamu punya tato di atas kepala, yang tulisannya: MAUT,” Ella berkata sembari telunjuk kanannya menulis di udara.

Ray terkekeh, “Hahaha. Jadi itu yang buat kamu yakin kalau kamu ngga bakalan ge-er sama kata-kataku?”

“Yap. Benar sekali.”

“Tapi mau make love?”

“Hih. Sopan sedikit, Ray. Sudah, ah,” Ella membalikkan tubuh dan berlalu dengan alis berkerut. Ray tersenyum, memandangi punggung si gadis beberapa saat lamanya. Setelah itu Ray mengangkat bahunya.

“Huh, aku juga ngga mau dengan kamu,” gumamnya lalu mulai memeriksa arsip di dalam map merah. Sesaat kemudian pemuda itu sudah sibuk dengan imajinasinya. Lagipula itu pekerjaannya. Berimajinasi.

Ella adalah seorang gadis berjiwa konservatif, setidaknya itu yang didengar Ray saat pertama kali menginjakkan kaki di kantor barunya. Sebetulnya Ray merasa sayang, sebab tanpa kacamata minus empatnya, Ella sebenarnya cukup manis. Kulit gadis itu cokelat muda, tidak terlalu terang, dan tidak terlalu gelap. Wajahnya bulat dengan hidung arabic yang mancung. Kalau orang bisa melihat lebih cermat, maka mereka pasti bisa menemukan lingkaran hitam halus yang mengelilingi mata Ella. Bibir gadis itu tipis, dan dua gigi kampaknya yang tampak saat ia berbicara menjadi daya tarik tersendiri. Hanya saja, sifatnya yang serba tertutup dan cenderung sinical membuat banyak orang kehilangan hasrat untuk mengenalnya lebih jauh. Bagi orang-orang di kantor, Ella cuma seorang sekretaris penerus kata-kata Pak David, itu juga diterima karena ketegasannya menyampaikan mandat Boss.

Siapa sih yang tidak memikirkan sosok sekretaris sebagai sosok yang cantik, supel, dan pandai bercinta? Melihat Ella, mungkin orang-orang yang berpikiran demikian terpaksa merevisi pendapatnya. Bahkan Rusdi, yang dikira Ray sebangsa omnivora wanita, pernah berkata, “Ella? Gampangan ngedapetin Nana.”

Itu memang katanya Rusdi, sebelum ia dan Ray mendapat tugas ke Jakarta untuk mengawasi salah satu syuting iklan yang ‘kebetulan’ dibintangi sang artis. Buktinya, Rusdi hanya cengengesan, sementara Ray langsung berhasil mengajak si artis jalan-jalan seharian. Yang pasti, semua orang bakal berkata, “Ella? Wah, ngga napsu!”

Tak terkecuali juga Ray.

Sore menjelang saat Ray melangkah menuju ruangan Pak David sambil menenteng map merah di tangan. Pemuda itu mendapati ruangan itu sudah kosong. Tak berapa lama setelah Ray masuk, Ella muncul di depan pintu.

“Pak David sudah pulang, Ray.”

“Wah, kok aku ngga tahu ya?” gumam Ray, lalu mendekati Ella dan menyerahkan map merah di tangannya, “Ini, aku ngga tahu apa salahnya. Mungkin cuma perlu penambahan sample buat mahasiswa. Lagipula itu kan ngga ada hubungannya denganku. Dasar Pak David saja yang kelewat baik liat aku nganggur.”

Ella tersenyum dan menerima map yang disodorkan Ray.

“Oke, aku saja yang masukkan ke lemari arsip.”

“Thanks,” sahut Ray pendek, lalu melangkah keluar. Baru selangkah di luar pintu, pemuda itu membalikkan tubuh.

“La, kamu nganggur malam ini? Semoga tidak. Soalnya aku nganggur. Dan kayaknya aku butuh teman buat ngobrol sambil makan malam. Bagaimana?”

Ella menoleh dan membetulkan letak kacamatanya.

“Huh? Malam ini. Iya.. eh, aku ada acara. Sori, Ray.”

Ray tersenyum, “Bohong. Tapi ya sudahlah. Omong-omong, kamu pakai bra warna putih ya? Bagus tuh. Sayang terlalu berenda, kamu jadi nampak tua.”

“Ha? Kurang ajar benar,” maki Ella, tanpa sadar merapikan kaus dalamnya yang memang sedikit turun. Ray terkekeh dan melambai sambil melangkah pergi.

Suasana kantor benar-benar sudah sepi saat Ray selesai merapikan mejanya, bahkan Yossi tak tampak batang hidungnya. Pemuda itu baru saja hendak menekan tombol elevator, saat elevator itu membuka dan sosok seorang pria melangkah keluar dengan terburu-buru. Ray menoleh dan melihat pria berjaket kulit hitam itu berjalan cepat dan menghilang di balik lorong menuju ruangan Pak David. Ray melirik sekilas ke arah jam di dinding lorong. Pukul enam kurang seperempat. Ray mengeluh, mungkin ia harus benar-benar berburu lagi malam ini. Atau sebaiknya ia pulang dan menikmati sehari berlibur dari wanita? Bingung sendiri, Ray masuk ke dalam elevator, tepat sebelum elevator itu menutup.

“AA!!”

Ting-tong.

“Hey! Hey!!” Ray menahan pintu elevator sekuat tenaga. Gagal, pemuda itu lalu mulai memencet tombol pembuka di panel samping pintu elevator. Begitu pintu itu membuka, Ray langsung berlari menuju ruangan Pak David.

Pria itu menubruknya. Ray mengaduh dan sempat terhuyung.

“Minggir!” Ray mendengar suara yang serak dan berat. Saat pemuda itu kembali pada keseimbangannya, pria berjaket kulit hitam sudah berlari menuju elevator.

“Monyet!” umpat Ray, lalu ia tersadar sesuatu. Cepat Ray berlari menuju ruang Pak David. Di sana ia mendapati sosok Ella. terduduk di atas kertas yang berceceran. Sanggul kecil di kepala gadis itu tertarik lepas, membuat rambut-rambut panjang kusut menutupi wajahnya.

“La? La? Hey!” Ray menekuk lututnya di samping Ella. Sedikit terkejut pemuda itu melihat darah segar di sudut bibir si gadis.

“Uhh,” Ella terdengar menggumam. Sesaat kemudian, seperti tersengat arus listrik, lengan gadis itu mendorong tubuh Ray sampai terduduk.

“Ray? Jangan!”

Ray hanya bengong melihat Ella meraba-raba lantai, mencari kacamatanya. Ray melirik dengan matanya, dan melihat kacamata yang pecah itu di bawah meja kerja Pak David.

“Di sana, di bawah meja,” ucap pemuda itu. Ella hanya mengerang, lalu mengulurkan tangannya. Si gadis tampak sedih saat memegangi benda yang lebih mirip ayam penyet daripada kacamata itu.

Sesaat kemudian gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Ray sambil memicingkan mata. Sekejap Ray merasa risih, karena raut gadis yang ada di depannya sama sekali tak menunjukkan bahwa ia adalah Ella, si sekretaris kolot. Ray jadi teringat serial Betty la Fea, novelatina idola ibu-ibu rumah tangga itu.

“Sori, aku membuat kamu jatuh,” ucap Ella. Ray mengangkat bahunya.

“Heran. Aku lihat kamu habis dipukulin sama monyet hitam tadi. Kok kamu malah bisa-bisanya sana seperti itu?”

“Iya, orang tadi adalah mantan suamiku.”

“Ha? Aku ngga pernah tahu kamu pernah punya suami?”

“Iya. Sedikit sekali yang tahu. Bagian dari masa muda.”

“Mau cerita?”

“Kamu ngga pulang?”

“Toh aku nganggur.”

“Percuma juga. Ngga ada yang perlu kamu ketahui.”

“Hey? Aku sudah melihat apa yang terjadi. Setidaknya aku terlibat sampai sejauh kamu mendorong aku jatuh. Masa aku ngga boleh tahu?”

“Kamu..”

“Iya. Aku memang rewel sejak lahir. Usil juga sejak lahir. Omong-omong, ini sapu tanganku. Lap dulu bibir kamu,” Ray berkata, lalu melempar dasi yang semenit lalu sudah dirogohnya dari saku celana.

“Ray, ini dasi.”

“Wah?”

Ella tersenyum.

Ray terpesona.

“Oh, jadi umur enam belas tahun?” tanya Ray, sementara tangannya menarik keluar cangkir dari cofee-maker. Ella mengangguk. Saat itu ia sudah kembali menjadi Ella yang membosankan, lengkap dengan sanggul kecilnya, meskipun kacamata sudah tak menghiasi wajahnya lagi.

“Bodoh, kan? Dan hanya tiga tahun. Sebelum Eko pergi dengan gadis lain, karena aku mandul,” ucap Ella, matanya menemukan mata Ray, menanti respon si pemuda. Ray tak menunjukkan sikap terlalu terkejut, tidak pula memandang dengan pandangan mencemooh atau sok simpati. Untuk Ray, masalah mandul atau tidak bukan menjadi suatu masalah yang patut diperbincangkan. Pemuda itu selalu berpendapat bahwa manusia tak ada yang sempurna, dan untuk itu semua orang harus bersyukur pada bagaimana ia diciptakan. Tak perlu dicaci, tak perlu juga dikasihani.

“Wah, sorry ’bout that,” ucap Ray datar,” Lalu kenapa dia ada di sini?”

“Itulah, Ray,” ucap Ella, nadanya berubah menjadi lebih rendah, “Suatu saat ia datang dan merasa bahwa dirinya ngga bisa hidup tanpa aku. Ia meninggalkan wanitanya yang baru, dan memintaku kembali padanya.”

“Oh. Kapan itu?”

“Sekitar enam bulan yang lalu.”

“Hmm,” Ray menggumam, menghirup kopi dari cangkir di tangannya.

“Lalu? Kamu ngga mau, pasti?” tanya Ray kemudian.

Ella menganggukkan kepalanya.

“Aku sudah delapan tahun berpisah dengannya. Aku ngga ngerti kenapa ia bisa kembali setelah sekian lama.”

“Coba kutebak,” sahut Ray, “ia pasti pengangguran sukses, dan melihat kamu berkarir, ia mulai merasa menyesal mengapa ia menyia-nyiakan kamu.”

“Mungkin.”

“Memang kamu dulu begitu cinta padanya?”

“Aku baru enam belas tahun.”

Ray tersenyum, melepaskan pengikat rambutnya dan berkata, “Menakjubkan kalau kamu bisa survive di umur sembilan belas, saat banyak orang lebih cenderung impulsif dengan bunuh diri karena cinta.”

“Kan ngga semua orang, Ray. Apalagi aku sudah pasrah waktu aku tahu kalau aku ngga bisa kasih keturunan padanya.”

“Iya, aku bisa ngerti. Tapi pria memang begitu, La. Begitu ia tahu ada seorang wanita yang begitu mencintainya, meskipun itu sudah berlangsung bertahun-tahun yang lalu, meskipun ia sudah membuat hati wanita itu hancur lebur, tetap saja ia yakin ia bisa membuat wanita itu kembali padanya.”

Ella tersenyum. Ray tahu bahwa itulah senyuman getir seorang wanita.

“Lalu acara pukul-pukulan itu?” Ray bertanya, menangkap perubahan pada raut wajah Ella. Gadis itu tampak sedikit gugup.

“Itu.. ah, dia memang suka memukul.”

“Aku kok ngga percaya?”

Ella memalingkan wajahnya menatap jam di dinding ruangan.

“Ray, sudah jam tujuh. Kita pulang, yuk? Ada Yossi di depan?”

Ray tertawa, “Yossi sudah kukasih uang sepuluh ribu buat jajan di soto depan. Hehehe, bercanda kok. Memang ada apa sampai kamu ngga bisa cerita?”

“Kenapa kamu mesti tahu? Aku saja sudah heran kenapa aku bisa berbincang dengan kamu segini lamanya tentang masalahku.”

Ray menatap wajah Ella, memaksa gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain.

“La,” Ray berkata, “semua orang butuh seseorang untuk bercerita. Okelah, kalau kamu memang tak ingin orang itu aku.

Tapi, apa kamu sudah punya orang lain? Kalau sudah punya, baguslah. Kalau belum? Aku bukan orang yang susah diajak berbincang, kan? Aku juga bukan ember yang kalau diketok suaranya sampai ke negeri seberang.”

“Aku..,” Ella menggumam.

Ray tak mengalihkan pandangannya dari Ella. Gadis itu memalingkan wajahnya dan menatap Ray.

“Aku tak percaya sama kamu, Ray.”

“Ngga? Hey, terserah kamu.”

Mereka berdua saling tatap, sebelum akhirnya Ella menghembuskan nafas.

“Hhh. Oke. Aku kasih tahu.”

Ray diam menunggu.

“Aku adalah simpanannya David. Eko tahu itu. Dia memerasku.”

“Whups!!” Ray berseru, nyaris saja kopinya tumpah ke meja.

“Wawawawawa!! Tunggu dulu,” Ray berseru, meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dan merogoh Marlboro-nya.

“Aku sudah bilang, kamu ngga perlu tahu.”

“Sori. Aku cuman terkejut,” ucap Ray, menyalakan rokoknya.

“Kenapa? Karena aku Ella? Kesannya nggak mungkin, kan?”

Ray merasa sedikit malu, tapi pemuda itu lebih memilih jujur dengan menganggukkan kepalanya. Ella terdengar tertawa sinis.

“Iya. Aku ngga mau merusakkan citra David. Aku ngga mau siapapun tahu.”

“Aku?”

“Kamu.. aku juga ngga tahu kenapa bisa cerita ke kamu.”

Ray tersenyum, Ella bukan orang pertama yang mengatakan demikian padanya.

“Ya anggap sajalah aku seorang saudara yang baik.”

Ella tersenyum, “Iya lah. Lagipula aku memang butuh orang untuk berbincang. Seperti kata kamu tadi.”

“Lalu, kamu jatuh cinta pada David? Sori, Pak David?” tanya Ray mengembalikan topik pembicaraan. Ella menggelengkan kepala.

“Wah? Lalu kenapa pakai jaga citra segala?”

“Ray. Aku juga butuh uang untuk hidup. Aku jaga itu.”

Ray terdiam sesaat. Kata-kata Ella memang pendek dan tak lengkap, tapi Ray bisa menangkap sejuta kata yang menyembur keluar dan terangkai menjadi sebuah cerita yang cukup mengundang simpati.

“Iya. Kamu salah seorang survival yang pakai otak.”

Ella mengangguk, “Keadaan memaksaku demikian.”

“Sayang kamu ngga pakai otak musuh mantan suamimu.”

“Hmm. Aku tak mempermasalahkan uangnya, tapi..”

“Susah kan? Aku bisa lihat dari wajahmu, kalau itu susah.”

“Aku sendiri ngga mengerti.”

“Saat kamu mencoba untuk menjadi satu sosok yang tough, saat kamu merasa tak seorangpun bisa mengalahkan kamu, ternyata ada saja yang bisa buat kamu down,” Ray berkata sambil tersenyum. Ella kembali menganggukkan kepalanya.

“Lalu apa yang akan kamu perbuat?” tanya Ray lagi, “Aku yakin kamu tak pernah punya niat untuk melapor ke polisi.”

“Aku ngga tahu,” jawab Ella, wajahnya terlihat sedih. Ray menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mendekati Ella.

“Mari,” kata pemuda itu, “aku akan menjadi orang berikutnya setelah mantan suamimu. Sini aku bilangin sesuatu. Ya, kamu orang yang bodoh. Kamu sama sekali tidak tough. Kamu lemah. Dan kamu adalah seorang pecundang.”

Ella tak menyahut, kepalanya menunduk.

“Ada lagi?”

“Ada,” ucap Ray, “kamu akan tetap menjadi pecundang apapun yang kamu lakukan.”

“Ada lagi?”

“Sudah. Kamu ngga tanya kenapa?”

“Kenapa?” tanya Ella, suaranya yang lirih lebih mirip sebuah bisikan.

Ray mendekatkan bibirnya ke telinga Ella.

“Karena kamu hanya punya otak seorang wanita.”

Diam. Tak ada satupun kata yang terucap. Beberapa lama, sampai Ray melihat tetes-tetes air membasahi rok yang dikenakan Ella. Pemuda itu tersenyum, sedikit kagum menyadari bahwa tak ada isak yang keluar dari bibir gadis itu, tak pula bahu yang berguncang. Hanya urat-urat yang semakin menonjol dari jemari yang mencengkeram tepian kursi.

“Aku.. ya.. aku seorang wanita..”

“Kamu tak tega pada mantan suamimu, kan? Meski apapun yang telah ia perbuat padamu lebih jahat dari seekor binatang?”

Ella mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetes-tetes air semakin banyak jatuh ke pangkuan gadis itu.

Ray melangkahkan kakinya sampai ke depan Ella. Pemuda itu menarik keluar rokok dari jepitan bibirnya dan membungkuk, sampai ia bisa melihat air mata itu jatuh dari wajah si gadis.

“Ella yang gagah. Ella yang tegas. Ella yang ditakuti banyak lelaki,” bisik pemuda itu, “Ella yang lemah. Ella yang kebingungan. Hanya satu hal yang kamu harus sadari untuk memecahkan segalanya.”

Ella tak menyahut.

“Kamu.. wanita.. asalnya dari laki-laki juga. Satu bagian kecil dari otak dungu kewanitaanmu, itu adalah pikiran lelaki yang tersisa saat Tuhan menciptakan wanita. Orang-orang seperti kamu, memang punya getir hidup untuk membangkitkan pemikiran di atas ambang rata-rata wanita. Tapi tetap saja, saat kamu membatasi dirimu dengan mengatakan bahwa semua lelaki adalah sama, itu tak ada bedanya dengan menutupi bagian kecil yang tersisa itu dengan ego wanitamu. Dengan rasa sakitmu. Dengan getir yang kamu kira adalah mahaguru dari segala pengertian tentang hidup. Bukannya tambah perkasa, kamu semakin lemah tak berdaya. Kewanitaanmu yang semakin besar, hari demi hari.”

Ray mengangkat tubuhnya.

“Aku dulu juga seperti kamu. Dan satu wanita membuatku lemah tak berdaya, saat aku merasa bahwa aku adalah pria yang kuat dan perkasa untuk setiap wanita. Sama seperti kamu beranggapan bahwa kamu bisa membodohi David untuk uangnya, ternyata kamu mandah terima dipukuli mantan suamimu. Lalu apa yang kuperbuat? Jika semula aku menantang, maka sekarang aku berlari. Bukan berlari lintang pukang. Tapi berlari, memutar ke belakang, dan menyerang tanpa diduga. Untuk itu aku berjuang. Setiap hari memahami wanita-wanita di sekelilingku. Mengetahui apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka benci, mengingat semua karasteristik unik yang ada di dalam diri mereka.

Lalu saat aku sudah mengerti. Saat itulah aku merasa benar-benar perkasa. Tak ada satupun wanita yang bisa membuatku sakit hati. Tak ada satupun.”

Ella mengangkat kepalanya, matanya yang basah menatap Ray.

“Kamu bisa bilang begitu. Kamu laki-laki!” desis Ella. Ray tertawa.

“Tak ada bedanya! Hanya jika kamu tahu apa yang harus kamu pahami untuk menang!”

Ray membungkukkan badannya lagi. Matanya menatap mata Ella dalam-dalam.

“Wanita, punya perasaan yang berbeda-beda. Kalau aku paham, aku bisa memainkannya. Pria punya ego yang berbeda-beda pula. Kalau kamu paham, kamu bisa memainkannya. Ngerti?”

Ella terdiam.

“Aku jadi kamu, kuancam suamimu dengan niat untuk mengadukannya pada polisi. Kalau dia mengancam untuk bercerita masalah David, biarkanlah. Katakan padanya, kalau kamu dipecat, dengan kapasitas otak kamu yang baru takkan susah mendapatkan pengganti David. Kuberitahu sebuah bocoran tentang ego mantan suamimu, dan kamu harus mencarinya sendiri pada setiap lelaki yang kamu temui kelak. Mantan suamimu merasa ia bisa menguasaimu, jadi lenyapkanlah perasaan berkuasanya atas kamu.”

“Kalau ia memukulku lagi?” Ella bertanya. Ray tersenyum girang saat mendapati nada suara gadis itu sudah kembali seperti biasa, walau masih agak sendu.

“Jangan jatuh. Tetaplah berdiri dan tatap matanya dalam-dalam. Buktikan bahwa kamu sungguh-sungguh.”

“Tapi aku..”

“Ngga tega? Itu yang kumaksud dengan melenyapkan. Lupakanlah semua tentang dia. Mungkin itu susah, tapi itulah resiko untuk menjadi orang yang kuat. Tak ada perasaan. Matikan otak wanitamu, dan kembangkan otak priamu. That’s all. Kalau kamu tidak bisa, yah, aku doakan selamat beruntung menjalani hidup. Oh, jangan lupa besok pakai bedak tebal ke kantor.”

Usai berkata demikian Ray mengangkat tubuhnya dan melangkah menuju meja dimana tas dan jaketnya berada.

“Ray,” panggil Ella sebelum Ray menekan tombol elevator. Ray menoleh dan melihat Ella tersenyum padanya.

“Thanks anyway.”

“Sure,” sahut Ray, masih sempat melihat kepala Ella yang kembali tertunduk sebelum pintu elevator menutup.

Ray melangkah menelusuri basement sambil menyeringai. Malam yang menyenangkan, sekaligus melelahkan. Ray merasa lebih memilih untuk tidur daripada berkeliaran tak tentu arah.

Mungkin ia tadi telah menanamkan sesuatu di benak Ella. Mungkin juga sesuatu itu adalah sesuatu yang salah. Mungkin berguna, mungkin tidak. Kalau Ella memahami semua doktrin-nya, gadis itu akan berubah menjadi sosok yang lebih menyenangkan. Juga menakutkan. Siapa yang bakal membantah, bahwa wanita yang paham tentang seluk beluk pemikiran lelaki adalah wanita yang paling berbahaya untuk didekati?

Ray tak sabar menunggu hal itu terjadi.

Dan saat itu, mungkin hanya Ray sendiri yang bisa mengatasinya. Seperti seorang guru silat, Ray memang tak pernah mewejangkan jurus pamungkasnya. Apa itu?

“Kok ngeliat kayak mau makan orang?”

“Cemburu kali?”

“Sialan,” Lenvy mendesis. Lalu senyumnya kembali mengembang.

“Ray,” kata gadis itu, “nanti malam..”

Ray menyela, “Aku capek. Pasti capek.”

“Kok begitu? Kamu marah tentang waktu itu?”

“Aku? Ngga kok. Aku cuma ingin istirahat.”

“Kamu pasti marah. Ya sudah, aku pulang saja.”

“Hey,” ucap Ray, “dua minggu lagi, bagaimana?”

“Dua minggu? Lama sekali?”

“Aku ke Bali minggu depan.”

“Bali? Ngapain?”

“Liburan. Seminggu. Jadi?”

Senyum Lenvy kembali mengembang.

“Oke, tapi aku boleh telepon kan?”

“Iya lah,” sahut Ray, balas tersenyum. Lenvy melirik ke kanan dan ke kiri, lalu sambil menggigit bibirnya, gadis itu melambai dan berbalik tanpa mengatakan apapun. Ray menyeringai. Lenvy pasti ingin bercinta dengannya saat itu juga. Tertawa sendiri, Ray menenggelamkan diri dalam kesibukannya. Ia harus menyelesaikan semua sisa pekerjaannya sebelum akhir minggu.

Siang yang panjang itu dihabiskan Ray untuk berbelanja di mall. Seperti biasa, Ray hanya sendirian saja. Pemuda itu benar-benar menikmati kebebasannya. Ia keluar masuk berbagai toko, mencoba-coba pakaian, parfum, bahkan topi pet. Gayanya yang cuek dan cengengesan benar-benar mengundang perhatian.

“Berdandan yang keren. Kamu butuh itu, selain mulutmu,” begitu kata Pak David sebelum ia pulang tadi. Ya, Ray memang membutuhkannya untuk minggu depan. Ada apa dengan minggu depan? Minggu depan Ray ke Bali. Itu saja? Tidak. Ray ke Bali dengan misi. Misi untuk merebut hati seorang gadis cantik. Gadis yang akan menjadi sumber dana bagi Pak David, dan tentu saja sebuah keuntungan tertentu bagi Ray. Hanya saja, Ray mengeluh panjang lebar saat Pak David memberinya sangu enam juta, yang hanya seperseratus nilainya dibandingkan dengan keuntungan yang akan mereka peroleh dari si gadis. Tapi enam juta sudah nilai yang lumayan untuk membeli perlengkapan. Lagipula itu membuktikan bahwa Pak David yang pelit sayang padanya, meskipun pemuda itu mengacaukan semua peraturan di kantornya.

Untuk Pak David, Ray tidak hanya punya ide-ide imajiner yang unik, namun juga kemampuan bernegosiasi dengan orang lain. Ray menyihir setiap orang yang berbincang dengannya, kata Pak David pada semua orang, dan pemuda itu membuat semua orang berjalan sesuai kehendaknya. Kalau ada yang menanyakan pada Ray tentang hal itu, Ray akan berkata, “Ah, aku tidak menyihir. Aku hanya memahami apa yang mereka butuhkan, mencoba menawarkan apa yang bisa kuberi, dan aku percaya orang akan melakukan segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan itu.”

Itulah Ray. Ia akan melakukan persis seperti apa yang pernah dilakukannya waktu masih kuliah, saat ia mengobrak-abrik dewan senat fakultas hanya karena Jay, sahabat karibnya, berkata, “Tolong, Ray. Aku mau jadi ketua senat.”

Walaupun saat itu Jay gagal karena kesalahannya sendiri, namun Ray tak urung berhasil membuat sepuluh gadis gila dalam sebulan, dan kekasih-kekasih mereka, para pengurus dan calon ketua senat itu, gila selamanya.

Hanya masalah wanita? Tentu saja. Bagi Ray, hanya tiga hal yang mengontrol dunia ini, yaitu: harta; tahta; dan wanita.

Cuma satu problem yang menantinya. Cuma satu beban yang ada di benaknya. Resiko dari para perayu yang menggunakan kemampuannya untuk memperoleh uang dan kekuasaan, bukan sekedar kenikmatan. Yaitu cinta.

Cinta??

#########################

Selamat pagi cinta..

 

Moogie

 

Makna dari cinta yang di pahami oleh Ray, hanya sebuah sebutan singkat untuk rasa memiliki, rasa sakit, dan keperihan. Beberapa orang puitis mengatakan cinta itu indah, namun merintih saat cinta itu mengkhianati egonya. Ya, hanya ego yang ada dalam cinta. Ray, seumur hidupnya mencoba untuk membentuk arti lain dari kata cinta. Membentuknya menjadi satu kata yang lain, yaitu kasih sayang. Banyak orang melupakan arti kasih sayang, dan malah berbalik mengubahnya menjadi kata ‘cinta’. Ray tak ingin demikian. Ray ingin menghayati kasih sayang seperti apa adanya. Sesuatu yang tak menuntut balas. Sesuatu yang murni. Seperti seorang ibu yang menyusui anaknya, begitulah pancaran kasih sayang yang seharusnya keluar di antara manusia. Sesuatu yang merelakan. Sesuatu yang memahami dan mengerti. Seperti senyum sang nenek kala usia mengalahkan kokohnya sang kakek..

Tapi gadis yang pagi-pagi buta itu membuka pintu rumahnya, ia adalah salah satu yang mengerti apa yang ada di dalam benak Ray. Itu yang membuat Ray menghabiskan dua hari dalam seminggunya, khusus untuk gadis itu.

Namanya Moogie.

Moogie tidak mencintai Ray. Ia juga tak berusaha membuat pemuda itu mencintainya. Orang bilang gadis itu bodoh. Orang bilang dia gila. Tapi bagi Moogie, hanya kasih sayang yang membuat Ray merasa nyaman, dan kasih sayang pula lah yang membuatnya pagi itu membungkuk di samping tempat tidur si pemuda, dan mengecup pipinya.

“Selamat pagi, cinta,” bisik Moogie lembut. Ray menggeliat, dan membuka matanya. Pemuda itu tersenyum dan balas berbisik, “Kamu Cinta. Namaku Rangga. Dan aku merindukanmu.”

Moogie tertawa, menangkap guyonan yang sekarang sedang menjadi trend di kalangan anak-anak muda itu.

“Ray, aku bikinkan sarapan? Atau kamu masih mau tidur?” bisik gadis itu lagi, sementara jemarinya menyisiri rambut kusut Ray.

“Sarapan saja. Seminggu sudah aku kelaparan,” sahut Ray, memejamkan matanya.

Tersenyum, Moogie bangkit berdiri. Gadis itu melepas jaketnya, dan menaruhnya di atas komputer yang masih menyala. Moogie memandangi huruf-huruf yang berjejer di layar monitor, sesaat kemudian gadis itu menggeleng-gelengkan kepala dan melangkah keluar kamar.

Ray tersenyum saat bau makanan dan suara teletik minyak memaksanya bangun. Pemuda itu beranjak dari tempat tidur, melangkah gontai menuju dapur. Di sana ia melihat Moogie sedang sibuk menggoreng sesuatu.

“Hmm,” Moogie menggumam, saat merasakan Ray memeluknya dari belakang. Pemuda itu mengecup daun telinga si gadis, membuat gadis itu tertawa beberapa saat kemudian.

“Kenapa? Geli? Mau diterusin?” bisik Ray.

“Terusin, maka kamu akan kehilangan nasi goreng kornetmu,” ucap Moogie tersenyum. Ray terkekeh, melepaskan pelukannya dan melangkahkan kaki menuju kulkas. Pemuda itu meraih kotak susu Anchor dan membiarkan cairan kental putih itu membasahi kerongkongannya.

“Bagaimana Jakarta?” tanya pemuda itu, setelah membuang kotak kosong ke dalam tong sampah.

“Baik-baik saja. Baru ada perayaan besar-besaran. Sayang kamu ngga ada di sana.”

“Shoot. Aku ngga suka keramaian.”

“Ralat, kamu ngga suka bergabung dengan komunitas yang kamu ngga kenal.”

“Hahaha,” Ray tertawa, dan menarik kursi. Sambil duduk, pemuda itu memandangi Moogie memindahkan nasi goreng dari penggorengan ke piring.

“Kenapa hanya satu?” tanya Ray begitu Moogie meletakkan piring di atas meja, berikut segelas air putih.

“Aku sudah makan tadi di jalan. Masih kenyang,” sahut Moogie, mendudukkan tubuhnya di kursi samping Ray. Ray mengangguk-anggukkan kepalanya, dan sudah hendak meraih sendok saat Moogie mendahuluinya.

“Sini, aku suapin. Aku lagi pingin manjain kamu,” ucap Moogie sambil tersenyum. Ray terkekeh, dan membiarkan gadis itu menyuapinya. Beberapa butir nasi jatuh dari mulut si pemuda. “Kamu tuh. Dasar bayi besar,” ucap Moogie, menjumputi satu demi satu butir nasi di pangkuan Ray.

“Yiyayin, yamaya yuya yapay,” gumam Ray tak jelas. Moogie tertawa, satu jitakan lembut melayang ke kening si pemuda. Ray menggerutu, sesaat kemudian membuka mulutnya lebar-lebar.

“Jadi, ceritakan tentang gadis-gadismu seminggu ini,” ucap Moogie, setelah menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulut Ray.

“Hmm,” Ray mengunyah, menelan dan mulai bercerita tentang Cynthia, Lenvy, Reni dan Ella. Moogie mendengarkan, sambil sesekali menyendokkan makanan ke mulut Ray. Empat kali Moogie mengomel, menjumputi nasi dari pangkuan Ray, sebelum nasi goreng di piring dan cerita Ray berakhir.

“Kasihan mereka,” ucap Moogie, bangkit berdiri dan membawa piring kosong dan sendok untuk dicuci.

“Entahlah. Menurutmu aku kejam?”

“Ngga tahu. Kan kamu yang bisa jawab. Aku sih cuman bisa bilang, kalau maksudmu baik, dengan menemani mereka menjalani hidup. Tapi, kadang-kadang kamu lupa kalau wanita punya perasaan. Yah, sukur-sukurlah kalau kamu mengerti,” Moogie berkata, sembari tangannya sibuk memainkan busa penggosok piring.

“Tentang Ella, aku cuma bisa bilang kalau dia korban situasi. Yah, yang kamu katakan ke dia memang benar. Tapi semoga saja ia tidak berubah terlalu cepat. Kan perubahan cepat yang tak disertai akal sehat sama saja dengan impulsif. Ngga banyak orang lho, Ray, yang bisa tahan dengan efek sampingnya. Kalau kamu sudah bisa kasih nasihat ke dia, berarti kamu harus membimbing dia, supaya ngga salah jalan,” lanjut Moogie.

Ray menenggak kembali air di gelasnya, lalu mengangguk-anggukkan kepala dan berkata, “Aku tahu tentang semua itu.”

Moogie berpaling dan tersenyum, “Kamu tahu, tapi kamu masih saja lupa. Ngga ada salahnya kan aku mengingatkan kamu?”

“Iya. Mirip jam weker,” celoteh Ray.

Moogie membalikkan tubuh, melempar busa-busa sabun ke arah Ray. Pemuda itu terkekeh, tak berusaha menghindar, lalu dengan cepat berdiri dan memeluk si gadis. Tatapan mata mereka bertemu. Ada sejuta rasa yang tak terungkap di sana. Di dalam Ray, dan di dalam Moogie. Tak terlalu lama waktu yang dibutuhkan, untuk keduanya memejamkan mata dan membiarkan bibir mereka beradu.

“I miss you,” bisik Ray, melepaskan bibirnya. Moogie membuka mata, tanpa tersenyum gadis itu balas berbisik, “Aku lebih dari itu.”

“Sampai ke tulang sumsum?”

“Sampai ke mimpi yang terburuk.”

“Buruk?”

“Mimpi saat aku menikahimu.”

Ray tertawa, melepaskan pelukannya, “Kenapa itu buruk?”

“Sebab kebaikan tanpa kepastian lebih buruk dari sesuatu yang buruk tapi pasti.”

Ray tak menyahut, membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan dapur.

“M,” panggil Ray beberapa langkah kemudian. Moogie berpaling dengan alis terangkat.

“Nanti kalau sudah, ke kamar ya. Aku mau peluk kamu sampai siang nanti.”

Moogie tersenyum dan mengangguk.

“Aku pasti cepat datang,” sahut si gadis. Tapi pemuda itu sudah menghilang.

Moogie menggeleng-gelengkan kepalanya, meneruskan membersihkan penggorengan. Dalam perjalanan menuju kamar, Ray mendengar gadis itu bersenandung. Ada sesuatu yang perih di hati Ray, namun segela hilang ditelan lembutnya tempat tidur.

Sepuluh menit berlalu, pintu kamar terbuka. Ray membalikkan tubuh dan melihat Moogie melangkah menuju lemari. “Aku pinjam kausmu, aku lagi malas buka tas,” ucap Moogie.

“Kenapa ngga pakai kaus?” ucap Ray. Moogie berpaling dan mencibir.

“Aku capek.”

Ray tertawa, “Hahaha. Lalu kenapa kalau capek?”

Tersenyum, Moogie melepas kemeja biru mudanya, menyusul celana jeans yang dikenakannya.

“Kalau begitu,” kata si gadis kemudian, “aku ambil selimut dari lemari, dan..”

Moogie membuka lemari pakaian Ray, mengeluarkan sebuah selimut, lalu sambil mengeluarkan seruan kecil, gadis itu melompat ke atas tempat tidur. Ray terkekeh-kekeh, menyambut gadis itu dalam pelukannya. Moogie menyambar bibir Ray, lalu berbisik, “Aku benar-benar kangen.”

“Iya. Aku juga,” sahut Ray. Mereka berciuman lagi.

“Ray, geser agak sana,” ucap Moogie, melepaskan bibirnya dan mendorong tubuh Ray agak kesamping. Tertawa, Ray membiarkan gadis itu meletakkan kepala di dadanya. Tangan Ray terangkat, menyusup ke dalam selimut yang dikenakan Moogie, dan mulai mengusap lembut punggung gadis itu.

“Ray, kenapa ya, kalau dekat kamu aku pasti ngantuk?” tanya Moogie setengah menggumam.

“Itu namanya hangat,” bisik Ray, mendekap tubuh si gadis erat-erat. Moogie mengangkat lengan Ray, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan pemuda itu.

“Mmm,” gumam Moogie lagi, merapatkan tubuhnya.

“M, kamu tahu ngga? Minggu depan aku ke..” tanya Ray.

Tak ada sahutan.

Ray melirik ke bawah, dan melihat mata Moogie sudah terpejam, dan nafasnya naik turun dengan lambat.

“Ya. Kamu pasti capek,” bisik Ray, menekan ujung hidung Moogie, “istirahat saja. Aku akan cerita untuk minggu depan. Satu cerita saja.” Ray lalu membiarkan matanya menerawang ke langit-langit ruangan. Entah mengapa, pemuda itu mulai merasa matanya membasah. Sesuatu yang tak pernah ia mengerti, setiap saat ia menidurkan Moogie di dadanya. Dalam pelukannya.

Saat-saat perih itulah, saat-saat dimana Ray mentransformasi semua cinta yang ada dalam dirinya menjadi sebuah kasih sayang.

Sudah pukul lima seperempat di hari keenam itu.

Ray tak ingin bangun sampai Moogie bangun.

.

TAMAT

Penulis : anonim.

Sumber : http://www.rumahseks.blogspot.com

Komentar
  1. Ninja Gaijin mengatakan:

    cerita yang manis… sayangnya saya sendiri ga sejago si ray :p

    Re : saya juga, walaupun bkat playboy sbenarny ada tp syang ngga sehebat si ray wakakakaka….

  2. Donie mengatakan:

    Keren sekali cara berceritanya,btw punya kontak penulisnya g? Aku yakin selain cerita pasti puisinya jg meresap menusuk jauh ke kalbu hehehe,lebih manis ceritanya ketimbang bumbu sex nya,two thumbs deh!

    Re : sayang gw ga tau siapa penulisnya sob, emang romantis ni gaya bertuturnya, klo gw bole terawang2 dikit nih kyaknya sih ni cerita dari kisah nyata deh, abis kerasa bgt feel penulisnya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s