Pacarku Dan Aku Di Hari Itu

Posted: Maret 2, 2010 in Cerita Lepas

STANDART DISCLAIMER :

  • Cerita ini adalah untuk konsumsi mereka yang telah berumur 18 tahun keatas atau dengan kata lain termasuk golongan cerita dewasa, namun jika anda berumur dibawah umur yang telah disebutkan namun tetap memaksa untuk membaca maka resiko sepenuhnya menjadi tanggungan anda.
  • Cerita ini ditulis just for fun, hanya sekedar mencari cara untuk mengeluarkan pikiran-pikiran kotor serta ide-ide gila dari dalam otak sehingga tidak mengendap dan berubah menjadi kanker.
  • Cerita ini jelas-jelas sebuah fiksi, sehingga apabila ada kesamaan tokoh, karakter, latar ataupun waktu kejadian maka semua itu hanyalah sebuah kebetulan semata.
  • Cerita ini tidak untuk dikomersialkan, sehingga apabila anda harus mengeluarkan uang di luar dari beban biaya jaringan internet untuk membaca cerita ini, maka anda berhak untuk menuntut uang anda kembali
  • Cerita ini bukan untuk di-copy paste sembarangan dan disebar-sebar tanpa etika, tolong hargai juga dong penulis yang sudah capek-capek berada di depan komputer selama berjam-jam.
  • Terakhir, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu membuat cerita ini menjadi ada.

March, 2010.

Pendekar Maboek Ó

.

Special tribute to someone with intial “TN”, hope u like it!  :)

Melisa

“Dit, ini bagus nggak?”.

Aku mengerutkan kening, kemudian menggelengkan kepala.

“Kalo yang ini?”, kini baju kaos tanpa lengan yang tadinya dipegang oleh si gadis berganti dengan sebuah blouse bercorak bunga-bunga.

“Hhhmm…”, kembali tanpa kata aku menggelengkan kepala.

“Nah yang ini keren nih!”, kembali baju yang dipegangnya berganti untuk kesekian kalinya.

Entah ini pakaian yang keberapa yang di ambilnya, namun terpaksa jawaban yang bisa aku berikan masih tetap sama. Sebuah gelengan kepala.

“Coba yang disana yuk!”.

“Uuuhh…!”, aku pun kembali harus menghela nafas panjang, karena semua ini ternyata masih belum juga berakhir. Gadis cantik itu pun melesat cepat meninggalkan diriku yang berjalan gontai dibelakangnya.

Oya, gadis cantik itu adalah Melisa dan aku biasa memanggilnya Meli atau Mel saja. Seorang gadis ABG yang baru 2 bulan ini aku pacari. Ya seperti layaknya gadis-gadis muda seumurannya, Meli termasuk lincah dan supel, sehingga kadang aku cukup kerepotan mengikuti gerak langkahnya. Beberapa hari yang lalu Meli baru merayakan sweet seventeen-nya. Umur kami memang berselisih cukup jauh, sehingga dunia remaja Meli sudah cukup lama aku lewati. Namun kelincahan Meli-lah yang membuatku tertarik kepadanya, karena ia seakan-akan mampu membuat jiwa mudaku kembali bergejolak. Sedangkan siapakah aku? Aku kira itu sama sekali tidak penting untuk aku beritahukan.

Saat ini kami berada di sebuah shopping mall. Entah sudah berapa lama kami berputar-putar di tempat ini dan juga entah berapa puluh kilometer yang telah kami lalui, namun yang jelas sudah cukup lama dan cukup jauh untuk membuat seluruh urat kakiku terasa keram. Sedangkan lihat saja Meli, ketika tenagaku saat ini hanya tersisa beberapa persen lagi, gadis cantik itu masih saja tetap bersemangat dan sama sekali tidak terlihat kehilangan tenaga barang satu persen pun. Ya sudahlah, bukankah kata orang cinta itu butuh pengorbanan? Jadi marilah sedikit berpikir positif, kalau rasa pegal di sekujur tubuhku ini adalah salah satu bentuk pengorbananku untuk cinta.

“Kalo yang ini bagus nggak Dit?”, kembali aku harus menghadapi pertanyaan yang sama.

Aku pun mencoba untuk merubah jawabanku, berusaha untuk sekedar mengganti suasana. “Nah, itu bagus!”.

“Hhhmm…:, Meli memperhatikan baju model kemeja berwarna hitam yang dipegangnya. “Nggak ah, jelek!”.

“Gubrak!”, kalau ujung-ujungnya jawabanku akan menjadi tidak berarti seperti ini, lalu kenapa ia harus terus menerus meminta pendapatku. “Sabar Dit… sabar…”, sebuah nasehat bijak dariku untuk diriku sendiri.

“Nah ini baru keren!”, Meli berteriak kegirangan seperti baru saja menemukan sebongkah emas dibalik tumbukan pakaian. “Lucu ya Dit?”.

Aku pun hanya bisa mengangguk, toh saat ini jelas-jelas bukan aku yang memegang kendali untuk menentukan sebuah keputusan.

“Coba yuk!”, Meli kembali langsung melesat cepat, tanpa peduli kalau kini aku masih belum beranjak dari tempatku berdiri.

“Dit, ayo dong!”.

Oh my God, thanks! Ternyata pacarku ini masih ingat keberadaanku”.

Aku pun melangkahkan kakiku mendekati Meli yang kini masih nampak berdiri di depan fitting room. Baru beberapa langkah aku berjalan, pacarku itu sudah terlihat masuk ke dalam fitting room. Nah loh, sesampainya di depan fitting room justru aku menjadi kebingungan harus melakukan apa. Masa aku harus berdiri di depan fitting room seperti ini? Emang diriku ini satpam? Belum hilang rasa kikukku aku sempat melihat beberapa orang SPG yang beberapa meter dariku bergunjing sambil beberapa kali melirik ke arahku. Aku pun semakin kikuk dibuatnya. Jangan-jangan mereka berpikir kalau aku adalah seorang penjahat kelamin yang saat ini sedang mengincar mangsa di depan fitting room. “Oh tidak!”.

Beruntung beberapa menit kemudian seorang wanita ditemani oleh seorang laki-laki  paruh baya bertubuh tambun datang. Nampaknya laki-laki tersebut adalah suami dari si wanita. Dari gelakatnya nampaknya pasangan tersebut adalah pasangan baru, karena mereka sama sekali tidak menggandeng anak. Selain itu usia mereka pun nampak tidak terlalu tua. Wanita paruh baya itu pun lalu segera masuk ke dalam fitting room, sementara suaminya menunggu di luar. Kini paling tidak aku tidak sendirian dalam kebingungan, pikirku. Aku melempar senyum ke arah laki-laki tersebut dan laki-laki tambun itu segera membalasnya.

“Ssstt… Dit, masuk gih!”, tiba-tiba Meli mendongakkan kepalanya dari dalam fitting room.

Aku pun langsung tersenyum kecil mendengar ajakan pacarku itu. “Nah yang ini gue demen nih! Hehehe…”.

Lalu aku pun bergegas masuk ke dalam. Di dalam fitting room aku melihat Meli terbalut busana terusan berwarna ungu. Pakaian tersebut benar-benar indah melekat di tubuh Meli, membuatnya nampak begitu feminim dan terkesan lebih dewasa dari umurnya.

Oh my God, she’s so hot!”, seruku dalam hati.

“Bagus nggak?”.

“Baguuss bangeet!”, jawabku tanpa perlu berpikir panjang lagi. “Beli gih!”.

“Nggak ada duit”.

“Aduh!”, aku berteriak dalam hati. Agaknya aku tahu apa kira-kira kalimat berikutnya yang akan segera menyusul keluar dari mulut mungil pacarku ini.

“Beliin ya?”, nada suara memelas pun terdengar lirih. Dengan manja Meli kemudian bergelayut di pundakku.

“Tuh kan! Nggak jauh-jauh deh”, runtukku dalam hati.

“Ya Dit ya?”.

“Emang harganya berapa?”.

“315 ribu, tapi ada diskon kok”.

“Gubrak!”, rasanya aku ingin tersungkur dengan sukses mendengar harga yang disebutkan Meli. “Bagus sih bagus tapi kalau harganya segitu sih sama aja bikin gue bokek”, kembali aku meruntuk dalam hati.

“Dit…”, kembali Meli memelas, kali ini dilengkapi dengan ekspresi penuh harap di wajahnya.

“Ya deh, tapi satu ini aja ya jangan nambah lagi”, bertambah deh satu lagi bentuk pengorbananku untuk cinta.

Senyum paling manis yang pernah aku lihat pun langsung tersungging di bibir Meli, “Thanks ya Dit!”. Dan sedetik kemudian sebuah kecupan mendarat di pipiku.

“Kok pipi sih? Di sini dong hehehe…”, aku menunjuk bibirku.

“Nggak ah!”, ekspresi wajah Meli langsung sedikit memerah.

“Ayo dong, ntar nggak jadi aku beliin lo”.

Kening pacarku itu pun langsung berkerut. “Adit jahat!”.

“Makanya cium dulu”.

Entah berpikir atau memang malu-malu, Meli cukup lama memerlukan waktu sebelum akhirnya bibir lembutnya menyentuh bibirku.

“Nah gitu dong hehehe…”.

“Jadi beli ya?”.

“Iya”.

Kemudian Meli kembali bergaya di depan kaca. gadis cantik itu berputar-putar seolah-olah memastikan kalau pakaian yang dikenakannya saat ini benar-benar cocok di tubuhnya. Sekilas aku melihat ke arah gantungan pakaian pada fitting room tersebut. Disana tergantung tank top dan celana pendek yang tadi dikenakan Meli. Tak hanya itu, disana juga tergantung sebuah bra berwarna putih.

“Oh, rupanya sekarang pacarku ini tidak mengenakan bra?”, seruku dalam hati.

Mataku pun kemudian tak lepas dari pergerakan tubuh Meli, terutama terfokus di wilayah dadanya. Walaupun ukuran dada pacarku ini tidak terlalu besar namun cukup terlihat menonjol ketika ia mengenakan pakaian-pakaian ketat. Memang dada itu baru pernah aku sentuh dari balik bajunya karena Meli memang baru memberikan ijin sebatas itu. Namun ketika aku menyentuhnya, dada tersebut terasa cukup padat di genggamanku. Otak kotorku pun langsung berkomplikasi dengan sesuatu di balik celana jeansku.

“Kok Adit masih disini?”.

“Emang harusnya di mana?”, cukup heran juga aku mendengar kata-kata pacarku ini.

“Kan Meli mau ganti baju?”.

“Nggak apa-apa ganti aja, kan yang liat cuma Adit?”.

“Enak aja… nggak mau, Adit keluar dulu!”.

Aku berusaha tetap bertahan, namun Meli terus mendorong-dorong tubuhku agar segera keluar. Akhirnya aku pun memilih untuk mengalah dan keluar dari fitting room untuk menghentikan aksi dorong mendorong tersebut.

Deam… gagal lagi deh ngeliat bodi cewek gue”, runtukku dalam hati.

Namun tiba-tiba saja sebuah kilasan ide jahat muncul di otak mesumku. Mungkin inilah yang disebut dengan istilah ketika nafsu sudah berbicara, maka setan pun dengan sukarela akan memberi jalan. Aku pun lalu kembali membalikkan tubuh.

“Mel…!”.

“Iya”, terdengar suara pacarku dari dalam fitting room.

Aku lalu menyibak tirai penutup fitting room tersebut dan mendongakkan kepalaku ke dalam. Di dalam aku masih melihat Meli belum membuka pakaiannya.

“Jangan lama-lama ya”.

“Oh iya”.

Aku pun kemudian menarik kepalaku kembali. Namun tanpa disadari Meli, tanganku dengan cekatan sedikit menarik tirai sehingga memberikan celah terbuka beberapa sentimeter.

“Hhhmm… segini rasanya sudah cukup lebar”, bisikku dalam hati.

Kemudian aku melihat sekeliling. Tak tampak lagi laki-laki tambun yang tadi berdiri bersamaku. Mungkin istrinya sudah selesai mencoba pakaian yang hendak dibelinya. Kemudian kembali aku menyapu pandangaku ke sekeliling. Aku pun tidak melihat ada orang di areal beberapa meter dari fitting room tersebut. Memang hari ini masih siang dan masih dalam waktu jam kerja sehingga suasana mall tersebut tidak seramai ketika sore mulai menjelang.

“Hhhmm… aman!”, teriakku dalam hati.

Aku pun kemudian berjalan menjauh beberapa meter dari fitting room tersebut. Sambil berpura-pura melihat pakaian-pakaian yang tergantung, sesekali aku melihat ke arah celah tirai yang aku buat di fitting room tempat Meli berada. Rencanaku pun berjalan lancar. Dari tempatku berdiri aku bisa melihat dengan jelas di dalam fitting room Meli masih memperhatikan pakaian yang dikenakannya di depan kaca. Pacarku itu nampaknya tidak menyadari adanya celah yang aku buat. Senyum mesum langsung tersungging di bibirku.

Namun rencanaku langsung kacau ketika pasangan suami istri yang tadi sempat aku temui di depan fitting room kembali lagi. Kali ini mungkin istri laki-laki bertubuh tambun itu masih ingin mencoba beberapa potong pakaian lagi. Yang aku takutkan pun terjadi, ketika wanita tersebut masuk ke dalam fitting room di sebelah tempat Meli berada, sang suami kembali berdiri di luar dan tidak ikut masuk. Beberapa saat kemudian aku melihat laki-laki paruh baya tersebut menatap ke arah fitting room tempat pacarku berada, mungkin ia menyadari adanya celah kecil pada tirai. Parahnya lagi saat itu bertepatan ketika Meli sedang mulai menurunkan tali terusan yang dikenakan dari pundaknya.

“Oh tidak! Mel jangan buka baju dulu…”, teriakku dalam hati.

Dari tempatku berdiri aku bisa melihat kalau laki-laki tambun itu mulai menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah-olah ingin memastikan tidak ada orang lagi disana selain dirinya. Laki-laki itu tidak menyadari keberadaanku yang kini sedang memperhatikan gerak-geriknya.

Aku sebenarnya ingin segera menutup celah yang aku buat, namun justru disaat yang sama keinginanku itu bertolak belakang dengan keinginanku untuk melihat tubuh telanjang pacarku. Apalagi ketika melihat terusan ungu yang dikenakan Meli melorot turun, kedua kakiku langsung terasa kaku. Kini tidak hanya aku, laki-laki tambun itu pun juga erlihat terpaku melihat tubuh sintal seorang gadis belia yang hanya terbalut sebuah celana dalam mini berwarna merah muda. Saking mininya kain mungil tersebut, mengakibatkan belahan pantat Meli menjadi terekspos dengan jelas. Begitu montok, padat dan menggiurkan.

Dari pantulan kaca, aku juga bisa melihat payudara Meli terlihat menggunung dengan puting kecil berwarna coklat di tengahnya. Ternyata benar pacarku itu tidak mengenakan bra. Ini memang pertama kali aku melihat bukit kembar gadis cantik tersebut dengan mata kepalaku sendiri. Pemandangan tersebut bertambah indah ketika aku melirik ke arah selangkangan Meli yang terlihat menonjol. Otak mesumku seakan-akan bisa membayangkan dengan jelas sebuah vagina segar seorang gadis belia pastilah bersembuyi di balik kain mungil tersebut. Sebuah vagina yang ranum dan mungkin sama sekali belum tersentuh oleh tangan-tangan “jahil”.

“Ooohh…!”, aku mendesah kecil sambil berlahan meremas pelan selangkanganku.

Aku bisa melihat laki-laki tambun tersebut juga melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan saat ini.

“Ya ampun apa yang telah aku lakukan? Aku baru saja mempertontonkan tubuh indah pacarku”, teriakku dalam hati.

Walau terbersit sedikit penyesalan , namun aku sendiri tidak mampu menghentikannya karena saat ini aku juga justru menikmatinya. Melihat langsung tubuh sintal Meli yang hanya terbalut celana dalam mini, sedangkan disaat yang sama aku mengetahui kalau ada orang lain yang juga menikmati pemandangan tersebut justru membuat nafsu birahiku kian bergejolak. Apakah ini berarti aku memiliki kelainan seksual? Aku tidak peduli, yang jelas aku sangat menikmati sensasi yang kini menjalar di sekujur tubuhku.

Di dalam fitting room, Meli terlihat menggantungkan terusan ungu tersebut di gantungan dan lalu mengambil branya. Saat Meli mulai mengenakan branya, saat-saat itu benar-benar menjadi sebuah momen yang eksotis untuk dilihat. Apalagi ketika saat pacarku itu mengaitkan tali dan kemudian mengatur letak posisi cup branya benar-benar membuatku merinding. Sekujur tubuhku kini terasa bergetar hebat, sehingga aku harus semakin kencang meremas-remas selangkanganku sendiri.

Ketika Meli hendak memakai celana pendeknya, aku melihat tirai fitting room di sebelah terkuak. Wanita paruh baya yang ada di dalamnya beranjak keluar. Laki-laki tambun tersebut terlihat kikuk ketika wanita itu mengajaknya berbicara. Kemudian aku melihat wanita membalikkan badan dan mulai berjalan meninggalkan fitting room. Setelah wanita tersebut membalikkan tubuhnya, sempat aku melihat laki-laki tambun itu melirik ke dalam fitting room Meli. Ketika itu pacarku sudah selesai memakai celana pendeknya namun belum sempat  memakai tank top-nya. Laki-laki tambun itu pun sempat menikmati tubuh atas Meli yang hanya terbalut bra berwarna putih. Lalu laki-laki itu pun melangkah pergi sambil agak mengatur posisi sesuatu yang ada diselangkangannya yang kini nampak menggelembung.

Melihat Meli yang telah selesai berpakaian dan kini sedang merapikan diri di depan kaca, tidak mampu membuat nafsuku yang kini tengah bergejolak menjadi menurun. Keringat dingin mulai membasahi keningku. “Deam…!”, runtukku pelan ketika melihat selangkanganku masih tetap menggelembung walaupun aku sudah merusaha mengalihkan pikiranku.

Di kejauhan aku melihat Meli sudah keluar dari fitting room dan menyapu pandangannya ke sekeliling. Dengan susah payah akibat ganjalan di selangkanganku, aku pun berjalan menuju kearahnya. Gadis cantik itu terlihat tersenyum tanpa tahu kalau dirinya baru saja memberikan tontonan eksotis untuk dua orang laki-laki.

“Dit, jadi beli yang ini ya?”, seolah Meli ingin kembali memastikan persetujuanku di awal tadi.

“Ya jadi dong”.

Oh my God!”, aku berteriak dalam hati ketika melihat Meli kembali tersenyum. Pandanganku terhadap gadis cantik yang kini berdiri di hadapanku telah berubah. Pandanganku tidaklah lagi sebuah pandangan mata seorang laki-laki terhadap seorang gadis muda, imut dan cantik. Pandanganku kini telah berubah menjadi sebuah pandangan seorang laki-laki terhadap seorang gadis belia yang begitu terlihat ranum dan menggiurkan. Walaupun saat ini Meli sudah berpakaian lengkap, namun pandangan mataku masih berbayang-bayang seorang gadis muda yang beberapa menit yang lalu terlihat hanya terbalut sebuah celana dalam mini.

“Ada apa sih?”, mungkin Meli menangkap sesuatu yang aneh pada tatapanku.

“Eh, nggak ada apa-apa kok!”, aku mencoba mengusir pikiran kotorku dari dalam otak.

“Adit, marah ya Meli nyuruh bayarin baju ini?”.

“Bukan… bukan gitu!”, aku pun menggelengkan kepala sambil menggerakkan tangan kananku. “Nggak marah kok, cu… cuma takut mama Meli ntar nyariin lagi, abis kita kan keluarnya udah lama banget”, ucapku mencari-cari alasan.

“Iya juga ya”.

“Makanya sekarang langsung ke kasir yuk”, aku pun menggandeng tangan Meli.

Gadis cantik itu pun dengan polosnya mengikuti tarikan tanganku. “Ya ampun masih lugu banget sih ini anak, ampe nggak sadar kalau pacarnya ini sudah bertransformasi menjadi seekor serigala yang siap menerkam mangsanya kapan saja”, pikirku.

Yang jelas sampai saat kami selesai melakukan transaksi di kasir, di kepalaku masih dipenuhi pikiran-pikiran kotor terhadap Meli dan selangkanganku masih menegang dengan mantapnya.

********

Di belakang kemudi, aku kian salah tingkah. Selangkanganku tidak juga mengendur, justru semakin menegang hebat ketika aku bergantian menggerakkan kaki menginjak rem dan kopling. Sedangkan di sampingku Meli dengan semangatnya bercerita kapan ia akan menggunakan baju yang baru aku belikan tadi. Ia juga terus meyakinkan diriku kalau teman-temannya pasti akan sangat iri melihatnya mengenakan pakaian tersebut. Aku sendiri semakin kesulitan membagi konsentrasi antara menyetir, mendengarkan cerita Meli dan menahan nafsu yang kini sedang membumbung tinggi. Sadar kalau mengemudi dengan keadaan seperti ini akan sangat berbahaya, aku pun kemudian memutuskan untuk menepikan mobil di pinggir jalan.

“Lo kok berhenti Dit?”.

“Hhmm… hhmm…”, aku hanya berdehem tak menentu. Aku juga bingung bagaimana caranya mengatakan kepada gadis cantik ini kalau saat ini gairah birahiku sedang bergejolak.

“Dit…?”.

“Eh, iya…”.

“Kok berhenti?”, Meli mengulang pertanyaannya.

“Hhmm… gini Mel”, aku terdiam sejenak mencoba mencari kata-kata yang tepat. Sedangkan Meli masih terlihat menatap diriku penuh keheranan.

“Adit lagi “pengen” nih Mel, ciuman yuk!”, tanpa sadar kata-kata itu meluncur begitu saja dari dalam mulutku.

Meli nampak sedikit tersentak. Aku yakin gadis cantik itu mengerti benar maksudku dengan kata “pengen” dan “ciuman” yang aku ucapkan tadi. Bagi kami kata “ciuman” memang memiliki padanan kata yang sama maknanya dengan kata “bercinta”. Memang sampai saat ini aktifitas seksual yang kami lakukan baru sebatas ciuman sambil sedikit melakukan rabaan-rabaan. Terus terang sebagai seorang laki-laki yang sudah pernah merasakan penetrasi sebelumnya, sebatas ciuman dan rabaan tentunya tidaklah cukup sebagai penyalur birahi. Namun aku sendiri memang tidak berniat untuk terburu-buru dalam “mengajarkan” Meli tentang aktifitas seksual orang dewasa. Biarkanlah semuanya mengalir seperti adanya, setahap demi setahap, itulah prinsipku.

“Di sini?”, ucap Meli ragu.

“Iya, di sini?”.

“Ntar ada orang gimana?”.

“Nggak ada orang kok, tuh liat sepi kan?”, aku berusaha meyakinkan Meli.

“Tapi…”, suara Meli terputus. Gadis cantik itu masih berusaha menolak ajakanku untuk “berciuman”. Mungkin ia merasa risih untuk melakukannya di tempat terbuka seperti ini, di siang hari pula.

“Ayo dong Mel, bentar aja”, bujukku lagi.

“Tapi Dit…”, hanya itu yang kembali keluar dari mulut mungilnya.

“Ayo dong…”, aku pun merangkul pundaknya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Akhirnya bibir kami pun beradu. Aku langsung melumat pelan bibir mungil Meli. Bibir itu terasa begitu lembut dan begitu natural, tidak seperti bibir wanita-wanita yang pernah aku kencani yang umumnya selalu tertutupi lipstik ataupun lipgloss. Berkencan dengan gadis muda seperti Meli memang memberikan tantangan tersendiri bagi diriku.

Sambil berciuman lidahku mulai nakal membuka katupan bibir Meli, mencoba mencari celah untuk masuk ke dalam mulut mungil tersebut. Seperti biasa setiap kali berciuman Meli selalu menutup matanya. Entah apa maksudnya, mungkin ini adalah caranya untuk bisa lebih menikmati pagutan bibirku di bibirnya. Lidahku akhirnya menemukan celah dan kemudian berhasil masuk ke dalam mulut Meli.

“Hhhmm…”, hanya desahan tertahan yang terdengar ketika lidah kami saling beradu.

Lidahku kini dengan benasnya menari-nari di dalam mulut gadis cantik tersebut. Dari bahasa tubuhnya kelihatannya Meli menyukai aksi lidahku tersebut. Desahan pelan juga terlihat ketika aku mulai merabai payudaranya dari balik tank top. Atas perbuatanku ini Meli sama sekali tidak memberikan penolakan. Kini kedua payudara padat itu pun sudah sepenuhnya berada di dalam genggaman tanganku.

Melihat Meli mulai terbuai dengan suasana, tanganku mulai nakal mencoba masuk ke balik kaos yang dikenakannya. Sedikit demi sedikit tanganku mulai bisa menyentuh permukaan perut Meli dan terus naik ke atas sehingga jari-jariku pun berhasil menyentuh branya. Sambil masih berciuman, dengan berlahan aku mencoba menggeser cup bra tersebut dan berhasil! Cup bra itu bergeser dari posisinya semula.

“Aaah… Dit…”, Meli hanya mendesah di telingaku ketika aku mencium lehernya dan memilin halus puting payudaranya.

Diam-diam ternyata rupanya Meli menikmati benar aksi-aksiku di tubuhnya. Desahan-desahan kecil dan kepasrahan dirinya benar-benar menggambarkan hal tersebut.

“Enak Mel?”, bisikku di telinganya.

“Hhhmm…”, kembali ia hanya mendesah sambil menganggukkan sedikit kepalanya.

Tanganku pun semakin berani memainkan dan meremas-remas payudara padat milik Meli sambil tetap berpagutan. Ini adalah pertama kali aku berhasil menyentuh langsung kedua payudara pacarku ini. Rupanya buaian rasa nikmat membuat Meli lupa melarangku memasukkan tanganku ke balik pakaiannya seperti yang biasa ia lakukan. Seandainya saja aku bisa melihat langsung payudara Meli sambil meremas-remasnya, tentu akan terasa lebih nikmat. Namun kedua tangan Meli yang kini memeluk tubuhku erat membuat mataku sulit untuk melirik. Oh, ingin sekali aku melihat bukit kembar gadis belia ini dari dekat.

Maka dengan sedikit daya upaya aku kembali mengalihkan ciumanku menuju ke lehernya. Aku sempat melirik ke arah Meli dan melihat kepala gadis cantik itu mendongak dengan mata terpejam. Aku pun terus menjilati leher Meli sambil tanganku pelan-pelan semakin menaikkan ujung tank top yang dikenakan Meli. Kini entah disadari atau tidak oleh Meli, ciumanku kini sudah mendarat di permukaan payudaranya.

“Benar-benar lembut dan padat, sebuah payudara gadis belia yang masih polos”, seruku dalam hati ketika berlahan akhirnya aku bisa melihat langsung payudara Meli dan mengulum puting kecilnya.

“Aaah… Dit…”, ucap Meli pelan.

Aku pun melepaskan kulumanku. “Kenapa?”.

“Geli… aaah…”.

“Iya tahan dikit, ntar enak kok”.

Kembali aku melanjutkan kulumanku dan kali ini disertai cupangan.

“Aduh!”.

“Sakit?”, kembali aku harus melepaskan payudara putih, mulus dan padat tersebut.

Meli hanya mengangguk kecil sambil memandang wajahku dengan sayu.

“Tahan ya, Meli sayang Adit kan?”.

Kembali Meli mengangguk. “iya”.

“Meli, nggak marah kan kalo dadanya dimainin ama Adit?”, rayuku.

Meli menggeleng.

Kulumanku di payudara gadis cantik tersebut kembali berlanjut. Kali ini jilatan, kuluman dan cupanganku terus diringi dengan desahan dan teriakan kecil dari sang pemilik. Namun gadis belia itu nampak pasrah tanpa perlawanan membiarkan aksi-aksi nakalku di payudaranya.

“Mel, ke belakang yuk”.

Aku sengaja mengajak Meli ke bangku belakang karena ketika aku melakukan aksi-aksiku tadi, perseneling mobilku terasa teramat sangat mengganggu. Sekilas Meli melihat situasi di luar mobil. Dari ekspresi wajahnya terlihat sekali kalau ia masih ragu untuk melanjutkan aksi “gila” kami ini. Memang siang itu suasana disekitar kami terlihat sepi, namun memang beberapa kali terlihat motor ataupun mobil lewat di depan kami.

“Eh jangan dirapiin dulu”, ucapku ketika melihat Meli hendak merapikan letak branya di balik tank top.

“Dit udahan ya, Meli takut”.

“Lagi bentar aja yuk Mel, nanggung nih”, bujukku sambil menarik pelan tangan gadis belia tersebut yang tadi masuk ke dalam tank top.

“Ntar ada yang liat Dit, Meli kan malu”.

“Masih sepi kok, lagian kaca mobilnya kan gelap, nggak bakal keliatan kok dari luar”, aku terus berusaha meyakinkan pacarku tersebut untuk mau melanjutkan permainan kami yang terputus.

“Di rumah aja ya”.

“Di rumah kan ada mamanya Meli?”.

Meli pun terdiam. Ekspresi wajahnya memang menunjukkan ketakutan, namun di wajah manis itu juga tersirat sebuah keinginan untuk melanjutkan permainan dan merengkuh kenikmatan.

“Gini aja, ntar dilanjutin lagi sepuluh menit aja abis itu Adit anter Meli pulang deh, gimana?”.

“Janji ya, bentar aja”.

“Janji!”, aku membuat huruf “V” dengan jari tengah dan jari manisku dan menunjukkannya di hadapan Meli.

Setelah melihat sekali lagi situasi di luar mobil yang memang masih terlihat sepi, Meli pun berpindah ke bangku belakang. Aku pun kemudian menyusul gadis tersebut. Di bangku belakang dengan lembut aku memeluk Meli. Aku mencoba menenangkan gadis cantik itu sebelum melanjutkan aksi-aksi nakalku terhadap tubuh ranumnya.

Melihat Meli sudah mulai tenang kembali, aku berbisik kepadanya, “Lanjut yuk?”.

Meli mengangguk.

Aku pun dengan segera kembali mendaratkan ciuman di bibir lembut Meli. Tanganku pun dengan tak kalah cepat kembali beraksi masuk ke dalam tank top yang dikenakan Meli. Aksi ciuman, permainan lidah ditambah remasan di payudaranya pun kembali berlanjut seperti di awal tadi. Tak perlu waktu lama, payudara Meli pun kini kembali sepenuhnya berada di dalam kekuasaan lidah dan mulutku. Aku tahu benar aku harus bertindak cepat sebelum nantinya Meli kembali tersadar merengek minta pulang. Di bawah sana, tepat di daerah selangkangan batang penisku terasa semakin menegang dan membesar. Aku tahu jika hanya melakukan permainan wilayah dada seperti ini, maka puncak permainan tidak akan pernah aku capai.

Aku lalu sedikit memberanikan diri untuk menyentuh paha dan kemudian berlahan tanganku naik menuju selangkangan Meli. Aku tahu benar Meli tidak akan menyetujui tindakanku ini, namun apa salahnya mencoba. Cukup lama aku meraba-raba wilayah selangkangannya dan gadis cantik itu sama sekali belum menunjukkan penolakan. Mungkin ia masih terbuai akibat permainan lidah dan mulutku di payudaranya. Tanganku pun semakin nakal mencoba mencari akses masuk ke dalam celana pendek tersebut.

“Dit, jangan!”, aku cukup tersentak mendengar teriakan Meli. Gadis itu langsung menepis tanganku yang hendak membuka kancing celana pendeknya. Rupanya akibat gerakan tanganku ia tersadar dari buaian gairah dan menyadari kalau aku mengincar apa yang ada di balik celana pendeknya.

“Mel, dikit aja ya”, suaraku bergetar akibat menahan nafsu yang semakin meninggi. Tanganku masih berusaha merambah kancing celana pendek Meli, walaupun gadis itu berusaha terus menahannya.

“Nggak Dit, jangan yang bawah!”.

“Dikit aja Mel, please…”.

“Nggak boleh… nggak boleh!”.

Aku yang sudah berbakar birahi terus berusaha menepis tangan Meli yang menutup daerah selangkangannya. Sedang Meli jutru sebaliknya, dengan sekuat tenaga terus mempertahankan daerah kewanitaannya tersebut. Di dalam otakku kini kembali berseliweran bayang-bayang mesum ketika aku melihat Meli melepaskan celananya di fitting room. Selain itu bayang-bayang belahan pantat montok yang hanya terbalut celana dalam mini kian membuat nafsuku membumbung tinggi. Saking bernafsunya, entah setan dari mana yang membuatku tiba-tiba meremas kedua tangan Meli dan memelintirnya dengan kasar.

“Aaakkh… sakiiit!”, Meli berteriak kencang.

Aku pun langsung tersadar dari belenggu birahiku ketika melihat Meli meringis dan hampir menangis.

“Mel, maaf Mel…”, aku langsung memeluk tubuh Meli.

“Sakit… Adit jahat… jahat!”, Meli terdengar terisak di dalam pelukanku.

“Maaf ya, Adit bener-bener nggak sengaja tadi”, aku mengelus-elus rambut dan pundak gadis cantik tersebut.

Meli masih terdengar terisak. Aku yang sebenarnya masih terbelenggu di dalam nafsu yang belum tersalurkan berusaha untuk menguasai diri. Sisi liar di dalam diriku sebenarnya ingin sekali memaksa Meli untuk melayani nafsu birahiku, namun sisi baikku sampai saat ini masih bisa menahanku untuk melakukan hal tersebut. Terpaksalah aku kembali harus menahan nafsu birahi yang kian detik kian meninggi, sejak kejadian di mall tadi.

“Masih sakit Mel?”, bisikku pelan setelah mendengar isakan Meli sudah mulai berkurang.

Tidak terdengar jawaban dari Meli. Gadis cantik itu masih memeluk tubuhku dengan erat.

“Mel… masih sakit?”, kembali aku mengulang pertanyaanku.

Kali ini aku merasakan gelengan kepala Meli di pundakku.

Aku menarik nafas lega, paling tidak pacarku ini tidak apa-apa akibat perbuatanku tadi. Tapi nafsu birahi yang masih tertahan membuat diriku benar-benar merasa tidak nyaman. Selangkanganku yang menggelembung membuatku kesusahan mengendalikan pikiranku sendiri agar tidak sampai mengulangi apa yang tadi aku lakukan kepada Meli. Akhirnya aku memilih untuk berkata jujur kepada Meli tentang apa yang aku rasakan saat ini.

“Mel…”, aku masih mengelus-elus rambut panjangnya.

“Iya”, jawab Meli pelan.

Aku lalu mengangkat pundak Meli sehingga kini kami saling bertatapan.

“Maaf ya tadi Adit jadi kasar ama Meli”.

Meli tidak menjawab ia hanya menatap mataku.

“Adit tadi kasar soalnya “pengen”-nya Adit belum ilang sih”.

Meli terlihat mengerutkan keningnya.

“Meli inget kan sabtu kemarin Adit bilang Adit lagi “pengen”, trus Adit ngeliatin Meli titit Adit yang tegang?”.

Gadis cantik di hadapanku itu mengangguk.

“Nah sekarang titit Adit juga lagi tegang kayak waktu itu”.

“Masa?”, Meli melirik ke selangkanganku.

“Iya, makanya tadi Adit minta “ciuman” ama Meli”.

“Oooh…”, Meli hanya mendesah polos.

Aku lalu memegang kedua tangan gadis cantik tersebut. “Meli mau nggak ngelakuin lagi yang Meli lakuin sabtu lalu?”.

“Ngelakuin apa?”.

“Ngocokin titit Adit, mau ya?”, nada suaraku aku buat sememelas mungkin. Memang sabtu lalu untuk pertama kalinya aku mengajarkan Meli untuk melakukan oral seks. Karena saat itu adalah yang pertama bagi Meli maka pelayanan oral yang dilakukannya masih terasa sangat kaku dan tentunya tidak bisa membuatku muncrat di akhir layanan.

“Sekarang? Di sini?”.

“Iya sekarang, di sini”.

“Tapi…”.

Mendengar perkataan Meli yang kembali terkesan hendak menolak, aku pun berusaha kembali meyakinkan pacarku ini. “Nggak apa-apa kok ngocokin di sini, tangan Meli kan di bawah? Jadi nggak bakal ada yang tahu”. Aku benar-benar berharap pacarku ini mau melakukannya, karena jika tidak aku akan semakin uring-uringan akibat nafsu yang tak tersalurkan.

“Mau ya Mel…”, kembali aku memohon kepada Meli.

Aku sudah takut sekali kalau Meli akan menolak, namun ternyata tak disangka pacarku ini justru menganggukan kepalanya.

“Bener nih mau?”.

“Iya”, Meli kembali menganggukkan kepalanya dan setelah itu dengan cekatan ia melepaskan kancing celana jeansku.

Di dalam hatiku, aku berteriak kegirangan. Aku pun membantu Meli menurunkan jeans yang aku kenakan dengan cara sedikit mengangkat pantatku. Setelah jeansku melorot turun menuruni kedua pahaku, aku lalu membantu Meli menurunkan boxer yang aku kenakan. Begitu boxer itu melorot turun, penisku yang telah tegang sejak tadi langsung mengacung tegak. Seolah-olah tahu benar apa yang harus dilakukan, dengan telaten jari-jari lentik Meli menggenggam batang penisku dan mulai mengocoknya pelan.

“Ooohh!”, aku melenguh pelan. Jari-jari tangan Meli terasa sedemikian halus menyentuh urat-urat penisku.

“Enak?”.

Aku mengangguk dengan mantap. “Terus Mel…”.

Meli melanjutkan kocokan dan pijatan tangannya di penisku. Aku yang merasakan kenikmatan uar biasa hanya bisa menyandarkan pundakku di jok belakang mobil. Sekilas aku melempar senyuman ke arah Meli, dan gadis cantik itu pun membalasnya.

Padahal baru seminggu yang lalu aku memberitahukan cara melakukan kocokan dan oral seks, namun saat ini meli terlihat sudah begitu pandai melakukannya. Apakah pasca kejadian malam itu di rumahnya Meli terus mempraktekkan “pelajaran”ku tersebut? Aku tak peduli dengan jawaban pertanyaanku, yang jelas kini Meli seperti seorang gadis yang sudah berpengalaman memuaskan pasangannya. Bahkan aku tak perlu memberitahukan lagi, ketika beberapa saat kemudian Meli menundukkan tubuhnya dan mulai menjilati ujung kepala penisku.

“Ooohhh… aaah…”, aku merasakan geli yang teramat sangat ketika lidah Meli menari-nari dengan panasnya.

“Dit…”, Meli menghentikan aksi lidahnya dan memandang wajahku.

“Iya”, jawabku penuh keheranan karena tiba-tiba saja Meli menghentikan jilatannya.

“Kalo Meli masukin titit Adit ke mulut, Meli bener nggak bakal hamil kan?”, sebuah pertanyaan yang benar-benar polos keluar dari mulut pacarku yang cantik ini.

Aku hanya tersenyum kecil. “Iya Meli nggak bakal hamil”.

“Bener…?”, nampaknya Meli berusaha meyakinkan jawabanku.

“Bener!”, aku pun harus kembali mengacungkan jari tengah dan jari manisku membentuk huruf “V” untuk menyakinkannya.

Seolah-olah percaya dengan yang aku katakan tadi, Meli kemudian melanjutkan kembali jilatan dan kocokan tangannya di penisku. Bahkan beberapa saat kemudian batang penisku pun telah amblas masuk ke dalam mulut mungilnya.

“Ooohhh… aaah…”, dengan cekatan Meli mengocok penisku dengan mulutnya. Aku benar-benar melayang dibuatnya. Aku hanya bisa memejamkan mata menikmati sensasi yang kini sedang melandaku.

Tak terlihat lagi Meli yang seminggu lalu masih terlihat kaku memberikan layanan oral. Kini yang ada justru Meli yang terlihat begitu ahli dan tahu benar apa yang harus dilakukannya. Entah dimana ia belajar, namun yang jelas aku sangat menikmatinya. Sesekali Meli melepaskan penisku dari dalam mulutnya untuk mengambil nafas. Kemudian ia melemparkan senyum ke arahku sambil tetap melakukan kocokan dengan tangannya. Beberapa saat kemudian penisku kembali amblas ke dalam mulutnya.

“Mel, jilatin bawahnya juga dong”.

Meli pun menurut. Ia juga menghisap dan menjilati zakarmu dengan telaten. Aku merasa didera rasa ngilu dan nikmat ketika Meli melakukan hal tersebut. Aku hanya bisa mengelus-ngelus rambut gadis cantik yang kini sedang sibuk di antara kedua pahaku. Aku merasa batang penisku terasa semakin tegang, sehingga mulai secara refleks aku menggerak-gerakkan pantatku sehingga penisku menghujam-hujam ke dalam mulut Meli. Melihat itu Meli pun bersikap pasif dan membiarkan penisku mengocok mulutku. Sambil memejamkan mata, aku pun menghayati gerakanku itu seolah-olah saat ini aku sedang mengocoki vagina Meli. Memang jepitan mulut Meli tidak begitu kencang, namun sudah cukup membuat diriku merem-melek ketika melakukan kocokan.

“Ooohh… aaahhh…. oooh…”, desahanku semakin intens seiring kocokan mulut Meli yang semakin kencang.

Sambil menerima layanan Meli, tanganku dengan nakal masuk ke dalam tank top Meli dan meremas-remas lembut payudaranya. Bukit kembar padat itu terlihat sudah menegang berikut dengan puting kecilnya. Rupanya Meli juga sudah mulai terangsang, entah hal itu disadarinya atau tidak.

“Hhhmm…”, terdengar desahan Meli ketika puting payudaranya aku pelintir.

“Aaahh… oooh…. aaahh…”, aku merasakan sedikit lagi akan ada sesuatu yang meledak dari dalam diriku. Pelayanan Meli kali ini agaknya tidak akan berujung sebagaimana pelayanannya minggu lalu. Kali ini pacarku ini hampir berhasil membuatku mencapai puncak.

“Mel, kocok yang kenceng… hampir mau nih!”, rancauku.

Meli pun mempercepat kocokan mulutnya. Seluruh otot-otot di tubuhku terasa menegang. Saat-saat yang aku nanti sepertinya akan segera tiba. Aku merasakan beberapa kali kedutan di penisku. Aku sedikit mengencangkan peganganku di kepala Meli. Tiba-tiba saja menjelang orgasme yang mungkin akan datang, tercetus ide di kepalaku untuk memberikan “pelajaran” tambahan untuk pacarku yang cantik ini. “Pelajaran” tentang bagaimana rasa sperma laki-laki sebenarnya.

“Aaaaakkhh…!”, tak lama setelahnya aku pun melenguh panjang.

‘Croot…”, aku merasakan semburan pertamaku menyemprot deras ke dalam mulut Meli. Pacarku ini sepertinya menyadari sebuah “benda” asing masuk ke dalam mulutnya. Dengan segera ia hendak melepaskan batang penisku dari dalam mulutnya, namun dengan cekatan pula aku menahannya kepalanya.

“Croot… crooot… crooot…”, semburan berikutnya pun dengan mantap kembali menyembur masuk ke dalam mulut Meli. Dari gerakan kepalanya sepertinya Meli cukup gelagapan menerima semburan cairan kental tersebut.

Setelah semburan terakhir keluar, baru kemudian aku melepaskan peganganku di kepala Meli. Langsung saja Meli mengangkat kepalanya dan membuka kaca jendela mobil. Di luar sana aku melihat pacarku itu memuntahkan spermaku dari dalam mulutnya. Melihat hal itu aku cukup merasa kasihan juga, semoga Meli tidak tersedak karenanya. Penisku pun kini berlahan mulai mengkerut kembali.

Selesai memuntahkan sperma dari mulutnya Meli langsung berteriak dan memukul-mukul tubuhku. “Adit jahat… Adit jelek… jahat… jeleeeek…!”.

Walaupun untuk aku yang memiliki tubuh besar ini pukulan Meli sama sekali tidak terasa, namun tetap saja aku harus melindungi diri akibat pukulan demi pukulan Meli yang terus menyerangku. Setelah cukup lama mendapatkan serangan bertubi-tubi, aku akhirnya bisa menguasai kedua tangan Meli dalam genggamanku. Begitu Meli sudah sepenuhnya aku kuasai, aku mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya.

“Thanks ya sayang…”.

“Adit jeleek…!”.

“Lo kalo jelek kok mau dijadiin pacar? Hehehe…”, godaku.

“Kok nggak bilang-bilang mau keluar?”, wajah Meli terlihat manyun.

Aku lalu mengambil tissue di dashbord dan sebotol air mineral. “Katanya waktu ini pengen tau sperma cowok rasanya kayak apa?”. Aku berujar sambil mengusap bibir Meli dan membersihkannya dari sisa cairan putih kental yang masih tersisa di sana.

“Tapi kan jangan langsung dikeluarin di mulut Meli!”.

“Maaf deh, tadi pengennya sih biar Meli juga bisa ngerasain langsung rasa sperma kayak apa, tapi kalo Meli nggak suka ntar Adit nggak bakal ngulangin lagi deh”.

“Ntar Meli hamil gimana?”.

Kembali aku tersenyum kecil. “Kan keluarnya di mulut, nggak di situ!”, aku menunjuk ke arah selangkangan Meli. “Nggak bakal hamil kok”, tambahku.

“Bener?”.

“Bener…”.

Gadis cantik itu kemudian hanya terdiam. Aku lalu menyodorkan botol air mineral kepadanya.

“Minum dulu gih, biar enakan”.

Meli mengambil botol tersebut dan meminumnya.

“Maaf lagi deh, Meli nggak masih marah kan?”.

Ia pun menggeleng pelan. Aku langsung memeluk tubuh gadis cantik tersebut.

“Gimana rasanya sperma Adit?”, bisikku di telinga Meli mencoba menggodanya lagi.

“Nggak enak…!”, ucapnya penuh kekesalan.

Aku pun tertawa mendengar jawaban pacarku itu.

I love you”, sebuah ciuman kemudian mendarat di bibirnya.

“Dit, pulang yuk…”, rengek Meli.

“Iya deh”.

Kami pun merapikan pakaian masing-masing dan kembali ke kursi depan. Sebelum men-stater mobilku sekilas aku memandang ke arah Meli. Wajah gadis cantik itu nampak semakin cantik, walaupun masih tersisa sedikit ekspresi masam akibat perbuatanku tadi. Aku melempar senyuman ke arahnya dan ia pun membalasnya. Sebagai pacar yang baik sebenarnya aku tidak ingin merusak gadis cantik dan polos di sampingku ini. Namun sebagai seorang laki-laki normal siapa sih yang bisa kuat menahan diri untuk tidak menikmati tubuh seindah milik Meli. Hubungan kami, terutama soal seks, kini sudah naik satu level lagi. Akses tubuh atas Meli kini sudah sepenuhnya aku kantongi. Saat ini pikiran kotorku jelas tidak bisa berbohong kalau target berikutnya adalah wilayah selangkangan. Saat-saat mendapatkan momen itu adalah saat-saat yang sangat aku idam-idamkan. Namun tetap aku tidak ingin terburu-buru. Aku ingin menikmati benar babak demi babak di dalam hubungan cinta kami ini. Apa yang akan terjadi berikutnya? Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya.

.

Tamat.

Copyright © 2010, Pendekar Maboek.

Komentar
  1. anonymous mengatakan:

    keren nh..
    ceritanya seru n unik jg..thumbs up

    Re : Thanks, slamat mnikmati aja deh…

  2. mokondo mengatakan:

    hakhakhak,, pengalaman pribadi nih kayaknya ya bro?
    ayo ngaku..?!
    jadi inget pengalaman masa2 remaja dulu… khas ABG ceritanya…

    Re : he he he bs aja nih, y bs d blang gt, smbil nulis, smbil mupeng, smbil jg ngenang masa lalu, ibarat smbil mnyelam minum wiski gt deh :)

  3. Kakarotoe mengatakan:

    Asli, asli, asli!
    Keren sangat!!
    Diceritakan dengan sangat baik, dan penuh dengan cinta..

    Re : thanks komenny, wah ampe segitu menghayatinya ya? :)

  4. bakwansop mengatakan:

    pertamax…….pertamax…..
    lanjutannya donk bro nanggung nih….
    maju trus bro tapi jangan sambi maboek beneran ya…..

    Re : justru wktu maboek itu inspirasi gw kluar :) tp buat crita yg ni lom ada rencana bkin lanjutanny, mngkin ntar klo ada klik yg bagus bsa gw bkin lanjutanny, who knows…

  5. mkel mengatakan:

    iseng2 baca, bingung gw bos, biasanya gw paling bete baca cerita genre “biasa aja” begini udah gitu cuman petting +bj+hj n no intercourse..tapi yg ini gw suka banget bikin penasaran..lanjutkan..he3

    Re : oh suka jg bro? ini sih konsep awal critany model cerpen, emang d buat akhirny ngambang n skali tamat, jd biar imajinasi pembaca masing2 yg menentukan alurny sndiri, tp klo bnyk yg minta lanjut mngkin bs gw prtimbangkan untuk lanjut

  6. mkel mengatakan:

    anehnya kok gw bisa suka ya bos..mungkin gaya cerita bos yg gak monoton n detilnya bagus

    “…Saat ini pikiran kotorku jelas tidak bisa berbohong kalau target berikutnya adalah wilayah selangkangan. Saat-saat mendapatkan momen itu adalah saat-saat yang sangat aku idam-idamkan.”

    jelas bahwa harus dilanjutkan, tapi innocent angels n nightmare sexploitation tetap harus d prioritaskan…he3

    Re : hahaha jeli jg nih ngeliat kalimat pnutupny bro, y qta lihat saja nnti deh, ni jg lg garap nightmare sexploitation ko, yg lain udah masuk seri 3 eh cerita yg satu ini masih d seri 2 jd biar ngga ktinggalan ntar, tunggu aja tgl mainny ;)

  7. lina feby mengatakan:

    bagi brondong@ call tante 082170319518 ya (dijamin pasti meremmelekdigigit meqi tante)

  8. Riel Budjang mengatakan:

    Seseorang yang menamakan dirinya Lina Feby, telah menyalahgunakan nomor ponsel saya 082170319518, saya nyatakan pernyataan tersebut bohong dan tidak benar sama sekali, mohon jangan mengubungi nomor tersebut, terima kasih

    Re : wah kok bs sih mas? tolong hal ini diselesaikan dgn pihak tidak bertanggung jawab itu, saya sudah hapus komen yg masuk dari Lina Feby dan menyisakan satu saja, jd pengunjung blog ini nantinya bs tahu dan tidak akan ikut terkena dampak negatif dari penyebaran nomor ini, thanks infonya.

  9. goes metal mengatakan:

    ditunggu kelanjutannya nih.. yg target berikutnya pasti lebih menarik.. ^_^

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s